- Posisi matahari tepat di atas Pulau Jawa sepanjang Oktober meningkatkan radiasi ke permukaan.
- Bangunan dan aspal membuat Jakarta menyimpan lebih banyak panas.
- Interaksi udara lembap dan topografi memicu hujan lokal di Bogor.
Cekricek.id — Posisi matahari yang berada tepat di atas Pulau Jawa sepanjang Oktober membuat radiasi yang diterima permukaan bumi meningkat. Namun dampaknya tidak seragam: Jakarta terasa jauh lebih panas, sementara Bogor yang hanya berjarak puluhan kilometer masih kerap diguyur hujan.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan SSi MSi, menyebut posisi matahari pada periode ini menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan suhu permukaan di Pulau Jawa.
“Radiasi gelombang pendek dari matahari yang diterima permukaan dapat meningkatkan suhu permukaan, terutama ketika tutupan awan tidak cukup menghalangi radiasi tersebut,” kata Sonni, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis IPB University, Jumat (23/10/2026).
Menurut Sonni, kenaikan suhu paling terasa di kawasan perkotaan seperti Jakarta yang didominasi bangunan dan jalan beraspal. Perubahan tutupan lahan itu memengaruhi kemampuan permukaan dalam menyerap dan menyimpan panas.
“Dengan menurunnya kapasitas panas permukaan, pemanasan akibat radiasi matahari dapat menyebabkan kenaikan suhu permukaan yang lebih besar. Dampaknya, radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali oleh permukaan juga meningkat,” jelasnya.
Baca juga: Surabaya Tembus 38 Derajat, Pakar UNAIR: Warga Mudah Tersulut
Uap air dan polusi udara turut menyerap energi radiasi gelombang panjang yang dilepas permukaan bumi ke atmosfer. Proses ini, kata Sonni, berkaitan dengan efek rumah kaca yang menaikkan suhu udara di perkotaan.
“Semakin banyak energi yang diserap gas dan partikel tertentu, semakin besar radiasi gelombang panjang dari bumi yang diserap sehingga potensi energi itu tertahan sebelum dilepaskan kembali. Proses ini berkaitan dengan efek rumah kaca yang dapat meningkatkan suhu udara di kawasan perkotaan,” urainya.
Topografi Picu Hujan Lokal di Bogor
Di sisi lain, wilayah yang sama-sama menerima pemanasan matahari bisa mengalami cuaca berbeda. Fenomena El Nino yang berlangsung tahun ini memengaruhi pembentukan awan dan distribusi hujan dalam skala besar. Saat El Nino terjadi, awan yang biasanya tumbuh di kawasan Benua Maritim umumnya bergeser ke arah Peru, meski awan dan hujan masih bisa terbentuk dalam skala lokal.
Baca juga: Kematian Naik 5 Persen saat Gelombang Panas, Pakar Soroti Risiko
Di Bogor, kondisi geografis berperan besar. Interaksi antara pergerakan udara dan topografi, terutama di Bogor bagian selatan, timur, dan barat, mendorong pertumbuhan awan hingga menghasilkan hujan.
“Selama Oktober ini, interaksi antara gerak udara lembap dan topografi di kawasan Bogor dapat memicu pertumbuhan awan dan hujan. Hujan yang terbentuk ini bersifat lokal, sehingga tidak selalu terjadi secara merata di seluruh wilayah Bogor,” paparnya.
Dengan demikian, suhu dan hujan di Jabodetabek dipengaruhi banyak faktor, mulai dari posisi matahari, tutupan lahan, kondisi atmosfer, hingga topografi. Itu sebabnya udara panas dan hujan lokal bisa terjadi dalam waktu berdekatan di wilayah yang relatif dekat.
Baca juga: Polusi Udara Tak Hanya Serang Paru, Jantung dan Otak Ikut Terancam















