- Asia menanggung sekitar 178,2 ribu kasus baru kanker ovarium pada 2022, setara 54,9 persen beban dunia.
- Pada 2022, Indonesia mencatat 15.130 kasus baru kanker ovarium dengan angka kejadian terstandar usia 9,75 per 100.000.
- Bagian kematian yang terkait IMT tinggi berkisar dari 0,36 persen di Nepal sampai 22,3 persen di Kuwait.
- Asia diperkirakan mencatat sekitar 265,9 ribu kasus baru dan 183,6 ribu kematian pada 2050.
Daftar Isi
Huizhen Sun bekerja di Departemen Ginekologi Xinhua Hospital, rumah sakit yang berafiliasi dengan Shanghai Jiao Tong University School of Medicine. Dialah yang menggagas sebuah penelitian tentang kanker ovarium, atau kanker indung telur, di 47 negara Asia. Menurut proyeksi dalam laporan itu, bila laju penyakit tersebut bertahan seperti pada 2022, Asia bisa mencatat sekitar 265,9 ribu kasus baru dan 183,6 ribu kematian pada 2050.
Penelitian itu ditulis Yu Fu dan rekan, yakni Yangyang Xu, Baohua Zhang, Mengxia Fu, dan Huizhen Sun, dari Shanghai Jiao Tong University School of Medicine serta Beijing Shijitan Hospital, Capital Medical University. Laporannya berjudul Ovarian Cancer in Asia: Incidence, Mortality in 2022, and Future Projections to 2050 dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Menurut catatan kontribusi penulis, Huizhen Sun memulai studi, memperoleh data, menyupervisi proyek, dan mencari dana. Yu Fu mengerjakan analisis statistik, menafsir hasil, menyiapkan gambar dan tabel, lalu menulis draf naskah. Baohua Zhang ikut menganalisis statistik, Yangyang Xu menyiapkan gambar dan merevisi naskah, sedangkan Mengxia Fu, dokter bergelar MD Ph.D. dari Beijing Shijitan Hospital, menafsir hasil dan ikut memperoleh data.
Huizhen Sun Menghimpun Angka dari 47 Negara
Tim Huizhen Sun tidak mengumpulkan pasien sendiri. Mereka menganalisis ulang estimasi Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) dalam basis data GLOBOCAN 2022, data tren 1993 sampai 2022 dari studi Global Burden of Disease 2023, serta proyeksi alat CANCER TOMORROW hingga 2050.
Dari bahan itu, Yu Fu dan rekan mendapati Asia menanggung sekitar 178,2 ribu kasus baru kanker ovarium pada 2022. Jumlah itu setara 54,9 persen beban dunia. Pada tahun yang sama tercatat sekitar 109,5 ribu kematian, atau 52,9 persen kematian akibat kanker ovarium di seluruh dunia.
Yu Fu juga mencatat angka kejadian terstandar usia di Asia sebesar 6,2 per 100.000 perempuan, sedangkan angka kematiannya 3,7 per 100.000. Kanker ovarium masuk enam kanker yang paling sering didiagnosis di 23 dari 47 negara, dan masuk enam besar penyebab kematian akibat kanker di 30 negara.
Baca juga Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit
Yu Fu Memetakan Beban Tiap Negara
Pada tingkat negara, Yu Fu dan rekan menemukan dua wajah yang berbeda. Dalam jumlah mutlak, kasus dan kematian menumpuk di dua negara terpadat Asia: China dengan 61,1 ribu kasus dan 32,6 ribu kematian, serta India dengan 47,3 ribu kasus dan 33,0 ribu kematian. Menurut para penulis, angka itu terutama mencerminkan besarnya jumlah penduduk.
Gambarannya berubah ketika Yu Fu memakai angka terstandar usia. Brunei Darussalam mencatat angka kejadian tertinggi, 13,2 per 100.000 perempuan, disusul Filipina dengan 11,7, Georgia 10,6, serta Singapura dan Malaysia masing-masing 10,3. Untuk kematian, Filipina tertinggi dengan 7,5 per 100.000, diikuti Brunei 6,9, Maladewa 6,5, Malaysia 6,5, dan Georgia 6,4.
Indonesia ikut tercatat dalam tabel negara yang disusun Yu Fu dan rekan. Pada 2022, Indonesia mencatat 15.130 kasus baru kanker ovarium dengan angka kejadian terstandar usia 9,75 per 100.000. Pada tahun yang sama tercatat 9.673 kematian, dengan angka kematian terstandar usia 6,24 per 100.000.
