Mata Ikan Tuna yang Biasanya Dibuang Kini Jadi Camilan Manis

A A

Pengunjung mengamati produk inovasi pangan di gerai pameran Food Ingredients Asia. [Foto: IPB University]

  • Minyak dari mata tuna mengandung DHA 33,44 persen dan total omega-3 40,10 persen
  • Pemisahan memakai sentrifugasi 4 derajat Celsius, 10.000 putaran per menit, selama 30 menit
  • Camilan ini sudah memiliki tujuh varian dan melewati uji mutu hingga uji pasar awal

Cekricek.id — Mata ikan tuna yang biasanya berakhir di tempat sampah kini berubah menjadi camilan kenyal dengan tujuh rasa.

Produk bernama Helbygoom itu dipaparkan lewat keterangan tertulis IPB University, Kamis (01/10/2026), seusai dipamerkan pada Food Ingredients Asia di Jakarta International Expo Kemayoran, 16–18 September.

Guru Besar IPB University sekaligus inovatornya, Prof Wini Trilaksani, menjelaskan semuanya berawal dari satu dugaan: mata tuna menyimpan DHA.

Diputar Dingin pada 10.000 Putaran per Menit

Mata tuna dibersihkan, dilumatkan, lalu diputar dalam mesin sentrifugasi bersuhu 4 derajat Celsius pada kecepatan 10.000 putaran per menit selama 30 menit. Lapisan paling atas yang terbentuk adalah minyaknya.

Hasil analisis menunjukkan minyak itu kaya asam lemak omega-3. Kandungan DHA-nya mencapai 33,44 persen dan total omega-3 sebesar 40,10 persen dari profil asam lemaknya.

Minyak tersebut lalu dipadukan dengan serat dari sumber daya akuatik, buah tropis, rempah, dan bunga, menjadi camilan bergaya Turkish delight dengan gula pasir yang dikurangi. Produknya sudah melewati formulasi, uji mutu, uji penerimaan konsumen, sampai uji pasar awal.

Tujuh varian sudah tersedia: rosela, jeruk, buah naga, pandan, bunga telang, jahe, dan susu. Selain sebagai camilan, Helbygoom berpeluang dikembangkan menjadi makanan pendamping, oleh-oleh, hamper, maupun produk ritel.

Riset ekstraksi omega-3 dari mata tuna itu pula yang membawa Prof Wini ke panggung Food Ingredients Asia Conference. Di sana ia memaparkan pengembangan omega-3 asal laut di hadapan pelaku industri.

“Kehadiran FI Asia Conference ini menjadi media yang sangat bagus. Tentu saja, mudah-mudahan dengan adanya FI Asia Conference ini akan semakin mendorong para peneliti untuk terus berinovasi dan melakukan riset yang terstruktur dengan baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengembangan inovasi perlu berjalan terarah, termasuk melalui prinsip quality by design, agar hasil penelitian benar-benar sampai ke masyarakat. Helbygoom dipamerkan bersama 19 produk inovasi pangan dan nutraceutical lain dari kampus tersebut.

Jalur serupa, mengubah hasil samping menjadi produk bernilai, juga ditempuh kampus lain lewat pemisahan bitumen aspal Buton di atas 95 persen.

Di sisi gizi, pentingnya protein hewani lengkap tergambar pada perbandingan konsumsi susu Indonesia 5 liter berbanding Belanda 100 liter per kapita, sementara mutu pangan pokok ditambal lewat beras fortifikasi berisi tiga vitamin dan dua mineral.

Bagikan

Baca Juga

Aplikasi A-TIME Catat Tekanan Darah dan Gula Warga Aceh Besar
Aspal Buton Kini Terpisah 95 Persen Lewat Proses Hidrotermal
Pola Arus Selat Sunda Bisa Jadi Peta Pencarian Korban Kapal
Konsumsi Susu Indonesia 5 Liter, Belanda 100 Liter per Tahun
Api Biru Papandayan Kian Sering Muncul Seiring Suhu Fumarol Naik
Glucowrap, Sandal Pintar Mahasiswa UGM Deteksi Luka Kaki Diabetes