- Dari 38 hari dengan gerak petang sedikitnya satu jam, hanya satu hari yang disusul gejala serupa.
- Pada petang, hanya gerak lebih dari 50 menit yang lolos uji, dengan rasio odds 0,21.
- Gerak petang 20 menit atau lebih pada hari-hari semacam itu berkaitan dengan rasio odds 0,39.
- Daya statistik analisis utama hanya 49 persen, dan untuk mencapai 80 persen dibutuhkan 3.241 hari pengamatan.
Daftar Isi
Yuki Shimada, mahasiswa sarjana di Kitasato University School of Medicine, Sagamihara, Jepang, membaca catatan dari ponsel 116 pekerja. Selama dua pekan, aplikasi Google Fit di ponsel itu merekam gerak pemiliknya setiap 15 menit. Setiap sore, antara pukul 17.00 dan 18.00, sebuah kuesioner singkat datang menanyakan suasana hati mereka. Dari catatan itu Shimada mencari satu hal: apakah badan yang bergerak hari ini berkaitan dengan hati yang lebih ringan esok hari.
Jawabannya ia tulis bersama Kazuhiro Watanabe, Hiroyuki Hikichi, Keiichi Matsuzaki, dan Akizumi Tsutsumi dalam Association between late afternoon and early evening physical activity and next-day depression and anxiety symptoms among workers in Japan: a two-week longitudinal study, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keempat rekannya bekerja di Department of Public Health kampus yang sama. Watanabe juga bernaung di Department of Digital Mental Health, The University of Tokyo.
Shimada dan Watanabe berangkat dari angka yang besar. Sekitar 15 persen pekerja di dunia, tulis mereka dengan merujuk data beban penyakit global, mengalami gangguan seperti depresi dan kecemasan selama bekerja. Sebuah hitungan di 36 negara menaksir masalah itu berujung pada lebih dari 12 miliar ketidakhadiran kerja dan kerugian 925 miliar dolar Amerika Serikat.
Bahwa gerak badan melindungi orang dari depresi sudah lama diketahui, dan Shimada tidak hendak mengulanginya. Yang belum jelas, tulis tim itu, adalah soal jam. Riset terdahulu kebanyakan mengamati pasien, mahasiswa, atau warga umum, bukan orang yang hari-harinya diatur jam kantor. Maka pertanyaan Shimada menyempit: pukul berapa pekerja sebaiknya bergerak supaya esok harinya lebih tenang.
Shimada Membagi Sore Menjadi Dua
Langkah pertama Shimada adalah memotong ujung hari menjadi dua jendela, mengikuti pembagian waktu badan meteorologi Jepang. Jendela pertama, sore, berlangsung pukul 15.00 sampai 18.00. Jendela kedua, petang, pukul 18.00 sampai 21.00. Untuk tiap jendela ia menjumlahkan menit gerak yang terekam ponsel, lalu menyandingkannya dengan jawaban kuesioner pekerja yang sama pada keesokan harinya.
Orang-orang di balik catatan itu adalah pekerja penuh waktu yang bekerja pada siang hari di wilayah perkotaan Jepang. Dalam daftar Shimada ada 66 laki-laki dan 50 perempuan, paling banyak berusia 40 sampai 49 tahun. Sebagian besar manajer, tenaga profesional, atau pegawai administrasi. Separuh dari mereka bekerja 41 sampai 50 jam sepekan.
Kuesioner sore itu memuat enam pertanyaan tentang gejala depresi dan cemas, dikenal sebagai skala K6. Shimada dan rekan-rekannya memakai skor 5 atau lebih sebagai tanda gejala sedang tinggi. Dari 1.400 hari yang terkumpul, 259 hari masuk golongan itu, kira-kira satu dari lima hari. Skor rata-ratanya 2,66, dengan sebaran yang lebar dari hari ke hari.
