- Hampir enam dari sepuluh, tepatnya 276 orang atau 58,5 persen, merasa dukungan itu tidak cukup.
- Di luar rumah, dukungan paling sering datang dari gereja.
- Harapan yang paling sering muncul berkaitan dengan waktu.
- Mereka mencatat Swedia belum punya pedoman nasional tentang dukungan duka.
Daftar Isi
Bagi seorang warga yang ditinggal pasangannya di Swedia, urusan paling berat justru datang dari sebidang tanah dan sebongkah batu. Ia harus memilih petak makam dan batu nisan, sambil mengurus soal hukum yang tidak ia pahami. “Memilih petak makam, batu nisan (secara tidak langsung milik saya sendiri), itu berat,” tulisnya.
Kalimat itu tercatat dalam naskah Rakel Eklund, Agnes Englund, Frida Berglund, dan Josefin Sveen, “Acknowledge my grief” – experiences and needs of bereavement support in Sweden following the death of a loved one, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2589, tahun 2026. Keempatnya bernaung di Department of Women’s and Children’s Health, Uppsala University, dan Sveen juga di National Centre for Disaster Psychiatry di kampus yang sama.
Pemilih batu nisan itu hanya satu dari 472 orang dewasa berduka di Swedia yang menjawab pertanyaan tentang dukungan yang mereka terima. Hampir enam dari sepuluh, tepatnya 276 orang atau 58,5 persen, merasa dukungan itu tidak cukup. Sebanyak 194 orang atau 41,1 persen merasa sudah cukup.
Kebanyakan yang menjawab adalah perempuan, 72,7 persen, dan dua pertiganya berusia 25 sampai 54 tahun. Jarak dari hari kehilangan beragam, dari kurang dari setahun hingga 58 tahun, dengan rata-rata tujuh tahun. Yang ditinggal anak, orang tua, dan pasangan jumlahnya hampir sama, masing-masing sekitar satu dari lima peserta.
Sebab kematian yang paling sering adalah sakit menahun seperti kanker, 32,8 persen. Kondisi medis mendadak seperti stroke dan bunuh diri sama-sama tercatat 26,1 persen. Para peneliti juga mencatat bahwa sekitar 90.000 orang meninggal tiap tahun di Swedia, sehingga selalu ada banyak orang yang sedang berduka pada satu waktu.
Rumah dan Lingkaran Sahabat
Sumber dukungan pertama hampir selalu dekat. Banyak peserta menyebut keluarga dan sahabat, dalam bentuk percakapan, kedekatan fisik, dan bantuan praktis. Dukungan itu datang dari anggota keluarga, rekan kerja, tetangga, hingga kenalan, dan jumlahnya sangat berbeda dari satu orang ke orang lain.
Satu peserta yang kehilangan orang tua menulis bahwa ia mungkin tak sanggup merangkai kata untuk tanggung jawab dan dukungan yang ia terima dari ibunya. Namun, rumah tidak selalu bertahan lama. “Sedikit dari keluarga dan teman di awal. Tapi kemudian rasanya orang-orang di sekitar saya berpikir kamu seharusnya sudah melupakan duka itu,” tulis seorang peserta yang kehilangan pasangan.
Peserta lain hanya mengingat satu teman yang sesekali menelepon untuk menanyakan kabar, misalnya pada hari libur yang berat. Selebihnya, tulisnya, tidak banyak. Semua kutipan peserta dalam naskah ini disajikan dalam bahasa Inggris, dan terjemahan di sini mengikuti versi tersebut.
Gereja dan Kelompok Sesama
Di luar rumah, dukungan paling sering datang dari gereja. Naskah mencatat bahwa Church of Sweden memikul tanggung jawab besar mendampingi orang berduka tanpa memandang agama mereka. Peserta menyebut pertemuan dengan pendeta atau diaken, obrolan dengan jemaat, dan kelompok duka yang diselenggarakan gereja.
Seorang peserta yang kehilangan pasangan rutin mengikuti sesi konseling di gereja rumah sakit dan bergabung dalam kelompok duka Church of Sweden. Peserta lain bertemu diaken secara langsung maupun lewat panggilan video. Gereja, dalam jawaban-jawaban itu, hadir di banyak tempat sekaligus.
Kelompok sesama yang pernah kehilangan juga sering disebut, baik tatap muka maupun daring. Di sana orang merasa dipahami tanpa perlu menjelaskan. Seorang peserta yang kehilangan anak menyebutnya “satu-satunya tempat kamu bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri, dan semua orang mengerti.”
Sebagian peserta bergerak sendiri. Mereka ikut kursus duka, membaca buku tentang duka, bahkan berlatih menjadi terapis. Ada pula yang menyebut seance dan konseling spiritual, dan beberapa mengaku menghibur diri dengan alkohol dan makanan, sampai salah satunya tidak boleh mendapat terapi psikologis karena itu.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Pusat Layanan Kesehatan
Psikolog, terapis, dan konselor disebut berkali-kali, dan banyak yang menganggap pertemuan itu penting. Seorang peserta yang kehilangan saudara kandung awalnya yakin bisa bertahan sendiri. Sebulan kemudian ia menghubungi pusat layanan kesehatan primer, lalu bertemu psikolog yang ia sebut tak ternilai dalam proses dukanya.
Pengalaman lain berjalan sebaliknya. Seorang peserta yang kehilangan pasangan menulis bahwa pusat layanan kesehatan primer bahkan tidak mau memberinya janji temu dokter saat ia pertama kali datang. Cuti sakit juga digambarkan rumit diperoleh dengan cara yang memuaskan oleh beberapa peserta.
