IA-CEPA, Mutu Ekspor Lebih Menentukan daripada Volume Dagang

A A

Ilustrasi peti kemas dan derek di terminal Pelabuhan Makassar. [Foto: Pexels]

  • Dalam model jangka panjang, koefisien kompleksitas ekonomi 3,968, di atas impor 1,151 dan ekspor ke Australia 0,188.
  • Dalam jangka pendek, perubahan ekspor, impor, dan harga perdagangan besar ditandai signifikan, sedangkan kompleksitas ekonomi tidak.
  • Ekspor Indonesia ke Australia membaik dibandingkan 2019, tetapi nilai impor dari Australia masih melampaui ekspor.
  • Periode awal IA-CEPA berimpit dengan krisis COVID-19, sehingga penulis meminta koefisien koreksi galat dibaca hati-hati.
  • Redaksi menemukan tanda signifikansi pada sejumlah koefisien tidak sejalan dengan galat bakunya.

Cekricek.id — Ekspor Indonesia ke Australia membaik sejak IA-CEPA berlaku, sementara impor dari Australia tetap lebih besar. Dalam hitungan empat peneliti ekonomi, kedua arus barang itu sama-sama terkait dengan pertumbuhan Indonesia. Namun, yang paling kuat dalam jangka panjang bukan volume dagang, melainkan kompleksitas ekonomi.

Kompleksitas ekonomi diukur dengan Indeks Kompleksitas Ekonomi, ukuran pengetahuan produktif yang tertanam dalam keranjang ekspor sebuah negara. Dalam model jangka panjang, koefisien indeks itu 3,968. Koefisien impor dari Australia 1,151, sedangkan ekspor ke Australia hanya 0,188. Dari selisih itu penulisnya menyimpulkan mutu dan kecanggihan ekspor lebih menentukan daripada volumenya.

Penelitian itu ditulis Arif Darmawan, Latiffa Aurelien, Muhammad Farhan, dan Restu A. Suryaman. Darmawan tercatat di Departemen Ekonomi Social Sciences University of Ankara, Turki, serta Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Lampung. Aurelien berasal dari Universitas Lampung, Farhan dari Saint Petersburg State University of Economics, Rusia, dan Suryaman dari Universitas Pasundan.

Judul papernya Trade Complexity and Growth under the Indonesia-Australia Partnership. Artikel itu terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi Volume 15 Nomor 2 tahun 2026, halaman 327–338. Naskahnya diterima 17 Mei 2026, direvisi 8 Juni 2026, dan disetujui 15 Juni 2026. Paper itu tersedia daring pada Agustus 2026, lalu terbit reguler pada September 2026.

Daftar Isi
  1. Ekspor Naik Sejak IA-CEPA, Defisit Tetap Bertahan
  2. Lima Variabel, Satu Model Koreksi Galat
  3. Jangka Panjang: Kompleksitas di Atas Volume
  4. Jangka Pendek: Harga dan Arus Barang
  5. Uji Diagnostik Lolos, Tanda Bintang Janggal
  6. Strategi Volume dan Strategi Kemampuan

Ekspor Naik Sejak IA-CEPA, Defisit Tetap Bertahan

Menurut naskah itu, Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Australia ditandatangani pada Juli 2020. Perjanjian yang disingkat IA-CEPA itu dimaksudkan membuka akses pasar, menghapus hambatan dagang, dan mendorong kerja sama investasi, keterampilan, jasa, serta rantai nilai kawasan. Bea masuk dihapus untuk sejumlah sektor, antara lain otomotif, kayu, karet, tekstil, elektronik, mesin, makanan dan minuman, serta industri kreatif.

Sesudah IA-CEPA, kedua sisi neraca bergerak ke arah berbeda. Ekspor Indonesia ke Australia membaik dibandingkan 2019, tahun sebelum perjanjian berlaku. Pada saat yang sama, nilai impor dari Australia melampaui ekspor, sehingga Indonesia tetap mencatat defisit. Defisit terdalam terjadi pada 2021 sampai 2023, terutama karena lonjakan impor dari Australia.

