Kematian akibat Cedera di Desa Tiongkok Tetap Melebihi Kota

A A

Jalan desa beraspal diapit pohon poplar dan rumah kaca di Kabupaten Dongping, Shandong, Tiongkok [Foto: 祝鱼贵/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Angka kematian akibat cedera di desa Tiongkok secara konsisten lebih tinggi daripada di kota sepanjang 2002 sampai 2021.
  • Rasio desa terhadap kota berkisar dari 1,07 sampai 2,37 dan tidak berubah bermakna selama dua dekade.
  • Jarak desa dan kota melebar bermakna untuk kematian akibat jatuh dan keracunan.
  • Tenggelam menjadi penyumbang terbesar selisih pada anak usia 0-4 tahun di 17 dari 20 tahun.
Daftar Isi
  1. Jarak yang Bertahan Dua Puluh Tahun
  2. Jatuh dan Keracunan Melebarkan Celah
  3. Tiga Penyebab di Balik Kelebihan Kematian Desa
  4. Wajah Kesenjangan Berganti Menurut Umur
  5. Jalan Desa, Usia Tua, dan Catatan Tahun 2005
  6. Batas Data Nasional dan Pertanyaan yang Tersisa

Selama dua dekade, dari 2002 sampai 2021, angka kematian akibat cedera di Tiongkok turun di kota maupun di desa. Namun, jarak di antara keduanya tidak berubah secara bermakna, dan desa terus mencatat angka kematian akibat cedera yang lebih tinggi daripada kota. Begitulah temuan utama sebuah penelitian yang membaca data resmi kematian Tiongkok selama dua puluh tahun.

Gambaran itu datang dari Youyou Wu dan rekan dari Departemen Epidemiologi dan Statistik Kesehatan, Sekolah Kesehatan Masyarakat Xiangya, Universitas Central South di Changsha, yang bekerja bersama David C. Schwebel dari University of Iowa, Amerika Serikat. Laporan mereka, Urban-rural disparities in injury mortality in China, 2002–2021, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026, dengan Youyou Wu dan Ruobing Zhang tercatat sebagai penulis pertama bersama, sementara Li Li dan Guoqing Hu melengkapi tim.

Wu dan rekan membaca ulang Buku Tahunan Statistik Kesehatan Tiongkok, catatan resmi yang memuat angka kematian akibat cedera menurut jenis kelamin, kelompok umur, dan tempat tinggal dari 2002 sampai 2021. Kota dalam buku itu berarti distrik kota di kota yang langsung berada di bawah pemerintah pusat dan di kota setingkat prefektur, desa berarti kabupaten dan kota setingkat kabupaten, dan kesenjangan diukur sebagai rasio angka kematian desa terhadap angka kematian kota.

Jarak yang Bertahan Dua Puluh Tahun

Taruhannya tidak kecil. Menurut catatan yang dikutip Wu dan rekan, cedera merenggut lebih dari 540.000 nyawa di Tiongkok pada 2021, atau 5,6 persen dari seluruh kematian di negeri itu, sehingga pemerintah memasukkan pencegahan cedera ke dalam rencana Healthy China 2030 dan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pengendalian Penyakit 2024–2025. Riset terdahulu tentang jurang desa dan kota, tulis mereka, terbatas pada rentang waktu pendek, satu tahun tertentu, provinsi tertentu, penyebab tertentu, atau kelompok umur tertentu.

Namun, ketika dua puluh tahun data itu dijajarkan, pola yang muncul nyaris tidak berubah dari awal sampai akhir. Angka kematian akibat cedera yang sudah disetarakan menurut umur secara konsisten lebih tinggi di desa, dengan rasio desa terhadap kota berkisar dari 1,07 sampai 2,37, yang berarti pada titik tertingginya angka di desa lebih dari dua kali angka di kota. Perubahan persen tahunan rata-rata rasio itu 0,73 persen dan tidak bermakna secara statistik.

