Warga Desa Nepal Kaitkan Diare dengan Panas, Jarang dengan Hujan

A A

Desa perbukitan dengan ladang bertingkat dan sungai berkelok di wilayah Karnali, Nepal barat [Foto: Wang Lama Humla/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 583 dari 882 responden, atau 66,1 persen, yakin perubahan iklim menambah penyakit diare.
  • Di antara mereka, 60,9 persen menjawab kenaikan suhu, sedangkan hanya 24,0 persen menyebut kenaikan curah hujan.
  • Ketika diare menyerang, 70,1 persen responden tidak langsung datang ke fasilitas kesehatan.
  • Vaksin rotavirus diterima 11,3 persen, yakni 12,7 persen di Koshi dan 8,9 persen di Karnali.
Daftar Isi
  1. Februari hingga Juni 2023
  2. Musim Panas April hingga Juni
  3. Air Sungai dan Saringan Kain
  4. Saat Diare Datang
  5. Sesudah Juni 2023

Pada 12 Februari 2023, survei rumah tangga dimulai di wilayah pedesaan empat distrik Nepal. Sampai 28 Juni 2023, sebanyak 882 rumah tangga di Provinsi Koshi dan Karnali ditanyai soal perubahan iklim dan diare. Tujuh dari sepuluh responden mengaku tahu tentang perubahan iklim.

Survei itu dilaporkan Bimala Dhimal dan Rijan Bhakta Kayastha dari Department of Environmental Science and Engineering, Kathmandu University School of Science, bersama Biraj Man Karmacharya dari Department of Public Health, Kathmandu University School of Medical Science. Judulnya Knowledge and perceptions of climate change and diarrhea prevention practices in Nepal. Laporannya terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Hasilnya memperlihatkan dua sisi. Dua pertiga responden yakin perubahan iklim menambah kasus diare, dan kebanyakan menunjuk suhu yang naik. Namun hanya seperempat dari mereka yang menyebut hujan, dan hanya 11,3 persen responden yang menerima vaksin rotavirus.

Catatan iklimnya lebih tua dari survei itu. Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal, seperti dikutip paper, mencatat suhu maksimum naik 0,056 derajat Celsius per tahun sepanjang 1971–2014. Pada periode yang sama, curah hujan turun 1,3 milimeter per tahun.

Diare juga punya catatan wabahnya sendiri. Pada 2009, Khalanga mencatat 425 kasus. Pada April 2019, giliran Gulmi yang mencatat 188 kasus. Studi terdahulu di Nepal yang dirujuk paper menemukan kenaikan suhu 1 derajat Celsius berhubungan dengan kenaikan 8,1 persen kejadian diare.

Februari hingga Juni 2023

Survei berlangsung di Morang dan Dhankuta di Provinsi Koshi, serta Surkhet dan Jajarkot di Provinsi Karnali. Sampelnya diambil dari delapan ward pedesaan, tanpa satu pun ward perkotaan. Dari 882 rumah tangga, 577 berada di Koshi dan 305 di Karnali.

Koshi jauh lebih padat penduduk. Provinsi ini dihuni hampir 5 juta jiwa dalam 1,19 juta rumah tangga menurut sensus 2021. Karnali, provinsi terluas, hanya dihuni sekitar 1,68 juta jiwa, kebanyakan di pegunungan terpencil yang bergantung pada pertanian subsisten dan sumber air alam.

Sebanyak 58,8 persen responden adalah perempuan. Pertanian menjadi pekerjaan utama 64,2 persen responden. Sebanyak 18,8 persen tidak bisa baca tulis, dengan porsi di Karnali 28,2 persen dan di Koshi 13,9 persen.

Dari 882 responden, 617 orang atau 70,0 persen tahu tentang perubahan iklim. Angkanya 72,1 persen di Koshi dan 65,9 persen di Karnali, selisih yang tidak bermakna secara statistik. Menurut peneliti, angka itu lebih tinggi daripada studi sebelumnya di Nepal, yakni 54 persen.

Di antara 617 orang itu, 77,7 persen melihat suhu naik. Sebanyak 63,2 persen merasa curah hujan menurun. Di Karnali, yang merasakan hujan berkurang mencapai 77,0 persen, sedangkan di Koshi 56,1 persen. Soal penyebab, hanya 20,3 persen dari seluruh responden menunjuk ulah manusia. Sebanyak 38,3 persen menyebut sebab alam, 15,3 persen menyebut keduanya, dan 26,1 persen tidak tahu. Sementara itu, 65,8 persen yakin banjir, panas ekstrem, dan cuaca tak biasa belakangan ini terkait perubahan iklim.

