- Nandong adalah syair berirama dari Simeulue yang memuat narasi peristiwa penting masyarakatnya.
- Dahulu nandong hanya diiringi gendang, sesudah tahun 2000-an biola dan seruling ikut mengiringi.
- Nandong tampil di Pekan Kebudayaan Aceh 2002 dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016.
- Jumlah penandong aktif semakin berkurang dan kebanyakan dari mereka sudah berusia lanjut.
Daftar Isi
Dahulu nandong, syair berirama dari Kabupaten Simeulue, Aceh, dilantunkan pada acara adat tertentu dengan iringan yang sangat sederhana, biasanya hanya gendang. Sesudah tahun 2000-an biola dan seruling ikut mengiringinya, panggungnya makin beragam, dan syair-syair barunya menyerap kosakata modern. Pada 2016 tradisi lisan ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, sementara jumlah penandong, sebutan bagi pelantunnya, yang masih aktif semakin berkurang dan kebanyakan sudah berusia lanjut.
Riwayat perubahan itu disusun oleh Okhaifi Prasetyo, Madhan Anis, Zulkifli Abdurrahman Usman, Imam Hadi Sutrisno, dan Usman dari Pendidikan Sejarah Universitas Samudra dalam artikel Nandong Simeulue: Rekonstruksi Dinamika Tradisi Lisan dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sejarah SMA, yang terbit di Seuneubok Lada: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan volume 12 nomor 2 tahun 2025. Kelimanya bekerja dari kepustakaan, menelusuri artikel ilmiah, skripsi, buku kurikulum, dan modul pelajaran sejarah, lalu merangkainya menjadi satu alur.
Nandong, dalam uraian mereka, adalah syair berirama yang memuat narasi tentang peristiwa penting dalam sejarah masyarakat Simeulue. Berbeda dengan banyak tradisi lisan lain di Indonesia yang lebih bersifat ritual atau hiburan, nandong digambarkan sebagai medium penyampai sejarah dan kearifan lokal yang terstruktur, sehingga para penulis menyebutnya bukan sekadar kesenian, melainkan sebuah sistem pengetahuan yang hidup dan terus berkembang.
Syair yang Lebih Tua daripada Catatan tentang Asalnya
Dari mana nandong bermula tidak dapat dipastikan, dan para penulis mengakuinya sejak awal: asal-usul yang sebenarnya sulit ditelusuri, walau berbagai bukti menunjukkan tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut menyebut nandong telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Simeulue jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dan para tetua adat kerap menuturkan bagaimana nenek moyang mereka melantunkannya dalam prosesi kelahiran, pernikahan, hingga upacara kematian.
Yang membedakannya, menurut tulisan itu, ialah kesanggupannya merekam peristiwa. Tsunami 1907 melahirkan syair yang kemudian dikenal sebagai Smong, dan ketika tsunami kembali melanda Aceh pada 2004, warga Simeulue yang masih mengingat syair tersebut segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Bagi para penulis, pengetahuan yang tetap bekerja setelah hampir seabad itu menunjukkan betapa kuatnya tradisi lisan menjaga hal penting yang dimiliki suatu masyarakat.
Baca juga Tradisi Melengkan Gayo Kini Jarang karena Syairnya Tak Dihafal
Dari Gendang yang Sakral ke Biola dan Seruling
Namun nandong yang menyimpan ingatan 1907 itu bukan nandong yang sama dengan yang tampil hari ini. Pada masa lalu, pertunjukannya lebih bersifat sakral dan terbatas pada acara adat tertentu, dengan alat musik yang sangat sederhana, biasanya hanya gendang sebagai pengiring syair. Perubahan besar baru terlihat setelah tahun 2000-an, ketika alat musik baru seperti biola dan seruling ikut mengiringi dan konteks pertunjukannya menjadi semakin beragam.
Cara membawakannya pun bergeser. Jika dahulu nandong hanya dilantunkan oleh seorang atau sekelompok kecil pelantun, kini muncul format pertunjukan yang lebih kompleks, dengan pembagian peran yang jelas antara vokalis, pemusik, dan penari. Beberapa kelompok bahkan mulai bereksperimen dengan aransemen multi-bagian dan harmonisasi vokal yang lebih modern, sesuatu yang oleh para penulis dibaca sebagai tanda daya cipta yang masih terus hidup di dalam tradisi ini.
Syairnya sendiri tidak luput dari penyesuaian. Bahasa dan metaforanya ikut bergerak bersama zaman, dan syair-syair baru yang lahir dalam dua dekade terakhir mulai memasukkan kosakata modern serta tema-tema kontemporer, meski pola dasar tradisionalnya tetap dipertahankan. Para penulis menyebut gejala ini sebagai dialog kreatif antara tradisi dan modernitas, yang berlangsung secara organik di dalam tubuh nandong itu sendiri.
Bentuknya Berganti, Isinya Bertahan
Perubahan itu tidak terjadi di ruang hampa. Migrasi penduduk, perkembangan teknologi komunikasi, dan masuknya pengaruh budaya global menciptakan konteks baru bagi nandong, yang tidak lagi hidup dalam isolasi budaya dan harus berhadapan dengan berbagai kekuatan perubahan. Dari pertemuan itulah, tulis mereka, terbentuk wajah nandong masa kini, yang tidak sepenuhnya tradisional, tetapi juga tidak sepenuhnya modern.
Justru di tengah pergantian rupa itu, fungsi utamanya disebut tetap berdiri. Nandong masih menjadi media penyampai nilai dan pengetahuan, dan syair tentang sejarah lokal, kearifan ekologis, serta norma sosial tetap menjadi inti pertunjukan, meskipun kemasannya kian bervariasi. Di situlah para penulis melihat ketahanan nilai dasar tradisi ini, sesuatu yang tidak ikut larut ketika bentuk ekspresinya terus berganti.
