- Dari 1.961 orang dewasa Beijing yang mengeluh soal tidur, hanya 381 yang lolos semua syarat gangguan insomnia.
- Prevalensi gejala insomnia 10,7 persen, sedangkan gangguan insomnia menurut DSM-5 hanya 3,0 persen.
- Gangguan insomnia paling tinggi di usia 70 tahun ke atas, yakni 6,3 persen.
- Sebanyak 31,3 persen penderita gangguan insomnia juga mengidap paling tidak satu gangguan jiwa lain.
Daftar Isi
Lili Shang mengerjakan analisis statistik untuk sebuah survei yang mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada 10.778 orang dewasa di Beijing. Dalam tiga bulan terakhir, apakah kekhawatiran utama Anda adalah tidur yang kurang nyenyak atau bangun tanpa rasa segar? Sebanyak 1.961 orang menjawab ya, atau 17,7 persen. Dari situ alur diagnosis berlanjut untuk mencari tahu berapa yang benar-benar memenuhi kriteria gangguan insomnia.
Hasil perhitungan itu ditulis Lili Shang dan rekan dari Beijing Anding Hospital, Capital Medical University, bersama peneliti Institute of Social Science Survey, Peking University. Laporan berjudul Prevalence, subtypes, and comorbidity of DSM-5 insomnia disorder among adults in Beijing, China: a large-scale cross-sectional study itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Jawabannya jauh lebih kecil dari jumlah yang mengeluh: 381 orang, dengan prevalensi berbobot 3,0 persen.
Dari Pintu Rumah ke Meja Psikiater
Datanya berasal dari Survei Kesehatan Jiwa Beijing yang diluncurkan pada 2021 oleh Komisi Kesehatan Kota Beijing. Lili Shang, Ping Lv, dan Ling Zhang merancang studinya, sedangkan Yanjie Zhao, Anan Cong, dan Hua Ding ikut terlibat dalam pengumpulan data dan supervisi. Dari Oktober sampai Desember 2021, 113 psikiater terlatih mewawancarai warga dari 16 distrik kota itu secara tatap muka.
Sampel yang dianalisis Shang terdiri atas 10.778 orang yang menuntaskan wawancara diagnostik, 87,1 persen dari 12.379 orang yang diwawancarai pada awalnya. Sedikit lebih dari separuh, 50,9 persen, laki-laki. Rerata usia mereka 46 tahun, dan 32,9 persen sedang menyandang penyakit kronis. Diagnosis memakai kriteria DSM-5, buku panduan diagnosis gangguan jiwa edisi kelima.
Shang dan rekan memilah keluhan tidur ke dalam tiga subtipe. Insomnia awal berarti sulit memulai tidur, setidaknya 30 menit. Insomnia tengah berarti sering atau lama terbangun di tengah malam. Insomnia akhir berarti bangun terlalu dini dan tidak bisa tidur lagi, yakni paling tidak 30 menit sebelum waktunya dan sebelum total tidur mencapai 6,5 jam. Satu orang bisa mengalami satu sampai ketiganya sekaligus.
Saringan Bertingkat yang Menyisakan 381 Orang
Saringan pertama adalah gejala. Dari 1.961 orang yang mengeluh, 1.333 punya paling sedikit satu dari tiga gejala tadi. Jumlah itu setara 10,7 persen dari seluruh sampel, dan oleh Shang dan rekan disebut sebagai gejala insomnia yang dinilai secara klinis. Rinciannya, 1.010 orang sulit memulai tidur, 792 sulit mempertahankan tidur, dan 652 bangun terlalu pagi.
Saringan berikutnya jauh lebih ketat. Para psikiater pewawancara menilai apakah gangguan tidur itu menimbulkan tekanan batin atau hambatan nyata dalam kehidupan sosial dan pekerjaan. Syarat ini memangkas jumlahnya menjadi 626 orang, kira-kira separuh. Lalu datang syarat lama keluhan, paling tidak tiga malam per pekan selama tiga bulan. Hanya 484 orang, atau 77 persen dari 626, yang memenuhinya.
