Daftar Isi
Cekricek.id — Pada 30 September 2025, jurnal Diksi menerbitkan pembacaan ulang atas sebuah film animasi berumur tujuh tahun. Naskahnya masuk ke meja redaksi pada 19 November 2023 dan baru diterima pada 17 September 2025. Objeknya satu: Isle of Dogs, film boneka gerak henti karya Wes Anderson yang tayang pada 2018. Pertanyaannya juga satu. Benarkah film itu membongkar cara Barat memandang Timur?
Artikel itu berjudul The illusion of deconstruction: Orientalism and Japanese representation in Wes Anderson’s Isle of Dogs (2018). Penulisnya Mentari Putrirahayu Prawira dari Universitas Negeri Yogyakarta, Iusvaldio Ramadhan dari Universitas Indonesia, dan Moh. Zamil Alivin dari University of Edinburgh. Artikel terbit di jurnal Diksi Vol. 33 No. 2 tahun 2025. Filmnya dibaca sebagai teks, adegan demi adegan, tanpa satu pun wawancara. Datanya dikumpulkan dengan menonton dan membaca film itu secara menyeluruh sampai lambangnya bisa didaftar.
Kerangkanya diambil dari tiga sumber. Konsep orientalisme Edward Said, yang dipakai lewat edisi 2003, membaca cara Barat memandang Timur sebagai hubungan kuasa. Teori representasi Stuart Hall terbitan 1997 dipakai untuk menafsirkan lambang. Teori sinematografi Boggs dan Petrie edisi 2018 dipakai untuk membaca sudut kamera dan warna. Hall menyebut representasi bukan cerminan kenyataan, melainkan proses pemaknaan yang dibentuk oleh ideologi dan kuasa. Ketiga alat itu dipakai bergantian pada bahan yang sama.
Latar gagasannya jauh lebih tua daripada filmnya. Pandangan orientalis, tulis ketiga peneliti, tumbuh di Prancis pada dekade 1930-an. Said kemudian merumuskan empat jenis hubungan kuasa di dalamnya: politik, intelektual, budaya, dan moral. Contoh mutakhir yang mereka pakai justru datang dari media sosial, ketika sebagian pengguna TikTok menjadikan simbol budaya seperti kefiyeh Palestina sebagai bahan lelucon. Menurut Said, Barat memandang Timur sebagai sesuatu yang eksotis, dan pandangan itu berujung pada pengerukan.
Megasaki 2038 dan Pesawat Televisi 1951

Film itu berlatar dua puluh tahun ke depan dari tahun tayangnya. Kalau dihitung dari 2018, waktunya jatuh pada 2038. Kota tempat ceritanya berlangsung bernama Megasaki. Namun pada salah satu adegan, ketiga peneliti mencatat sebuah pesawat televisi hitam putih yang bentuknya menyerupai Murphy model 405 keluaran 1951. Film ini dibuat ketika televisi layar datar berwarna sudah lama menjadi barang biasa. Ketiga peneliti membandingkannya dengan telepon dan perkakas elektronik lain di dalam film yang sama-sama ketinggalan zaman.
Catatan kecil itu dipakai sebagai bukti besar. Latar masa depan dipasangi perkakas masa lalu. Menurut ketiganya, susunan semacam itu menempatkan Timur sebagai wilayah yang tertinggal betapapun dunia bergerak maju. Gedung wali kota berarsitektur tradisional, kimono, kuil pada adegan pembuka, dan siaran sumo dipasang berdampingan dengan kota berteknologi tinggi. Kuil pada menit-menit awal itu muncul sebelum penonton sempat mengenal satu pun tokoh manusianya.
Baca juga Sebelas Wajah Penantian dalam Lirik Didi Kempot
Ceritanya sendiri berjalan lurus. Wali Kota Megasaki bernama Kobayashi mengasingkan seluruh anjing kota ke Pulau Sampah dengan alasan wabah flu anjing. Beberapa bulan kemudian, Atari, keponakan sang wali kota, menyeberang ke pulau itu untuk mencari anjing penjaganya, Spots. Lima ekor anjing menemaninya. Di kota, penolakan terhadap kebijakan tersebut dipimpin seorang pelajar pertukaran asal Amerika bernama Tracy Walker. Ceritanya berakhir bahagia. Kelompok pembela anjing menang, dan anjing-anjing kembali ke kota.
