- Prevalensi perlemakan hati tingkat apa pun mencapai 50,45 persen, atau lebih dari separuh peserta.
- Fibrosis lanjut atau sirosis hanya ditemukan pada 1,67 persen peserta skrining di tiga kabupaten Kota Baiyin.
- Fibrosis bermakna ditemukan pada 19,21 persen peserta obes, dibanding 3,27 persen pada peserta tidak obes.
- Untuk perlemakan berat, obesitas paling kuat berhubungan, dengan rasio odds 17,62.
Daftar Isi
Hati yang menyimpan lemak berlebih dan hati yang mulai mengeras adalah dua proses berbeda, meski keduanya sama-sama menjadi inti perjalanan penyakit hati kronis. Di pedesaan Gansu, barat laut Tiongkok, jarak di antara keduanya cukup lebar. Lemak di hati dijumpai pada sekitar separuh orang yang diperiksa, sedangkan hati yang mengeras hanya muncul pada sebagian kecil.
Gambaran itu datang dari Junhong Yang dan rekan dari Rumah Sakit Pusat Baiyin, bersama peneliti Departemen Penyakit Infeksi Rumah Sakit Kedua Universitas Lanzhou. Laporan mereka berjudul Prevalence and associated factors of liver fibrosis and steatosis in Gansu, China: a community-based cross-sectional study dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026. Penelitian ini menjadi pemeriksaan awal dari kohort yang akan terus diikuti.
Skrining hati gratis itu digelar Januari sampai Desember 2025 di tiga kabupaten Kota Baiyin, yakni Huining, Jingtai, dan Jingyuan. Sebanyak 5.639 warga desa dan permukiman direkrut, masing-masing 1.815 di Huining, 1.802 di Jingtai, dan 2.022 di Jingyuan. Setelah 596 orang dikeluarkan karena kuesionernya tidak lengkap atau sudah lebih dulu mengidap sirosis atau kanker hati, 5.043 orang dewasa masuk analisis akhir. Usia tengah mereka 46 tahun, dan 59,8 persen di antaranya perempuan.
Cara Mesin Membaca Lemak dan Kekakuan Hati
Untuk memahami temuan ini, dua proses itu perlu dipisahkan dulu. Menurut tim, perlemakan hati adalah penumpukan trigliserida yang tidak normal di dalam sel hati. Fibrosis adalah penumpukan berlebihan protein matriks di luar sel, jalur akhir yang dapat berujung pada sirosis dan kanker hati. Menurut tim, sejumlah studi jangka panjang menunjukkan tingkat fibrosis, bukan perlemakan saja, yang paling menentukan risiko kematian pada penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolik.
Alat yang dipakai adalah elastografi transien, pemeriksaan tanpa sayatan yang membaca dua angka sekaligus. Kekakuan hati dicatat dalam kilopascal untuk menilai fibrosis, sedangkan parameter atenuasi ultrasonik dalam desibel per meter untuk menilai lemak. Fibrosis dibagi ke tingkat F0 sampai F3-4, perlemakan ke tingkat S1 ringan, S2 sedang, dan S3 berat.
Ambangnya dibuat rinci. Tingkat F0 berarti kekakuan di bawah 7,3 kilopascal, sedangkan F3-4 berarti 10,0 kilopascal ke atas. Perlemakan ringan, sedang, dan berat ditentukan dengan nilai ambang 244, 269, dan 296 desibel per meter. Nilai tengah kekakuan hati seluruh peserta 5,3 kilopascal, sedangkan nilai tengah lemaknya 244,3 desibel per meter.
Lemak Menumpuk pada Separuh Peserta
Prevalensi perlemakan hati tingkat apa pun mencapai 50,45 persen, atau lebih dari separuh peserta. Sebanyak 26,87 persen mengalami perlemakan sedang sampai berat, dan 7,16 persen berada di tingkat berat. Jika dirinci per tingkat, 23,6 persen peserta tergolong ringan, 19,7 persen sedang, dan 7,2 persen berat. Menurut tim, makin berat perlemakan, makin tinggi pula indeks massa tubuh, rasio pinggang-pinggul, dan prevalensi gangguan metabolik.
