Parasit Usus Paling Banyak Ditemukan pada Anak Prasekolah di Iran

A A

Ilustrasi tangan orang dewasa membasuh tangan anak dengan sabun di bawah keran wastafel [Foto: Ketut Subiyanto/Pexels]

  • Gabungan 36 penelitian menunjukkan angka infeksi parasit usus pada anak Iran adalah 8,1 persen.
  • Angka infeksi pada anak prasekolah 13 persen, sedangkan pada anak usia sekolah 6 persen.
  • Giardia lamblia menjadi protozoa yang paling sering ditemukan, dengan angka gabungan 8 persen dari 25 penelitian.
  • Sebagian besar anak yang terinfeksi tidak bergejala atau hanya bergejala ringan, tetapi tetap mengeluarkan telur dan kista.
  • Para penulis meminta angka gabungan dibaca sebagai ringkasan epidemiologis yang luas, bukan angka yang tepat.
Daftar Isi
  1. Mengapa anak yang terinfeksi jarang terlihat sakit
  2. Berapa banyak anak yang membawa parasit
  3. Dua penghuni usus yang paling sering ditemukan
  4. Usia ketika tangan paling sering masuk ke mulut
  5. Tempat tinggal dan udara lembap ikut membedakan angka
  6. Cara memeriksa tinja ikut menentukan angka
  7. Di mana hitungan ini berhenti

Seorang anak yang tampak sehat, lahap makan, dan riang bermain di halaman sekolah bisa saja sedang membawa parasit di dalam ususnya. Ia tidak mengeluh sakit, sehingga tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memeriksanya. Padahal bersama tinjanya keluar telur atau kista yang siap berpindah ke anak lain. Kejanggalan itulah yang membuat infeksi parasit usus sulit dihitung, dan karena sulit dihitung, sulit pula ditangani.

Sembilan peneliti mencoba menghitungnya untuk anak-anak Iran. Hassan Taherahmadi, Nasim Rahmani, Sayed Hussain Mosawi, Zahra Gharibi, Faezeh Mohammadi, Ali Asghari, Morteza Habibi, Aida Vafae Eslahi, dan Milad Badri menulis artikel berjudul Prevalence of intestinal parasites in pre-school and school-aged Iranian children: a systematic review and meta-analysis. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.

Taherahmadi adalah associate professor nefrologi anak di Amir Kabir Hospital, Arak, sedangkan sebagian rekannya bekerja di Qazvin University of Medical Sciences. Mereka menggabungkan 36 penelitian yang terbit antara tahun 2000 dan 2025, yang seluruhnya mencakup 48.930 anak prasekolah dan anak usia sekolah di Iran. Dari jumlah itu, 3.595 anak dipastikan terinfeksi parasit usus.

Mengapa anak yang terinfeksi jarang terlihat sakit

Para penulis menyebut persoalan ini penularan senyap. Sebagian besar anak yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda dan gejala, atau hanya menunjukkan gejala ringan, tetapi tetap mengeluarkan telur dan kista parasit lewat tinja. Lewat kebiasaan kebersihan yang buruk dan kegiatan mereka sehari-hari, anak-anak itu ikut memutar siklus infeksi ulang di dalam keluarga, di sekolah, dan di masyarakat yang lebih luas.

Karena itu infeksi ini lolos dari pemeriksaan klinis biasa dan banyak yang tidak terlaporkan. Akibatnya, menurut para penulis, pembuat kebijakan tidak punya gambaran yang baik tentang seberapa banyak infeksi di suatu tempat. Tanpa gambaran itu, perencanaan pemberian obat massal, program air bersih, sanitasi, dan kebersihan, serta pemberian obat cacing di sekolah menjadi tidak tepat.

Yang membuatnya rumit, akibat infeksi yang berlangsung lama jauh lebih berat daripada gangguan pencernaan ringan. Infeksi yang berulang atau berkepanjangan mengganggu penyerapan zat gizi mikro penting seperti zat besi, vitamin A, dan seng. Para penulis mencatat ujungnya adalah anemia defisiensi besi, kurang energi protein, dan tubuh pendek. Mereka juga mencatat anak yang terinfeksi berprestasi lebih rendah dalam tugas ingatan, perhatian, dan kelancaran berbahasa.

Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

Berapa banyak anak yang membawa parasit

Ketika ke-36 penelitian itu digabungkan, angka infeksi parasit usus pada anak Iran adalah 8,1 persen. Perkiraan itu punya rentang, yaitu dari 5,8 persen sampai 11,3 persen. Para penulis menilai infeksi ini tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar pada anak-anak Iran, meskipun prasarana kesehatan dan sanitasi di negara itu sudah maju dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Angka itu tidak sama pada setiap masa terbit penelitian. Penelitian yang terbit antara 2014 dan 2025 melaporkan angka gabungan 9 persen, sedangkan penelitian yang terbit antara 2000 dan 2014 melaporkan 6 persen. Para penulis juga menguji apakah ada satu penelitian yang terlalu menentukan hasil. Ketika penelitian dikeluarkan satu per satu, angka gabungannya hanya bergerak antara 7,6 persen dan 8,6 persen.

Dua penghuni usus yang paling sering ditemukan

Parasit usus terbagi dua, yaitu protozoa yang bersel satu dan cacing. Di antara protozoa, yang paling sering ditemukan adalah Giardia lamblia, dengan angka gabungan 8 persen dari 25 penelitian. Di bawahnya ada Entamoeba histolytica/dispar dengan 4,4 persen, lalu Entamoeba coli dan Blastocystis hominis yang sama-sama 3,9 persen. Endolimax nana tercatat 1,1 persen.

Parasit usus yang paling sering pada anak IranGiardia: Anak terinfeksi (persen) +8,0; E. histolytica: Anak terinfeksi (persen) +4,4; E. coli: Anak terinfeksi (persen) +3,9; Blastocystis: Anak terinfeksi (persen) +3,9; Cacing kremi: Anak terinfeksi (persen) +3,1; Fasciola: Anak terinfeksi (persen) +1,3.Parasit usus yang paling sering pada anak IranAngka gabungan per jenis parasit, dalam persen2468100Giardia8,0E. histolytica4,4E. coli3,9Blastocystis3,9Cacing kremi3,1Fasciola1,3Cacing kremi = Enterobius vermicularis. E. coli = Entamoeba coli.
Sumber: Hassan Taherahmadi, Nasim Rahmani, Sayed Hussain Mosawi, Zahra Gharibi, Faezeh Mohammadi, Ali Asghari, Morteza Habibi, Aida Vafae Eslahi, dan Milad Badri, Prevalence of intestinal parasites in pre-school and school-aged Iranian children: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di antara cacing, yang teratas adalah Enterobius vermicularis atau cacing kremi, dengan angka gabungan 3,1 persen dari 27 penelitian. Jenis lain jauh lebih jarang. Fasciola tercatat 1,3 persen dari dua penelitian, Strongyloides stercoralis 0,9 persen, dan Hymenolepis nana 0,8 persen. Cacing tambang dan Ascaris lumbricoides masing-masing 0,5 persen, Trichuris trichiura 0,3 persen, dan Taenia 0,2 persen.

Para penulis menjelaskan mengapa Giardia begitu unggul. Parasit ini berpindah langsung dari tinja ke mulut, dan jumlah yang dibutuhkan untuk menimbulkan infeksi sangat sedikit, serendah 10 sampai 25 kista. Kistanya juga sangat tahan di lingkungan. Ia bertahan berminggu-minggu sampai berbulan-bulan dalam kondisi dingin dan lembap, bahkan pada kadar klor yang lazim dipakai di air minum dan kolam renang.

Cacing kremi punya jalannya sendiri. Para penulis mengutip penelitian terdahulu yang memperkirakan 17,2 persen anak sekolah dan taman kanak-kanak di Iran terinfeksi cacing ini, atau hampir satu dari setiap lima anak. Penelitian terdahulu itu menemukan faktor risiko utamanya adalah kebersihan umum yang buruk, tinggal di perdesaan, pendidikan ibu yang rendah, dan lingkungan yang padat seperti sekolah dan taman kanak-kanak.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Usia ketika tangan paling sering masuk ke mulut

Angka infeksi paling tinggi ada pada anak prasekolah. Dari sepuluh penelitian tentang kelompok ini, angka gabungannya 13 persen, dengan rentang 7 persen sampai 21 persen. Pada anak usia sekolah, yang diteliti dalam 26 penelitian, angkanya 6 persen, dengan rentang 4 persen sampai 9 persen. Itu sebabnya para penulis meminta pemeriksaan berkala tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di taman kanak-kanak.

