- Tanda radang trakoma mereka temukan pada 11 anak saja, atau 0,9 persen.
- Semua distrik berada di bawah ambang 5 persen yang ditetapkan WHO.
- Pada 2024 angkanya 0,9 persen, turun 92,2 persen.
- Di antara 91 anak dari rumah tanpa jamban, 10 anak bertanda radang trakoma, atau 11,0 persen.
Daftar Isi
Sami A. Al-Haidari membawa satu pertanyaan ke enam distrik di Yaman pada September 2024. Masih adakah trakoma di mata anak-anak di sana? Dokter-dokter mata yang bekerja untuk surveinya memeriksa 1.290 anak berusia satu sampai sembilan tahun. Tanda radang trakoma mereka temukan pada 11 anak saja, atau 0,9 persen.
Hasil itu ditulis Al-Haidari bersama Yahia A. Raja’a, Mohammed A. K. Mahdy, Talal A. Haider, dan Rashad Abdul-Ghani. Artikel mereka berjudul Active trachoma prevalence among Yemeni children in previously highly endemic districts following three rounds of mass drug administration: progress toward eliminating trachoma as a public health problem. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Al-Haidari dan Raja’a bekerja di Department of Community Medicine, Faculty of Medicine and Health Sciences, Sana’a University. Mahdy dan Abdul-Ghani berasal dari Department of Medical Parasitology, sedangkan Haider dari Department of Ophthalmology di fakultas yang sama. Abdul-Ghani juga tercatat di Tropical Disease Research Center, University of Science and Technology, Sana’a. Al-Haidari yang menggagas penelitian ini dan menjalankan kerja lapangannya.
Penyakit mata yang dikejar Al-Haidari
Trakoma, tulis Al-Haidari dan rekan-rekannya, adalah infeksi mata oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini termasuk penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan yang bisa dicegah di dunia. Mereka mengutip perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk 2024: 1,9 juta orang di 29 negara hidup dengan gangguan penglihatan sedang sampai berat atau kebutaan akibat trakoma. Sekitar 92 juta orang lain tinggal di daerah endemis.
Penularannya, menurut uraian Al-Haidari, terjadi lewat sentuhan dengan cairan mata atau hidung orang yang terinfeksi, lewat tangan dan benda yang tercemar, serta lewat lalat yang hinggap di mata. Hunian yang padat, sanitasi yang buruk, dan sulitnya air bersih memudahkan penularan itu. Infeksi yang berulang dapat meninggalkan parut, membuat kelopak mata melipat ke dalam, mengeruhkan kornea, dan berujung pada kebutaan permanen.
WHO menganjurkan strategi SAFE, yang oleh Al-Haidari dijabarkan sebagai operasi kelopak mata, antibiotik, kebersihan wajah, dan perbaikan lingkungan. Sebuah wilayah dianggap berhasil bila tanda radang trakoma pada anak usia satu sampai sembilan tahun turun di bawah 5 persen. Oman, Maroko, dan Iran sudah mencapai tonggak eliminasi itu. Di Yaman, tulis tim itu, trakoma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar.
Enam distrik pilihan Al-Haidari
Al-Haidari memilih distrik yang dulu paling parah. Syaratnya tiga: angka radang trakoma anak di unit evaluasinya melebihi 10 persen pada survei awal 2013, sudah menerima tiga putaran pembagian azitromisin massal pada 2021, 2023, dan 2024, serta rata-rata cakupan obatnya di atas 80 persen. Enam distrik terpilih secara acak, tiga di Gubernuran Ibb dan tiga di Gubernuran Hodeidah.
Dari Ibb, tim Al-Haidari memeriksa 602 anak: 129 anak di As Sabrah, 172 anak di As Sayyani, dan 301 anak di Dhi As Sufal. Dari Hodeidah ada 688 anak, yakni 172 anak di Al Qanawis, 215 anak di Alluheyah, dan 301 anak di Az Zuhrah. Setiap rumah tangga terpilih diwakili satu anak.
