- Angka kasar laki-laki kota turun dari 35,26 per 100.000 pada 2005 menjadi 23,22 pada 2018, berkurang sekitar sepertiga.
- Angka kasar laki-laki desa naik dari 8,26 per 100.000 pada 2005 menjadi 10,92 pada 2018, bertambah 32,1 persen.
- Perempuan desa naik dari 4,24 menjadi 6,34, bertambah 49,4 persen.
- Kota yang menurun menutupi desa yang menanjak, sehingga keseluruhan kabupaten tampak datar.
Daftar Isi
Sebuah kabupaten bisa tampak biasa saja di peringkat nasional, padahal di dalamnya ada wilayah yang angkanya terus memburuk. Teka-teki itu muncul dari catatan kanker mulut di Dibrugarh, kabupaten di Upper Assam, timur laut India, yang sebagian besar penduduknya tinggal di desa. Di kota, angka kanker mulut menurun. Di desa, angka yang sama pelan-pelan naik, dan rata-rata gabungan keduanya menyembunyikan arah itu.
Pola tersebut disusun Adity Sharma, Anindita Bhagawati, Biraj Kumar Kalita, dan Chakrapani Hazarika dalam artikel Fourteen-Year Trends and Disease Burden of Oral Cancer in Dibrugarh, Assam (2005–2018): A Retrospective Registry-Based Study with Indian Standard Population-Standardized Estimates. Artikel itu dimuat BMC Public Health sebagai naskah terbitan awal pada 2026. Sharma adalah profesor patologi di Assam Medical College and Hospital, sedangkan Bhagawati mengajar bedah mulut di Government Dental College, Dibrugarh.
Kalita dan Hazarika bekerja sebagai tenaga statistik di registri kanker berbasis populasi Dibrugarh, yang dipimpin Sharma. Registri itu berdiri pada 2003 di Assam Medical College and Hospital dan menjadi pusat pemantauan kanker untuk Upper Assam. Dari catatannya, keempat penulis menghimpun seluruh kasus kanker mulut terkonfirmasi selama empat belas tahun, mencakup bibir, lidah, gusi, dasar mulut, langit-langit, dan bagian mulut lainnya.
Cara Satu Rata-rata Menutupi Dua Arah
Bahan dasarnya adalah 1.237 kasus yang tercatat dari 2005 sampai 2018. Sebanyak 783 kasus berasal dari desa dan 454 dari kota, sehingga kira-kira dua dari tiga pasien adalah warga desa. Laki-laki menyumbang 905 kasus, sekitar tiga dari empat. Dibrugarh sendiri, menurut sensus 2011 yang dikutip naskah, berpenduduk sekitar 1,33 juta jiwa, dan lebih dari empat perlima tinggal di desa.
Persoalannya, jumlah kasus belum menunjukkan besar risiko. Penduduk kota jauh lebih sedikit, sehingga kasus yang lebih sedikit bisa berarti angka per 100.000 orang yang lebih tinggi. Itulah yang terjadi di Dibrugarh. Setelah disesuaikan dengan susunan usia, rerata angka laki-laki kota sepanjang 2005–2018 mencapai 33,28 per 100.000, sementara laki-laki desa 13,68. Pada perempuan, kota mencatat 10,05 dan desa 6,54.
Karena itu kota tetap tampak sebagai pusat beban. Rasio angka kota terhadap desa secara keseluruhan 2,14, dengan jurang yang lebih lebar pada laki-laki, 2,43, daripada perempuan, 1,54. Pada kelompok usia tertentu angkanya ekstrem. Laki-laki kota berusia 65–69 tahun mencatat 372,53 per 100.000 pada 2007, dan laki-laki kota berusia 70–74 tahun mencatat 360,81 pada 2009.
Kota Turun Menjauhi Puncaknya
Yang membuatnya rumit, keunggulan kota itu terus menyusut. Angka kasar laki-laki kota turun dari 35,26 per 100.000 pada 2005 menjadi 23,22 pada 2018, berkurang sekitar sepertiga. Rerata lima tahun terakhir juga lebih rendah daripada lima tahun pertama, dari 38,94 menjadi 24,47. Setelah penyesuaian usia, rerata laki-laki kota pada 2014–2018 tinggal 26,72, masih tinggi tetapi jelas di bawah rerata empat belas tahun.
Perempuan kota menunjukkan pola yang lebih tajam. Angka kasarnya memuncak 19,28 per 100.000 pada 2009, lalu jatuh ke 3,40 pada 2018, merosot 82,4 persen dari puncak. Rerata lima tahun terakhir perempuan kota 6,54, turun dari 8,96. Jurang kota dan desa pada laki-laki pun ikut menipis, sebab rasio insidensinya memuncak 4,63 pada 2008 dan tinggal 2,13 pada 2018.