Sejak Menit Pertama, Lima Pasangan Berlawanan
Istilah yang dipakai untuk menyusun temuan adalah oposisi biner. Istilah itu berasal dari Ferdinand de Saussure dan berarti kebiasaan membelah dunia menjadi dua golongan yang saling menjelaskan. Terang dan gelap adalah contoh yang paling gampang. Dalam film ini, pembelahan tersebut dipasang lewat bahasa, tokoh, dan tempat. Pembelahan semacam itu selalu menyisakan satu pihak yang ditempatkan di sisi yang kurang.
Dari pembacaan itu tersaring lima pasangan berlawanan. Bahasa Jepang berhadapan dengan bahasa Inggris. Manusia berhadapan dengan anjing. Kota Megasaki berhadapan dengan Pulau Sampah. Kemodernan berhadapan dengan tradisi. Pelajar Amerika yang aktif berhadapan dengan pelajar Jepang yang pasif. Kelimanya bertemu pada satu garis yang sama: Timur di satu sisi, Barat di sisi lain.
Pasangan pertama paling mudah dilihat. Seluruh tokoh manusia berbicara bahasa Jepang dan tidak selalu diterjemahkan. Anjing-anjingnya berbicara bahasa Inggris. Penonton di luar Jepang karena itu lebih mengerti ucapan anjing daripada ucapan manusia. Bahasa Inggris, yang biasanya dominan, kehilangan sebagian kuasanya di ruang bioskop. Friedman, dalam kajian yang mereka rujuk, menyebut bahasa sebagai pengungkap kuasa manusia yang menindas.
Pasangan kedua bekerja lewat kuasa. Manusia menentukan nasib anjing, bukan sebaliknya. Spots, anjing pertama yang dibuang, hanya menatap kamera dari dalam kerangkeng besi ketika kereta gantung membawanya pergi. Pada adegan berikutnya, penonton ditempatkan pada posisi mata Spots, memandang Pulau Sampah dari balik jeruji. Boggs dan Petrie menyebut susunan semacam itu sudut pandang subjektif. Hubungan manusia dan anjing dalam film ini, simpul ketiganya, adalah hubungan antara yang mengendalikan dan yang dikendalikan.
Ada catatan sejarah yang mereka pinjam untuk menjelaskan pilihan anjing. Skabelund, dalam kajian yang terbit pada 2011, menunjukkan anjing dalam sejarah dan kebudayaan Jepang lama dikaitkan dengan kemodernan, pengaruh Barat, dan pengaturan tertib sosial. Pengasingan anjing dalam film ini mengulang kaitan tersebut. Anjing menjadi lambang penularan sekaligus lambang sesuatu yang harus dikendalikan.
Warna ikut memisahkan kedua tempat. Megasaki didominasi merah dan kuning, warna yang memberi kesan mewah. Pulau Sampah didominasi hitam, putih, dan abu-abu. Kota itu tampak steril dan diatur berlebihan; pulaunya tampak terbengkalai. Pulau Sampah dalam film ini bukan sekadar tempat pembuangan barang, melainkan penjara sekaligus tempat karantina. Kajian Ortiz-Moya dan Moreno pada 2016 yang mereka rujuk membaca gambaran kota Jepang yang menyusut sebagai perlambang krisis sosial dan ekonomi.
Baca juga Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa
Pasangan kelima terjadi di ruang kelas. Tracy Walker, pelajar Amerika berambut pirang keriting, mengajak teman-temannya menolak kebijakan pengasingan. Teman-teman sekelasnya yang orang Jepang hanya melirik sebentar, lalu kembali ke urusan masing-masing. Pada adegan unjuk rasa, Tracy memegang pengeras suara dan menjadi satu-satunya yang berbicara. Pelajar Jepang berdiri di belakangnya sambil memegang poster. Warga kota pun diperlihatkan menyaksikan pengumuman wali kota tanpa memberi komentar apa pun.
Menjelang Akhir, Pembalikan yang Tak Jadi
Sampai titik itu, film tersebut tampak melawan. Timur diberi kuasa, Barat dibuat bersuara tetapi tidak berdaya. Ketiga peneliti menolak membaca pembalikan itu sebagai pembongkaran. Menurut mereka, susunannya justru memperkuat kerangka lama karena kendali cerita tetap berada di tangan Barat. Kebudayaan Jepang dipakai sebagai latar hias bagi kerangka naratif yang bukan miliknya. Foucault, yang juga mereka kutip, menyatakan di mana ada kuasa di situ ada perlawanan.