Catatan ponsel juga memperlihatkan betapa sedikit para pekerja itu bergerak di ujung hari. Shimada mencatat rata-rata 12,18 menit pada sore dan 13,61 menit pada petang. Angka tengahnya lebih kecil lagi, dua menit pada sore dan lima menit pada petang. Artinya, pada kebanyakan hari, ponsel hampir tidak merekam gerak apa pun.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Hitungan Hari Murung di Tabel Shimada
Shimada lalu mengelompokkan hari menurut lama bergerak, dari kurang dari 10 menit sampai 60 menit atau lebih. Pola paling terang muncul di ujung tabel. Pada petang, ada 763 hari dengan gerak kurang dari 10 menit, dan 22,7 persen di antaranya disusul hari bergejala tinggi. Dari 38 hari dengan gerak petang sedikitnya satu jam, hanya satu hari yang disusul gejala serupa.
Sore memberi gambaran yang mirip di ujungnya, tetapi lebih kusut di tengah. Dari 71 hari dengan gerak sore sedikitnya 60 menit, Shimada menemukan lima hari yang disusul gejala tinggi, atau 7 persen. Namun pada kelompok 40 sampai 49 menit angkanya justru memuncak, sepertiga dari 33 hari. Tangga itu tidak turun rapi.
Tim Shimada mencatat bahwa perbedaan antarkelompok itu bermakna secara statistik pada kedua jendela. Kelompok paling aktif, 60 menit atau lebih, punya hari bergejala yang nyata lebih sedikit, baik pada sore maupun petang. Sebaliknya, hanya pada petang kelompok paling diam, kurang dari 10 menit, memikul hari bergejala yang nyata lebih banyak.
Ketika Usia dan Hari Kemarin Ikut Dihitung
Tabel sederhana belum menjawab pertanyaan Shimada, sebab orang yang kemarin murung cenderung murung lagi hari ini. Ia lalu memperhitungkan usia, jenis kelamin, dan skor hari sebelumnya. Hasilnya, kaitan gerak sore dengan gejala esok hari lenyap. Rasio odds per menit gerak tepat 1,00, angka yang berarti tidak ada beda.
Petang bertahan, meski tipis. Shimada mendapati rasio odds 0,99 untuk setiap menit gerak pada pukul 18.00 sampai 21.00, dengan nilai p 0,061. Angka itu belum melewati batas kemaknaan statistik yang lazim, dan tim menyebutnya bermakna secara marginal. Setiap menit tambahan hanya menggeser peluang sedikit sekali.
Yang jauh lebih kuat daripada gerak adalah hari kemarin. Dalam hitungan Shimada, pekerja yang kemarin bergejala tinggi punya odds lima kali lebih besar untuk bergejala tinggi lagi esoknya. Usia pun ikut bicara. Pekerja berumur 39 tahun ke bawah punya odds sekitar tiga kali lipat pekerja berusia 40 sampai 49 tahun.
Shimada kemudian mencoba berbagai ambang lama bergerak, dari 10 sampai 60 menit. Pada petang, hanya gerak lebih dari 50 menit yang lolos uji, dengan rasio odds 0,21. Pada sore, tidak satu ambang pun lolos. Meski begitu, ia melihat arah yang sama di kedua jendela: makin lama badan bergerak, makin rendah rasio odds gejala esok hari.
Pergeseran paling tajam, catat Shimada dan Watanabe, terjadi di antara ambang 40 dan 50 menit, sedangkan di bawah 40 menit angkanya nyaris tidak berubah. “Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik berdurasi singkat mungkin tidak cukup untuk menghasilkan manfaat kesehatan mental yang terukur,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Dua Puluh Menit bagi Hari yang Tenang
Ada satu kelompok hari yang membuat Shimada menemukan kaitan lebih tegas, yaitu hari sesudah skor rendah. Bila kemarin pekerja tidak bergejala tinggi, setiap menit gerak petang berkaitan dengan rasio odds 0,98, dan kali ini lolos uji statistik. Gerak petang 20 menit atau lebih pada hari-hari semacam itu berkaitan dengan rasio odds 0,39.
