- Guru Besar ITB Suhono Harso Supangkat menyebut kedaulatan keputusan bukan berarti membangun seluruh teknologi sendiri.
- Strategi dibagi tiga: menyewa komputasi awan, membangun terbatas, dan kapasitas nasional atau hibrida.
- AI Factory disebut menyatukan data, komputasi, model, tata kelola, dan talenta manusia.
- Tata kelola risiko halusinasi, keamanan siber, privasi, dan keadilan algoritma harus menyatu ke alur kerja.
Cekricek.id — Kedaulatan keputusan di era kecerdasan artifisial tidak berarti membangun seluruh komponen teknologi sendiri, melainkan kejelasan strategi memilih mana yang disewa dan mana yang dibangun.
Pandangan itu disampaikan Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof Suhono Harso Supangkat, dalam kuliah umum Sekolah Pascasarjana Ilmu dan Teknologi Multidisiplin ITB bersama Smart City and Community Innovation Center pada Kamis (17/09/2026), sebagaimana dilansir dari keterangan tertulis Institut Teknologi Bandung, Jumat (18/09/2026).
Suhono menyoroti percepatan kecerdasan artifisial global yang bergeser dari wacana laboratorium menjadi arena kompetisi investasi ratusan miliar dolar AS. Laju itu menekan infrastruktur komputasi, menaikkan konsumsi listrik pusat data, sekaligus menguji kesiapan kapasitas manusia.
“Keunggulan masa depan tidak lagi ditentukan semata oleh kepemilikan data mentah atau sekadar dasbor visualisasi, melainkan oleh kemampuan mengubah data menjadi keputusan yang cepat, tepat, kontekstual, dan akuntabel,” ujarnya.
AI Factory bukan sekadar tumpukan GPU
Ia memperkenalkan konsep AI Factory, yakni sistem terorganisasi yang mengolah data menjadi kecerdasan operasional secara berulang dan terukur. Alurnya bergerak dari pengumpulan data, pemodelan, penalaran agen cerdas, eksekusi aksi di lapangan, hingga umpan balik perbaikan.
“AI Factory bukan sekadar tumpukan kartu grafis (GPU) mahal. Ia adalah sistem produksi menyeluruh yang menyatukan data, komputasi, model, tata kelola (governance), dan talenta manusia. Factory tanpa ekosistem adalah mesin mahal, sedangkan ekosistem tanpa factory hanya akan menjadi seminar,” ujarnya.
Pertanyaan pokok bagi Indonesia, menurut Suhono, adalah bagaimana melompat agar tidak berhenti sebagai konsumen atau pemakai aplikasi kecerdasan artifisial, melainkan menjadi produsen kecerdasan. Kemampuan semacam itu mulai digarap di tingkat mahasiswa, misalnya lewat platform KUWERA yang mempercepat eksplorasi mineral.
Tiga jalur menuju kedaulatan keputusan
Suhono membagi strategi ke dalam tiga jalur. Pertama, menyewa kapasitas komputasi awan untuk eksperimen cepat, elastis, dan layanan umum. Kedua, membangun terbatas di infrastruktur sendiri untuk data sensitif, operasi misi kritis, dan kebutuhan latensi rendah.
Ketiga, kapasitas nasional atau hibrida yang menekankan standardisasi, pembagian kapasitas antarlembaga, dan interoperabilitas demi skala daya saing bangsa. Keberhasilannya, kata dia, harus teruji di ekonomi riil seperti pemeliharaan prediktif pabrik, pemeriksaan mutu berbasis penglihatan mesin, efisiensi energi per unit, keselamatan kerja, dan ketahanan rantai pasok.
Ia menegaskan tata kelola tidak boleh menyusul belakangan. Mitigasi risiko halusinasi model, keamanan siber, privasi data, dan keadilan algoritma disebut wajib menyatu ke dalam alur kerja sejak awal.
“AI Factory membutuhkan talenta lintas disiplin yang menguasai teknologi, domain keilmuan, tata kelola, serta mampu menerjemahkan persoalan riil menjadi sistem keputusan,” ujar Suhono.
Penyiapan tenaga pengajar menghadapi teknologi ini juga berjalan di kampus lain, antara lain lewat pembekalan dosen muda Unila menghadapi kecerdasan buatan, sementara pengakuan capaian belajar berdurasi pendek kini diatur lewat panduan kredensial mikro Kemdiktisaintek.















