Tradisi Melengkan Gayo Kini Jarang karena Syairnya Tak Dihafal

A A

Pasangan pengantin berdiri bersama sejumlah orang di depan rumah beratap tinggi di Laut Tawar, Aceh Tengah, sekitar 1915. [Foto: KITLV/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

  • Sarak Opat terdiri atas reje, petue, imem, dan rakyat, empat kekuasaan yang memimpin tradisi melengkan.
  • Tetua adat menyerahkan batil berisi daun sirih, pinang, gambir, dan tembakau dengan bahasa adat khusus.
  • Hidangan dalam dalung disajikan tujuh, bagi tiga bapak dan empat ibu, sebagai simbol ketujuh anak raja.
  • Abstrak menyebut wawancara mendalam, sedangkan bagian Metode menulis penelitian ini sebagai tinjauan pustaka.
  • Banyak orang Gayo kini tidak hafal syair melengkan, sehingga tradisi itu jarang dilakukan.
Daftar Isi
  1. Sarak Opat, Empat Kekuasaan Masyarakat Gayo, Memimpin Tradisi Melengkan
  2. Batil Berisi Sirih, Pinang, Gambir, dan Tembakau Disiapkan sebelum Diserahkan kepada Pihak Ralik
  3. Pidato Melengkan Menitipkan Pesan Cinta, Kesetiaan, dan Tanggung Jawab kepada Kedua Mempelai
  4. Abstrak Menyebut Wawancara Mendalam, Bagian Metode Menulis Tinjauan Pustaka
  5. Dahulu Syairnya Dihayati Tanpa Tergesa-gesa, Kini Banyak yang Tidak Lagi Hafal

Pada tahap krusial tradisi melengkan, pihak laki-laki harus merayu dan meyakinkan pihak perempuan untuk menerima mereka sebagai pasangan hidup. Momen itu menandai penyerahan pengantin wanita dari keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki. Pidato adatnya disampaikan satu atau dua pelaku seni melengkan yang saling berhadapan. Satu mewakili pihak calon pengantin laki-laki, aman mayak. Satu lagi mewakili pihak pengantin perempuan, inen mayak.

Bahasa yang mereka ucapkan bukan bahasa sehari-hari, dan tidak semua orang suku Gayo dapat menguasainya. “Bahasa melengkan ini bukanlah bahasa sehari-hari mereka sehingga memiliki makna yang sangat sakral dalam konteks pernikahan,” tulis Razali, Lina Sundana, dan Ramli di bagian pembahasan naskah mereka, halaman 71. Bahasa adat khusus itu dipakai tetua adat ketika menyerahkan batil, tempat alat menyirih yang penyerahannya menjadi inti pelaksanaan seluruh upacara.

Razali dan Ramli berasal dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sedangkan Lina Sundana dari Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe. Ketiganya menulis Eksplorasi tradisi melengkan dalam pernikahan adat Gayo di Aceh Tengah, yang dimuat Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Volume 7 Nomor Special Issue tahun 2024, halaman 67–74. Naskah itu diterima 18 November 2023 dan terbit 1 Februari 2024.

Tiga tujuan mereka tuliskan: menjelaskan melengkan dalam konteks pernikahan suku Gayo di Aceh Tengah, mendeskripsikan proses pelaksanaannya dalam upacara pernikahan, dan mengidentifikasi makna serta perannya bagi masyarakat dan budaya Gayo. Metode yang disebut di pendahuluan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Mereka juga menyatakan akan melihat cara masyarakat Gayo, terutama generasi muda, memandang pentingnya menjaga dan memperbarui tradisi itu.

Sarak Opat, Empat Kekuasaan Masyarakat Gayo, Memimpin Tradisi Melengkan

Aceh Tengah, menurut naskah itu, didiami sejumlah kelompok etnis. Suku Alas dan Gayo disebut sebagai mayoritas, ditambah masyarakat Jawa, Minang, Batak, Karo, Aceh, dan lain-lain. Masyarakat suku Gayo di sana digambarkan memiliki batas teritorial yang jelas dan identitas budaya yang kuat, dengan tradisi, bahasa, dan adat istiadat khas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pernikahan termasuk upacara adat yang paling sakral dan dihormati dalam budaya mereka.

Peran utama dalam upacara itu diemban tokoh-tokoh yang disebut Sarak Opat. Konsepnya mengacu pada empat kekuasaan yang menjadi fondasi utama masyarakat Gayo: reje atau pemimpin adat, petue atau tokoh agama, imem atau tokoh masyarakat, dan rakyat atau masyarakat umum. Keempatnya memiliki peran kunci dalam menjalankan sekaligus memimpin tradisi melengkan. Di bagian lain naskah, unsur keempat itu ditulis sebagai wakil dari masyarakat umum.