Laki-laki tercatat lebih sering mengalaminya di semua tingkat. Perlemakan apa pun ditemukan pada 59,97 persen laki-laki dan 44,05 persen perempuan. Untuk tingkat berat, angkanya 11,70 persen pada laki-laki dan 4,11 persen pada perempuan. Selisih serupa tampak pada perlemakan sedang sampai berat, 36,23 persen berbanding 20,58 persen.
Tim menempatkan angka ini dalam perbandingan yang mereka kutip sendiri. Sebuah studi nasional di Tiongkok terhadap 5,7 juta orang dewasa mencatat perlemakan 44,39 persen dan perlemakan berat 10,57 persen. Menurut tim, prevalensi perlemakan di kohort Gansu jauh melampaui perkiraan gabungan nasional dan global, tanda beban yang lebih tinggi pada populasi ini.
Baca juga Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea
Mengeras Hanya pada Sebagian Kecil
Gambaran fibrosis jauh lebih tenang. Sebanyak 89,1 persen peserta tidak menunjukkan fibrosis sama sekali. Prevalensi fibrosis tingkat apa pun 10,85 persen, fibrosis bermakna 5,18 persen, dan fibrosis lanjut atau sirosis 1,67 persen. Dengan kata lain, kurang dari dua dari setiap seratus peserta yang hatinya sudah mengeras parah.
Yang membuatnya rumit, kekakuan itu bergerak searah dengan lemak. Fibrosis bermakna naik dari 2,08 persen pada peserta tanpa perlemakan menjadi 24,10 persen pada mereka yang perlemakannya berat. Fibrosis lanjut mencapai 9,97 persen pada kelompok perlemakan berat. Menurut tim, prevalensi fibrosis naik bertahap seiring makin beratnya perlemakan. Sebaran antarwilayah juga tidak rata. Prevalensi fibrosis tingkat apa pun tertinggi di Jingyuan, 14,43 persen, dibanding 9,68 persen di Jingtai dan 9,09 persen di Huining. Laki-laki kembali lebih sering terkena, dengan fibrosis bermakna 7,90 persen berbanding 3,35 persen pada perempuan.
Ketika Berat Badan dan Gula Darah Ikut Bicara
Perbedaan paling tajam muncul ketika peserta dipilah menurut penyakit metabolik. Di antara peserta obes, yakni berindeks massa tubuh 28 ke atas menurut kriteria Tiongkok, fibrosis bermakna ditemukan pada 19,21 persen. Pada peserta tidak obes angkanya 3,27 persen. Pada diabetes, angkanya 13,57 persen berbanding 4,57 persen. Hipertensi dan gangguan lemak darah menunjukkan pola serupa, meski lebih landai. Fibrosis bermakna tercatat 9,41 persen pada peserta hipertensi dan 8,21 persen pada peserta dislipidemia. Pada peserta tanpa kedua gangguan itu, angkanya masing-masing 3,71 dan 3,72 persen.
Di sisi lemak, selisih paling mencolok tampak pada obesitas. Perlemakan apa pun ditemukan pada 89,07 persen peserta obes, dibanding 45,19 persen peserta tidak obes. Perlemakan berat sendiri ada pada 40,89 persen peserta obes, sekitar empat dari setiap sepuluh orang. Hepatitis B juga belum hilang dari gambar ini. Sebanyak 304 peserta, atau 6,0 persen, positif antigen permukaan virus hepatitis B. Di kelompok ini fibrosis bermakna tercatat 15,13 persen, dibanding 4,54 persen pada peserta yang negatif.
Faktor yang Bertahan Setelah Dihitung Bersama
Angka-angka tadi masih membandingkan satu faktor pada satu waktu. Karena itu, tim menguji faktor-faktor itu bersama dalam regresi logistik multivariat, sehingga tiap faktor dinilai sambil memperhitungkan faktor lain. Lima faktor tetap berhubungan dengan fibrosis di semua tingkat keparahan, yakni obesitas, trombosit menurun, enzim hati ALT meningkat, infeksi hepatitis B, dan diabetes.
Untuk fibrosis lanjut, rasio odds tertinggi ada pada trombosit menurun, 6,45. Obesitas menyusul dengan 5,14, ALT meningkat 3,86, diabetes 3,55, dan infeksi hepatitis B 3,19. Trombosit dianggap menurun bila jumlahnya di bawah 100 × 10⁹ per liter, kondisi yang hanya dijumpai pada 37 peserta. Tim menyebut kelima faktor itu berhubungan dengan fibrosis lanjut secara potong lintang.