Anak prasekolah dan anak usia sekolah di IranAnak prasekolah dan anak usia sekolah di IranAnak prasekolah dan anak usia sekolah di IranAngka gabungan infeksi parasit usus menurut jenjangPrasekolahUsia sekolah13,0%6,0%Anak terinfeksiparasit usus7,0%4,0%Batas bawahperkiraan21,0%9,0%Batas atasperkiraan1026Jumlah penelitianBatas bawah dan atas adalah selang kepercayaan 95 persen.
Sumber: Hassan Taherahmadi, Nasim Rahmani, Sayed Hussain Mosawi, Zahra Gharibi, Faezeh Mohammadi, Ali Asghari, Morteza Habibi, Aida Vafae Eslahi, dan Milad Badri, Prevalence of intestinal parasites in pre-school and school-aged Iranian children: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis juga membagi anak menurut umur. Pada anak berumur 3 sampai 5 tahun angka gabungannya 8,1 persen, pada anak 6 sampai 10 tahun 12,9 persen, dan pada anak di atas 10 tahun 5,3 persen. Kelompok 6 sampai 10 tahun menjadi yang tertinggi. Menurut para penulis, angka itu menunjukkan masa-masa kunci untuk tindakan yang terarah.

Penjelasan yang mereka berikan terletak pada kebiasaan. Pada anak prasekolah, kebiasaan menjaga kebersihan diri belum terbentuk baik. Mereka memasukkan tangan ke mulut, memakan benda yang bukan makanan, memakan tanah, dan belum terlatih memakai jamban. Semua itu memperbesar peluang tertelannya bibit infeksi yang ada di tanah, benda-benda, atau makanan. Kekebalan usus yang masih berkembang dan halaman sekolah yang tercemar ikut disebut sebagai penyebab kerentanan kelompok umur ini.

Jenis kelamin tidak banyak membedakan. Angka gabungan pada anak laki-laki 16 persen dan pada anak perempuan 15 persen, dan selisih itu tidak bermakna secara statistik. Para penulis mencatat penulis lain menemukan kecenderungan serupa. Mereka menulis hal itu mungkin berkaitan dengan perbedaan perilaku, misalnya anak laki-laki yang lebih banyak berkegiatan di luar ruangan.

Tempat tinggal dan udara lembap ikut membedakan angka

Angka itu berbeda dari satu provinsi ke provinsi lain. Yang tertinggi tercatat di Bushehr, 19 persen, tetapi angka itu hanya berasal dari satu penelitian. Semnan juga 19 persen, Khuzestan 15 persen, dan Kordestan 14 persen. Yang terendah adalah Fars, dengan angka gabungan yang dibulatkan menjadi nol dan rentang sampai 4 persen.

Di tingkat kota dan distrik, jaraknya lebih lebar lagi. Angka tertinggi tercatat di Gashki, 42 persen, lalu Shahroud 35 persen, Ali Abad-e-Katoul 34 persen, dan Ahvaz 28 persen. Di ujung lain ada Bandar Abbas dan Jahrom yang angkanya nol, serta Marvdasht 1 persen. Rentang perkiraan untuk kota-kota itu lebar. Untuk Gashki, misalnya, rentangnya 9 persen sampai 83 persen.

Iklim ikut dihitung. Di daerah bersuhu rata-rata 10 sampai 20 derajat Celsius angka gabungannya 9 persen, di daerah di atas 20 derajat 6 persen, dan di daerah di bawah 10 derajat hanya 1 persen. Menurut kelembapan, angka tertinggi ada di daerah dengan kelembapan relatif di atas 75 persen, yaitu 13 persen. Para penulis mengaitkannya dengan kelangsungan hidup kista, telur, dan larva parasit di lingkungan.

Persoalannya, ketika semua faktor itu diuji bersama, iklim tidak tampil sebagai pembeda yang bermakna secara statistik. Curah hujan tahunan, suhu rata-rata, kelembapan, tahun terbit, dan provinsi tidak mengubah hasil secara bermakna. Hanya satu faktor yang bermakna, yaitu cara pemeriksaan yang dipakai tiap penelitian.

Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025

Cara memeriksa tinja ikut menentukan angka

Cara pemeriksaan memang menghasilkan angka yang berlainan. Angka tertinggi, 44 persen, datang dari penelitian yang menggabungkan apus langsung, teknik konsentrasi, pewarnaan, dan pita Graham, yaitu pita perekat. Para penulis meminta angka itu dibaca dengan hati-hati karena hanya berasal dari dua penelitian. Delapan penelitian yang hanya memakai pita perekat menghasilkan 11 persen. Pemeriksaan apus langsung yang digabung dengan teknik konsentrasi menghasilkan 7 persen. Ketika pewarnaan ditambahkan pada gabungan itu, angkanya menjadi 4 persen. Satu penelitian yang gabungan caranya mencakup PCR melaporkan 5 persen.

Di sinilah penjelasan mekanismenya menjadi penting. Sebanyak 21 dari 36 penelitian memakai apus langsung dengan konsentrasi. Menurut para penulis, cara itu kemungkinan membuat angka yang sebenarnya terhitung terlalu rendah, terutama untuk infeksi berintensitas rendah dan untuk organisme seperti Dientamoeba fragilis atau Blastocystis hominis. Hanya sedikit penelitian yang memakai pewarnaan, pita Graham, atau cara molekuler, padahal semuanya jauh lebih peka.

Di mana hitungan ini berhenti

Para penulis sendiri menyebut beberapa keterbatasan. Hasil ke-36 penelitian itu sangat beragam satu sama lain, karena rancangan penelitian, anak yang diteliti, cara pemeriksaan, dan kondisi daerahnya berbeda-beda. Keragaman itu dapat mengurangi keandalan angka gabungan. Sebagian besar penelitian juga mengandalkan mikroskop biasa, bukan teknik molekuler yang lebih peka. Selain itu, data tentang faktor perancu penting seperti sanitasi dan kebiasaan kebersihan tidak tersedia secara rinci dan seragam.

Karena itu mereka meminta angka gabungan dibaca sebagai ringkasan epidemiologis yang luas, bukan angka yang tepat dan berlaku umum. Angka itu, menurut mereka, dapat dipakai untuk perencanaan kesehatan masyarakat secara umum. Tetapi angka yang sebenarnya pada kelompok anak tertentu bisa berbeda jauh dari angka gabungan tersebut. Dari 36 penelitian itu, 23 dinilai bermutu tinggi dan 13 bermutu sedang.

Saran mereka mengikuti cara parasit itu berpindah. Pemeriksaan rutin di taman kanak-kanak dan sekolah perlu digabung dengan penguatan prasarana air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Mereka juga menyebut program obat cacing di sekolah, penutupan bak pasir, pengurangan pencemaran tanah di tempat bermain, film pendidikan di sekolah, serta pesan kepada orang tua agar anak tidak memakan tanah dan terbiasa mencuci tangan.

Mengobati saja tidak cukup, dan para penulis menyatakannya dengan tegas dalam naskah mereka yang berbahasa Inggris. “Tanpa memadukan surveilans, WASH, dan penyadaran lewat banyak saluran, tindakan yang semata-mata kuratif tidak dapat mencegah akibat kronis infeksi ini pada pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak,” tulis Taherahmadi dan rekan-rekannya. WASH adalah singkatan mereka untuk air, sanitasi, dan kebersihan.

Di situlah kejanggalan pada awal tulisan ini mendapat jawabannya. Anak yang tampak sehat bisa membawa parasit karena sebagian besar infeksi memang tidak bergejala atau hanya bergejala ringan, sementara telur dan kistanya tetap keluar. Para penulis menyarankan pemeriksaan berkala pada anak prasekolah dan anak usia sekolah, terutama di daerah lembap tempat angka infeksinya paling tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Penyandang Disabilitas Korea yang Rajin Jalan Lebih Jarang Stres
Tertular Covid dan Jaga Zona Merah, Nakes Kazakhstan Masih Cemas
Siagai Laggek, Penyembuh Mentawai yang Mengobati Tanpa Ritual
Penyakit Parasit di Xinjiang Menurun, Belum Terlihat pada Anak
Survei Gigi Jepang Lebih Diminati bila Digelar di Klinik Terdekat
Garda Revolusi Ancam Serang Negara Tetangga Bila AS Serang Iran