- Menurut IMT, 31,7 persen mahasiswa Universitas Al-Quds tergolong kelebihan berat badan atau obesitas.
- Menurut persen lemak tubuh, 61,0 persen mahasiswa yang sama tergolong berlemak lebih.
- Sebanyak 71,4 persen mahasiswi tergolong berlemak lebih, berbanding 44,9 persen mahasiswa laki-laki.
- Kecanduan makanan berat menjadi faktor dengan kaitan terkuat, rasio odds 8,06, tetapi kelompoknya kecil.
Daftar Isi
- Dua Cara Menghitung Gemuk yang Tidak Selalu Sepakat
- Hitungan Berat Membela Perempuan, Kadar Lemak Tidak
- Isi Piring Sehari-hari Tidak Membedakan Ukuran Tubuh
- Kecanduan Makanan Jarang, tetapi Paling Kuat Terkait
- Usia, Jenis Kelamin, dan Tempat Tinggal Ikut Berkaitan dengan Peluang
- Depresi Lebih Dekat ke Piring daripada ke Lemak Tubuh
- Batas Temuan dan Pesan untuk Kampus
Berat badan dibagi kuadrat tinggi badan menghasilkan satu angka sederhana untuk menilai apakah seseorang tergolong gemuk. Angka itu, indeks massa tubuh atau IMT, dipakai luas dalam riset kesehatan karena praktis. Namun, di sebuah kampus di Yerusalem, angka itu dan alat pengukur lemak tubuh memberi dua jawaban yang jauh berbeda untuk mahasiswa yang sama. Keganjilan itulah pintu masuk temuan ini.
Temuan tersebut ditulis Hazem Agha dan Walaa Maher Idrees dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Al-Quds, Yerusalem, bersama Raghda Amro dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Palestine Polytechnic University, Hebron. Judulnya Weight Status, Percent Body Fat, Eating Habits, Depression, and Food Addiction in Palestinian University Students: A Cross-Sectional Study, terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Mereka mengukur 300 mahasiswa Universitas Al-Quds berusia 18 tahun ke atas di laboratorium penilaian gizi kampus itu. Tinggi dan berat badan ditimbang langsung, kadar lemak tubuh dibaca dengan alat analisis komposisi tubuh, dan para mahasiswa mengisi kuesioner tentang kebiasaan makan, gejala depresi, serta kecanduan makanan. Sebagian besar peserta perempuan, berusia 18 sampai 20 tahun, dan kuliah di fakultas kesehatan.
Dua Cara Menghitung Gemuk yang Tidak Selalu Sepakat
Persoalannya terletak pada apa yang dihitung. IMT hanya mengenal berat dan tinggi. Menurut para penulis, ukuran itu praktis dan banyak dipakai dalam riset, tetapi tidak membedakan massa lemak dari massa tanpa lemak, sehingga sebagian orang bisa salah digolongkan. Persen lemak tubuh memberi keterangan tambahan tentang susunan tubuh dan bisa menangkap kelebihan lemak yang luput dari IMT.
Di kampus Al-Quds, selisih kedua cara itu besar. Menurut IMT, 31,7 persen mahasiswa tergolong kelebihan berat badan atau obesitas, terdiri atas 23,0 persen kelebihan berat dan 8,6 persen obesitas. Menurut persen lemak tubuh, 61,0 persen tergolong berlemak lebih, sementara 39,0 persen berada di kisaran lemak rendah atau normal. Rata-rata IMT peserta 23,8, rata-rata lemak tubuhnya 27,8 persen.
Korelasi IMT dan persen lemak tubuh memang positif dengan kekuatan sedang, r = 0,505. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa kedua ukuran itu berhubungan tetapi tidak bisa dipertukarkan. Pola ini, tulis mereka, menguatkan alasan menyertakan pengukuran komposisi tubuh di samping IMT pada orang dewasa muda, kelompok yang kadar lemaknya mungkin tidak tercermin penuh oleh IMT.
Baca juga Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih
Hitungan Berat Membela Perempuan, Kadar Lemak Tidak
Yang membuatnya rumit, arah selisih itu berbeda menurut jenis kelamin. Menurut IMT, mahasiswa laki-laki lebih sering kelebihan berat badan atau obesitas, yakni 43,2 persen berbanding 24,2 persen pada mahasiswi. Menurut persen lemak tubuh, urutannya terbalik: 71,4 persen mahasiswi tergolong berlemak lebih, berbanding 44,9 persen mahasiswa laki-laki. Kedua selisih itu bermakna secara statistik.
Rata-rata kadar lemak tubuh pun memperlihatkan jurang yang sama. Mahasiswi rata-rata memiliki lemak tubuh 32,6 persen, sedangkan mahasiswa laki-laki 20,4 persen, dan selisih ini bermakna. Pada rata-rata IMT, laki-laki tercatat 24,9 dan perempuan 23,1, tetapi para penulis tidak melaporkan perbedaan yang bermakna secara statistik di antara keduanya.
