Keluhan dan Sindiran Mendominasi Tuturan Felix Siauw di Podcast

A A

Meja studio podcast dengan mixer, mikrofon kondensor, monitor, dan laptop [Foto: Tim Wilson/Wikimedia Commons CC BY 2.0]

  • Empat dari lima jenis tindak tutur Searle ditemukan; deklaratif nihil
  • Keluhan 21 kali dan sindiran 16 kali menjadi fungsi paling dominan
  • Episode 70 menit itu ditonton lebih dari 4,8 juta kali saat diteliti
  • Hanya satu episode dikaji, dan tabel ikut memuat tuturan Deddy Corbuzier
Daftar Isi
  1. Rezeki memilah tuturan ke dalam jenis Searle
  2. Keluhan Felix Siauw soal dituduh mendukung LGBT
  3. Sindiran kucing dan orang yang berdagang atas nama agama
  4. Nasihat, penolakan, dan pujian untuk Deddy
  5. Batas hitungan Rezeki dan Mulyadi

Rini Rezeki menonton satu episode podcast sampai habis, lalu menuliskannya kata demi kata. Episode itu berjudul “Felix Siauw Vs Deddy Corbuzier, Siapa yang Radikal ini!!”, berdurasi satu jam sepuluh menit, dan sudah ditonton lebih dari 4,8 juta kali ketika ia mengerjakannya. Bersama Mulyadi dari Fakultas Linguistik Universitas Sumatera Utara, Rezeki tidak menilai siapa yang benar dalam perdebatan itu. Ia menghitung apa yang sebenarnya dilakukan Felix Siauw setiap kali membuka mulut.

Hasil hitungan Rezeki dan Mulyadi terbit sebagai Tuturan Ilokusi Felix Siauw dalam Podcast YouTube Deddy Corbuzier di jurnal Metahumaniora volume 15 nomor 1, tahun 2025. Rezeki tercatat sebagai penulis korespondensi. Keduanya memakai kerangka John Searle, filsuf bahasa yang membagi tindak tutur ke dalam lima jenis: asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif, masing-masing dengan turunan fungsinya.

Yang menarik minat Rezeki bukan sekadar isi perdebatan, melainkan siapa yang berbicara dan di mana. Felix Siauw, tulisnya, adalah pendakwah aktif sekaligus penulis keagamaan, dan kanal Deddy Corbuzier disebutnya menempati peringkat pertama podcast di Indonesia. Pertemuan seorang dai dengan seorang penghibur terkenal di ruang seluas itu, menurut Rezeki dan Mulyadi, menjanjikan perdebatan dari sudut pandang yang berbeda.

Rezeki dan Mulyadi bukan yang pertama membawa podcast Deddy Corbuzier ke meja kajian bahasa. Keduanya menyebut Sulfiani dan Haslinda yang menelaah episode bersama Nadiem Makarim dan menemukan tuturan representatif serta ekspresif berupa kekecewaan, ketidaksenangan, dan penyesalan. Rahmadini, yang juga mereka sebut, mengkaji episode bersama Ernest Prakasa. Yang membedakan kajian Rezeki adalah narasumbernya seorang pendakwah yang membahas isu sensitif.

Rezeki memilah tuturan ke dalam jenis Searle

Dari transkrip itu Rezeki menemukan empat dari lima jenis tindak tutur Searle. Tuturan deklaratif, jenis yang mengubah kenyataan lewat ucapan seperti memberi nama atau menjatuhkan hukuman, sama sekali tidak muncul. Dari semua fungsi turunan yang dicantumkan dalam tabelnya, 17 fungsi terisi, sementara dua fungsi kosong: bualan pada jenis asertif dan menganugerahkan pada jenis komisif.

Rezeki dan Mulyadi lalu menyusun angka per fungsi. Pada jenis asertif tercatat 21 keluhan, 16 sindiran, 15 pernyataan, dan 7 tuduhan. Pada jenis direktif ada 12 pertanyaan dan 10 nasihat. Jenis ekspresif diisi 11 pujian, 5 tuturan menyalahkan, 4 permintaan maaf, 4 salam, dan 3 penyesalan. Pada jenis komisif, menolak muncul 5 kali dan mengancam 4 kali.