Tahap berikutnya mengeluarkan orang yang keluhannya muncul karena kesempatan tidurnya memang kurang atau karena efek suatu zat. Sisanya 450 orang. Sebanyak 68 orang lagi, atau 15,1 persen dari 450, dikeluarkan karena insomnianya sepenuhnya dijelaskan kondisi yang sudah ada. Rinciannya 41 karena gangguan jiwa sekaligus penyakit fisik kronis, 20 karena gangguan jiwa saja, dan 7 karena penyakit fisik kronis saja.
Satu orang terakhir tersingkir karena keluhannya lebih tepat dijelaskan oleh gangguan tidur lain. Hasil akhirnya 381 orang. Dalam angka berbobot yang dihitung Shang, prevalensi gejala insomnia 10,7 persen, sedangkan gangguan insomnia menurut DSM-5 hanya 3,0 persen. Shang dan rekan menyebut survei ini studi epidemiologi besar pertama di Tiongkok yang memakai wawancara diagnosis DSM-5 oleh psikiater untuk insomnia.
Baca juga Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas
Sulit Memulai Tidur, Keluhan yang Paling Sering
Di antara tiga subtipe, Shang menemukan insomnia awal paling banyak. Prevalensi berbobot gejala sulit memulai tidur 8,1 persen. Gejala sering terbangun di tengah malam menyusul dengan 5,6 persen, lalu gejala bangun terlalu dini 4,9 persen. Urutan yang sama muncul pada gangguan insomnia: insomnia awal 2,6 persen, sedangkan insomnia tengah dan akhir sama-sama 1,8 persen.
Pola gabungannya berbeda di dua tingkat itu. Pada tingkat gejala, Shang dan rekan mencatat bahwa satu gejala saja paling sering, 5,4 persen. Dua gejala sekaligus 2,8 persen dan ketiganya 2,5 persen. Di antara yang hanya punya satu gejala, sulit memulai tidur paling banyak, 3,7 persen. Di antara yang punya dua, pasangan sulit memulai tidur dan sering terbangun paling dominan, 1,1 persen.
Pada tingkat gangguan, urutan itu terbalik. Shang menemukan bahwa profil paling umum justru ketiga gejala sekaligus, 1,1 persen. Dua gejala 1,0 persen, dan satu gejala 0,9 persen. Dalam pembahasannya, Shang dan rekan menulis bahwa temuan ini menegaskan sulit memulai tidur sebagai gejala tunggal paling umum, sementara gabungan ketiga keluhan menjadi profil paling sering pada gangguan insomnia.
Usia Lanjut, Status Kerja, dan Penyakit Kronis
Ketika Shang memilah data menurut usia, angkanya menanjak di kelompok tua. Gejala insomnia tercatat 8,4 persen pada usia 18 sampai 34 tahun dan 17,9 persen pada usia 70 tahun ke atas. Gangguan insomnia paling tinggi di usia 70 tahun ke atas, 6,3 persen, dan paling rendah di usia 35 sampai 49 tahun, 1,9 persen. Usia 60 sampai 69 tahun mencatat 3,9 persen.
Status perkawinan juga berhubungan dengan keduanya. Shang mencatat kelompok berpisah, menjanda atau menduda, dan bercerai memiliki gejala 18,3 persen dan gangguan 5,5 persen. Kelompok yang menganggur, pensiun, atau mengurus rumah tangga mencatat 14,3 persen dan 4,0 persen, dibanding 8,8 persen dan 2,5 persen pada yang bekerja atau bersekolah. Yang menyandang penyakit kronis mencatat 17,8 persen dan 5,2 persen.
Dua faktor lain hanya berhubungan dengan gejala. Menurut tabel Shang, perempuan mencatat gejala 11,7 persen dan laki-laki 9,8 persen, dan lulusan SMP ke bawah 14,0 persen dibanding 9,1 persen pada lulusan perguruan tinggi. Namun keduanya tidak berhubungan bermakna dengan gangguan insomnia yang lengkap. Tempat tinggal di kota atau desa, penghasilan, dan kebiasaan merokok tidak berhubungan dengan gejala maupun gangguan.
Shang dan rekan menulis bahwa beda kota dan desa yang tidak bermakna itu mungkin terkait tingkat urbanisasi Beijing yang sekitar 88 persen pada 2021. Gaya hidup warga kota dan desa, mulai dari tekanan kerja sampai pemakaian gawai, disebut makin mirip. Penghasilan di atas 5.000 yuan per bulan juga tidak berhubungan dengan insomnia, sehingga Shang dan rekan menyarankan studi berikutnya memakai ukuran sosial-ekonomi yang lebih beragam, seperti tekanan keuangan yang dirasakan dan pendapatan yang bisa dibelanjakan.
