- Kemajuan negara dinilai ditentukan mutu birokrasi, bukan kekayaan alam
- Perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian harus berjalan bersamaan
- Kepemimpinan masa depan disebut bersifat kolektif-kolegial
Cekricek.id — Kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam, melainkan oleh mutu lembaga dan birokrasi yang mengelolanya. Pandangan itu disampaikan Guru Besar Manajemen Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Falih Suaedi Drs MSi.
Falih berbicara dalam Research Week FISIP UNAIR di Surabaya pada Jumat (2/10/2026). UNAIR memuat isi paparannya dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, organisasi sebesar negara sangat mudah salah urus. Ada tiga pekerjaan yang harus berjalan bersamaan agar hal itu tidak terjadi: merencanakan, mengorganisasi, dan mengendalikan.
“Pengelolaan birokrasi harus mencakup planning, organization, dan control secara utuh. Apabila salah satu unsur tersebut tidak berjalan, maka akan terjadi mismanajemen,” kata Falih.
Uang Rakyat Harus Kembali sebagai Manfaat
Ukuran birokrasi yang profesional, menurut Falih, adalah seberapa besar manfaat yang diterima publik dari anggaran yang tersedia.
“Peran birokrasi saya kira kita semua tidak perlu berdebat banyak karena birokrasi ini kan mesin perubahan. Jadi kalau birokrasinya bagus, profesional, maka dia bisa mengelola negara itu dengan prinsip value for money,” ujarnya.
Ia juga menyinggung cara pemimpin mengambil keputusan. Persoalan yang makin rumit membuat keputusan tidak cukup disandarkan pada pertimbangan satu orang.
“Seorang leader itu tidak bisa memilih analisis individual. Karena kompetensinya makin kuat, maka model kepemimpinan masa depan itu kolektif-kolegial, seperti KPK. Jadi pengambilan keputusan di KPK itu diambil secara kolektif atau bersama-sama,” kata Falih.
Cara kerja serupa ia anjurkan dalam hubungan negara dengan pihak di luar pemerintah. Negara perlu melibatkan mereka secara setara, bergerak dari sekadar koordinasi, lalu kerja sama, sampai kolaborasi.
Baca juga: Skor Integritas Pendidikan Naik ke 73,30, Satu Wilayah Masih Rentan
Baca juga: Indonesia Tak Kurang Aturan Keselamatan Kapal, Kata Pakar UNAIR
Baca juga: Rektor UGM: Peneliti Jangan Berjuang Sendiri Bawa Riset ke Pasar