Penulis menduga kota menikmati hasil pengendalian tembakau, kesadaran yang lebih baik, dan akses diagnosis yang lebih mudah. Mereka juga mencatat bahwa pasien kota lebih banyak yang berpendidikan menengah, 20,26 persen dibanding 9,32 persen di desa, sedangkan buta huruf jauh lebih sering ditemukan pada pasien desa. Namun dugaan itu belum diuji langsung, karena registri tidak menyimpan kebiasaan setiap pasien.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Desa Menanjak ke Arah Sebaliknya
Di desa, garisnya bergerak ke arah lain. Angka kasar laki-laki desa naik dari 8,26 per 100.000 pada 2005 menjadi 10,92 pada 2018, bertambah 32,1 persen. Perempuan desa naik dari 4,24 menjadi 6,34, bertambah 49,4 persen. Angka itu masih di bawah kota, tetapi arahnya berlawanan, dan arah inilah yang tidak terlihat bila orang hanya membaca rerata kabupaten.
Kenaikan pada laki-laki desa bukan sekadar naik-turun tahunan yang kebetulan. Uji tren jangka panjang menemukan kenaikan yang bermakna secara statistik, rata-rata 1,67 persen per tahun pada angka kasar dan 1,24 persen per tahun setelah penyesuaian usia. Lonjakan terbesar terjadi di awal, sekitar 28 persen per tahun pada 2005–2007, lalu melambat menjadi sekitar 3 persen per tahun sampai 2018.
Saat Dua Arah Saling Menutupi
Ketika kedua arah itu digabung, hasilnya tampak tenang. Angka kasar seluruh laki-laki turun tipis dari 13,90 menjadi 12,42, sedangkan seluruh perempuan naik dari 4,80 menjadi 5,74. Untuk seluruh laki-laki, uji tren 2005–2018 tidak menemukan perubahan bermakna. Penurunan di kota dan kenaikan di desa saling meniadakan, mirip dua orang yang menarik tali dari ujung berlawanan sehingga tali itu tampak diam.
Ketenangan itu semu bila dilihat lebih dekat. Pada potongan 2010–2018, angka seluruh laki-laki justru naik bermakna, 3,61 persen per tahun untuk angka kasar dan 3,76 persen per tahun setelah penyesuaian usia. Mekanismenya kini lengkap. Kota yang menurun menutupi desa yang menanjak, sehingga keseluruhan kabupaten tampak datar.
Penulis membandingkan hasil ini dengan kajian Mathur dan rekan pada 2025 yang menganalisis 23 populasi di India dengan cara serupa, tetapi tanpa memilah desa dan kota. “Akhirnya, kenaikan signifikan pada laki-laki desa dalam data kami, aspek yang tidak dipilah secara eksplisit dalam karya Mathur, menandakan bahwa bahkan ketika angka laki-laki secara keseluruhan tampak stabil di tingkat registri, subkelompok desa mungkin sedang mengalami epidemi kanker mulut yang tersembunyi,” tulis Sharma, Bhagawati, Kalita, dan Hazarika dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Kebiasaan Mengunyah yang Ikut Masuk Rumah
Kelompok perempuan menyimpan cerita sendiri. Setelah penyesuaian usia, angka perempuan secara keseluruhan naik dari 5,50 per 100.000 pada 2005 menjadi 6,99 pada 2018, bertambah 27,2 persen, sementara laki-laki turun dari 16,50 menjadi 13,96. Porsi perempuan juga lebih besar di desa, sebab 31,03 persen kasus desa adalah perempuan, dibanding 19,60 persen di kota.
Penulis mengaitkan pola itu dengan kebiasaan yang mereka sebut umum di pedesaan Assam, yakni khaini, sirih pinang bertembakau, tamol pan, dan produk tembakau tanpa asap buatan setempat. Banyak laki-laki desa bekerja di ladang dan kebun teh, tempat tembakau kunyah lazim dipakai untuk menahan lelah dan lapar. Menurut penulis, kebiasaan ini juga tertanam di rumah tangga sehingga perempuan ikut terpapar.
“Meningkatnya keterlibatan perempuan semakin mencerminkan paparan yang meluas di tingkat rumah tangga terhadap kebiasaan karsinogenik di pedesaan Assam, menantang anggapan bahwa kanker mulut terutama penyakit laki-laki,” tulis keempat penulis dalam simpulan berbahasa Inggris. Pernyataan itu perlu dibaca bersama hasil uji tren, yang tidak menemukan perubahan jangka panjang bermakna pada perempuan di desa, di kota, maupun gabungan keduanya.