Pola yang sama berulang pada laki-laki dan perempuan, yang sepanjang 2002 sampai 2021 sama-sama mencatat angka kematian akibat cedera lebih tinggi di desa. Rasio desa terhadap kota pada laki-laki berubah rata-rata 0,88 persen per tahun dan pada perempuan 0,76 persen per tahun, keduanya tidak bermakna, dan tren kedua kelompok itu, tulis Wu dan rekan, serupa satu sama lain.

Jatuh dan Keracunan Melebarkan Celah

Jarak melebar untuk jatuh dan keracunanKeracunan 3,23%; Cedera transportasi 1,44%; Jatuh 1,21%; Lainnya 1,14%; Tenggelam 0,98%; Bunuh diri 0,18%.Jarak melebar untuk jatuh dan keracunanPerubahan persen tahunan rata-rata (AAPC) rasio angkakematian cedera desa terhadap kota, menurut penyebab,2002-2021, %0%1%2%3%4%Keracunan3,23%Cedera transportasi1,44%Jatuh1,21%Lainnya1,14%Tenggelam0,98%Bunuh diri0,18%Jingga: bermakna secara statistik (P<0,05). Biru: tidak bermakna
Sumber: Youyou Wu dan rekan, Urban-rural disparities in injury mortality in China, 2002–2021, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di balik angka keseluruhan yang tampak tenang, setiap penyebab cedera bergerak dengan iramanya sendiri. Pada sebagian besar tahun, angka kematian per penyebab lebih tinggi di desa, kecuali cedera terkait transportasi pada 2005 serta keracunan pada 2002 dan 2006, sementara rasio desa terhadap kota umumnya paling besar untuk bunuh diri dan tenggelam, melampaui rasio untuk penyebab cedera lainnya.

Namun, hanya dua penyebab yang jaraknya melebar secara bermakna selama dua dekade itu. Rasio kematian akibat jatuh antara desa dan kota naik rata-rata 1,21 persen per tahun, sedangkan rasio keracunan naik lebih cepat, rata-rata 3,23 persen per tahun, sementara perubahan rata-rata untuk cedera transportasi, bunuh diri, tenggelam, dan penyebab lain tidak bermakna secara statistik.

Tenggelam menyimpan kisah yang lebih berliku. Dalam tabel Wu dan rekan, rasio desa terhadap kota untuk kematian karena tenggelam naik rata-rata 11,95 persen per tahun pada 2002–2008, lalu turun rata-rata 10,26 persen per tahun pada 2008–2014, dua perubahan yang sama-sama bermakna, sebelum bergerak 2,28 persen per tahun pada 2014–2021 tanpa makna statistik. Untuk seluruh periode, perubahan rata-ratanya 0,98 persen per tahun dan tidak bermakna.

Baca juga Korban Tenggelam di Ghana Umumnya Lelaki dan Tak Bisa Berenang

Tiga Penyebab di Balik Kelebihan Kematian Desa

Bila ditanya penyebab mana yang paling banyak menyumbang selisih antara desa dan kota, jawaban Wu dan rekan adalah cedera terkait transportasi, bunuh diri, dan jatuh, baik pada laki-laki maupun perempuan. Namun, porsi ketiganya tidak diam di tempat, karena sumbangan cedera transportasi dan bunuh diri menyusut dari waktu ke waktu, sementara sumbangan jatuh justru membesar.

Mengapa angka kematian turun tetapi jurangnya bertahan? Wu dan rekan menawarkan satu kemungkinan dalam pembahasan mereka. “Tidak adanya perubahan bermakna pada rasio desa terhadap kota di seluruh kelompok jenis kelamin dan umur mungkin mencerminkan perbaikan pencegahan dan perawatan cedera yang secara umum serupa di kota maupun desa, karena kemajuan yang berjalan sejajar akan menurunkan kematian secara keseluruhan tanpa perubahan yang sepadan pada kesenjangan relatifnya,” tulis mereka dalam terjemahan dari bahasa Inggris.

Angka kematian akibat cedera memang turun di kota dan desa, dan menurut Wu dan rekan penurunan itu berbarengan dengan membaiknya kebijakan pencegahan cedera serta layanan kesehatan di Tiongkok selama dua dekade, faktor yang mungkin ikut berperan. Namun, temuan ini berbeda dengan studi lain yang melaporkan jurang menyempit pada 2010–2016, perbedaan yang menurut mereka mungkin berasal dari rentang waktu dan sumber data yang tidak sama.