Fungsi tuturan yang paling sering munculKeluhan (asertif): Jumlah tuturan +21; Sindiran (asertif): Jumlah tuturan +16; Pernyataan (asertif): Jumlah tuturan +15; Bertanya (direktif): Jumlah tuturan +12; Memuji (ekspresif): Jumlah tuturan +11; Menasehati (direktif): Jumlah tuturan +10; Tuduhan (asertif): Jumlah tuturan +7.Fungsi tuturan yang paling sering munculEpisode "Felix Siauw Vs Deddy Corbuzier, Siapa yang Radikal ini!!"5101520250Keluhan (asertif)21Sindiran (asertif)16Pernyataan (asertif)15Bertanya (direktif)12Memuji (ekspresif)11Menasehati (direktif)10Tuduhan (asertif)7Tiga fungsi teratas semuanya asertif: penutur menyatakan sesuatuyang ia yakini benar.
Sumber: Rini Rezeki dan Mulyadi, Tuturan Ilokusi Felix Siauw dalam Podcast YouTube Deddy Corbuzier, Metahumaniora, 15(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Dua fungsi teratas, keluhan dan sindiran, sama-sama masuk jenis asertif, yakni tuturan yang mengikat penutur pada kebenaran ucapannya sendiri. Rezeki dan Mulyadi menyimpulkan bahwa dominasi ini menunjukkan sesuatu tentang cara seorang pendakwah berbicara di podcast. “Tindak tutur ilokusi asertif paling dominan, menunjukkan bahwa percakapan pendakwah melibatkan penyampaian opini, kritik atau pandangan pribadi,” tulis Rezeki dan Mulyadi dalam naskahnya.

Keluhan Felix Siauw soal dituduh mendukung LGBT

Keluhan yang paling sering ditemukan Rezeki berkisar pada satu hal: Felix Siauw merasa disalahpahami. Dalam salah satu kutipan yang diangkat, Siauw berkata bahwa di podcastnya sendiri ia tidak pernah menyatakan dukungan, bahkan “berkali kali saya katakan” bahwa ia tidak mendukung LGBT, tetapi orang tetap menganggapnya pro. Ia menyebut anggapan itu aneh baginya.

Rezeki membaca keluhan itu sebagai tanda bahwa kata-kata seorang penutur tidak selalu sampai sebagaimana dimaksud. “Dari sini dapat dilihat bahwa kalimat-kalimat yang diungkapkan akan sangat mempengaruhi pemahaman sang pendengar,” tulis Rezeki dan Mulyadi. Bagi keduanya, keluhan lahir ketika penutur merasakan ketimpangan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur

Pernyataan Siauw yang dikutip Rezeki bergerak di wilayah yang sama. Ia mengatakan bahwa mengundang kelompok LGBT dan memberi mereka panggung sudah termasuk promosi, dan bahwa menurutnya secara pribadi kelompok itu tidak perlu diberi panggung lagi. Pada kutipan lain, Siauw menambahkan bahwa soal manusia, “kita semua sepakat bahwa manusia itu punya hak dasar untuk dihormati.”

Sindiran kucing dan orang yang berdagang atas nama agama

Sindiran, fungsi kedua terbanyak dalam hitungan Rezeki, muncul dalam bentuk yang lebih tajam. Salah satu contoh yang diangkat adalah ucapan Siauw: “Kalau gitu Saya boleh enggak? Saya kucing dong karena harus ada yang lebih parah di sana.” Rezeki dan Mulyadi menafsirkan kalimat itu sebagai sindiran terhadap orang yang mengubah jenis kelamin atau entitas diri sesuka hati.

Sindiran lain yang dicatat Rezeki justru mengarah ke dalam. Siauw menyebut ada “banyak penyakit” berupa orang yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia juga menyindir bahwa pada 2023 masyarakat masih banyak termakan hoaks. Rezeki dan Mulyadi membaca yang terakhir ini sebagai kritik atas kebiasaan memahami sepenggal berita lalu menganggapnya utuh.

Dalam simpulannya, Rezeki dan Mulyadi memisahkan dua sasaran sindiran itu. Yang pertama ditujukan kepada orang yang ingin hidup bebas tanpa aturan yang berlaku. Yang kedua ditujukan kepada orang yang memakai nama agama demi keuntungan pribadi. Keduanya, menurut Rezeki, bukan sekadar kritik lepas, melainkan tanggapan atas situasi yang sedang hangat diperbincangkan pada waktu itu.

Nasihat, penolakan, dan pujian untuk Deddy

Rezeki juga mencatat nasihat Siauw yang disampaikan tanpa nada memerintah. Siauw mengingatkan agar orang benar-benar berhati-hati dengan apa yang disampaikan, sebab yang sampai ke telinga orang lain belum tentu sama. Ia menyebut sila kedua Pancasila dan berkata yakin bahwa setiap orang yang bertuhan pasti manusia. Rezeki membacanya sebagai nasihat halus bagi orang beragama yang tidak berperilaku manusiawi.

