- Sulapa Eppa berarti empat sisi, mewakili api, air, angin, dan tanah.
- Empat nilainya macca, malempu, warani, dan getteng dibaca sebagai habitus kolektif.
- Modal kultural, sosial, ekonomi, dan simbolik disebut menopang kelanjutannya.
- Kajiannya seluruhnya kepustakaan, tanpa wawancara maupun pengamatan lapangan.
Daftar Isi
Anyaman bambu berbentuk segi empat itu berdiri di pelaminan orang Bugis setiap kali ada pernikahan, dan namanya walasuji. Ia tidak menopang apa pun dan tidak menyimpan apa pun. Yang dijaga justru bentuknya, sebab empat sisinya mengulang satu hitungan tua yang juga mengatur tata ruang rumah panggung dan cara orang menimbang tingkah lakunya sendiri.
Hitungan itu disebut Sulapa Eppa, dan kelanjutannya di zaman sekarang ditelusuri Andi Kahlil Gibran, mahasiswa Magister Pendidikan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, dalam artikel Sulapa Eppa Local Wisdom in Modern Social Dynamics: A Habitus Perspective of Pierre Bourdieu di V-Art: Journal of Fine Art, Volume 5 Nomor 1 edisi Desember 2025. Naskahnya diterima 23 November 2025, disetujui 29 Desember 2025, dan terbit sehari kemudian.
Segi Empat yang Menjadi Pegangan Hidup
Secara harfiah, Sulapa Eppa berarti empat sisi atau segi empat. Empat sisi itu mewakili empat unsur kehidupan, yaitu api, air, angin, dan tanah. Mattulada, yang menulis soal ini pada 1985 dan dipakai sebagai rujukan utama, menjelaskan bahwa pandangan kosmologi Bugis menempatkan manusia sebagai bagian dari tatanan semesta, sehingga keselarasan antara manusia, alam, dan nilai sosial menjadi dasar hidup bersama.
Dari empat unsur itu diturunkan empat nilai yang dipakai menilai orang. Jusmiati, dalam tulisan terbitan 2024 yang dikutip naskah ini, menyebut keempatnya macca yang berarti kecerdasan dan kearifan, malempu yang berarti kejujuran, warani yang berarti keberanian, dan getteng yang berarti keteguhan. Keempatnya diwariskan lewat pendidikan keluarga, tradisi lisan, ritual adat, dan lembaga sosial, bukan lewat aturan tertulis.
Cara Bourdieu Membaca Kebiasaan
Untuk membaca kelanjutan nilai itu, Andi Kahlil Gibran memakai perangkat Pierre Bourdieu. Yang pertama habitus, yang dalam tulisan Bourdieu terbitan 1977 diartikan sebagai sistem disposisi yang tahan lama, terbentuk lewat pengalaman sejarah, dan menuntun cara orang berpikir, merasa, serta bertindak. Habitus bekerja bukan lewat kepatuhan pada aturan formal, melainkan lewat kecenderungan praktis yang sudah mengendap dalam keseharian.
Perangkat berikutnya arena dan modal. Arena adalah ruang sosial tempat orang dan kelompok bersaing memperebutkan keabsahan, sedangkan modal adalah bekal yang menentukan posisi mereka di ruang itu. Bourdieu membaginya empat, yaitu modal kultural berupa pengetahuan dan kecakapan, modal sosial berupa jaringan hubungan, modal ekonomi berupa sumber daya material, serta modal simbolik berupa pengakuan, kehormatan, dan keabsahan.
Empat Nilai yang Pindah Arena
Arena pendidikan formal disebut sebagai ruang paling besar pengaruhnya. Dulu macca dipahami sebagai kearifan yang diperoleh dari pengalaman hidup, pengetahuan adat, dan kemampuan menjaga keselarasan sosial. Di sekolah dan kampus, pengertian itu meluas ke capaian akademik, kompetensi profesional, penguasaan teknologi, dan literasi digital, sementara intinya sebagai kemampuan mengelola hidup dengan bijak dinilai tidak berubah.
Arena ekonomi menggeser dua nilai lain. Tradisi dagang orang Bugis selama ini menumbuhkan warani sebagai keberanian mengambil risiko dan getteng sebagai keteguhan memegang prinsip. Dalam ekonomi modern yang bersandar pada teknologi dan persaingan, keberanian itu dibaca sebagai kewirausahaan, inovasi, dan keikutsertaan di pasar global, sedangkan keteguhan dibaca sebagai konsistensi moral yang tetap terbuka pada perubahan.
Arena digital memberi makna baru pada nilai keempat. Media sosial memungkinkan identitas budaya Bugis ditampilkan dan dipertukarkan melewati batas wilayah, dan di situ malempu dikaitkan dengan integritas informasi, etika berkomunikasi, serta tanggung jawab sosial di ruang maya. Warani ikut bergeser menjadi keberanian menyatakan gagasan dan mempertahankan identitas budaya dalam percakapan publik yang makin terbuka.
Baca juga Bahasa Adat Mombesara, Cara Tolaki Melamar lewat Kiasan Kebun
Empat Modal yang Menopangnya
Modal kultural disebut sebagai penopang utamanya. Bentuknya pengetahuan tentang kosmologi empat unsur, pemahaman atas keempat nilai, serta penguasaan adat dan ritual yang diturunkan antargenerasi. Wujud kesehariannya bisa ditunjuk: arsitektur rumah panggung Bola Ugi, pemakaian walasuji dalam upacara adat, kebiasaan bermusyawarah, dan penghormatan kepada orang yang lebih tua di lingkungan tempat tinggalnya. Orang yang memahami dan menjalankannya memperoleh pengakuan sebagai penjaga tradisi di kampungnya.
Modal sosial bekerja sebagai jaringan yang menjaga semuanya tetap berjalan. Ikatan kekerabatan, lembaga adat, komunitas budaya, dan tokoh masyarakat disebut membentuk jejaring yang membuat ritual tetap terselenggara dan pengetahuan tetap berpindah tangan. Karena jejaring itulah, kelanjutan Sulapa Eppa tidak bergantung pada satu dua orang, melainkan pada kebersamaan yang sudah mengakar dan terus dipakai dalam upacara pernikahan, musyawarah adat, serta kegiatan budaya lainnya.
Modal ekonomi masuk sebagai penyangga yang jarang disebut. Dukungan dana memungkinkan festival budaya digelar, rumah tradisional dirawat, literatur budaya diterbitkan, dan pendidikan berbasis kearifan lokal dijalankan. Pertumbuhan industri kreatif dan wisata budaya disebut membuka jalan sebaliknya, yaitu mengubah produk kerajinan, karya seni, dan pertunjukan yang berangkat dari Sulapa Eppa menjadi sumber pendapatan sekaligus memperkuat kesadaran orang atas identitasnya sendiri.
Kuasa yang Tidak Perlu Memaksa
Modal keempat disebut paling menentukan. Modal simbolik berupa pengakuan, kehormatan, dan keabsahan yang diberikan masyarakat, dan ia bekerja tanpa terlihat karena diterima sebagai sesuatu yang wajar. Orang yang menguasai Sulapa Eppa dan mampu menjalankan adatnya memperoleh tempat terhormat, dan dari tempat itulah pemimpin adat, tokoh masyarakat, serta tetua keluarga ikut menentukan apa yang dianggap sah.
“Keberlanjutan kearifan lokal tidak ditentukan oleh kemampuannya menolak perubahan, melainkan oleh kemampuannya menjaga keabsahan simbolik lewat reproduksi dan transformasi yang terus berjalan,” tulis Andi Kahlil Gibran di bagian akhir pembahasannya. Kalimat itu menutup uraian tentang kuasa simbolik, sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa lambang lama masih dipakai di arena yang baru.
Baca juga Hukum Adat Tau Taa Wana, Givu yang Diputus lewat Mogombo
Praktik yang Justru Menipis
Tidak semuanya bertahan sama kuatnya. Pengetahuan tentang kosmologi empat unsur disebut makin jarang dipakai sebagai pedoman hidup sehari-hari dan lebih sering dipahami sebatas lambang budaya. Keikutsertaan dalam sebagian kegiatan adat ikut menurun seiring bertambahnya waktu yang dihabiskan untuk pendidikan formal, karier profesional, dan budaya digital, terutama pada generasi yang lebih muda dan tinggal jauh dari kampung halamannya.
Sumber keabsahannya pun berpindah. Kedudukan terhormat kini tidak lagi ditentukan status adat atau garis keturunan semata, melainkan juga oleh jenjang pendidikan, capaian profesional, penguasaan teknologi, dan pengaruh di ruang publik digital. Keadaan itu disebut berpotensi mengurangi daya tarik lambang-lambang lama bagi generasi yang lebih muda, meski menurut Bourdieu penguasaan satu bentuk modal atas bentuk lainnya tidak pernah mutlak dan tidak pernah selesai.
Di sisi lain, ruang digital dibaca sebagai arena baru yang justru menolong. Komunitas budaya memakainya untuk mendokumentasikan ritual adat, memperkenalkan lambang Sulapa Eppa, dan menyebarkan nilai-nilainya kepada khalayak yang lebih luas. Festival budaya, program pendidikan berbasis kearifan lokal, dan penelitian akademik disebut menjadi arena produksi modal simbolik yang baru.
Batas Kajian Kepustakaan Ini
Metodenya perlu dicatat pembaca. Kajian ini seluruhnya penelitian kepustakaan, mengikuti rumusan Zed terbitan 2014, dengan sumber primer berupa empat karya Bourdieu terbitan 1977, 1986, 1990, dan 1991, ditambah karya Mattulada terbitan 1985. Analisisnya memakai analisis isi interpretatif lewat tahap reduksi data, pengelompokan tema, penafsiran, dan penarikan simpulan, dengan triangulasi sumber sebagai cara menjaga keabsahan datanya.
Artinya tidak ada data lapangan sama sekali. Tidak ada wawancara, tidak ada pengamatan, dan tidak ada angka yang dikumpulkan sendiri oleh penulisnya. Pernyataan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan adat menurun dan bahwa pengetahuan kosmologi makin jarang dipakai karena itu berdiri sebagai pembacaan atas kepustakaan, bukan sebagai temuan yang bisa ditakar pembaca dari tabel mana pun.
Naskah ini juga tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri. Jarak antara tanggal disetujui dan tanggal terbitnya hanya satu hari, yaitu 29 dan 30 Desember 2025, dan naskahnya tidak menjelaskan proses penyuntingan di antara keduanya. Keduanya tercetak di halaman pertama artikel itu dan bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya, berdampingan dengan tanggal naskah diterima pada 23 November 2025.
Baca juga Pusako Randah Mengalir ke Anak Perempuan di Tujuh Daerah Minang
Yang tersisa dari kajian itu adalah satu anyaman bambu bersisi empat yang masih berdiri di pelaminan, dan empat kata yang artinya melar mengikuti tempat orang bekerja. Macca kini bisa berarti cakap memakai perangkat digital, warani bisa berarti berani membuka usaha. Yang belum diukur siapa pun adalah berapa banyak orang Bugis hari ini yang masih menyebut keempatnya ketika ditanya pegangan hidupnya.