Pengetahuan itu tidak merata. Dalam analisis multivariat, perempuan punya peluang 1,51 kali lebih besar untuk tidak tahu tentang perubahan iklim dibanding laki-laki. Peluang tidak tahu pada petani 6,15 kali dan pada buruh 9,48 kali dibanding responden yang bekerja di sektor jasa. Pendidikan bergerak ke arah sebaliknya. Dibanding responden yang tidak bisa baca tulis, peluang tidak tahu turun menjadi 0,66 pada lulusan sekolah dasar. Pada jenjang menengah angkanya 0,20, dan pada jenjang menengah atas 0,16.

Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat

Musim Panas April hingga Juni

Suhu naik paling sering disebutKenaikan suhu 60,9%; Kenaikan curah hujan 24,0%; Musim kemarau 15,1%.Suhu naik paling sering disebutFaktor iklim yang dianggap menambah diare, persen dari 583responden yang yakin perubahan iklim menambah diare0%25%50%75%100%Kenaikan suhu60,9%Kenaikan curah hujan24,0%Musim kemarau15,1%Survei 882 rumah tangga desa di Nepal, Februari-Juni 2023
Sumber: Bimala Dhimal dan rekan, Knowledge and perceptions of climate change and diarrhea prevention practices in Nepal, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pertanyaan berikutnya menyangkut diare. Sebanyak 583 dari 882 responden, atau 66,1 persen, yakin perubahan iklim menambah penyakit diare. Di Koshi angkanya 68,6 persen, di Karnali 61,3 persen, dan selisih ini bermakna secara statistik. Ke-583 orang itu lalu ditanya faktor iklim mana yang menambah diare. Sebanyak 60,9 persen menjawab kenaikan suhu. Hanya 24,0 persen yang menyebut kenaikan curah hujan, dan 15,1 persen menyebut musim kemarau.

Kenaikan suhu lebih sering disebut di Koshi, 63,9 persen, daripada di Karnali, 54,5 persen. Lalu soal musim, sebanyak 60,3 persen dari seluruh responden menganggap diare paling banyak muncul pada musim panas, April sampai Juni. Di Koshi, pilihan musim panas mencapai 65,7 persen, sedangkan di Karnali 50,2 persen. Musim hujan, Juni sampai September, hanya dipilih 17,7 persen responden. Karnali lebih banyak memilihnya, 28,9 persen, dibanding Koshi yang 11,8 persen.

Usia ikut berperan. Responden berusia di atas 60 tahun punya peluang 1,70 kali lebih besar untuk tidak meyakini pengaruh perubahan iklim pada diare, dibanding kelompok usia 18–29 tahun. Peneliti menyebut hujan sebagai jalur risiko yang mungkin kurang dikenali di distrik yang diteliti, bukan jalur yang tidak ada. Hujan lebat, tulis mereka, dapat mencemari sumber air, merusak jaringan air minum, dan merusak lubang jamban. Jarak antara risiko yang tercatat dan persepsi warga itu, menurut mereka, penting bagi komunikasi risiko, kesadaran warga, serta perencanaan air bersih, sanitasi, dan higiene.

Air Sungai dan Saringan Kain

Akses dasarnya tercatat tinggi. Sebanyak 94,3 persen responden mengaku punya akses air minum aman, dan 84,1 persen memakai fasilitas sanitasi layak. Sumber air 86,5 persen responden berada di pekarangan sendiri. Sumbernya berbeda menurut provinsi. Di Koshi, 67,1 persen memakai sumur pompa. Di Karnali, hanya tiga rumah tangga atau 1,0 persen yang memakai sumur pompa, sedangkan 53,4 persen mengandalkan mata air dan 45,6 persen sungai.

Menurut peneliti, air di Karnali sebagian besar diambil dari mata air dan sungai, lalu dialirkan lewat tangki dan pipa bersama tanpa pengolahan apa pun. Sungai dan mata air itu juga lebih mudah tercemar pada musim hujan.

Cara memurnikan air paling banyak adalah saring kain, 37,2 persen. Merebus air hanya 13,4 persen, saringan pasir 9,9 persen, dan saringan baja 2,5 persen. Sebanyak 36,4 persen tidak memakai cara apa pun, dengan porsi di Karnali 59,7 persen dan di Koshi 24,1 persen.

Peneliti juga mengamati alat penyaring air yang dibagikan berbagai organisasi dipakai secara terbatas dan tidak konsisten. Di Karnali, tidak satu pun responden memakai saringan pasir, sementara di Koshi 15,1 persen memakainya. Sebanyak 84,2 persen menutup wadah air minum, 91,2 persen di Koshi dan 71,1 persen di Karnali. Sesudah buang air besar, 95,7 persen mencuci tangan dengan sabun. Di Karnali, 26 orang atau 8,5 persen memakai abu atau lumpur.

Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup

Saat Diare Datang

Praktik pencegahan diare di dua provinsiMemakai sanitasi layak: Koshi (577 responden) 87,0%, Karnali (305 responden) 78,7%; Menutup wadah air minum: Koshi (577 responden) 91,2%, Karnali (305 responden) 71,1%; Tidak memurnikan air: Koshi (577 responden) 24,1%, Karnali (305 responden) 59,7%; Langsung ke fasilitas kesehatan saat diare: Koshi (577 responden) 36,2%, Karnali (305 responden) 18,0%.Praktik pencegahan diare di dua provinsiPersen responden per provinsi, Februari-Juni 2023Koshi (577 responden)Karnali (305 responden)0%25%50%75%100%87,0%78,7%Memakaisanitasilayak91,2%71,1%Menutupwadah airminum24,1%59,7%Tidakmemurnikanair36,2%18,0%Langsung kefasilitaskesehatansaat diareTidak memurnikan air: jawaban tanpa cara pemurnian apa pun
Sumber: Bimala Dhimal dan rekan, Knowledge and perceptions of climate change and diarrhea prevention practices in Nepal, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika diare menyerang, 70,1 persen responden tidak langsung datang ke fasilitas kesehatan. Di Koshi angkanya 63,8 persen. Di Karnali mencapai 82,0 persen. Dalam analisis multivariat, responden Karnali punya peluang 2,59 kali lebih besar untuk tidak segera ke fasilitas kesehatan dibanding responden Koshi. Pada perempuan, peluangnya 1,44 kali dibanding laki-laki, sedangkan tingkat pendidikan tidak berhubungan secara bermakna.

Dalam pembahasan, peneliti menyebut hampir tiga perempat responden tidak berobat ke fasilitas formal dan mengandalkan apotek serta penjual obat setempat. Beberapa responden juga menceritakan perlakuan kasar atau tidak profesional dari petugas kesehatan.

Peneliti juga mencatat cakupan vaksin rotavirus yang rendah. Hanya 29,8 persen responden pernah mendapat penyuluhan tentang penularan diare. Vaksin rotavirus diterima 11,3 persen, yakni 12,7 persen di Koshi dan 8,9 persen di Karnali.

“Temuan kami menunjukkan adanya kesenjangan dalam memahami risiko yang ditimbulkan perubahan iklim dan terbatasnya pengetahuan tentang langkah pencegahan di distrik-distrik ini,” tulis Dhimal dan rekan dalam simpulan, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id.

Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

Sesudah Juni 2023

Peneliti mencatat sejumlah keterbatasan. Persepsi responden belum tentu mencerminkan pemahaman atau perilaku mereka yang sebenarnya. Sebagian mungkin menjawab demi kesan baik, terutama soal sanitasi, cuci tangan, dan berobat. Istilah perubahan iklim juga bisa dipahami berbeda oleh tiap responden. Desain potong lintang tidak bisa menunjukkan urutan waktu, dan banyaknya uji statistik membuat sebagian hubungan yang bermakna bisa saja muncul karena kebetulan.

Cakupannya pun terbatas pada empat distrik. “Temuan ini mungkin tidak dapat digeneralisasi di luar ward dan distrik yang dipilih, dan tentu tidak untuk Nepal secara keseluruhan,” tulis mereka, dalam terjemahan Cekricek.id.

Peneliti menyarankan komunikasi yang lebih baik tentang peran hujan dan pengolahan air dalam risiko diare. Hambatan untuk berobat tepat waktu perlu diatasi, dan pesan kesehatan disesuaikan dengan kelompok yang pengetahuannya rendah. Mereka juga meminta penelitian lanjutan di lebih banyak distrik Nepal. Sasaran utamanya wilayah miskin berisiko tinggi, tempat diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar.

Dalam survei yang ditutup pada 28 Juni 2023 itu, tujuh dari sepuluh responden mengaku tidak langsung ke fasilitas kesehatan ketika diare datang.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Sekolah di Surkhet Nepal Paling Sulit Cari Info Kesehatan
Taiwan Selatan Lebih Melek Kesehatan, Lebih Jarang Daftar Online
Menu Restoran Besar Inggris Paling Sering Gagal di Target Gula
Darah Tinggi Lebih Banyak pada Warga Meksiko Bersekolah Singkat
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur
Korban Gigitan Ular di Barat Laut Iran Umumnya ke RS dalam Sejam