Baca juga Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan
Paparan yang menumpuk juga menjelaskan mengapa penyakit ini datang belakangan dalam hidup. Hampir dua pertiga kasus muncul pada usia 40–64 tahun, baik di desa maupun di kota, dengan median usia diagnosis 53 tahun pada perempuan desa sampai 59 tahun pada laki-laki kota. Pada 2014–2018, angka tertinggi ada pada usia 70–74 tahun, 48,14 per 100.000, sedangkan usia 20–24 tahun hanya 0,29.
Penulis mengaitkan pola usia ini dengan paparan zat pemicu kanker yang berlangsung lama sebelum sel berubah ganas. Angka yang rendah di bawah 40 tahun, menurut mereka, bisa mencerminkan paparan kumulatif yang lebih kecil sekaligus diagnosis yang terlewat. Jenis tumor yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa, dan radioterapi menjadi pengobatan yang paling banyak tercatat, 50,57 persen di desa dan 40,09 persen di kota.
Mengapa Angka Kabupaten Terlihat Rendah
Teka-teki yang sama muncul ketika Dibrugarh disandingkan dengan tetangganya. Pada data registri lintas wilayah yang dikutip penulis, angka Dibrugarh tercatat 3,9 per 100.000 untuk perempuan dan 10,4 untuk laki-laki. Angka itu berada di bawah East Khasi Hills, 13,6 dan 27,0, Cachar, 13,0 dan 25,9, serta Kamrup Urban, 10,5 dan 24,9. Angka terendah tercatat di Manipur, yakni 1,5 dan 3,4.
Namun angka registri itu juga sebuah rata-rata. Di dalamnya, laki-laki kota Dibrugarh memiliki rerata 33,28, jauh di atas laki-laki desa. Karena itu penulis menilai ciri khas Dibrugarh bukan angka tertinggi, melainkan pemusatan di kota, dominasi laki-laki, dan arah yang terus bergeser. “Temuan ini menunjukkan bahwa registri Dibrugarh memiliki beban kanker mulut yang tinggi tetapi beragam di dalamnya, bukan angka yang seragam tinggi di tingkat registri,” tulis mereka.
Taruhannya terletak pada peluang bertahan hidup, meski hal ini bukan fokus studi Dibrugarh. Data CONCORD-3 yang dikutip penulis mencatat kesintasan lima tahun kanker mulut di India 36,1 persen, dibanding 57,1 persen di Republik Korea dan 57,5 persen di Israel. Data sepuluh registri India juga menunjukkan jurang desa dan kota, yaitu 34,1 persen berbanding 48,5 persen.
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Penjelasan tentang kebiasaan mengunyah dan akses layanan tetap berstatus dugaan. Registri tidak menyimpan data perorangan tentang tembakau, alkohol, pola makan, atau pekerjaan, sehingga penyebab tidak bisa diuji langsung. Studi ini juga hanya berasal dari satu registri dengan data sampai 2018, dan penulis mengakui kemungkinan kasus kurang tercatat di desa terpencil serta di fasilitas swasta.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak saling cocok. Penurunan pada laki-laki kota sepanjang 2005–2018 disebut bermakna dengan nilai p 0,09, padahal naskah menetapkan batas 0,05. Bagian hasil dan diskusi menyebut angka perempuan tetap di bawah 100 per 100.000, sementara paragraf lain mencatat 236,69 untuk perempuan kota berusia 60–64 tahun pada 2011.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Ada pula selisih kecil lainnya. Karsinoma sel skuamosa di kota ditulis 42,07 persen dengan 216 kasus, padahal 216 dari 454 kasus kota setara sekitar 47,6 persen. Abstrak mencatat perubahan angka kasar laki-laki dan perempuan minus 10,8 dan plus 18,8 persen, sedangkan bagian hasil menulis minus 10,7 dan plus 19,7 persen.
Teka-teki di awal kini punya jawaban. Dibrugarh tampak biasa saja bila dibaca sebagai satu angka, karena kota yang membaik menutupi desa yang memburuk. Begitu angka itu dipilah menurut tempat tinggal dan jenis kelamin, terlihat dua arah yang berlawanan, yaitu kota yang turun dari puncaknya dan laki-laki desa yang terus menanjak pelan selama empat belas tahun catatan registri.