Yu Fu dan rekan kemudian memilah perempuan menurut usia 50 tahun. Di bawah usia itu, angka kejadian relatif rendah di semua negara. Pada perempuan berusia 50 tahun ke atas, angkanya naik tajam, dengan angka tertinggi di Georgia, yaitu 46,0 per 100.000, disusul Filipina dan Brunei. Angka kematian kelompok usia ini tertinggi di Filipina, 33,5 per 100.000, dan Georgia, 32,2 per 100.000.
Yu Fu dan Baohua Zhang Membaca Jejak Antargenerasi
Yu Fu dan Baohua Zhang, dua penulis yang mengerjakan analisis statistik, lalu memakai model usia, periode, dan kohor kelahiran. Model ini memisahkan pengaruh bertambahnya umur dari pengaruh zaman dan generasi. Hasilnya menunjukkan kenaikan angka kejadian yang menetap di semua kelompok umur di Asia, sedangkan angka kematian naik secara lebih landai.
Pola dunia berbeda dari temuan Yu Fu untuk Asia. Secara global, angka kejadian dan kematian justru menurun pada perempuan usia paruh baya dan lanjut. Di Asia, angka kejadian naik sejak remaja dan memuncak pada usia 65 sampai 69 tahun, sedangkan angka kematian terus naik hingga kelompok usia tertua.
Dari sisi zaman, Baohua Zhang dan rekan memakai periode 2003 sampai 2007 sebagai acuan bernilai 1,00. Di Asia, rasio angka kejadian naik menjadi 1,18 pada periode 2018 sampai 2022, dan angka kematian menunjukkan tren naik serupa. Secara global, pengaruh periode sedikit menurun sesudah 2007.
Perbedaan paling mencolok muncul pada generasi. Yu Fu dan rekan memakai perempuan kelahiran 1949 sampai 1957 sebagai acuan. Di Asia, generasi yang lahir lebih awal punya risiko lebih rendah, sementara generasi yang lebih baru punya risiko yang terus meningkat, hingga rasio 1,39 untuk angka kejadian pada kohor kelahiran 1999 sampai 2007. Pola dunia justru berbentuk huruf U.
Para penulis menduga kenaikan risiko antargenerasi di Asia mencerminkan pengaruh gaya hidup, faktor reproduksi, dan faktor metabolik yang menyertai perubahan sosial ekonomi, termasuk menunda punya anak, jumlah anak yang lebih sedikit, dan meningkatnya kegemukan. “Temuan ini menyoroti keragaman yang besar antarnegara, antargenerasi, dan antartingkat pembangunan,” tulis Yu Fu dan rekan dalam ringkasan laporan mereka, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Mengxia Fu Menimbang Peran Tingkat Pembangunan
Mengxia Fu dan rekan juga mengelompokkan negara menurut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kelompok IPM sangat tinggi mencatat angka kejadian tertinggi, 7,4 per 100.000 perempuan, sedangkan kelompok IPM rendah terendah, 4,2 per 100.000. Angka kematian tertinggi juga ada di kelompok IPM sangat tinggi, 4,5 per 100.000, disusul kelompok IPM tinggi dengan 4,3.
Meski begitu, tim Mengxia Fu tidak menemukan hubungan bermakna antara IPM dan angka kejadian maupun kematian bila semua usia digabung. Pada perempuan di bawah 50 tahun, hubungan itu juga tidak bermakna. Baru pada perempuan berusia 50 tahun ke atas muncul hubungan positif, dengan koefisien 0,425 untuk angka kejadian dan 0,309 untuk angka kematian.
Mengxia Fu dan rekan menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan. Negara ber-IPM tinggi umumnya punya pencatatan kanker lebih lengkap dan kemampuan diagnosis lebih baik, penduduk yang lebih tua, serta faktor risiko seperti kegemukan, jumlah anak yang lebih sedikit, dan menunda punya anak. “Temuan ini menunjukkan bahwa IPM saja merupakan ukuran pengganti yang tidak memadai bagi hasil akhir kanker ovarium,” tulis mereka.
Kasus Filipina dan Brunei menjadi contoh yang disorot Yu Fu dan rekan. Angka kejadian di kedua negara tinggi, tetapi angka kematiannya juga tinggi, yaitu 7,5 dan 6,9 per 100.000. Bagi para penulis, pola itu menunjukkan bahwa deteksi yang membaik belum selalu diimbangi pengobatan yang tepat waktu dan bermutu.