Rincian per subtipe memberi lapisan lain. Shang menemukan perempuan lebih sering mengalami gangguan insomnia tengah dan akhir dibanding laki-laki, tetapi tidak berbeda pada insomnia awal. Pendidikan hanya berhubungan dengan insomnia tengah, makin rendah pendidikan makin tinggi angkanya. Pada usia 50 sampai 59 tahun, insomnia tengah menjadi subtipe dominan, 2,0 persen, satu-satunya kelompok usia yang tidak didominasi insomnia awal.
Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Ketika Insomnia Datang Bersama Gangguan Jiwa Lain
Survei yang dianalisis Shang juga mendiagnosis gangguan depresi, gangguan cemas, gangguan bipolar, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan terkait alkohol. Dari situ terlihat bahwa 31,3 persen penderita gangguan insomnia juga mengidap paling tidak satu gangguan jiwa lain. Paling banyak gangguan terkait alkohol, 13,4 persen, disusul gangguan depresi 11,6 persen dan gangguan cemas 10,6 persen.
Dari arah sebaliknya, Shang dan rekan mendapati 14,4 persen penderita salah satu dari lima gangguan jiwa itu juga mengidap gangguan insomnia. Angkanya paling tinggi pada penderita gangguan depresi, 21,4 persen, lalu gangguan cemas 19,2 persen dan gangguan terkait alkohol 10,9 persen. Secara keseluruhan, 79 responden memenuhi kriteria gangguan insomnia sekaligus paling tidak satu gangguan jiwa lain.
Untuk alkohol, Shang dan rekan menyebut satu kemungkinan penjelasan. Sebagian penderita insomnia mungkin mulai minum alkohol sebagai cara mengatasi yang keliru untuk memancing kantuk, dan kebiasaan itu lama-lama bisa berkembang menjadi gangguan penggunaan zat. Menurut Shang dan rekan, analisis sensitivitas tanpa salah satu kriteria DSM-5 menunjukkan pola keberbarengan yang tetap sama.
Baca juga Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur
Gunung Es Insomnia di Antara Orang Dewasa Beijing
Dalam simpulan laporan itu, Shang bersama Xuequan Zhu dan Ling Zhang, dua penulis korespondensi, serta rekan lainnya merangkum temuan tim dalam satu gambaran. “Temuan kami mengungkap ‘gunung es’ insomnia yang mencolok, ketika prevalensi gejala 10 persen jauh melampaui 3 persen yang memiliki diagnosis formal, yang memperlihatkan kelompok subklinis dan berisiko tinggi yang sangat besar”, tulis mereka, dalam terjemahan dari bahasa Inggris.
Shang dan rekan juga menuliskan batas penelitiannya. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat dan bisa terkena bias ingatan. Beberapa kategori diagnosis, seperti gangguan terkait zat tertentu dan spektrum skizofrenia, tidak ikut diperiksa. Penilaian apakah insomnia dijelaskan kondisi lain juga bergantung pada pertimbangan klinis, dan faktor risiko yang dikumpulkan belum lengkap.
Karena itu Zhu, Zhang, dan Shang menyarankan studi longitudinal dan analisis multivariabel yang lebih rinci. Mereka juga mendorong skrining tingkat populasi, intervensi dini, dan diagnosis yang terstandar. “Dalam praktik klinis, ini berarti menerapkan penilaian tidur rutin dalam layanan psikiatri dan evaluasi kesehatan jiwa bagi pasien insomnia”, tulis mereka (terjemahan).
Pertanyaan yang dihitung Lili Shang dimulai dari 1.961 jawaban ya tentang tidur yang kurang nyenyak. Di ujung alur diagnosis delapan tahap, yang tersisa 381 orang dengan diagnosis gangguan insomnia. Selisih antara gejala 10,7 persen dan gangguan 3,0 persen itulah yang oleh Shang dan rekan disebut memperlihatkan kelompok subklinis dan berisiko tinggi yang sangat besar.