Baca juga Kecelakaan Motor di Ghana: 23 Tahun, Hampir Seperempat Fatal

Wajah Kesenjangan Berganti Menurut Umur

Ketika data dipilah menurut umur, wajah kesenjangan itu berganti-ganti, dan tidak ada satu penyebab yang menguasai seluruh rentang hidup. Pada anak usia 0–4 tahun, tenggelam menjadi penyumbang terbesar selisih desa dan kota pada 17 dari 20 tahun yang diteliti, dengan porsi 34 sampai 66 persen, dan pada kelompok usia 5–24 tahun tenggelam juga memimpin pada 10 dari 20 tahun.

Di usia kerja, giliran jalan raya yang mengambil alih. Cedera terkait transportasi menjadi penyumbang utama pada kelompok 25–44 tahun selama 18 dari 20 tahun, dengan porsi 38 sampai 66 persen, dan pada kelompok 45–64 tahun selama 17 dari 20 tahun, dengan porsi 32 sampai 61 persen. Pada warga berusia 65 tahun ke atas, bunuh diri menyumbang porsi terbesar selisih itu pada 13 dari 20 tahun, dengan rentang 29 sampai 67 persen.

Kendati wajahnya berganti, besaran jurangnya tidak bergeser secara bermakna. Rasio desa terhadap kota tidak berubah bermakna pada satu pun dari lima kelompok umur, dengan perubahan persen tahunan rata-rata 0,90 persen pada usia 0–4 tahun, 0,22 persen pada usia 5–24 tahun, 1,12 persen pada usia 25–44 tahun, 0,13 persen pada usia 45–64 tahun, dan 0,64 persen pada usia 65 tahun ke atas.

Di dalam rata-rata yang datar itu, anak-anak dan anak muda mengalami gelombang. Pada usia 0–4 tahun, rasio desa terhadap kota naik bermakna rata-rata 8,86 persen per tahun pada 2002–2010, sebelum bergerak minus 18,42 persen per tahun pada 2010–2013 dan 1,27 persen per tahun pada 2013–2021, keduanya tanpa makna statistik. Pada usia 5–24 tahun, rasio itu naik 5,68 persen per tahun pada 2002–2008 lalu turun 2,20 persen per tahun pada 2008–2021, dua-duanya bermakna.

Jalan Desa, Usia Tua, dan Catatan Tahun 2005

Wu dan rekan menawarkan sejumlah kemungkinan, bukan kepastian, untuk membaca pola itu, dan semuanya mereka tulis dengan kata mungkin. Motorisasi yang pesat dan mobilitas desa yang membaik, bersamaan dengan jalan yang kurang berkembang, penegakan aturan keselamatan lalu lintas yang lemah, serta layanan darurat dan medis yang terbatas di desa, mungkin menambah kerentanan warga desa usia kerja terhadap kematian akibat cedera transportasi.

Rasio tenggelam dan balita naik turunTenggelam 2002-2008: APC 11,95%; Tenggelam 2008-2014: APC -10,26%; Tenggelam 2014-2021: APC 2,28%; Usia 0-4 tahun 2002-2010: APC 8,86%; Usia 0-4 tahun 2010-2013: APC -18,42%; Usia 0-4 tahun 2013-2021: APC 1,27%.Rasio tenggelam dan balita naik turunPerubahan persen tahunan (APC) rasio angka kematian desaterhadap kota per segmen regresi Joinpoint, %-10%10%0Tenggelam 2002-200811,95%Tenggelam 2008-2014-10,26%Tenggelam 2014-20212,28%Usia 0-4 tahun 2002-20108,86%Usia 0-4 tahun 2010-2013-18,42%Usia 0-4 tahun 2013-20211,27%Bermakna (P<0,05): tenggelam 2002-2008 dan 2008-2014, usia 0-4tahun 2002-2010
Sumber: Youyou Wu dan rekan, Urban-rural disparities in injury mortality in China, 2002–2021, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Melebarnya jurang kematian akibat jatuh, menurut mereka, mungkin berkaitan dengan penuaan penduduk yang makin cepat dan beban penyakit kronis yang bertambah di kota maupun desa, ditambah kemampuan pencegahan jatuh yang relatif lemah di desa. Yang mereka sebut antara lain kesadaran keselamatan yang rendah, lingkungan tempat tinggal dengan lebih banyak bahaya jatuh, layanan pencegahan jatuh yang kurang berkembang, dan akses terbatas ke layanan darurat serta medis.