Perjalanan nandong dari tradisi lisan sederhana hingga warisan budaya nasional, menurut para penulis, mencatat respons kreatif terhadap perubahan zaman sekaligus upaya keras mempertahankan inti tradisinya. “Transformasi yang terjadi bukanlah pengingkaran terhadap akar budaya, melainkan bukti kemampuan adaptasi sebuah tradisi untuk tetap relevan dalam konteks yang terus berubah,” tulis Okhaifi Prasetyo dan rekan-rekannya. Dinamika itulah, lanjut mereka, yang membuat nandong tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus menjadi bagian aktif dari kehidupan budaya masyarakat.
Baca juga Anak Muda Muna Membawa Nyanyian Kantola ke Layar Ponsel
Panggung Pekan Kebudayaan Aceh dan Pengakuan Negara
Makna dan nilai simbolis nandong ikut bergeser. Dari yang semula murni ekspresi budaya sebuah komunitas, nandong dalam dua dekade terakhir mulai mengemban fungsi baru sebagai penanda identitas daerah, bahkan nasional. Pergeseran ini tampak dalam berbagai pertunjukan resmi, tempat nandong kerap ditampilkan sebagai wakil budaya Aceh atau Indonesia, dan menurut para penulis hal itu membawa akibat tersendiri bagi estetika dan materi pertunjukannya.
Fase tertinggi perkembangan itu mereka letakkan antara 2002 dan 2016. Keikutsertaan nandong dalam Pekan Kebudayaan Aceh pada 2002 disebut sebagai titik balik yang membawa kesenian ini keluar dari batas geografis Simeulue, sedangkan penetapannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016 mengukuhkan posisinya sebagai bagian dari identitas budaya nasional. Pengakuan itu menambah perhatian berbagai pihak pada pelestarian, tetapi sekaligus, catat mereka, menimbulkan kekhawatiran akan komersialisasi yang berlebihan.
Penandong Menua, Pelajar Menjauh
Seperti banyak tradisi lisan lain, tulis para penulis, nandong kini menghadapi tantangan serius dalam kelangsungannya. Jumlah penandong, sebutan bagi pelaku nandong, yang masih aktif semakin berkurang, dan kebanyakan dari mereka sudah berusia lanjut, dan keadaan itu diperparah oleh kurangnya minat generasi muda, khususnya pelajar sekolah menengah atas, untuk mempelajari dan melestarikannya.
Tiga hal mereka sebut menyertainya: anak muda menganggap tradisi ini kuno dan tidak sesuai dengan gaya hidup modern, tidak ada ruang yang memadai untuk mempelajarinya di lembaga pendidikan formal, dan media digital menggeser minat dari bentuk ekspresi budaya tradisional. “Jika kondisi ini terus berlanjut, dalam satu atau dua dekade mendatang tradisi lisan Nandong akan kehilangan penutur aktifnya dan hanya menjadi catatan sejarah belaka,” tulis mereka.
Baca juga Nyanyian Te'o Renda Kian Jarang di Peminangan Rote
Syair sebagai Sumber Sejarah di Ruang Kelas
Pelajaran sejarah, menurut tulisan ini, dapat menjadi tempat bagi nandong di dalam pendidikan formal, terlebih Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi pengintegrasian budaya lokal. Dua materi ditunjuk secara khusus, yaitu Pemahaman Sumber Sejarah di kelas X dan Sejarah Lokal di kelas XI, tempat syair nandong dapat dibaca sebagai bentuk historiografi lisan, berbeda dari catatan sejarah berbasis tulisan.
Di kelas XI, perubahan nandong sendiri yang dijadikan bahan. Pergantian alat musik dari gendang semata menjadi mencakup biola dan seruling, tulis mereka, dapat dikaitkan dengan proses akulturasi dan pengaruh budaya luar, sehingga guru memperoleh contoh nyata untuk menjelaskan akulturasi, perubahan sosial, dan resistensi budaya. Dengan begitu, siswa melihat bagaimana unsur budaya tradisional menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Kegiatan yang diusulkan pun bertumpu pada syair itu sendiri. Siswa dapat membandingkan versi berbeda dari syair yang sama dari berbagai periode, menelaah perubahan bahasa dan metaforanya sebagai cerminan zaman, mewawancarai seniman nandong atau warga yang memahami tradisi ini dalam proyek dokumentasi sejarah lisan, bahkan mencoba menggubah syair baru berpola nandong tentang peristiwa masa kini. Melalui kerja semacam itu, mereka diharapkan belajar menilai sumber dan mengenali bias di dalamnya.
Di kelas X, syair Smong tentang tsunami 1907 mereka usulkan sebagai studi kasus ketika siswa mempelajari jenis-jenis sumber sejarah. Syair itu, tulis mereka, tidak hanya bercerita tentang bencana alam, tetapi juga menggambarkan respons masyarakat, sistem kepercayaan, dan kearifan lokal dalam menghadapinya. Penetapan nandong sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016 pun disebut dapat menjadi titik tolak diskusi tentang kebijakan pelestarian budaya dan tantangan yang dihadapi tradisi lokal.
Simpulan mereka menegaskan nandong sebagai warisan yang menyerap unsur modern dalam bahasa dan tema sambil mempertahankan struktur serta nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya. Melalui dinamika nandong, siswa disebut tidak hanya belajar memahami historiografi lisan, tetapi juga melihat sejarah sebagai proses yang terus berkembang. Memasukkan nandong ke pelajaran sejarah, tutup para penulis, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya lokal di tengah arus globalisasi.















