Kematian Naik 5 Persen saat Gelombang Panas, Pakar Soroti Risiko

A A

Dr Hai Phung dari Griffith University memaparkan materi di Aula Soemarto FKM UNAIR. [Foto: UNAIR]

  • Data Queensland 2010–2019: kematian sekitar 5 persen lebih tinggi pada hari gelombang panas
  • Kunjungan ke instalasi gawat darurat naik 10,47 persen
  • Hai Phung mendorong surveilans terpadu dan pendekatan One Health

Cekricek.id — Perubahan iklim dinilai memperbesar risiko kesehatan yang sudah ada. Senior Lecturer sekaligus Academic Lead bidang Kesehatan Masyarakat Griffith University, Australia, Dr Hai Phung, menyebut gelombang panas, banjir, asap kebakaran hutan, kekeringan, dan siklon sebagai bahaya utama yang melipatgandakan risiko kesehatan dengan dampak yang tidak merata.

Hal itu ia sampaikan dalam webinar internasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) di Aula Soemarto FKM, Minggu (18/10/2026). “Sekarang asap kebakaran hutan sangat parah. Warga di daerah terpencil kehilangan rumah, sementara layanan kesehatan ikut terputus. Mereka sulit mendapat bantuan karena masalahnya terlalu besar,” ujarnya, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UNAIR, Senin (19/10/2026).

Baca juga: Gelombang Panas Semakin Sering dan Mematikan, Apa yang Harus Dilakukan?

Berdasarkan data Queensland, Hai Phung memaparkan bahwa selama 2010 hingga 2019, hari-hari gelombang panas mencatat angka kematian sekitar 5 persen lebih tinggi, sementara kunjungan ke instalasi gawat darurat naik 10,47 persen. “Gelombang panas ekstrem di wilayah terpencil dan rawan menanggung beban berat. Keberadaan pihak komunikasi risiko, seperti badan penanganan bencana, harus menyesuaikan agar masyarakat paham terhadap kondisinya,” jelasnya.

Data Terhubung untuk Memicu Keputusan

Ia memperkenalkan pendekatan One Health yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. “Dinas kesehatan, pemadam kebakaran, dan lembaga lingkungan harus bekerja sama menghadapi masalah besar ini,” katanya.

Hai Phung juga menekankan sistem surveilans terpadu yang menggabungkan data cuaca, lingkungan, hewan, manusia, dan komunitas, dengan empat langkah kerja: lihat, hubungkan, bertindak, dan belajar. “Petugas mendeteksi bahaya, menghubungkan data manusia, hewan dan lingkungan, lalu menargetkan pencegahan kelompok rentan. Setelah itu mengevaluasi hasilnya,” terangnya.

Baca juga: Makin Banyak Ozon Dihirup Ibu Hamil, Makin Sering Diabetes

Menurut dia, bahaya yang sama tidak menimbulkan risiko yang sama bagi setiap kelompok. Karena itu, program sebaiknya dirancang bersama masyarakat. Universitas menyumbang metode dan evaluasi independen, lembaga kesehatan memegang kewenangan operasional, dan komunitas membawa pengetahuan lokal serta kepercayaan. “Risiko iklim yang meningkat membutuhkan peran epidemiologi hingga pendekatan One Health. Pencegahan harus berlapis, berbasis tempat, dan komunitas ikut merancang di dalamnya,” pungkasnya.

Baca juga: Polusi Udara Tak Hanya Serang Paru, Jantung dan Otak Ikut Terancam

Bagikan

Baca Juga

Label Pintar di Botol Alkohol Melompati Aturan Kesehatan
Ibu Bangladesh Rajin Periksa Hamil Lebih Kerap Bersalin di Faskes
Lansia Korea yang Pendengarannya Baik Lebih Lama Hidup Mandiri
Anemia Anak Sekolah Tanzania Turun, Masih Empat dari Sepuluh
Lansia India Berpenyakit Kronis Lebih Sering Terpukul Bencana
Delapan dari Sepuluh Dokter di Zagazig Hindari Pasien Berisiko