Baca juga Lansia Jatuh di China: Kulit Semangka hingga Takut Melangkah

Tiongkok tidak sendirian dalam pola ini, karena laporan dari negara lain juga mencatat desa yang tertinggal, walau besarnya berbeda-beda. Wu dan rekan menyebut Amerika Serikat, tempat kesenjangan kematian desa dan kota meningkat sejak pertengahan 1980-an sampai 2016, serta Selandia Baru, tempat kematian terkait cedera jauh lebih tinggi di desa pada 2014–2018. Studi lain dari Amerika Serikat yang mereka kutip mencatat angka kematian lalu lintas kendaraan bermotor terstandar umur di desa pada 2017 sebesar 19,7 per 100.000 penduduk, berbanding 10,2 di kota.

Satu tahun membuat para penulis berhati-hati. Pada 2005, mereka mengamati pola kematian yang tidak biasa di sejumlah kelompok umur dan kategori cedera, sementara data buku tahunan tidak memungkinkan mereka menelusuri penjelasannya. “Temuan, terutama dari 2005, perlu ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Wu dan rekan (terjemahan), seraya menyebut kemungkinan pelaporan yang kurang, salah klasifikasi penyebab cedera, serta perubahan lokasi atau cara pelaporan surveilans.

Batas Data Nasional dan Pertanyaan yang Tersisa

Para penulis juga menyebut batas penelitian mereka sendiri. Hasilnya bergantung pada mutu sistem registrasi kematian nasional, termasuk kelengkapan pelaporan, klasifikasi penyebab kematian, dan perubahan praktik surveilans dari waktu ke waktu, sedangkan studi ekologis deskriptif ini memakai data gabungan nasional sehingga pola di tingkat penduduk tidak boleh dibaca sebagai hasil tingkat individu. Data per provinsi pun tidak tersedia, sehingga perbedaan antarprovinsi tidak diperiksa.

Dari temuan itu, Wu dan rekan menyarankan pencegahan cedera yang lebih kuat dan terarah di desa-desa Tiongkok, dengan prioritas pada penyebab utama di tiap kelompok rawan, yakni pencegahan tenggelam bagi anak dan anak muda desa, pencegahan cedera transportasi bagi usia kerja, serta pencegahan bunuh diri dan jatuh bagi warga desa lanjut usia. Mereka juga meminta evaluasi, kendali mutu, dan akurasi data registrasi kematian di Tiongkok diperkuat.

Kesimpulan laporan itu merangkum temuan utamanya. “Dari 2002 hingga 2021, kesenjangan desa dan kota dalam kematian akibat cedera di Tiongkok bertahan tanpa penurunan bermakna, meskipun angka terstandar umur secara keseluruhan turun baik di kota maupun di desa,” tulis Wu dan rekan (terjemahan). Karena data sosial ekonomi, layanan kesehatan, dan paparan lingkungan di tingkat individu dan komunitas tidak tersedia, para penulis menyatakan belum dapat menguji faktor penyebab di balik kesenjangan itu, dan menilai riset lanjutan yang memasukkan faktor-faktor tersebut akan berguna untuk menyusun kebijakan pencegahan cedera yang lebih terarah.

Bagikan

Baca Juga

Warga Desa Nepal Kaitkan Diare dengan Panas, Jarang dengan Hujan
Remaja Sekolah di Surkhet Nepal Paling Sulit Cari Info Kesehatan
Taiwan Selatan Lebih Melek Kesehatan, Lebih Jarang Daftar Online
Menu Restoran Besar Inggris Paling Sering Gagal di Target Gula
Darah Tinggi Lebih Banyak pada Warga Meksiko Bersekolah Singkat
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur