- Jalan kedua ditempuh lewat pelatihan bagi anak muda dalam bentuk lokakarya, sedangkan jalan ketiga berupa dokumentasi digital yang menghasilkan arsip audio-visual.
- Namun, pentas yang dihidupkan kembali itu tidak dibaca sebagai hiburan rutin belaka.
- Kehadiran di ruang digital disebut perlawanan yang pragmatis, sebab inti lirik yang mengkritik modernitas tetap dijaga.
- Semua itu mensyaratkan pewarisan, dan di sini para tetua berperan sebagai penjaga sekaligus pembimbing bagi kaum muda.
Daftar Isi
Melestarikan tradisi kerap dibayangkan sebagai pekerjaan menyimpan, seolah-olah sebuah nyanyian lama cukup direkam, diberi label, lalu diletakkan di rak agar selamat dari zaman. Namun, orang Muna di Sulawesi Tenggara memperlakukan kantola, sastra lisan mereka, dengan cara yang hampir berlawanan, sebab nyanyian itu justru dibawa keluar dari tempat penyimpanan, dipentaskan secara teratur, diajarkan kepada anak muda, dan diunggah ke media sosial, tepat di tengah arus hiburan global yang selama ini dianggap mengancamnya.
Pembacaan itu disusun Darwan Sari dan Patta Hindi Asis dari Universitas Muhammadiyah Kendari bersama Ustianti dari Universitas Halu Oleo dalam artikel Beyond Preservation: A Negotiated Model of Oral Tradition Revitalization against Cultural Hegemony in Muna, Southeast Sulawesi, yang terbit di Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya volume 28 nomor 1 tahun 2026. Mereka menyimpulkan bahwa menghidupkan kembali kantola bukan sekadar upaya pelestarian, melainkan perlawanan simbolik terhadap penyeragaman budaya, sekaligus cara sebuah masyarakat menjaga daya tahan budayanya sendiri.
Kesimpulan itu bertumpu pada dua kecamatan di Kabupaten Muna, yang oleh para penulis disebut sebagai simpul terakhir tempat kantola masih aktif dipraktikkan, serta pada delapan orang yang mereka temui, yakni tiga maestro berusia 65 sampai 80 tahun, dua tokoh adat, dan tiga penggerak komunitas pemuda. Menurut naskah, kantola kini terancam punah akibat tekanan modernisasi dan dominasi budaya global, padahal ia bukan hanya ekspresi seni, melainkan wadah pandangan dunia, kerangka etika, dan ingatan budaya orang Muna.
Tiga jalan bagi nyanyian lama
Jalan pertama adalah panggung itu sendiri, sebab kantola kini dipentaskan secara rutin dalam acara komunitas bulanan, bukan menunggu kesempatan yang datang sesekali. Jalan kedua ditempuh lewat pelatihan bagi anak muda dalam bentuk lokakarya, sedangkan jalan ketiga berupa dokumentasi digital yang menghasilkan arsip audio-visual. Ketiganya, menurut para penulis, memperlihatkan bagaimana pelaku setempat berusaha mempertahankan praktik kantola yang lama sambil menyesuaikannya agar tetap bermakna bagi keadaan hari ini, tanpa melepaskan keaslian identitas lokal.
Namun, pentas yang dihidupkan kembali itu tidak dibaca sebagai hiburan rutin belaka. Naskah menyebutnya ruang perundingan, tempat struktur lirik tradisional yang kaku mulai menyesuaikan diri dengan persoalan masa kini tanpa kehilangan inti sakralnya, dan sekaligus ritual bersama untuk meneguhkan kembali solidaritas orang Muna di hadapan tekanan ekonomi dan budaya dari luar. Latihan yang teratur bahkan diibaratkan sebagai benteng budaya, yang dibangun agar nilai-nilai komunal tidak terpecah-pecah oleh gaya hidup individualistis yang dibawa modernitas.
Keterlibatan generasi muda pun diberi tafsir yang lebih dalam daripada sekadar ikut serta. Wawancara para penulis menunjukkan bahwa pemuda Muna merasa terasing oleh budaya populer yang seragam, sehingga kantola mereka datangi sebagai jangkar budaya di tengah identitas yang terguncang. Nyanyian itu, tulis naskah, memberi mereka kedudukan sosial dan identitas khas yang tidak dapat diberikan budaya global, dan keikutsertaan mereka dibaca sebagai upaya merumuskan ulang apa artinya menjadi modern sekaligus tetap menjadi orang Muna.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Ponsel yang berbalik arah
Justru di wilayah digital itulah argumen para penulis menjadi paling berani. Orang Muna, tulis mereka, tidak sekadar menyimpan rekaman kantola di platform digital, melainkan berunding dengan teknologi, sebab pemakaian media sosial oleh para pemuda dibaca sebagai usaha merebut kembali ruang digital yang lama dikuasai budaya populer global. Dengan mengunggah pertunjukan kantola, mereka mengubah alat global, yakni ponsel pintar dan media sosial, menjadi alat lokal untuk menguatkan identitas, dan dokumentasi itu disebut sebagai arsip hidup.
Arsip semacam itu tidak dikerjakan sendirian oleh anak muda. Naskah mencatat bahwa lembaga budaya setempat bekerja sama dengan para tetua untuk menyusun arsip digital yang dapat dijangkau khalayak lebih luas, dengan tujuan utama agar lagu dan pertunjukan tetap tersimpan meskipun para pelantun tua satu per satu berpulang. Lewat platform digital, kantola juga sampai kepada kaum muda yang lebih melek teknologi, dan rekaman itu sekaligus dapat menjadi sarana promosi bagi wisatawan serta peneliti yang berminat pada budaya Muna.
Di situlah persoalannya, dan para penulis tidak menyembunyikannya. Pemakaian YouTube dan TikTok, menurut mereka, dapat dilihat sebagai ketundukan pada hegemoni teknologi Barat, karena orang Muna terpaksa mengikuti algoritma platform, durasi video yang pendek, dan standar estetika tertentu agar kontennya layak tampil. Dalam keadaan demikian kantola terancam menjadi komoditas, sebab nilai sakralnya dapat menyusut menjadi sekadar konten yang dibuat demi tanda suka dan keterlibatan penonton, sesuatu yang jauh dari maksud nyanyian itu semula.
Namun, dengan meminjam gagasan Michel de Certeau, naskah membaca pemakaian platform itu sebagai taktik kelompok yang terpinggirkan: orang Muna tidak punya kuasa membangun infrastruktur teknologinya sendiri, maka ruang milik pihak yang berkuasa dipakai untuk tujuan mereka sendiri. Kehadiran di ruang digital disebut perlawanan yang pragmatis, sebab inti lirik yang mengkritik modernitas tetap dijaga. “Pelestarian digital karena itu semestinya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti, praktik tradisional,” tulis Darwan Sari, Patta Hindi Asis, dan Ustianti dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Pohon tua dan angin dari seberang
Perlawanan itu, menurut para penulis, paling terang terdengar di dalam lirik. Dalam kantola yang mereka catat terdapat kiasan tentang pohon tua berakar dalam yang dihadapkan dengan angin dari seberang, dan keduanya ditafsirkan sebagai kekayaan budaya Muna di satu pihak serta hegemoni global di pihak lain. “Ini bukan sekadar puisi; ini pernyataan ideologis bahwa orang Muna menolak ‘tumbang’ atau terseret arus modernitas yang meminggirkan nilai-nilai lokal,” tulis ketiga penulis dalam naskah berbahasa Inggris tersebut.
Satu larik lain dikutip utuh dalam bahasa Muna, yakni Pogauno kabhanti, fumaa ne dharani, ambe dotamo ghonu ne wite, yang oleh para penulis diterjemahkan sebagai melantunkan kabhanti, berakar di bumi, jangan biarkan benih mati di dalam tanah. Lewat kiasan benih dan akar itu, menurut naskah, orang Muna membongkar cerita modernitas yang kerap meminggirkan nilai lokal, sehingga kantola disebut berfungsi sebagai senjata simbolik yang menegaskan bahwa identitas lokal berhak menentukan masa depannya sendiri tanpa larut dalam keseragaman global.
Justru sebaliknya dari nostalgia, begitulah para penulis menamai sikap tersebut. Mereka menyebutnya perlawanan epistemologis, yaitu ketika masyarakat Muna menegaskan sistem pengetahuan lokalnya sebagai pedoman etika yang lebih unggul daripada nilai-nilai kapitalisme global yang tidak berwajah. Contoh yang diajukan adalah sebuah pertunjukan yang liriknya secara khusus menyindir hilangnya identitas komunal pada zaman digital, dan dari sana naskah menyimpulkan bahwa kantola dipakai sebagai alat kritik untuk mengusik penerimaan pasif atas dominasi budaya global.
Sindiran yang tidak melukai
Di luar soal perlawanan, kantola tetap bekerja dalam urusan sehari-hari orang Muna. Para penulis menggambarkannya sebagai sistem komunikasi yang canggih, yang menyampaikan pesan sosial rumit lewat bahasa kiasan dan citra simbolik, dengan makna berlapis yang hanya terbuka bagi pendengar yang memiliki pengetahuan budaya. Karena berkias, lirik kantola dapat menyuarakan kritik sosial tanpa berhadap-hadapan langsung, dan dalam sejumlah pertunjukan lirik itu menyinggung ketidakadilan sosial ataupun perselisihan antarwarga di dalam komunitas.