Karena itu, bagi penulis, pertanyaannya bukan hanya apakah dagang bertambah sesudah liberalisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah susunan dagang itu dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang. Riset sebelumnya tentang perjanjian dagang Indonesia, tulis mereka, lebih banyak membahas akses pasar, investasi asing, penyesuaian sektor, nilai tukar, atau volume dagang.

Baca juga Ekonomi bayangan Indonesia setara 5,36 persen dari PDB

Lima Variabel, Satu Model Koreksi Galat

Penulis memasukkan lima variabel ke dalam satu model. Dua di antaranya arus barang, yakni ekspor ke Australia dan impor dari Australia dalam miliar dolar AS. Tiga lainnya ukuran struktur dan harga, yaitu Indeks Kompleksitas Ekonomi, porsi perdagangan barang terhadap PDB, dan Indeks Harga Perdagangan Besar. Yang dijelaskan adalah laju pertumbuhan PDB riil Indonesia.

Data pertumbuhan diambil dari Bank Dunia dan IMF, ekspor dan impor dari Trade Map dan DFAT, indeks kompleksitas dari OEC World, serta harga perdagangan besar dari BPS dan Bank Dunia. Semuanya data tahunan 2010–2025, sehingga model bersandar pada 16 amatan. Penulis beralasan pertumbuhan, indeks kompleksitas, dan porsi dagang hanya dilaporkan resmi setahun sekali.

Data kuartalan, menurut mereka, akan memaksa interpolasi dan menambah variasi buatan. Dengan hanya lima tahun sesudah perjanjian, 2020–2025, data kuartalan pun baru menghasilkan 20 amatan. Jumlah itu dinilai belum cukup untuk prosedur dua langkah Engle-Granger. Pada sampel kecil, tulis penulis, tujuan utamanya memastikan ada hubungan jangka panjang yang stabil tanpa model yang terlalu gemuk.

Langkah pertama mencari hubungan jangka panjang lewat regresi kointegrasi. Langkah kedua melihat perubahan dari tahun ke tahun, sambil mengukur seberapa cepat pertumbuhan kembali ke jalurnya sesudah terguncang. Keenam deret data tidak stasioner pada level dan menjadi stasioner sesudah diferensiasi pertama. Porsi perdagangan barang baru lolos pada taraf 10 persen, sementara lima deret lain lolos pada taraf 5 persen.

Jangka Panjang: Kompleksitas di Atas Volume

Dalam model jangka panjang, kelima variabel berkoefisien positif. Kompleksitas ekonomi paling besar, 3,968, disusul impor 1,151 dan porsi perdagangan barang 0,411. Ekspor berada di angka 0,188, sedangkan harga perdagangan besar 0,071. Konstantanya negatif 10,938, dengan R² terkoreksi 0,584 dan statistik Durbin-Watson 2,056. Menurut penulis, angka itu wajar untuk model dagang bilateral yang ramping, karena pertumbuhan juga dipengaruhi investasi domestik, belanja pemerintah, harga komoditas, dan kondisi keuangan global.

Kompleksitas ekonomi paling besar dalam hubungan jangka panjangKoefisien jangka panjang: ECI 3,968; impor 1,151; porsi perdagangan barang 0,411; ekspor 0,188; indeks harga perdagangan besar 0,071.Kompleksitas ekonomi paling besar dalamhubungan jangka panjangKoefisien jangka panjang terhadap pertumbuhan PDB riil,2010–20250,01,02,03,04,0Kompleksitas ekonomi (ECI)3,968Impor dari Australia1,151Porsi perdagangan barang0,411Ekspor ke Australia0,188Indeks harga perdagangan besar0,071Kompleksitas ekonomi diberi warna berbeda karena koefisiennyaterbesar. Model memakai 16 amatan tahunan.cekricek.id
Sumber: Darmawan dkk. (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(2): 333, Tabel 6. Grafik: Cekricek.id

Penulis membaca selisih itu sebagai tanda bahwa komposisi dan kecanggihan ekspor lebih penting daripada volume dagang semata. Ekspor bekerja lewat permintaan, pemasukan devisa, dan skala ekonomi. Di sisi lain, impor dari Australia berupa pangan, bahan baku, dan barang antara yang menopang produksi serta membantu menjaga stabilitas harga di Indonesia.

Karena itu, penulis menolak membaca hubungan dagang ini sebagai cerita defisit belaka. “Defisit perdagangan dapat berjalan bersama dampak pertumbuhan ketika impor memperbesar kapasitas produksi, tetapi itu juga menandakan perlunya daya saing ekspor Indonesia yang lebih baik,” tulis Arif Darmawan dan rekan-rekannya.

Baca juga DAK nonfisik dan DAK fisik di daerah tertinggal

Jangka Pendek: Harga dan Arus Barang

Gambarnya berubah ketika yang diukur adalah perubahan tahunan. Perubahan ekspor berkoefisien 0,113, perubahan impor 0,680, dan perubahan harga perdagangan besar 0,074. Ketiganya ditandai signifikan. Sebaliknya, perubahan kompleksitas ekonomi berkoefisien 20,373 dan perubahan porsi dagang 0,249, tetapi keduanya tidak signifikan. Model jangka pendek ini mencatat R² terkoreksi 0,785.

Impor punya koefisien terbesar, baik jangka panjang maupun jangka pendekKoefisien jangka panjang: ekspor 0,188; impor 1,151; porsi perdagangan barang 0,411; indeks harga perdagangan besar 0,071. Jangka pendek: ekspor 0,113; impor 0,680; porsi perdagangan barang 0,249; indeks harga perdagangan besar 0,074.Impor punya koefisien terbesar, baik jangkapanjang maupun jangka pendekKoefisien terhadap pertumbuhan PDB riil Indonesia,2010–2025Jangka panjangJangka pendek0,00,20,50,81,01,2Ekspor, jangka panjang0,188Ekspor, jangka pendek0,113Impor, jangka panjang1,151Impor, jangka pendek0,680Porsi perdagangan barang, jangka panjang0,411Porsi perdagangan barang, jangka pendek0,249Indeks harga perdagangan besar, jangka panjang0,071Indeks harga perdagangan besar, jangka pendek0,074Kompleksitas ekonomi tidak digambar karena skalanya jauh lebih besar:3,968 jangka panjang dan 20,373 jangka pendek. Dalam jangka pendek,kompleksitas ekonomi dan porsi perdagangan barang tidak signifikan.cekricek.id
Sumber: Darmawan dkk. (2026), Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi 15(2): 333–334, Tabel 6 dan 7. Grafik: Cekricek.id

Penulis tidak menganggap perbedaan hasil kajian IA-CEPA itu sebagai kegagalan model. Volume dagang dan harga bisa berubah dalam setahun karena kondisi pasokan, biaya impor, dan permintaan dalam negeri. Kompleksitas ekonomi menyangkut pendidikan, investasi, peningkatan keterampilan, integrasi teknologi, dan koordinasi kelembagaan. Karena itu, dampaknya baru terasa dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Harga perdagangan besar memberi pembanding lain. Indeksnya bernilai 104 pada 2010, naik ke puncak 202 pada 2024, lalu turun sedikit pada 2025. Menurut penulis, pola itu menunjukkan harga grosir dalam negeri dipengaruhi permintaan domestik sekaligus tekanan dagang dari luar. Tekanan itu termasuk naik-turun harga komoditas, biaya impor, dan gangguan rantai pasok.

Koefisien koreksi galat bernilai negatif 1,413 dan ditandai signifikan pada taraf 5 persen. Artinya, sesudah guncangan, hubungan pertumbuhan dan dagang kembali ke keseimbangan jangka panjangnya. Penulis mengakui besarnya angka itu memberi kesan penyesuaian berlangsung cepat, bahkan mungkin melampaui titik keseimbangan. Sebelumnya, uji Engle-Granger atas residual model jangka panjang mencatat statistik ADF negatif 3,825, yang menurut penulis menandakan hubungan jangka panjang yang stabil.

