Konsumsi Susu Indonesia 5 Liter, Belanda 100 Liter per Tahun

A A

Ilustrasi segelas susu dan telur sebagai sumber protein hewani lengkap. [Foto: Pexels]

  • Konsumsi susu Indonesia 5 liter per kapita per tahun, Belanda mencapai 100 liter
  • Zat besi dari daging terserap 25 persen, sedangkan dari bayam hanya 5 persen
  • Survei 2023 mencatat 21,5 persen anak Indonesia berperawakan pendek akibat stunting

Cekricek.id — Konsumsi susu Indonesia tercatat 5 liter per kapita setiap tahun, sementara Belanda mencapai 100 liter.

Perbandingan itu dipaparkan lewat keterangan tertulis IPB University, Rabu (30/09/2026), oleh Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, yang menautkannya dengan selisih tinggi badan kedua bangsa.

“Dari sisi konsumsi susu, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 5 liter/tahun, sedangkan konsumsi susu orang Belanda mencapai 100 liter/tahun per kapita. Sehingga, jika dibandingkan, tinggi badan orang Indonesia yang rata-rata 158 cm masih kalah jauh dari rata-rata tinggi badan orang Belanda yang mencapai 183 cm,” ujarnya.

Kenyang Belum Tentu Cukup Gizi

Menurut Prof Ronny, banyak keluarga merasa cukup karena nasi berlimpah, sementara asupan protein hewani tetap minim. Tubuh manusia membutuhkan 20 jenis asam amino dan sembilan di antaranya harus datang dari makanan.

“Dari segi kualitas gizi, tahu dan tempe merupakan sumber protein, tetapi tidak selengkap protein hewani dari susu, daging, dan telur. Produk ternak disebut sumber protein lengkap karena menyediakan semua asam amino esensial dalam satu hidangan,” jelasnya.

Angka pembandingnya cukup tajam. Zat besi dari daging terserap sekitar 25 persen, sementara zat besi dari bayam hanya 5 persen. Sebutir telur mengandung 6 gram protein lengkap dengan nilai biologis 100, plus kolin, lutein, dan DHA yang menopang memori serta perkembangan retina.

“Kekurangan zat besi akan menyebabkan anemia dan otot juga akan kekurangan oksigen. Data empiris menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja putri di Indonesia mengalami anemia, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas belajar,” kata Prof Ronny.

Dampak jangka panjangnya terbaca pada angka stunting. Survei Status Gizi Indonesia 2023 mencatat 21,5 persen anak Indonesia berperawakan pendek, atau satu dari lima anak, dengan perkembangan otak yang terhambat.

“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80 persen. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” jelasnya.

Ia menutup dengan perbandingan waktu. “Tidak ada yang menyangkal bahwa nasi bisa membuat anak-anak kita kenyang dan berhenti menangis hari ini. Namun, dalam 20 tahun ke depan, susu, daging, dan telur akan membantu anak-anak kita menjadi lebih cerdas serta memiliki fisik yang sehat dan berkualitas,” ujar Prof Ronny.

Upaya menambal mutu gizi pangan pokok berjalan dari sisi lain, antara lain lewat beras fortifikasi yang membawa tiga vitamin dan dua mineral tambahan.

Di tingkat rumah tangga, riset lapangan menunjukkan piring gizi ibu sudah berubah meski timbangan anak belum rutin dicek. Sementara pasokan pangan sendiri menghadapi tekanan, termasuk virus tumbuhan yang dapat memangkas panen lebih dari 80 persen.

Bagikan

Baca Juga

Api Biru Papandayan Kian Sering Muncul Seiring Suhu Fumarol Naik
Virus Tumbuhan Ditularkan Serangga, Panen Bisa Anjlok 80 Persen
Guru Besar UGM Serukan Diversifikasi Pangan Hadapi El Nino
Pariwisata Hijau Lumbung Mataraman Terganjal Prasarana dan SDM
Nugget Ikan Rucah UTU Ramaikan Festival Nipah Aceh Barat
Orang Rimba Lari ke Hutan Saat Pandemi, Ubi Kayu Tetap Cukup