Para penulis menduga pola ini mencerminkan perbedaan susunan tubuh dan sebaran lemak antara laki-laki dan perempuan, sehingga IMT perlu dibaca hati-hati saat membandingkan keduanya. Dalam terjemahan dari bahasa Inggris, mereka menulis: “Secara praktis, hasil ini menunjukkan bahwa mengandalkan IMT saja dapat membuat kelebihan lemak pada sebagian mahasiswa terbaca lebih kecil dari kenyataannya, terutama pada mahasiswi, yang dalam studi ini jauh lebih sering memiliki kelebihan lemak tubuh meski lebih jarang tergolong kelebihan berat badan atau obesitas menurut IMT.”
Isi Piring Sehari-hari Tidak Membedakan Ukuran Tubuh
Pertanyaan berikutnya wajar: apakah mahasiswa yang makannya kurang sehat lebih gemuk? Kebiasaan makan diukur dengan 15 pertanyaan tentang seberapa sering jenis makanan tertentu dikonsumsi, lalu skornya dikelompokkan. Hasilnya, 76,0 persen mahasiswa tergolong berkebiasaan makan sedang, 17,0 persen tidak sehat, dan hanya 7,0 persen sehat. Skor 37 sampai 48 poin digolongkan sehat, 13 sampai 36 poin sedang, dan 0 sampai 12 poin tidak sehat.
Ternyata kelompok kebiasaan makan tidak berhubungan bermakna dengan kategori IMT, dengan nilai P 0,526, maupun dengan kategori lemak tubuh, dengan nilai P 0,563. Dalam model yang memperhitungkan beberapa faktor sekaligus, kebiasaan makan sehat maupun sedang juga tidak berhubungan dengan peluang kelebihan berat badan dibanding kebiasaan makan tidak sehat. Skor kebiasaan makan pun tidak berkorelasi bermakna dengan IMT ataupun persen lemak tubuh.
Gejala depresi bernasib serupa. Lebih dari separuh mahasiswa, 56,7 persen, tidak menunjukkan depresi, 31,0 persen bergejala ringan sampai ambang batas, dan 12,3 persen bergejala sedang sampai berat. Kategori depresi itu tidak berhubungan bermakna dengan kategori IMT maupun kategori lemak tubuh. Nilai P-nya 0,629 untuk kategori IMT dan 0,431 untuk kategori lemak tubuh, di atas batas kemaknaan 0,05 yang dipakai para penulis.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Kecanduan Makanan Jarang, tetapi Paling Kuat Terkait
Lain halnya dengan kecanduan makanan, yang diukur dengan Yale Food Addiction Scale 2.0 versi modifikasi berisi 13 butir yang berpijak pada kriteria DSM-5. Persoalan ini jarang ditemui: 91,0 persen mahasiswa tidak tergolong kecanduan makanan. Namun, di antara yang tergolong kecanduan berat, 66,7 persen kelebihan berat badan atau obesitas menurut IMT, berbanding 30,0 persen pada mereka yang tidak kecanduan.
Uji dua variabel menempatkan hubungan kecanduan makanan dan kategori IMT di tepi batas kemaknaan, dengan nilai P 0,053. Setelah jenis kelamin, usia, kebiasaan makan, dan tempat tinggal diperhitungkan bersama, kecanduan makanan berat menjadi faktor dengan kaitan terkuat. Peluang mahasiswa dalam kelompok itu untuk kelebihan berat badan atau obesitas lebih dari delapan kali lipat dibanding yang tidak kecanduan, dengan rasio odds 8,06.
Mengapa kecanduan makanan terbaca, sedangkan skor kebiasaan makan tidak? Para penulis menduga perilaku makan yang menyerupai kecanduan menangkap satu sisi risiko yang tidak terwakili oleh skor pola makan umum. Kecanduan makanan juga berkorelasi positif dengan IMT, r = 0,193.
Meski begitu, kaitan dengan lemak tubuh tidak muncul. Kecanduan makanan tidak berhubungan bermakna dengan kategori persen lemak tubuh, dengan nilai P 0,975, dan korelasinya dengan persen lemak tubuh juga tidak bermakna. Para penulis pun meminta angka delapan kali lipat itu dibaca hati-hati, karena jumlah mahasiswa dengan kecanduan berat sedikit dan selang kepercayaannya lebar, dari 2,01 sampai 32,37.
Menurut mereka, temuan itu paling tepat dipandang sebagai sinyal adanya hubungan yang mungkin penting dan perlu dipastikan lewat studi yang lebih besar, bukan bukti pasti tentang mekanisme yang dominan. Di bagian keterbatasan, mereka menambahkan bahwa subkelompok sekecil itu bisa menurunkan ketelitian dan menghasilkan perkiraan regresi yang tidak stabil.
