Demo Gen Z Digelar di Berlin dan Lebih dari 30 Kota Jerman

A A

Phil Tziartzianis (kanan) bersama temannya Jan Chrominski dalam unjuk rasa di Berlin, Jerman, Sabtu (31/10/2026). [Foto: Giulio Ferracuti/Al Jazeera]

  • Ribuan orang ikut demo Gen Z di Berlin dan lebih dari 30 kota lain di Jerman pada Sabtu.
  • Polisi menyebut sekitar 5.000 orang berunjuk rasa di Berlin, sedangkan penyelenggara mengklaim lebih dari 100.000 peserta secara nasional.
  • Isu utama yang diangkat antara lain kenaikan biaya hidup, pemangkasan anggaran pendidikan, dan wajib militer.
  • Unjuk rasa di Berlin berlangsung relatif tenang, sementara bentrokan dengan polisi terjadi di Koeln.

Cekricek.id — Ribuan orang ikut demo Gen Z di Berlin dan lebih dari 30 kota lain di Jerman pada Sabtu, menjadikan Jerman negara Eropa terbaru yang dilanda gelombang protes pelajar dan mahasiswa yang menyapu benua itu.

Massa berkumpul di Platz des 18 Maerz, di sisi barat Gerbang Brandenburg, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Sabtu (31/10/2026). Unjuk rasa digelar aliansi longgar bernama Gen Z Regelt. Hingga Sabtu pagi, hampir 180.000 orang di 34 kota telah mendaftar untuk ikut, dengan kota tuan rumah utama Frankfurt, Koeln, Muenchen, dan Berlin.

Polisi Jerman menyebut sekitar 5.000 orang berunjuk rasa di Berlin, sedangkan aliansi itu di media sosial menyebut sekitar 10.000 peserta. Secara nasional, penyelenggara menyebut lebih dari 100.000 orang ikut protes, menurut kantor berita Jerman dpa.

Unjuk rasa di ibu kota berlangsung tenang, tetapi di Koeln terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi yang bergerak menahan sebuah pawai. Penyelenggara menggariskan enam isu utama, di antaranya kenaikan biaya hidup, pemangkasan anggaran pendidikan, dan wajib militer.

Veronika Dinter, mahasiswi ilmu politik berusia 23 tahun asal Hannover, mengatakan harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya karena tingginya biaya hidup.

“Anggaran pendidikan dan layanan sosial dipangkas, sementara biaya hidup terus naik. Universitas kesulitan, institut tutup, guru kehilangan pekerjaan, dan fasilitas pendidikan benar-benar rusak,” katanya.

“Krisis ini adalah kegagalan politik pemerintah kita. Alih-alih menyelesaikannya, Kanselir Friedrich Merz dan teman-teman kayanya mendanai militer dengan miliaran euro,” ujar Dinter.

“Generasi kami sangat marah kepada pemerintah karena mereka melakukan pemangkasan besar yang memengaruhi kualitas hidup kami di sini. Di saat yang sama, mereka menghabiskan miliaran untuk militer dan mendanai genosida di Gaza,” kata Emma Heymann, mahasiswi berusia 24 tahun yang tinggal di Berlin.

Para pengunjuk rasa bergabung dalam gelombang demonstrasi yang melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di Prancis, Belgia, Italia, Spanyol, dan Serbia.

“Frustrasi itu sendiri telah menumpuk selama bertahun-tahun, tetapi ini jelas bagian dari gelombang yang kita lihat di seluruh Eropa. Anak-anak muda di sini merasa bisa membawa kekhawatiran dan masalah mereka ke jalan,” kata Kilian Hampel, peneliti senior di Future of Work Lab Universitas Konstanz.

“Banyak kekhawatiran mereka, khususnya soal buruknya infrastruktur pendidikan, sah, dan penting bagi mereka untuk didengar,” ujar Hampel.

Polisi Berlin dalam pernyataannya menyebut ada sejumlah masalah kecil sepanjang hari, seperti penyalaan piroteknik, tetapi demonstrasi berlangsung relatif tenang.

Bagikan

Baca Juga

Abbas Araghchi Sebut Upaya Dialog AS Langkah Positif
Hakim Tolak Permanen Gugatan Trump terhadap Wall Street Journal
Eropa Tolak Berfoto dengan Lavrov, AS Batalkan Foto Bersama G20
Paus Leo XIV Jadi Paus Pertama yang Memilih di Pemilu AS
Helikopter EUFOR Jatuh di Bosnia, Empat Warga Italia Tewas
Maria Corina Machado Puji Trump, Desak Pemilu Venezuela 2027