Ada orang tua yang justru merasa dikelilingi. Tim kesehatan yang merawat putri mereka semasa hidup tetap mendampingi keluarga itu setelah ia meninggal. Di sisi lain, seorang ibu atau ayah yang anaknya meninggal karena overdosis menulis bahwa yang ditawarkan kepadanya hanya pil, dan ia menyebut hal itu absurd.
Daftar harapan peserta untuk layanan kesehatan cukup panjang. Mereka menyebut psikoterapi, aktivasi perilaku, terapi trauma, penanganan gangguan stres pascatrauma, serta obat untuk gangguan tidur, nyeri, dan cemas. Biaya ikut menjadi penghalang, seperti diakui seorang peserta yang harus berhenti terapi karena mahal.
Kantor, Sekolah, dan Surat Warisan
Dukungan juga datang dari tempat yang sudah ada dalam hidup sehari-hari. Seorang peserta menulis singkat soal atasan dan pemberi kerja yang pengertian. Peserta lain bersyukur anak sulungnya mendapat jam tambahan di prasekolah. Naskah mencatat pekerja di Swedia bisa mendapat cuti berbayar hingga sepuluh hari setelah kerabat dekat meninggal.
Ruang kelas tidak selalu seramah itu. “Saya diizinkan meninggalkan kelas kalau mau, tetapi masalahnya kemudian saya jadi tertinggal,” tulis seorang pelajar berusia 18 sampai 24 tahun yang kehilangan saudara kandung. Ada pula jawaban dari peserta seusia itu yang mengaku menyingkirkan dukanya supaya tidak tertinggal pelajaran, dan kini sedikit menyesalinya.
Lalu ada urusan warisan. Seorang peserta yang kehilangan orang tua merasa diberi tanggung jawab penuh atas harta peninggalan, tetapi informasi yang ia terima tidak jelas dan saling bertentangan. Peserta lain berharap ada informasi tertulis saat kematian terjadi, karena duka dan syok membuat penjelasan lisan sulit diingat.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Sesudah Pemakaman
Harapan yang paling sering muncul berkaitan dengan waktu. Peserta ingin dukungan yang lebih panjang, teratur, dan berkesinambungan. “Banyak orang mau bicara pada tahun pertama, tetapi titik terendah saya justru datang belakangan, dan sekarang sudah lima tahun sejak kematian itu,” tulis seorang peserta yang kehilangan anak.
Beberapa peserta ingin dukungan yang menjemput mereka, bukan sebaliknya. Saat krisis, kata seorang peserta, sulit punya tenaga untuk mencari bantuan sendiri. Ia berharap dukungan ditawarkan tanpa diminta, misalnya saat konsultasi dokter soal cuti sakit. Peserta lain ingin ada pusat keahlian supaya tidak perlu mencari bantuan sendirian.
Keinginan itu juga menyangkut cara orang lain memandang duka. Seorang peserta berharap orang tahu bahwa dunia tetap berhenti bagi yang ditinggal lama setelah pemakaman. Peserta lain yang kehilangan pasangan menulis kalimat yang kemudian menjadi judul naskah. “Akui duka saya; jangan heran saya masih belum baik-baik saja. Bantuan di awal bagus, tetapi kemudian orang-orang lelah,” tulisnya.
Para peneliti menarik garis yang serupa. “Dukungan duka di Swedia diberikan oleh beragam faktor kemasyarakatan, tetapi temuan ini menunjukkan celah penting dalam struktur, kesinambungan, dan keterlihatannya,” tulis Rakel Eklund, peneliti Uppsala University, bersama ketiga rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka mencatat Swedia belum punya pedoman nasional tentang dukungan duka.
Setelah fase awal, menurut naskah itu, tidak ada aturan yang jelas tentang dukungan duka lanjutan, baik di layanan kesehatan maupun lembaga lain di Swedia. Para penulis juga mengingatkan bahwa kebanyakan orang berduka cukup ditopang keluarga dan teman, dan hanya sebagian kecil yang memerlukan penanganan psikiatri.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Catatan dari Tabel
Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Survei daring membuat mereka tidak bisa bertanya lanjut kepada peserta yang mungkin salah memahami pertanyaan, dan sebagian jawaban sangat singkat. Perempuan juga terlalu banyak di antara peserta, sehingga belum pasti apakah hasilnya berlaku sama bagi laki-laki.
Kehilangan karena bunuh diri dialami sekitar 26 persen peserta, padahal hanya sedikit di atas 1 persen kematian di Swedia pada 2024 disebabkan bunuh diri. Menurut para penulis, hal itu bisa menggeser hasil ke arah kebutuhan layanan spesialis. Jarak waktu sejak kehilangan yang sangat beragam juga membuat sebagian temuan mungkin sudah usang.
Pembaca yang teliti bisa menjumlahkan sendiri angka di naskah. Sebanyak 276 orang yang merasa kurang dan 194 orang yang merasa cukup berjumlah 470, bukan 472, dan dua jawaban sisanya tidak dijelaskan. Bagian pembahasan juga menyebut hampir separuh peserta tidak merasa perlu dukungan tambahan, sementara yang merasa cukup tercatat 41,1 persen.
Tabel data peserta menulis myocardial infection untuk kondisi medis mendadak, sedangkan teks hasil menulis myocardial infarction, istilah untuk serangan jantung. Kolom hubungan di tabel itu memakai label anak dan orang tua tanpa penjelasan arah, padahal teks membaca baris anak sebagai peserta yang kehilangan anak.
Di antara semua jawaban itu, petak makam dan batu nisan tetap menjadi gambaran yang paling sunyi. Bagi penulisnya, batu itu sekaligus milik orang yang pergi dan miliknya sendiri. Naskah ini menunjukkan bahwa yang ditinggal masih berdiri di depan batu yang sama bertahun-tahun kemudian, sementara dukungan di sekitarnya sudah lebih dulu pulang.