Pada jenis komisif, Rezeki menempatkan beberapa penolakan Siauw. Salah satunya berbunyi bahwa seseorang boleh menjadi LGBT dan boleh masuk televisi, “asal kan jangan ngaku-ngaku di Indonesia.” Penolakan lain menyangkut ucapan selamat Natal: Siauw berkata ia tidak perlu mengucapkannya, dan mempertanyakan gunanya bagi muslim yang tinggal di tempat mayoritas.

Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan

Di antara 11 pujian yang dihitung Rezeki, ada satu yang ditujukan langsung kepada tuan rumah. Siauw mengenang saat Deddy Corbuzier bersyahadat, mengatakan ia termasuk yang sangat bersyukur dan menuliskan doa-doanya di media sosial. Pujian lain ditujukan kepada agamanya sendiri, yang menurut Siauw indah karena tidak pernah mewajibkan penganutnya pada satu kondisi tertentu.

Satu episode podcast di bawah kaca pembesar SearleKartu ringkas empat angka kunci penelitian tindak tutur ilokusi.Satu episode podcast di bawah kaca pembesarSearleKajian Universitas Sumatera Utara atas tuturan Felix Siauw4/5jenis ilokusideklaratif nihil17fungsi tuturandua fungsi nol70menit durasiunggah 12 Des20234,8 jtkali ditontonsaat ditelitiJalan risetnyaRekaman diubah jadi teksTuturan dipilah per jenisDiperiksa dengankategori SearleKeluhan dan sindiran menjadi fungsi paling dominan dalam episode itu.
Sumber: Rini Rezeki dan Mulyadi, Tuturan Ilokusi Felix Siauw dalam Podcast YouTube Deddy Corbuzier, Metahumaniora, 15(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Rezeki dan Mulyadi menutup dengan pengamatan bahwa empat jenis tuturan itu bekerja bersama. “Hal ini mencakup bagaimana penggunaan tindak tutur asertif, direktif, komisif, dan ekspresif dapat menciptakan interaksi yang bersifat persuasif atau bahkan konfrontatif,” tulis keduanya. Podcast, bagi Siauw, disebut Rezeki sebagai salah satu alternatif media dakwah.

Batas hitungan Rezeki dan Mulyadi

Ada batas yang perlu dipegang pembaca. Rezeki dan Mulyadi hanya mengkaji satu episode, sehingga angka 21 keluhan atau 16 sindiran tidak bisa dibawa untuk menggambarkan cara Felix Siauw berbicara di forum lain. Keduanya sendiri berharap peneliti berikutnya mengembangkan kajian ini dengan objek dan tuturan yang lebih beragam. Tabel mereka juga tidak mencantumkan jumlah total tuturan.

Naskah Rezeki dan Mulyadi menyimpan beberapa kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca. Judulnya menyebut tuturan Felix Siauw, tetapi tabel hasilnya berjudul “Tuturan Ustad Felix dan Deddy Corbuzier,” dan contoh pertanyaan “Kenapa Ustadz tidak memprotes?” jelas keluar dari mulut Deddy, bukan Siauw. Simpulannya pun menyebut kedua nama sebagai sumber data.

Penamaan jenis tuturan dalam naskah Rezeki juga berubah-ubah. Abstrak menulis “derektif”, sementara bagian simpulan menyebut “instruksi” dan “komisi” untuk jenis yang di tabel dinamai direktif dan komisif. Hasil menyebut 17 fungsi, padahal tabel memuat 19 baris fungsi, dua di antaranya bernilai nol. Pendahuluan pula mendefinisikan podcast sebagai “aktivitas monolog antara dua orang atau lebih.”

Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya

Rini Rezeki memulai dengan menonton satu episode yang jutaan orang sudah tonton lebih dulu. Bedanya, ia memutar ulang, menulis, dan menghitung, sampai satu jam sepuluh menit perdebatan itu menjelma tabel yang menyebut keluhan sebagai suara paling sering dari seorang pendakwah. Perdebatannya sendiri tidak ia putuskan. Yang ia tinggalkan adalah catatan bahwa di balik judul yang menantang, isi percakapannya lebih banyak berupa keluhan dan sindiran daripada perintah.

Bagikan

Baca Juga

Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit
Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Lima Hari di Puslabfor, Skor Forensik 40 Penyidik Jabar Naik