Usia, Jenis Kelamin, dan Tempat Tinggal Ikut Berkaitan dengan Peluang
Dalam model yang sama, jenis kelamin dan usia juga berperan. Mahasiswa laki-laki punya peluang kelebihan berat badan atau obesitas 2,28 kali dibanding mahasiswi, sementara usia yang lebih tua dikaitkan dengan rasio odds 1,74. Pada analisis satu per satu, porsi kelebihan berat badan tercatat 28,0 persen pada usia 18 sampai 20 tahun, 36,7 persen pada usia 21 sampai 24 tahun, dan 70,0 persen pada usia di atas 24 tahun.
Para penulis menduga kaitan usia itu mungkin mencerminkan paparan perilaku dan lingkungan yang menumpuk selama masa kuliah. Persoalannya, rancangan potong lintang tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu terjadi. Kehati-hatian serupa berlaku bagi tempat tinggal: 50,0 persen penghuni asrama mahasiswa tergolong kelebihan berat badan, berbanding 17,6 persen penyewa rumah dan 30,7 persen penghuni rumah milik.
Dibanding penghuni asrama, mahasiswa yang menyewa rumah punya rasio odds 0,33 dan yang tinggal di rumah milik 0,12, artinya peluang mereka lebih rendah. Namun, studi ini tidak mengumpulkan data rinci tentang akses makanan, pola makan, fasilitas memasak, perjalanan, aktivitas fisik, ataupun tidur yang bisa menjelaskan kaitan itu. Karena itu, para penulis menyebut temuan tempat tinggal masih bersifat penjajakan.
Untuk kadar lemak tubuh yang tinggi, gambarannya lebih sederhana. Menurut para penulis, kategori IMT menjadi satu-satunya prediktor yang bermakna, dan mahasiswa yang tergolong kelebihan berat badan atau obesitas punya peluang 1,81 kali untuk juga tergolong berlemak lebih. Temuan ini, tulis mereka, menguatkan hubungan erat, meski tidak identik, antara IMT dan penggolongan lemak tubuh.
Depresi Lebih Dekat ke Piring daripada ke Lemak Tubuh
Depresi ternyata tidak sepenuhnya lepas dari cerita ini. Kebiasaan makan berhubungan bermakna dengan tingkat depresi, dengan nilai P 0,029. Mahasiswa tanpa depresi lebih mungkin melaporkan kebiasaan makan sehat dibanding mereka yang bergejala sedang sampai berat, walau di semua kelompok depresi sebagian besar mahasiswa tetap berkebiasaan makan sedang.
Korelasinya menunjuk arah yang sama. Skor kebiasaan makan berkorelasi negatif dengan depresi, r = −0,192, sedangkan kecanduan makanan berkorelasi positif dengan depresi, r = 0,150. Gejala depresi yang lebih berat berjalan bersama skor kebiasaan makan yang lebih buruk dan skor kecanduan makanan yang lebih tinggi, tetapi tidak dengan kategori berat badan atau lemak tubuh itu sendiri.
Para penulis membacanya begini: dalam data ini, depresi mungkin lebih erat terkait dengan perilaku makan daripada dengan kelebihan lemak. Mereka juga membuka kemungkinan bahwa hubungan depresi dan ukuran tubuh melemah karena faktor yang tidak diukur, atau karena keterbatasan ukuran sampel dan rancangan studi, sehingga ketiadaan hubungan itu belum bisa dianggap jawaban akhir.
Baca juga Batu Ginjal Akrab di Telinga Anak Muda Palestina, Pemicunya Tidak
Batas Temuan dan Pesan untuk Kampus
Para penulis merinci keterbatasannya sendiri. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Peserta dipilih dengan cara kemudahan dari satu universitas, dan 87,7 persen berasal dari fakultas kesehatan, sehingga hasilnya tidak bisa diberlakukan untuk seluruh mahasiswa Palestina. Sebagian data dilaporkan sendiri, sementara aktivitas fisik, tidur, stres, merokok, dan penggunaan obat tidak diukur.
Penggolongan lemak tubuh juga bisa dipengaruhi titik potong dan alat ukur yang dipakai. Meski begitu, para penulis menilai hasilnya mendukung penggabungan IMT dengan pengukuran komposisi tubuh di lingkungan kampus, serta strategi kesehatan universitas yang memadukan pendidikan gizi dengan dukungan kesehatan mental, penapisan perilaku, dan perhatian pada lingkungan tempat tinggal mahasiswa.
Mereka juga menyarankan studi lanjutan dengan sampel lebih besar dan lebih mewakili, data aktivitas fisik dan tidur, serta pengamatan jangka panjang. Sampai saat itu, keganjilan di laboratorium Al-Quds tetap berdiri dengan jawabannya: hitungan berat dan tinggi menyebut 31,7 persen mahasiswa kelebihan berat badan atau obesitas, sedangkan alat pengukur lemak menemukan lemak berlebih pada 61,0 persen, terutama pada mahasiswi.















