Ika Dewi Ana Raih Penghargaan Achmad Bakrie Bidang Kesehatan

A A

Guru Besar FKG UGM Prof. Ika Dewi Ana berbicara di podium di hadapan hadirin. [Foto: UGM]

  • Prof. Ika Dewi Ana meraih Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 di bidang kesehatan.
  • Gama-CHA, bahan cangkok tulang berbasis karbonat apatit, sudah mengantongi izin edar Kementerian Kesehatan dan diproduksi massal.
  • Ika mengakui beban administratif dosen di Indonesia menjadi tantangan untuk menjaga keberlanjutan riset.

Cekricek.id — Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., meraih Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 di bidang kesehatan.

Penghargaan itu datang atas kiprahnya mengembangkan rekayasa jaringan dan biokeramik medis. Salah satu hasilnya, Gama-CHA, kini sudah mengantongi izin edar Kementerian Kesehatan dan diproduksi massal.

Keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Kamis (10/09/2026), menyebutkan penganugerahan berlangsung pada Rabu (26/08/2026) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Selain Ika, penghargaan tahun ini juga diterima Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., di bidang Pemikiran Sosial dan Butet Kartaredjasa di bidang Seni dan Budaya.

Sementara itu, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo menerima penghargaan di bidang Sains dan Teknologi.

Baca juga Temuan FKG UGM soal puskesmas yang belum punya dokter gigi

Gama-CHA, Riset Ika Dewi Ana yang Sampai ke Layanan Kesehatan

Perjalanan riset Ika berangkat dari rasa ingin tahu pada proses alami tubuh memperbaiki diri, seperti luka yang perlahan menutup dan tulang yang kembali menyatu.

Ketertarikan itu membawanya menekuni rekayasa jaringan atau tissue engineering dan biokeramik. Bersama tim, ia mengembangkan Gama-CHA, bahan cangkok tulang (bone graft) berbasis karbonat apatit.

Pengembangan Gama-CHA melibatkan Kantor Transfer Teknologi UGM, mitra industri, universitas dan fakultas, serta pendampingan Kementerian Kesehatan.

Kerja sama itu, kata Ika, diperlukan “agar inovasi yang kita hasilkan memenuhi standar regulasi dan mampu menggantikan teknologi sebelumnya dengan lebih baik.”

Tantangan Menjaga Konsistensi Riset

Menurut Ika, pekerjaan peneliti tidak selesai ketika sebuah inovasi berhasil dibuat. Produk yang sudah dipakai masyarakat justru memunculkan catatan untuk pengembangan berikutnya.

“Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi untuk pengembangan dan diversifikasi inovasi,” jelasnya.

Ia juga mengakui dosen di Indonesia memikul beban administratif yang cukup tinggi. Karena itu, menjaga keberlanjutan riset dan inovasi menjadi tantangan tersendiri.

“Saya kira sudah menjadi kewajiban ilmuwan untuk konsisten, tidak berpindah-pindah bidang, dan menguasai bidangnya secara mendalam,” ujar Ika.

Baca juga Riset UGM tentang prolotherapy untuk nyeri lutut

Selain itu, ia berharap Indonesia makin mandiri mengembangkan alat kesehatan dan produk farmasi sehingga tidak terlalu bergantung pada teknologi dari luar negeri.

“Saya ingin Indonesia mandiri dan berdaulat dalam bidang alkes dan farmaseutika,” ungkapnya.

Baca juga Kecerdasan buatan untuk mendeteksi kegagalan implan gigi

Bagi Ika Dewi Ana, penghargaan ini juga pengingat untuk mendidik mahasiswa agar mampu meneliti rekayasa jaringan dengan baik, benar, dan etis.

“Ilmu yang telah dikembangkan perlu terus dilestarikan dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan umat manusia,” kata Ika.

Bagikan

Baca Juga

Dekan FIKK Unesa: Tubuh Kurang Gerak Berisiko Penyakit Mematikan
Peneliti ITS Kembangkan Baterai Aluminium Berbasis Air Laut
Riset UGM Soroti Umpan Klik pada Konten Afiliasi Digital
Mahasiswa UGM Rancang Jembatan Darurat Bertenaga Surya
Riset UGM: Prolotherapy dan Olahraga Redakan Nyeri Lutut
Guru Besar UGM: Ayam Bebas Sangkar Tak Bebas Penyakit