- Pengembangan kawasan disebut perlu bertumpu pada ekonomi, infrastruktur, dan sumber daya manusia
- Kelompok pengolah di Kumbe sudah membuat ikan asin dan nuget ikan sebagai modal awal
- Rantai dingin disebut menentukan agar mutu hasil tangkapan tetap terjaga sampai pasar
Cekricek.id — Di Kumbe, ikan sudah lama ditangkap. Yang belum, mengolah dan memasarkannya sehingga nilainya tidak berhenti di dermaga.
Persoalan itu mengemuka dalam keterangan tertulis IPB University, Kamis (01/10/2026), merangkum diskusi kelompok terarah Tim 14 Ekspedisi Patriot di Kumbe, Kawasan Transmigrasi Salor, Distrik Malind, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Jumat (25/09/2026).
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Merauke, Leonard H F Rumbekwan, SPi, SST, menyebut pengembangan kawasan transmigrasi perlu bertumpu pada tiga hal sekaligus: ekonomi, infrastruktur, dan sumber daya manusia.
“Tidak cukup hanya menangkap ikan. Harus ada pengolahan, diversifikasi, pemasaran, dan bagaimana mempertahankan mutu melalui rantai dingin,” ujarnya.
Modal Awal yang Sudah Ada di Kampung
Kumbe tidak memulai dari nol. Sejumlah kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan di sana sudah membuat ikan asin dan nuget ikan.
Diskusi kemudian menyasar bagian yang belum tersambung: penguatan rantai nilai, akses pasar, sentra kuliner, serta peluang kerja sama dengan institusi dan perusahaan di Merauke. Tujuannya satu, agar hasil tangkapan warga masuk ke pasar yang lebih luas.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Dr Roza Yusfiandayani, menyebut kegiatan itu bagian dari rancangan optimalisasi perikanan tangkap dari hulu sampai hilir berbasis ekonomi biru.
Timnya terdiri atas Yomivin Varel Hendayana, Furqon Sidiq, Setiadi M Noor, Lailancika Ansyar, dan Oktaviani. Mereka mendorong agar hasil diskusi tidak berhenti sebagai notulen, melainkan berlanjut menjadi program yang dapat dijalankan warga.
Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Distrik Malind, Agustinus Hendra Way, SIP, MPWK. Rangkaiannya kemudian dilanjutkan dengan pelatihan diversifikasi produk olahan ikan sebagai langkah pertama menaikkan nilai tambah.
Pendekatan menambah nilai pada hasil laut juga ditempuh di laboratorium, misalnya ketika peneliti mengubah mata ikan tuna yang biasanya dibuang menjadi camilan manis.
Di kawasan transmigrasi lain, pembenahan justru dimulai dari gudang, seperti pembacaan pola arus laut untuk kepentingan pencarian di perairan yang menunjukkan betapa data laut menentukan keputusan di lapangan.
Dari sisi kampus, pengabdian berbasis teknologi juga menyentuh layanan dasar, seperti aplikasi yang membantu warga mencatat tekanan darah dan gula darah.