Anak-anak yang didatangi Al-Haidari rata-rata berumur 5 tahun, dan 54,7 persen di antaranya laki-laki. Mereka hidup di rumah tangga yang besar, dengan nilai tengah tujuh anggota. Sebanyak 79,4 persen ibu mereka buta huruf, sedangkan 65,6 persen ayah mereka melek huruf. Bertani adalah pekerjaan ayah yang paling sering disebut, yakni 41,6 persen, dan hampir sepertiga ayah tidak bekerja.
Sebelas anak yang ditemukan tim Al-Haidari
Angka yang dibawa pulang Al-Haidari kecil. Di Ibb, tanda radang trakoma ditemukan pada 5 dari 602 anak, atau 0,8 persen. Di Hodeidah ada 6 dari 688 anak, atau 0,9 persen. Digabung, hasilnya 11 dari 1.290 anak, kurang dari satu di antara seratus anak yang diperiksa.
Per distrik, catatan Al-Haidari menunjukkan Al Qanawis sebagai yang tertinggi, 1,7 persen atau 3 dari 172 anak. Dhi As Sufal mencatat 1,0 persen, As Sabrah 0,8 persen, Az Zuhrah 0,7 persen, As Sayyani 0,6 persen, dan Alluheyah 0,5 persen. Semua distrik berada di bawah ambang 5 persen yang ditetapkan WHO.
Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Sebelas anak itu tidak ditinggalkan begitu saja. Tim Al-Haidari langsung memberi mereka dua tube salep mata tetrasiklin 1 persen dan tablet azitromisin tanpa biaya, lalu merujuk mereka ke pusat layanan kesehatan primer terdekat untuk dipantau. Orang-orang serumah mereka ikut diperiksa dan diobati sesuai pedoman nasional pengendalian trakoma.
Dari 11,5 persen ke 0,9 persen
Al-Haidari lalu menyandingkan temuannya dengan angka awal 2013. Waktu itu, angka gabungan unit evaluasi yang menaungi distrik-distrik tersebut adalah 11,5 persen. Pada 2024 angkanya 0,9 persen, turun 92,2 persen. Di Ibb angkanya bergeser dari 12,6 persen menjadi 0,8 persen. Di Hodeidah dari 10,3 persen menjadi 0,9 persen.
Penurunan terbesar dalam hitungan Al-Haidari ada di As Sayyani, 95,2 persen, disusul Alluheyah 95,1 persen. Yang terkecil ada di Al Qanawis, 83,5 persen. Tim itu mengingatkan bahwa pembanding 2013 adalah angka gabungan unit evaluasi, bukan angka tiap distrik. Karena itu, persentase tersebut mereka sebut sebagai perbandingan deskriptif, bukan perubahan yang diukur di distrik yang sama dari waktu ke waktu.
Ada pembanding lain yang dicatat Al-Haidari. Survei dampak pada 2019 melaporkan angka 3,1 sampai 7,6 persen di Ibb dan 2,3 sampai 3,1 persen di Hodeidah. Angka 2024 lebih rendah daripada keduanya, yang menurut tim itu mengisyaratkan penurunan yang ajek dari waktu ke waktu.
Al Qanawis mendapat catatan tersendiri. Angka 1,7 persen di sana hanya bersandar pada tiga anak, tulis Al-Haidari, sehingga selisihnya dengan distrik lain bisa saja lahir dari variasi sampel. “Karena itu, Al Qanawis perlu diprioritaskan untuk pengawasan yang diperketat dan penilaian program yang terarah,” tulis Al-Haidari dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Al-Haidari tidak menyebut obat sebagai satu-satunya sebab. Menurut tim itu, tiga putaran azitromisin sejalan dengan turunnya angka trakoma, tetapi perpindahan penduduk, akses layanan kesehatan, dan perubahan kondisi air serta sanitasi yang tidak terukur mungkin ikut berperan. Jarak dua tahun antara putaran pertama dan kedua juga menyimpang dari jadwal tahunan anjuran WHO. Pengaruh jeda itu tidak bisa mereka pastikan.
Jamban dan wajah bersih dalam catatan Al-Haidari
Ketika Al-Haidari memilah sebelas anak itu menurut keadaan rumahnya, satu pola muncul. Di antara 91 anak dari rumah tanpa jamban, 10 anak bertanda radang trakoma, atau 11,0 persen. Di antara 1.199 anak dari rumah berjamban, hanya 1 anak, atau 0,1 persen.
Pola serupa dilihat tim Al-Haidari pada wajah anak. Dokter mata mencatat ada tidaknya cairan dari hidung atau mata sebelum memeriksa. Dari 91 anak yang wajahnya bercairan, 9 anak bertanda radang trakoma, atau 9,9 persen. Dari 1.199 anak yang wajahnya bersih, hanya 2 anak, atau 0,2 persen.
Dalam analisis lanjutan Al-Haidari, sanitasi rumah yang tidak layak dan wajah yang bercairan tetap berhubungan dengan trakoma. Namun rentang ketidakpastiannya sangat lebar karena kasusnya hanya sebelas. “Karena itu, perkiraan ini sebaiknya ditafsirkan sebagai temuan penjajakan yang memerlukan konfirmasi dalam penelitian yang lebih besar, bukan sebagai ukuran pasti atas hubungan yang berdiri sendiri,” tulis mereka.
Beberapa hal lain tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dalam data Al-Haidari. Jenis kelamin dan umur anak, jumlah anggota rumah tangga, serta melek huruf orang tua termasuk di dalamnya. Begitu pula sumber air rumah tangga, jarak ke sumber air, dan kebiasaan mencuci tangan serta wajah dengan sabun yang dilaporkan keluarga.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Yang belum bisa dipastikan Al-Haidari
Al-Haidari menuliskan sendiri batas penelitiannya. Hanya 11 anak yang positif, sehingga daya statistiknya terbatas. Kebersihan wajah dinilai dengan pengamatan langsung tanpa foto, dan kebiasaan mencuci tangan hanya berdasarkan pengakuan. Selain itu, hanya satu anak yang dipilih dari tiap rumah, sehingga beban trakoma di rumah dengan beberapa anak terinfeksi mungkin tercatat lebih rendah.
Zaman juga berubah di antara dua survei itu. Al-Haidari mencatat survei 2013 berlangsung sebelum konflik yang pecah pada Maret 2015, sedangkan survei 2024 dikerjakan di tengah pengungsian dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Susunan penduduk di distrik-distrik itu bisa saja sudah berbeda. Tim itu juga tidak menilai trikiasis pada orang dewasa, yakni kelopak mata yang melipat ke dalam akibat trakoma.
Maka simpulan Al-Haidari berhati-hati. “Meski pemberian obat massal lanjutan saat ini tidak diperlukan untuk trakoma aktif di distrik-distrik yang disurvei, penilaian trikiasis dan surveilans berkelanjutan pascapemberian obat massal tetap diperlukan sebelum menarik kesimpulan tentang status eliminasi penuh,” tulis tim itu. Survei pengawasan mereka sarankan dilakukan dua tahun kemudian.
Untuk menjaga hasil itu, Al-Haidari dan rekan-rekannya menyebut beberapa prioritas. Pendidikan kebersihan yang terarah, anjuran mencuci wajah secara teratur, serta akses dan pemakaian jamban yang lebih baik ada di dalam daftar itu. Mereka juga meminta program trakoma nasional berkoordinasi dengan layanan air dan sanitasi di komunitas yang risiko penularannya masih tersisa.
Al-Haidari berangkat ke enam distrik itu dengan satu pertanyaan. Jawaban yang ia bawa pulang adalah 11 anak di antara 1.290 anak, angka yang berada di bawah ambang WHO, serta satu distrik bernama Al Qanawis yang perlu diawasi lebih ketat. Di akhir naskah, ia dan rekan-rekannya berterima kasih kepada anak-anak, keluarga mereka, dan para dokter mata yang memeriksa.