Baca juga Kanker Mulut di Assam Surut di Kota, Diam-diam Naik di Desa
Huizhen Sun Menelusuri Berat Badan dan Asbes
Huizhen Sun dan rekan lalu menghitung bagian kematian yang dapat dikaitkan dengan faktor risiko. Dalam kerangka Global Burden of Disease 2023, hanya dua faktor yang dimodelkan untuk kematian akibat kanker ovarium, yaitu indeks massa tubuh (IMT) tinggi, di atas 25 kg/m2, dan paparan asbes.
Hasil yang dicatat Huizhen Sun menempatkan IMT tinggi sebagai faktor risiko yang dapat diubah paling utama. Bagian kematian yang terkait IMT tinggi berkisar dari 0,36 persen di Nepal sampai 22,3 persen di Kuwait. Angka tertinggi ada di Timur Tengah: Kuwait 22,3 persen, Qatar 21,3 persen, Yordania 20,2 persen, dan Suriah 19,2 persen.
Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, angka yang dihimpun Yu Fu dan rekan lebih rendah, misalnya India 4,0 persen, China 4,9 persen, dan Viet Nam 1,5 persen. Paparan asbes di tempat kerja menyumbang bagian lebih kecil, dari 0,0003 persen di Suriah sampai 7,5 persen di Armenia. Secara keseluruhan, IMT tinggi menyumbang jauh lebih besar daripada asbes di kebanyakan negara Asia.
Mengxia Fu dan rekan juga menyinggung soal layanan pengobatan. “Deteksi yang lebih baik saja tidak cukup untuk menurunkan kematian tanpa perluasan kapasitas pengobatan secara bersamaan,” tulis mereka tentang negara seperti Filipina, yang angka kejadian dan angka kematiannya sama-sama tinggi.
Baca juga Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea
Yu Fu Menimbang Proyeksi hingga 2050
Untuk proyeksi, Yu Fu dan rekan tidak membuat model sendiri. Mereka membandingkan keluaran alat CANCER TOMORROW dengan skenario utama bahwa laju kejadian dan kematian menurut usia tetap seperti 2022. Dalam skenario itu, Asia diperkirakan mencatat sekitar 265,9 ribu kasus baru dan 183,6 ribu kematian pada 2050. Perubahan ini didorong oleh pertumbuhan dan penuaan penduduk.
Lonjakan terbesar diperkirakan terjadi di negara ber-IPM rendah, menurut data yang dihimpun Yu Fu: kasus baru naik 124,1 persen dan kematian naik 137,3 persen pada 2050. Negara ber-IPM sangat tinggi diperkirakan mengalami kenaikan yang lebih kecil, yaitu 15,2 persen untuk kasus baru dan 41,1 persen untuk kematian.
Huizhen Sun dan rekan juga menelaah skenario penurunan laju penyakit. Penurunan laju kejadian dan kematian sebesar 2 persen per tahun diperlukan untuk mengurangi kasus baru 15,3 persen dan kematian 4,8 persen pada 2050. Untuk negara ber-IPM sedang dan rendah, penurunan yang diperlukan sekitar 3 persen per tahun.
Dari temuan itu, Yu Fu dan rekan menyusun lima saran, mulai dari memperkuat pencatatan kanker sampai pemerataan akses layanan kesehatan. Salah satunya menyasar perempuan berusia 45 tahun ke atas, karena sekitar 80 persen kasus terjadi pada kelompok ini dan angka kejadian melonjak sesudah usia 44. Mereka juga menyarankan pencegahan kegemukan, dukungan menyusui, serta perluasan konseling dan tes genetik bagi pembawa mutasi BRCA di wilayah yang beban genetiknya tinggi.
Mengxia Fu dan rekan mengingatkan bahwa estimasi ini perlu dibaca hati-hati, terutama untuk negara ber-IPM rendah dan sedang yang pencatatan kankernya belum lengkap, sehingga angkanya bisa lebih rendah dari kenyataan. Data menurut subtipe kanker tidak tersedia untuk semua negara, proyeksi tidak memodelkan tren jangka panjang, dan dampak pandemi COVID-19 tidak tertangkap dalam analisis.
Pada akhirnya, Huizhen Sun dan rekan menutup laporan dengan dua pesan. Pencegahan primer untuk menekan paparan faktor risiko yang dapat diubah tetap penting, sementara deteksi lebih dini dan penanganan klinis yang lebih baik dibutuhkan untuk memperbaiki kelangsungan hidup, terutama bagi perempuan lanjut usia yang menanggung beban penyakit terbesar.