Seni melengkan dalam pernikahan Gayo dikenal sebagai seni berpantun dalam bentuk pidato-pidato adat. Seni berpantun, tulis para peneliti, umumnya ditemukan dalam berbagai budaya. Dalam pernikahan masyarakat Gayo, melengkan menjadi unsur yang sangat penting dan harus hadir ketika pengantin diserahkan dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki, atau sebaliknya. Tradisi itu disebut warisan leluhur dan bagian integral dari budaya pernikahan suku Gayo di Aceh Tengah.

Melengkan tidak disebut sekadar pidato adat. Tradisi itu dipakai untuk memudahkan komunikasi dan diplomasi dengan kampung atau desa lain, terutama saat pesta perkawinan berlangsung. Lewat melengkan terjalin silaturahmi antara kampung asal pengantin perempuan dan kampung pengantin laki-laki. Para peneliti menyebutnya alat untuk menjaga dan memperkuat hubungan antarkampung, sekaligus simbol persatuan dalam pernikahan suku Gayo, tempat kerukunan antarkampung di Aceh Tengah dapat dipertahankan dan dirayakan.

Batil Berisi Sirih, Pinang, Gambir, dan Tembakau Disiapkan sebelum Diserahkan kepada Pihak Ralik

Proses pelaksanaannya dimulai dengan persiapan. Orang Gayo yang bertugas melaksanakan melengkan menyiapkan barang dan bahan yang diperlukan, dan unsur utamanya batil, tempat alat untuk menyirih. Isinya belo atau daun sirih, pinang, kacu atau gambir, serta bako atau tembakau. Batil itu disebut memiliki peran sentral dalam seluruh pelaksanaan tradisi melengkan, dan persiapannya digambarkan sangat penting untuk mengawali tradisi tersebut.

Di samping batil ada dalung, tempat berisi hidangan lengkap lauk-pauk yang biasanya terbuat dari tembaga atau kuningan, seukuran talam atau lebih besar. Hidangan itu disajikan dalam jumlah tujuh. Penerimanya para bapak, tiga orang, dan para ibu, empat orang. Hidangan diberikan sebagai tanda hormat. Jumlahnya pun bermakna: tujuh hidangan itu menjadi simbol dari ketujuh anak raja.

Baca juga Pernikahan Adat Dayak Kanayatn dan Tiga Belas Tumbuhannya

Tahap berikutnya penyerahan batil. Batil diserahkan sebagai tanda hormat, sopan, dan santun kepada pihak ralik, yakni wali dari pihak pengantin wanita yang diundang sebagai raja dalam upacara itu. Penyerahan dilakukan dengan ber-melengkan, ungkapan penghormatan dan penghargaan dalam bahasa adat. Bagi pihak pengantin laki-laki, persiapan dan penyerahan batil serta ber-melengkan disebut sebagai cara menunjukkan keikhlasan dan kesungguhan mereka dalam menjalani pernikahan.

Ketika tahap yang sama diuraikan untuk kedua kalinya, naskah itu merinci isi batil sedikit berbeda: beloe atau daun sirih, pinang, kapur sirih, bako atau tembakau, dan kacu atau gambir. Kapur sirih muncul di daftar kedua, tetapi tidak ada di daftar pertama. Ejaan daun sirih pun berganti dari belo menjadi beloe, padahal kedua daftar itu berada di halaman yang sama, halaman 71.

Pidato Melengkan Menitipkan Pesan Cinta, Kesetiaan, dan Tanggung Jawab kepada Kedua Mempelai

Pidato-pidato dalam seni melengkan berisi pesan tentang cinta, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam pernikahan, serta nasihat tentang cara menjalani kehidupan berumah tangga dengan harmoni dan kebahagiaan. Lewat pidato itulah nilai-nilai budaya dan filosofis suku Gayo diwariskan kepada kedua mempelai. Para peneliti menyebut pesan, nasihat, dan nilai itu disampaikan dengan indah dan penuh makna. Nilai budaya, tradisi, dan bahasa khas Gayo, tulis mereka, tercermin di dalamnya.

Rumah panggung beratap tebal dengan deretan ornamen bundar putih di Toeweran dekat Laut Tawar
Rumah panggung beratap tebal dengan deretan ornamen bundar putih di Toeweran dekat Laut Tawar, Aceh, dalam foto terbitan 1929. [Foto: H. von Klüber/KITLV/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)]

Abstrak naskah menyebut tradisi melengkan bukan hanya simbol pernikahan, tetapi juga simbol kebersamaan, kehormatan, dan solidaritas di antara masyarakat suku Gayo. Di bagian pembahasan, makna pertama yang dicatat adalah tanda penghargaan, rasa hormat, dan penghormatan terhadap keluarga dan masyarakat. Tradisi itu juga menunjukkan kesiapan pihak laki-laki membangun hubungan harmonis dengan keluarga pengantin perempuan, dan memperkuat ikatan sosial antarindividu serta kelompok.

Peran kedua adalah media komunikasi dan diplomasi. Saat pesta perkawinan berlangsung, melengkan dipakai untuk memfasilitasi komunikasi dengan kampung lain atau dengan keluarga dari pihak pengantin perempuan. Bahasa melengkan yang tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dipakai di sini untuk menjalin hubungan baik antara kedua belah pihak. Hasilnya, menurut para peneliti, adalah suasana perdamaian dan persahabatan yang penting dalam budaya suku Gayo.

Tradisi itu juga diberi peran menjaga dan memperkuat identitas budaya suku Gayo. Di dalamnya terdapat syair-syair dan lantunan kata-kata yang merujuk pada nilai dan tradisi leluhur. Dengan melanjutkan praktiknya, menurut naskah itu, suku Gayo menjaga warisan budayanya tetap hidup untuk generasi yang akan datang, sekaligus mengingatkan diri sendiri dan orang lain tentang akar budaya mereka di tengah arus modernisasi.

Abstrak Menyebut Wawancara Mendalam, Bagian Metode Menulis Tinjauan Pustaka

Cara data dikumpulkan tidak diterangkan sama di setiap bagian naskah. Abstrak berbahasa Indonesia menyebut data penelitian tradisi melengkan dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi pustaka. Pendahuluan menyebut metodenya kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Bagian Metode menulis hal lain: metode yang digunakan adalah literature review, yang difokuskan pada budaya dan nilai-nilai filosofis suku Gayo di Aceh Tengah.

Menurut bagian itu, tinjauan pustaka dipilih karena aspek budaya dan nilai filosofis Gayo dapat ditemukan dalam teks-teks filosofis dan literatur yang ada. Langkahnya dimulai dari menentukan topik penelitian di bidang filsafat, lalu mencari sumber referensi seperti buku, artikel jurnal, makalah konferensi, dan basis data akademik. Sumber itu dibaca dan dianalisis secara cermat dan kritis. Langkah terakhir menulis reviu literatur.

Naskah itu tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Tidak ada nama atau jumlah narasumber yang diwawancarai, tidak ada kampung tempat observasi dilakukan, dan tidak ada keterangan kapan data dikumpulkan. Abstrak berbahasa Inggris menulis nama tradisinya “melengengan”, dan di satu kalimat menerjemahkannya sebagai “the tradition of bowing”, tradisi membungkuk. Potensi melengkan sebagai daya tarik wisata budaya disebut di abstrak, tetapi tidak dibahas di badan naskah.

Baca juga 75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh

Dahulu Syairnya Dihayati Tanpa Tergesa-gesa, Kini Banyak yang Tidak Lagi Hafal

Dahulu, banyak orang Gayo melaksanakan melengkan dengan bahasa yang halus dan lembut, dan masyarakatnya sangat menikmati tradisi itu. Pelaksanaannya tanpa tergesa-gesa. Syair-syairnya dihayati dengan mendalam. Perbedaan antara tradisi melengkan dahulu dan sekarang, tulis Razali, Lina Sundana, dan Ramli, sangat mencolok. Catatan itu mereka taruh di subbagian proses pelaksanaan, halaman 71, tepat sesudah uraian penyerahan batil.

“Banyak suku Gayo yang tidak mengerti makna dan nilai dari tradisi ini, dan bahasa yang digunakan lebih kasar,” tulis mereka pada halaman 71. Banyak pula yang tidak memahami melengkan dan tidak lagi melaksanakannya dalam acara pernikahan, khitanan, atau upacara lain. Di bagian penutup, perubahan itu dikaitkan dengan era modern, globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang mengubah cara generasi muda Gayo memandang dan merayakan tradisi ini.

Perubahan itu disebut punya banyak penyebab. Salah satunya ketidakmampuan orang Gayo saat ini untuk bermelengkan. “Mereka tidak hafal dan tidak memahami syair-syair yang terkandung dalam melengkan,” tulis para peneliti di halaman 72. Oleh karena itu, tradisi melengkan sudah jarang dilakukan oleh suku Gayo sendiri. Kondisi tersebut mereka sebut tantangan dalam menjaga dan mempertahankan warisan budaya di tengah perubahan zaman.

Baca juga Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang

Tahap terakhir melengkan adalah penesah, atau penjejak. Ia menjadi simbol bahwa wali dari pengantin perempuan telah pindah ke tempat baru atau rumah baru setelah pernikahan. Nilainya bertingkat. Empat, yang paling sedikit, sekitar empat puluh ribu rupiah. Delapan, sekitar delapan puluh ribu rupiah. Enam belas, seratus enam puluh ribu rupiah. Tiga puluh dua, yang paling banyak, tiga ratus dua puluh ribu rupiah, dan biasanya diberikan kepada kepala desa atau raja.

Bagikan

Baca Juga

Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat di Satu Desa di Bulungan
Tradisi Adat Suku Sasak, Atap Bale yang Membuat Tamu Menunduk
Ketua Adat Dayak Desa Dipilih lewat Lelehan Telur Ayam
Bahasa Adat Mombesara, Cara Tolaki Melamar lewat Kiasan Kebun
Buntang Mamali Mati, Aruh Dayak Deah untuk Membekali Arwah
Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi