- Polutan dapat merusak pembuluh darah sehingga mengancam jantung dan otak
- Karbon monoksida menghambat pengangkutan oksigen oleh hemoglobin
- Penderita asma dan PPOK diminta lebih waspada saat udara memburuk
Cekricek.id — Batuk adalah cara pertama tubuh menolak udara kotor. Bila paparan berlangsung terus, batuk itu bisa menetap meski orangnya sudah menjauh dari sumber asap, dan kerusakannya tidak berhenti di paru-paru.
Guru Besar bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (UNAND), Prof. dr. Hardisman, M.HID., Dr.PH., FRSPH., menjelaskan bahwa polutan dapat memicu kerusakan pembuluh darah dan pembentukan plak. Dari situ risikonya menjalar ke jantung dan otak.
Penjelasan itu ia sampaikan pada Rabu (30/9/2026) dan dimuat dalam keterangan tertulis UNAND sehari kemudian.
Berat ringannya dampak tidak hanya bergantung pada lamanya seseorang menghirup udara buruk. Kepekatan dan jenis zat pencemar serta kondisi kesehatan orang itu ikut menentukan. Asap pabrik, kebakaran rumah, dan kebakaran hutan pun membawa kandungan yang berbeda, tergantung bahan yang terbakar dan sempurna tidaknya pembakaran.
Karbon Monoksida dan Zat Pemicu Kanker
Pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan karbon monoksida. Gas ini mengganggu kemampuan hemoglobin mengangkut oksigen, sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh terhambat. Paparan jangka panjang terhadap zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen juga menaikkan risiko kanker.
Hardisman menyarankan warga mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Berdiam di rumah belum tentu cukup, sebab polutan dari luar tetap dapat masuk. Bila harus keluar, masker berdaya saring tinggi seperti N95 membantu menahan partikel halus PM2,5.
Sesak napas, batuk berat, atau pusing adalah tanda untuk segera menjauh dari sumber pencemaran. Jika gangguan napas makin berat, pindah ke tempat berudara segar saja tidak selalu memadai dan penderita perlu dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Perlindungan dari polusi udara perlu mendapat perhatian lebih besar pada kelompok rentan, termasuk penderita asma dan PPOK. Mengenali risiko, mengurangi paparan, dan segera mencari pertolongan ketika keluhan memburuk menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di tengah kualitas udara yang menurun,” kata Hardisman.
PPOK adalah penyakit paru obstruktif kronis. Pada penderitanya, juga pada penderita asma, udara kotor dapat memperberat keluhan dan memicu serangan yang lebih parah.
Baca juga: Hutan Rusak Tak Pulih Hanya dengan Menanam, Kata Guru Besar UGM
Baca juga: Antibiotik Tidak Mengobati Influenza A, Dokter ITS Ingatkan Warga
Baca juga: Badan Gambut dan Mangrove Nasional Diusulkan Lewat Naskah Akademisi















