- Sebanyak 1.442 warga distrik dua Kota Tabriz menjawab 29 pertanyaan tentang cara mereka berjalan kaki.
- Sesudah pendidikan, usia, dan lama berjalan ikut ditimbang, selisih antarkelompok ekonomi pada skor total tidak lagi bermakna.
- Warga berusia 21 sampai 30 tahun mencatat skor total 4,29 poin lebih tinggi daripada kelompok 41 sampai 50 tahun.
- Warga yang berjalan 60 sampai 120 menit sehari mencatat skor 3,46 poin lebih berisiko daripada yang berjalan kurang dari setengah jam.
- Semua jawaban berasal dari pengakuan sendiri dan hanya dari satu distrik di Tabriz.
Daftar Isi
Pada musim panas 2019, survei itu berjalan di Tabriz. Sebanyak 1.442 warga distrik dua Kota Tabriz menjawab 29 pertanyaan tentang cara mereka berjalan kaki. Kota di barat laut Iran itu padat, dan distrik duanya dipilih karena memuat pusat belanja, rumah sakit, universitas, serta arus kendaraan dan pejalan kaki yang sama-sama besar.
Jawaban mereka kemudian diolah Amirmohammad Azizzadeh, Elham Davtalab Esmaeili, Mina Golestani, Leila Vahedi, dan Homayoun Sadeghi-bazargani dari Tabriz University of Medical Sciences. Hasilnya terbit sebagai artikel Socioeconomic status and demographic factors influencing pedestrian safety behaviors: baseline results from the Persian traffic cohort di jurnal BMC Public Health tahun 2026, dalam status naskah diterima yang belum diberi nomor volume.
Urutan temuannya begini. Mula-mula warga yang lebih mapan tampak lebih tertib di jalan. Sesudah pendidikan, usia, dan lama berjalan ikut ditimbang, selisih antarkelompok ekonomi pada skor total tidak lagi bermakna. Yang bertahan adalah tiga hal lain: tingkat sekolah, umur, dan berapa lama seseorang berjalan kaki setiap hari.
Sebelum 2019: pejalan kaki dalam angka kematian
Para peneliti berangkat dari catatan Organisasi Kesehatan Dunia. Sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat tabrakan lalu lintas, dan hampir seperempatnya, 23 persen, adalah pejalan kaki. Kira-kira 95 persen orang menjadi pejalan kaki pada suatu waktu, tetapi hanya sekitar 21 persen jalan di dunia yang memenuhi standar keselamatan dasar.
Di Iran, menurut naskah itu, cedera lalu lintas adalah penyebab kematian nomor tiga. Pejalan kaki menyumbang 24 persen cedera dan 34 persen kematian di jalan. Tanpa pelindung fisik dan berhadapan dengan kendaraan yang jauh lebih cepat, mereka menanggung beban yang tidak sebanding dengan pengguna jalan lain.
Sampai saat itu, riset perilaku di jalan kebanyakan menyoroti pengemudi. Kajian tentang kaitan status ekonomi dengan perilaku pejalan kaki masih terbatas, tulis para peneliti, padahal 92 persen kematian lalu lintas terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Di negara kaya pun, penghuni kawasan miskin lebih berisiko celaka atau tewas di jalan.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Musim panas 2019: siapa yang ditanyai
Dari 1.442 orang itu, 742 laki-laki dan 700 perempuan. Kelompok umur terbesar adalah 31 sampai 40 tahun dengan 275 orang dan di atas 60 tahun dengan 283 orang. Hampir tujuh dari sepuluh, 69,83 persen, sudah menikah. Bagi warga yang tidak bisa membaca, petugas terlatih membacakan pertanyaan dengan nada netral lalu mencatat jawabannya.
Tingkat sekolah mereka beragam. Sebanyak 166 orang atau 11,51 persen buta huruf, 15,74 persen berpendidikan dasar, 40,15 persen berpendidikan menengah, dan 7,49 persen berijazah diploma. Lulusan sarjana mencapai 17,68 persen, magister 5,55 persen, sedangkan doktor atau lebih tinggi hanya 27 orang, 1,87 persen.
Separuh di antara mereka jarang berjalan jauh. Sebanyak 50,62 persen berjalan kurang dari 30 menit sehari, 32,73 persen selama 30 sampai 60 menit, 10,75 persen selama 60 sampai 120 menit, dan 5,89 persen lebih dari dua jam. Mobil pribadi menjadi kendaraan utama 51,31 persen warga, sementara hanya 17,48 persen yang menyebut jalan kaki sebagai cara bepergian utama.
