Rehabilitasi Terumbu Karang Desa Perlang Libatkan 30 Warga

A A

Pelatihan Rehabilitasi Terumbu Karang Level Masyarakat bagi 30 warga Desa Perlang, Bangka Tengah. [Foto: Humas IPB University]

  • Sebanyak 30 warga Desa Perlang mengikuti pelatihan rehabilitasi terumbu karang dari PKSPL IPB University.
  • Peserta datang dari karang taruna, pokdarwis, nelayan, BUMDes, perangkat desa, hingga tim penggerak PKK.
  • Praktik transplantasi terumbu karang dijadwalkan pada 19 dan 20 September 2026.
  • Monitoring sebelumnya menemukan sebagian karang hasil transplantasi masih tertutup gulma.

Cekricek.id — Sebanyak 30 warga Desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, mengikuti pelatihan rehabilitasi terumbu karang yang digelar Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University.

Pelatihan berlangsung pada 17 hingga 20 September 2026 bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dan United Nations Office for Project Services (UNOPS), menurut keterangan tertulis IPB University, Jumat (18/09/2026).

Peserta berasal dari karang taruna, kelompok sadar wisata, kelompok nelayan, BUMDes, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tim penggerak PKK, serta komunitas setempat. Kegiatan dirancang untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dasar dalam pemantauan serta rehabilitasi terumbu karang.

Dari ekologi karang sampai praktik transplantasi

Selama pelatihan, peserta mempelajari ekologi terumbu karang, peran ekologisnya, ancaman terhadap ekosistem, indikator kesehatan karang, hingga teknik pengamatan dan pengumpulan data. Materi itu dilanjutkan dengan praktik lapangan berupa transplantasi terumbu karang pada 19 dan 20 September 2026.

Kepala PKSPL IPB University, Prof Yonvitner, menyatakan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan rehabilitasi ekosistem pesisir.

“Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk membekali peserta sebelum pelaksanaan rehabilitasi terumbu karang yang rusak. Keberhasilan rehabilitasi tentu membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.

Hasil rehabilitasi diarahkan menjadi aset desa

Koordinator Nasional SCS-SAP UNOPS, Drs Heru Waluyo Koesworo, MCom, berharap hasil rehabilitasi menjadi milik yang dipelihara warga Desa Perlang.

“Hasil rehabilitasi diharapkan menjadi ownership bagi desa untuk dipelihara dan dikembangkan sebagai aset wisata secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Aditya Yuniarti, ST, MM, dari Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut menekankan pentingnya pemeliharaan setelah rehabilitasi berjalan.

“Hasil monitoring sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian karang hasil transplantasi masih tertutup gulma, sehingga kami mengharapkan masyarakat bersama-sama menjaga dan melakukan pemeliharaan,” ujarnya.

Perhatian akademisi pada tekanan terhadap biota laut juga mengemuka lewat pernyataan Dekan FPIK IPB soal batas scientific diving. Pengabdian kampus berbasis teknologi berjalan di daerah lain, antara lain lewat sistem peringatan dini berbasis IoT di Nagari Malalak dan pemeriksaan kesehatan gratis Unila di Pulau Pasaran.

Bagikan

Baca Juga

Sistem Peringatan Dini Berbasis IoT Dipasang di Nagari Malalak
Dosen IPB: Scientific Diving Tak Boleh Ganggu Biota Laut
Eksplorasi Mineral Dipercepat KUWERA, AI Mahasiswa ITB
Pakar IPB: Kelangkaan Beras Kemasan 5 Kg Picu Panic Buying
Mahasiswa Nakes Habis Masa Studi Dapat Skema RPL Tipe A
Kredensial Mikro Bisa Diakui Setara 70 Persen SKS Sarjana