Shimada juga menyisihkan hari-hari sesudah skor yang sangat tinggi, 13 atau lebih, karena orang dalam keadaan seberat itu kecil kemungkinannya bergerak. Sesudah hari-hari tersebut dikeluarkan, gerak petang 20 menit atau lebih berkaitan dengan rasio odds 0,54. Hitungan per menitnya sendiri tetap belum lolos uji.
Dari situ Shimada dan Watanabe menarik tafsir yang hati-hati. “Di antara orang dengan tingkat gejala depresi dan kecemasan yang rendah, peningkatan kecil aktivitas fisik pada petang hari pun mungkin membantu menjaga kesehatan mental yang baik,” tulis mereka. Bagi hari yang sudah telanjur berat, catatan dua pekan itu tidak memberi jawaban.
Dugaan Shimada tentang Jam Pulang Kantor
Mengapa petang, bukan sore? Shimada dan Watanabe menawarkan dugaan yang bertumpu pada jadwal pekerja. Bagi kebanyakan pekerja, petang adalah waktu senggang. Studi asal yang memakai data sama, yang ditulis Watanabe dan Tsutsumi, mendapati bahwa hilangnya puncak gerak pada petang berkaitan dengan tekanan batin berat, mungkin karena jam kerja panjang atau beban kerja tinggi.
Maka gerak petang, menurut Shimada, bisa jadi penanda hari yang tertata. Langkah kaki yang bertambah saat pulang kerja, misalnya, menandakan pekerja siang itu sempat pulang pada jam yang wajar, pulih dari tekanan kerja, dan punya tenaga untuk kebiasaan sehat. Tim juga menyebut tidur yang lebih nyenyak sebagai jalur lain yang mungkin.
Shimada dan rekan-rekannya menempatkan temuan itu dengan satu kalimat. “Sejauh pengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang menunjukkan hubungan lintas hari antara aktivitas fisik dan kesehatan mental pada orang dewasa pekerja yang sehat,” tulis mereka. Mereka berharap perusahaan dan tenaga kesehatan kerja mempertimbangkan soal waktu dalam anjuran bergerak.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Yang Tidak Terekam Ponsel Para Pekerja
Shimada sendiri yang lebih dulu menunjuk kelemahan hitungannya. Daya statistik analisis utama hanya 49 persen, dan untuk mencapai 80 persen dibutuhkan 3.241 hari pengamatan. Google Fit tidak membedakan gerak karena pekerjaan, perjalanan, atau olahraga, dan hanya merekam saat ponsel dibawa. Jam pulang kantor, jenis gerak, dan lama tidur tidak diukur.
Beberapa hal lain tidak masuk hitungan Shimada: kebiasaan olahraga, jenis pekerjaan, jam kerja, serta apakah hari itu hari kerja atau libur. Pesertanya pun kebanyakan pekerja profesional penuh waktu. Tim Watanabe menulis bahwa temuan ini belum tentu berlaku bagi pekerja paruh waktu, pekerja sif malam, atau pekerja dengan sif bergilir.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa ketidakrapian dalam naskah Shimada. Kaitan gerak sore disebut negatif, padahal rasio odds sesudah penyesuaian 1,00. Bagian metode menyebut semua tingkat gerak dijumlahkan, sedangkan tabel peserta hanya berlabel sedang dan berat. Daftar pustaka nomor 20 dan 21 berisi rujukan yang persis sama. Kebutuhan data disebut sekitar 2,5 kali, sementara 3.241 dibagi 1.400 menghasilkan kira-kira 2,3.
Kuesioner sore itu sudah lama berhenti berdatangan, dan yang tersisa di meja Shimada adalah 1.400 hari milik 116 orang. Dari sana ia membawa pulang satu gambaran: pekerja yang masih sempat bergerak sesudah pukul enam petang lebih jarang bangun dengan hati berat, terutama bila kemarin pun hatinya tenang. Mengapa demikian, tulis Shimada dan rekan-rekannya, masih harus dijawab dengan pengukuran yang lebih lengkap.