Status ekonomi dihitung dari enam hal sekaligus: pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, nilai rumah, nilai kendaraan, dan porsi belanja kesehatan. Hasilnya dibagi ke lima kelompok yang hampir sama besar, dari 296 orang di kelompok sangat rendah sampai 265 orang di kelompok sangat tinggi. Sebanyak 28,01 persen rumah tangga menghabiskan lebih dari 40 persen pendapatannya untuk kesehatan.
Setiap jawaban diberi angka, dari tidak pernah sampai hampir selalu. Skor total bergerak dari 29 sampai 145, dan makin tinggi skor berarti makin berisiko perilakunya. Rata-rata warga distrik dua mencatat 61,05. Skor itu terdiri atas lima bagian: pelanggaran lalu lintas, perhatian yang teralih, kepatuhan pada aturan, perilaku positif, dan sikap agresif.
Hitungan pertama: yang mapan tampak lebih tertib
Pada tahap awal, setiap ciri warga dibandingkan satu per satu dengan skornya. Status ekonomi langsung menonjol. Dibanding kelompok sangat rendah, skor total kelompok menengah lebih rendah 3,85 poin, kelompok tinggi 5,47 poin, dan kelompok sangat tinggi 4,01 poin. Skor lebih rendah berarti perilaku lebih aman.
Selisih itu terutama datang dari dua bagian. Pada kepatuhan aturan, kelompok sangat rendah mencatat rata-rata 19,71, sedangkan kelompok menengah, tinggi, dan sangat tinggi masing-masing lebih rendah 1,60, 2,05, dan 2,03 poin. Pola serupa muncul pada perilaku positif. Untuk pelanggaran, perhatian yang teralih, dan sikap agresif, status ekonomi tidak membedakan apa pun.
Pada tahap yang sama, pendidikan juga sudah terlihat. Hampir semua jenjang sekolah mencatat skor total lebih rendah daripada warga buta huruf, dengan selisih terbesar 8,64 poin pada pemegang diploma. Lulusan doktor menjadi pengecualian: skor totalnya nyaris sama, dan pada bagian perhatian yang teralih mereka justru 2,40 poin lebih tinggi.
Hitungan kedua: sekolah mengambil alih
Berikutnya, semua ciri itu ditimbang bersamaan. Sesudah pendidikan, usia, dan lama berjalan ikut ditimbang, selisih antarkelompok ekonomi pada skor total tidak lagi bermakna. Kelompok tinggi masih 3,34 poin lebih rendah dan kelompok sangat tinggi 3,04 poin, tetapi selisih sebesar itu sudah tidak dapat dibedakan dari kebetulan.
Pendidikan sebaliknya bertahan. Dibanding warga buta huruf, lulusan pendidikan dasar mencatat skor 4,46 poin lebih rendah, pendidikan menengah 5,57 poin, diploma 9,64 poin, sarjana 7,70 poin, dan magister 6,47 poin. Kelompok doktor lebih rendah 4,86 poin, namun dengan hanya 27 orang selisih itu tidak bermakna secara statistik.
Dari situ para peneliti menarik kesimpulan utamanya. “Meski status sosial ekonomi yang lebih tinggi berkaitan dengan kepatuhan aturan dan perilaku positif yang lebih baik, hubungan ini secara berarti dijelaskan oleh capaian pendidikan,” tulis Amirmohammad Azizzadeh, peneliti Student Research Committee Tabriz University of Medical Sciences, bersama rekan-rekannya. Naskah aslinya berbahasa Inggris.
Sisa pengaruh ekonomi tidak hilang seluruhnya. Pada bagian kepatuhan aturan, kelompok ekonomi tinggi tetap mencatat skor 1,72 poin lebih rendah sesudah pendidikan diperhitungkan. Pendidikan sendiri paling terasa pada pelanggaran lalu lintas, dengan selisih 2,29 poin pada lulusan pendidikan dasar hingga 3,95 poin pada sarjana.
Mengapa sekolah berpengaruh, para peneliti hanya menawarkan dugaan. Salah satunya adalah kecakapan memahami informasi keselamatan: menafsirkan risiko, mengikuti petunjuk, dan membaca situasi lalu lintas. Mereka merujuk sebuah kajian nasional di Iran yang menyebut ketidaktahuan pejalan kaki akan aturan sebagai penyumbang langsung tabrakan. Dugaan itu, menurut mereka sendiri, belum diuji secara resmi dalam penelitian ini.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Usia 21 sampai 30 tahun dan jam berjalan: siapa paling berisiko
Sesudah pendidikan, umur menjadi pembeda berikutnya. Warga berusia 21 sampai 30 tahun mencatat skor total 4,29 poin lebih tinggi daripada kelompok 41 sampai 50 tahun. Mereka lebih sering teralih perhatiannya, lebih sering melanggar, lebih agresif, dan lebih jarang berperilaku positif. Remaja 15 sampai 20 tahun menunjukkan dua dari empat ciri itu: perhatian yang lebih mudah teralih dan perilaku positif yang lebih jarang.