Buktinya ada pada penerjemah. Bahasa Jepang tampak dominan, tetapi hampir selalu dialihbahasakan lebih dahulu sebelum sampai ke penonton. Siaran berita pemerintah diterjemahkan oleh seorang juru bahasa di dalam film itu sendiri. Dominasi tersebut, tulis ketiganya, hanya ilusi. Yang menentukan makna tetap bahasa yang dipahami penonton Barat. Berita itu pun mula-mula disiarkan dalam bahasa Jepang oleh stasiun kota.
Penggambaran pemerintahnya berjalan searah. Kobayashi diambil dengan sudut kamera dari bawah, tangan di pinggang, ketika mengumumkan kebijakannya. Boggs dan Petrie mencatat sudut rendah menambah wibawa tokoh yang disorot. Ajudannya kemudian membunuh ilmuwan pembuat vaksin lewat makanan beracun. Di seberangnya, kelima anjing mengambil keputusan dengan bermusyawarah dan, ketika berbeda pendapat, mengambil suara terbanyak.
Kutipan yang dipakai untuk mengunci bagian ini berasal dari Said sendiri. Timur, tulisnya, “hampir merupakan temuan Eropa, dan sejak zaman purba menjadi tempat roman, makhluk eksotis, kenangan yang membayang, serta lanskap yang mengesankan.” Dalam pembacaan ketiga peneliti, sumo, kimono, dan kuil pada film ini bekerja persis seperti itu, yakni sebagai pemandangan.
Baca juga Tiga Milimeter yang Menentukan Nilai Kerajinan Bambu
Akhir cerita menutup perkara. Tracy Walker dan kelompok pembela anjing memenangi perlawanan terhadap pemerintah kota. Anjing-anjing pulang. Tracy, remaja kulit putih asal Amerika, berakhir sebagai pendamping Atari. Ketiga peneliti menyebut susunan itu narasi juru selamat kulit putih, dan mereka mencatat pola serupa pada film Hollywood lain yang pernah diteliti. Kalimat Rex yang menyebut penangkapan Atari sebagai penganiayaan anak dibaca ketiganya sebagai penegasan anggapan lama bahwa Timur biadab.
Dari Friedman 2019 sampai Hathaway 2024
Film ini bukan yang pertama kali dibedah. Pada 2019, Friedman membacanya lewat kajian hewan dan mesin. Ia menemukan anjing robot dalam film itu sebagai gambaran ideal perilaku yang diharapkan manusia dari hewan peliharaannya. Pada tahun yang sama, Zimmermann membacanya lewat gagasan kepahlawanan lintas spesies, dan menyimpulkan film tersebut gagal keluar dari perspektif yang berpusat pada Barat. Zimmermann menyoroti tokoh Tracy Walker sebagai contoh kiasan juru selamat kulit putih.
Pada 2024, Hathaway membacanya dari sisi lain lagi. Menurut Hathaway, penggambaran hewan yang berperilaku manusia justru membuat penonton sanggup berempati kepada makhluk bukan manusia. Artikel Diksi ini mengambil jarak dari pembacaan tersebut. Empati semacam itu, tulis ketiganya, tetap berlangsung di dalam kerangka visual yang mengeksotiskan Jepang.
Ketiganya juga mencatat batas bacaan mereka sendiri. Mereka mengutip Rosenbaum, yang pada 2017 menunjukkan bahwa penggambaran Jepang oleh sineas lintas negara kerap melahirkan identitas hibrida, lalu mengakui bahwa penghormatan film ini kepada sinema Jepang membuat pembacaan orientalis semata menjadi tidak sederhana. Yang mereka periksa satu film, satu lensa, tanpa seorang pun penonton yang ditanyai.
Karena itu temuannya tidak bisa diperbesar. Satu film bukan seluruh sinema Barat. Analisis lambang juga tidak mengukur apa yang dipikirkan penonton ketika lampu bioskop menyala kembali. Ketiganya menutup artikel dengan menyebutnya sebagai rujukan untuk analisis lanjutan atas film yang sama.
Apa yang Tercatat Setelah 30 September 2025
Urutan tanggalnya kini lengkap. Wes Anderson merilis Isle of Dogs pada 2018. Tiga peneliti mengirimkan naskahnya pada 19 November 2023. Naskah itu diterima pada 17 September 2025, lalu terbit tiga belas hari kemudian. Kesimpulannya muat dalam satu kalimat: film yang hendak membongkar orientalisme berakhir dengan mengulanginya. Latar 2038 itu tetap memakai televisi tahun 1951.