Mereka juga meminta angka itu dibaca hati-hati. Periode awal IA-CEPA berimpit dengan krisis COVID-19 dan pemulihannya. Hasil tersebut, tulis penulis, tidak berarti IA-CEPA satu-satunya pemicu kebangkitan ekonomi. Sejak perjanjian berlaku, pertumbuhan tahunan Indonesia bertahan sekitar 5 persen sampai 2025, di tengah pandemi, gejolak harga komoditas, dan suku bunga global yang tinggi.

Uji Diagnostik Lolos, Tanda Bintang Janggal

Uji sesudah estimasi menunjukkan residual berdistribusi normal, dengan statistik Jarque-Bera 1,831. Tidak ditemukan heteroskedastisitas maupun autokorelasi, dan faktor inflasi varians tertinggi 2,613. Meski begitu, penulis sendiri menyarankan riset lanjutan memakai panel beberapa negara ASEAN, uji patahan struktural, serta data per sektor untuk memisahkan dampak perjanjian dari guncangan lain.

Redaksi menemukan beberapa kejanggalan naskah. Tanda signifikansi pada sejumlah koefisien tidak sejalan dengan galat bakunya. Impor jangka panjang ditandai signifikan pada taraf 5 persen, padahal koefisien 1,151 dengan galat baku 0,833 hanya sekitar 1,4 kali galatnya. Perubahan ekspor 0,113 dengan galat baku 0,077 dan perubahan impor 0,680 dengan galat baku 0,610 juga diberi dua bintang.

Kasus sebaliknya muncul pada kompleksitas ekonomi jangka panjang. Koefisien 3,968 dengan galat baku 0,578 hampir tujuh kali galatnya, tetapi hanya ditandai signifikan pada taraf 10 persen. Naskah tidak menjelaskan cara tanda bintang itu ditentukan, padahal koefisien tersebut menjadi dasar kesimpulan utama paper.

Penomoran tabel juga melompat dari Tabel 1 ke Tabel 3 tanpa Tabel 2. Naskah menyebut perpanjangan data dari sebuah studi dasar periode 2010–2023 tanpa menjelaskan studi mana yang dimaksud. Judul paper memakai Indonesia-Australia, sedangkan judul pada cara mengutip dan kepala halaman tertulis Indonesian-Australia.

Baca juga Kemiskinan Nusa Tenggara Barat turun seiring upah minimum

Strategi Volume dan Strategi Kemampuan

Rekomendasi penulis adalah bergeser dari strategi dagang berbasis volume ke strategi berbasis kemampuan. Kerja sama IA-CEPA, menurut mereka, dapat dipakai untuk menaikkan kecanggihan ekspor, mendorong kepatuhan pada standar, dan memudahkan alih teknologi. Program pelatihan juga dapat dihubungkan dengan perusahaan pengekspor barang bernilai tambah tinggi.

Stabilitas harga ikut dihitung, karena harga perdagangan besar berperan di kedua rentang waktu. Penulis juga ingin model itu dihitung ulang begitu data 2026–2027 tersedia. Tujuannya melihat apakah kenaikan indeks kompleksitas di atas nol akan memberi dividen pertumbuhan yang terus naik. Data tambahan itu, menurut mereka, juga perlu dibandingkan dengan negara mitra lain dan diuji untuk patahan struktural.

Kedua hasil itu berdiri berdampingan. Dalam hitungan setahun, pertumbuhan Indonesia bergerak bersama ekspor, impor, dan harga grosir. Dalam rentang enam belas tahun, yang paling kuat terkait adalah seberapa canggih barang yang dijual. Paper ini tidak menyatakan salah satu jalur lebih penting bagi kebijakan hari ini, dan data sesudah IA-CEPA baru mencakup enam tahun.

Bagikan

Baca Juga

Kemiskinan Nusa Tenggara Barat Turun Seiring Upah Minimum
DAK Nonfisik Tekan Kemiskinan, DAK Fisik Bekerja di Kepulauan
Ibu Tunggal Bercerai dan Ditinggal Mati, Beda Jalur Kemiskinan
Program Indonesia Pintar Tak Terbukti Tekan Putus Sekolah SMA
Ekonom UGM Urai Selisih Angka Kemiskinan Bank Dunia dan BPS
Pekerja Migran Justru Sedikit dari Provinsi Paling Miskin