Untuk perlemakan berat, obesitas paling kuat berhubungan, dengan rasio odds 17,62. Angka ini naik bertahap dari 6,91 untuk perlemakan apa pun dan 8,40 untuk perlemakan sedang sampai berat. Trombosit menurun 4,16, obesitas sentral 2,45, ALT meningkat 2,17, diabetes 1,73, jenis kelamin laki-laki 1,70, hipertensi 1,50, dan dislipidemia 1,36 juga ikut bertahan.
Baca juga Hepatitis C Hinggapi 17 Persen Pengungsi Rohingya di Teknaf
Mengapa Laki-laki Lebih Rentan
Menurut tim, laki-laki menunjukkan prevalensi fibrosis bermakna dan perlemakan berat yang jauh lebih tinggi daripada perempuan, sejalan dengan profil penyakit hati berlemak di dunia. Tim menyebut faktor perilaku ikut menyumbang, yakni tingkat merokok dan minum alkohol yang lebih tinggi, yang keduanya berhubungan dengan fibrosis lanjut dalam analisis satu faktor. Fibrosis lanjut tercatat 2,78 persen pada perokok dibanding 1,38 persen pada bukan perokok, serta 2,43 persen pada peminum alkohol dibanding 1,45 persen pada yang tidak minum.
Namun tim menilai faktor biologis berperan sentral. Mengacu pada telaah yang mereka rujuk, laki-laki umumnya menimbun lebih banyak lemak viseral, yang lebih memicu peradangan dan lebih aktif secara metabolik dibanding lemak bawah kulit yang dominan pada perempuan sebelum menopause. Estrogen juga disebut punya efek kuat melawan perlemakan dan fibrosis. Menurut tim, hilangnya perlindungan hormon itu setelah menopause kerap mempercepat perkembangan fibrosis pada perempuan dan mempersempit selisih pada kelompok usia lebih tua.
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Tidak semua hubungan dalam data mudah dibaca. Peminum teh, misalnya, mencatat fibrosis bermakna 7,09 persen dibanding 4,03 persen pada yang tidak. Tim mencatat penelitian lain justru melaporkan teh berhubungan dengan lemak hati yang lebih rendah, dan hasilnya tampak beragam antarpopulasi. “Pemantauan jangka panjang terhadap kohort kami akan sangat penting untuk menjernihkan hubungan sebab-akibat,” tulis Yang dan rekan dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan.
Tim juga menyebut sendiri batas penelitiannya. Tidak ada biopsi hati, yang selama ini menjadi acuan baku penentuan fibrosis. Infeksi hepatitis B hanya dinilai dari antigen permukaannya, tanpa data jumlah virus atau riwayat pengobatan. Konsumsi alkohol pun dicatat tanpa takaran gram per hari, sehingga penyebab lemak di hati belum bisa dipilah tuntas.
Baca juga Hormon Penekan Nafsu Makan Ternyata Lindungi Hati
Karena desainnya potong lintang, tim meminta pembagian beban penyakit ke faktor metabolik, virus, dan gaya hidup dibaca hati-hati sebagai bahan hipotesis. Masa pengamatan yang masih pendek juga belum memungkinkan penilaian kejadian jangka panjang seperti kanker hati atau sirosis yang memburuk. Menurut tim, pemantauan lanjutan kohort Gansu ini tetap diperlukan untuk menguji temuan tersebut dan melihat dampak jangka panjang faktor metabolik dan virus terhadap perkembangan fibrosis.
Pada akhirnya, jarak antara hati berlemak dan hati yang mengeras itulah yang dijelaskan tim. “Data skrining kami menunjukkan perlemakan hati sangat lazim di pedesaan Provinsi Gansu, sedangkan prevalensi fibrosis hati yang bermakna secara klinis relatif sedang dan terpusat ketat pada subkelompok berisiko tinggi yang ditandai obesitas berat, diabetes, atau infeksi HBV kronis,” tulis Junhong Yang dan rekan, dalam terjemahan. Tim menyarankan skrining elastografi di komunitas, terutama bagi orang obes, penyandang diabetes, dan pengidap hepatitis B.