Di ujung lain, warga di atas 60 tahun mencatat skor total 3,52 poin lebih rendah. Pelanggaran mereka lebih sedikit, begitu pula perhatian yang teralih. Kelompok 51 sampai 60 tahun juga lebih jarang teralih. Dalam naskah itu, penggunaan ponsel saat berjalan digolongkan sebagai perhatian yang teralih.
Perempuan lebih jarang teralih perhatiannya dan lebih patuh pada aturan daripada laki-laki. Namun pada skor total, selisih 1,63 poin di antara keduanya tidak cukup kuat untuk disebut bermakna. Warga yang bekerja sebagai pengemudi, 4,65 persen dari seluruh peserta, juga lebih jarang teralih saat berjalan kaki. Warga lajang melaporkan lebih banyak pelanggaran daripada yang menikah.
Lama berjalan kaki memberi hasil yang tidak diduga. Warga yang berjalan 60 sampai 120 menit sehari mencatat skor 3,46 poin lebih berisiko daripada yang berjalan kurang dari setengah jam. Kenaikan itu terutama berasal dari pelanggaran lalu lintas. Cara bepergian utama, entah mobil, taksi, angkutan umum, atau jalan kaki, tidak mengubah skor total.
Para peneliti memberi dua kemungkinan penjelasan. Orang yang lebih lama berjalan menemui lebih banyak situasi lalu lintas, sehingga peluangnya berbuat berisiko ikut bertambah. Mungkin pula mereka menjadi kebal terhadap bahaya karena terus-menerus terpapar, lalu menganggap pelanggaran tertentu sebagai hal biasa. “Lama berjalan kaki setiap hari, bukan berjalan kaki sebagai moda utama, tampaknya merupakan ukuran paparan yang lebih relevan,” tulis mereka.
Di titik inilah status ekonomi muncul kembali. Pada kelompok ekonomi rendah, berjalan 30 sampai 60 menit berkaitan dengan skor 7,10 poin lebih tinggi, dan berjalan 60 sampai 120 menit dengan skor 13,13 poin lebih tinggi. Pada kelompok ekonomi tinggi, kenaikan 9,32 poin hanya terlihat pada 30 sampai 60 menit. Kelompok menengah dan sangat tinggi tidak menunjukkan pola yang konsisten.
Baca juga Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea
Sesudah 2019: batas data dan catatan atas naskah
Para penulis mencatat sejumlah batas. Semua jawaban berasal dari pengakuan sendiri dan hanya dari satu distrik di Tabriz. Karena semua diukur pada satu waktu, mereka tidak dapat memastikan mana yang lebih dulu: orang yang pada dasarnya berhati-hati bisa saja lebih mungkin bersekolah tinggi. Data juga dikumpulkan sebelum pandemi COVID-19, yang kemudian mengubah pola bepergian di kota-kota Iran.
Susunan peserta ikut membatasi. Sebagian besar adalah pejalan kaki sesekali di kota yang bertumpu pada mobil, sehingga rata-rata skor bisa jadi lebih rendah daripada kenyataan pada orang yang setiap hari berjalan jauh. Keadaan jalan, trotoar, dan kebiasaan setempat tidak diukur. Untuk penelitian berikutnya, mereka mengusulkan pencatatan dengan GPS, sensor yang dikenakan, atau rekaman video.
Beberapa hal di dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Teks menyebut peserta berusia 14 tahun ke atas, sedangkan tabel dimulai dari kelompok 15 sampai 20 tahun. Teks menyatakan semua warga berpendidikan minimal dasar berperilaku lebih aman secara bermakna, padahal selisih kelompok doktor di tabel tidak bermakna. Satu sel tabel juga memuat taksiran 0,47 dengan rentang 0,72 sampai 1,67.
Ada pula satu ketidakselarasan. Bagian keterbatasan menyebut status ekonomi rendah dan jenis kelamin laki-laki sebagai penanda perilaku berisiko. Tabel akhir naskah itu sendiri menunjukkan keduanya tidak bermakna pada skor total sesudah pendidikan dan usia ditimbang.
Rekomendasi para peneliti mengikuti hasil hitungan kedua: kampanye keselamatan dan perbaikan prasarana diarahkan kepada orang muda dan warga berpendidikan rendah. Catatan yang ada berhenti di musim panas 2019. Apakah pola itu masih berlaku sesudah pandemi, menurut penulisnya, belum diukur.















