- Dokter RSA UGM Ahmad Fikri Syadzali menyebut abu vulkanik mengandung silika dan kaca vulkanik yang mengiritasi saluran napas.
- Partikel di bawah 2,5 mikrometer dapat mencapai bronkiolus dan alveolus paru.
- Paparan berulang atau jangka panjang berisiko menimbulkan silikosis paru maupun kanker paru.
- Saturasi oksigen di bawah 92 persen dan bibir membiru menjadi tanda perlunya pertolongan medis segera.
Cekricek.id — Paparan abu vulkanik yang berulang atau dalam jumlah tinggi dapat memicu silikosis paru hingga kanker paru, menurut dokter spesialis paru Rumah Sakit Akademik UGM.
Melansir keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada, Jumat (18/09/2026), Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSA UGM, dr Ahmad Fikri Syadzali, SpP, menjelaskan abu vulkanik memiliki komposisi beragam seperti silika dan kaca vulkanik yang mengiritasi saluran napas begitu bersentuhan dengan mukosa.
“Material ini bisa mempengaruhi saluran napas. Ketika material ini kontak dengan mukosa saluran napas, dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi,” ujarnya.
Makin kecil partikel abu vulkanik, makin dalam masuknya
Ahmad Fikri menjelaskan besarnya dampak paparan ditentukan ukuran partikel, komposisi mineral atau kaca vulkanik, konsentrasi, serta lama paparan. Partikel di bawah 10 mikrometer dapat melewati saluran napas atas hingga bronkus, sedangkan partikel di bawah 2,5 mikrometer mencapai bronkiolus dan alveolus, bagian paru tempat pertukaran oksigen berlangsung.
“Semakin kecil partikelnya semakin dalam penetrasinya. Hal ini juga menyebabkan semakin sulit untuk dikeluarkan,” tuturnya.
Inflamasi akibat abu vulkanik dapat merusak epitel bronkus maupun alveolus, meningkatkan permeabilitas vaskular, serta menimbulkan edema pada saluran pernapasan. Pada paparan jangka pendek, keluhan yang umum muncul berupa batuk, tenggorokan gatal atau perih, hidung berair atau tersumbat, dahak bertambah, sesak napas, dan napas berbunyi.
“Salah satu kandungan dari abu vulkanik adalah silika. Pada paparan jangka panjang atau inflamasi berulang dapat menyebabkan silikosis paru maupun kanker paru,” terangnya.
Kelompok berisiko dan langkah pencegahan
Ia menyebut anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penyandang penyakit pernapasan atau kardiovaskular sebagai kelompok yang perlu perhatian lebih. Saluran napas mereka lebih sensitif, fungsi parunya belum berkembang sempurna, atau sudah menurun.
Pencegahan diarahkan pada tiga hal: mengurangi jumlah abu yang terhirup, memperpendek lama paparan, dan mencegah abu menumpuk di dalam rumah. Warga dianjurkan mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker respirator seperti N95, mengenakan kacamata pelindung, serta tidak berkendara saat hujan abu berlangsung berat.
“Sementara itu, ketika berada di dalam rumah, masyarakat perlu menutup pintu dan jendela, serta mengurangi infiltrasi udara dari luar untuk mencegah abu masuk ke ruangan. Tubuh dan pakaian juga perlu dibersihkan setelah terpapar. Selain itu, sumber makanan dan air harus tetap terlindungi dari kontaminasi abu vulkanik,” jelasnya.
Ahmad Fikri mengingatkan sejumlah tanda bahaya yang menuntut pertolongan medis segera, yakni sesak napas berat atau yang terus memberat, saturasi oksigen di bawah 92 persen, serta sianosis berupa perubahan warna kebiruan pada kulit dan bibir.
“Apabila sudah mengalami tanda-tanda tersebut, perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan cepat dalam hal ini penting untuk mencegah kondisi pernapasan semakin buruk,” pungkasnya.
Kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebencanaan juga digarap kampus di daerah lain, antara lain lewat sistem peringatan dini berbasis IoT di Nagari Malalak. Nasihat pakar kampus atas isu yang menyangkut orang banyak juga muncul ketika pakar IPB menjelaskan dampak kelangkaan beras kemasan 5 kg, sementara mutu tenaga kesehatan diatur lewat skema RPL Tipe A bagi mahasiswa nakes habis masa studi.