Fungsi kedua adalah pendidikan moral, sebab teks kantola menanamkan ajaran tentang sopan santun, kerendahan hati, hormat kepada orang tua, dan hubungan sosial yang rukun, sementara banyak liriknya menekankan tolong-menolong. Fungsi ketiga menyangkut jati diri: kantola menjadi penanda yang membedakan orang Muna dari kelompok etnis tetangganya dan sekaligus menguatkan solidaritas di dalam, karena pertunjukannya menyambungkan generasi lampau dengan generasi sekarang serta memperkenalkan budaya Muna kepada khalayak yang lebih luas.
Fungsi keempat, kontrol sosial, bertumpu pada cara menegur yang halus, karena ungkapan tidak langsung memungkinkan warga membicarakan perilaku yang tidak patut tanpa merusak kerukunan dan mendorong orang merenungkan tindakannya. Semua itu mensyaratkan pewarisan, dan di sini para tetua berperan sebagai penjaga sekaligus pembimbing bagi kaum muda. Naskah menambahkan bahwa bahasa simbolik kantola menciptakan batas antara orang dalam dan orang luar, sehingga kemampuan menafsir harus diajarkan kepada generasi berikutnya agar praktik itu tetap berlanjut.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Maestro dan pemuda di parit yang sama
Seluruh temuan itu kemudian dibingkai dengan gagasan Antonio Gramsci. Para maestro dan pemuda Muna disebut bertindak sebagai intelektual organik, yang tidak hanya mementaskan ulang kantola, tetapi juga merebut kembali ruang wacana publik yang dikuasai nilai-nilai modernitas yang menyeragamkan. Naskah menamainya perang posisi, yaitu strategi budaya untuk membangun pertahanan gagasan, dan dalam simpulannya bahasa serta tradisi lisan diibaratkan sebagai sistem parit yang sangat efektif, tempat keindahan dan kiasan dijadikan senjata.
Dari sana para penulis menawarkan apa yang mereka sebut Adaptive Survival Model, sebuah model revitalisasi yang berbeda dari model tradisional yang cenderung menolak modernitas sepenuhnya. Kasus Muna, menurut mereka, menunjukkan hibridisasi yang strategis: infrastruktur yang hegemonik dipakai bukan untuk larut di dalamnya, melainkan untuk menyisipkan cerita lokal ke arus utama. Bagi kebijakan budaya, mereka menyarankan pelestarian yang dirancang bersama masyarakat adat pada setiap tahap, karena pendekatan dari atas yang meminggirkan suara lokal dinilai kecil kemungkinan berhasil.
Yang belum terjawab dan yang janggal
Namun, para penulis sendiri memberi batas pada klaim mereka. Penelitian itu, tulis mereka, terikat secara geografis dan budaya pada dua kecamatan dan hanya menyoroti kantola, sehingga temuannya tidak boleh digeneralisasi begitu saja ke daerah atau tradisi lisan lain. Dampak jangka panjang digitalisasi terhadap pola pewarisan pengetahuan juga tidak mereka ukur, padahal naskah mengakui bahwa ketika tradisi didigitalkan, unsur pertunjukan yang halus dan makna yang terikat pada tempatnya dapat memudar.
Beberapa hal dalam naskah juga dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Model yang ditawarkan memiliki tiga nama, yaitu model yang dirundingkan pada judul, model revitalisasi kontra-hegemoni digital pada pendahuluan, dan Adaptive Survival Model pada simpulan, tanpa penjelasan apakah ketiganya sama. Subjudul tentang dokumentasi dan pengarsipan digital dibuka dengan paragraf mengenai pertunjukan, dan satu bagian hanya menyebut YouTube dan TikTok sedangkan bagian lain menambahkan Instagram. Pertunjukan yang liriknya menyindir zaman digital pun hanya disebut diamati beberapa tahun lalu, tanpa keterangan waktu yang lebih pasti.
Yang tersisa adalah sebuah ketegangan yang oleh para penulis sendiri dinamai paradoks: tradisi yang terpinggirkan diselamatkan dengan alat milik pihak yang meminggirkannya, dan lirik yang mengkritik modernitas kini beredar melalui saluran paling modern. Mereka meyakini bahwa teknologi dapat menguatkan keaslian budaya alih-alih menggerusnya, tetapi dampak jangka panjangnya belum mereka ukur. Bila pohon tua itu kini berdiri di layar ponsel, tempat angin dari seberang bertiup paling kencang, akankah akarnya tetap berada di bumi yang dinyanyikan liriknya?















