Novel Soji Shimada: Alurnya Rapi, Konfliknya Berganti Wajah

A A

Rak buku bertingkat tinggi berpenerangan hangat di toko buku Tsutaya, Ebetsu, Hokkaido, Jepang [Foto: MIKI Yoshihito/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Kesaksian Kumi terus diragukan bahkan oleh tuan rumah sendiri.
  • Upaya pemulihan, yang semestinya mengembalikan ketertiban, dalam novel ini justru melahirkan konflik baru.
  • Ketiga penulis menyimpulkan bahwa tahap ini tidak menghadirkan pemulihan yang efektif, melainkan memperuncing situasi sebelum cerita bergerak ke keseimbangan baru.
  • Kajian tersebut hanya menelaah satu novel, dan seluruh kutipan diambil dari terjemahan bahasa Indonesia, bukan dari teks aslinya.
Daftar Isi
  1. Ketenangan yang sudah retak
  2. Boneka di jendela dan kamar yang terkunci
  3. Ketika ancaman diberi nama
  4. Penyelidikan yang justru memanaskan ruangan
  5. Keseimbangan yang tidak pernah bersih
  6. Catatan yang tidak saling bertemu

Cerita detektif kerap dianggap bentuk sastra yang paling setia pada ketertiban, sebab ia berangkat dari sesosok mayat dan hampir selalu berakhir pada nama pelaku, seolah dunia yang sempat retak dapat direkatkan kembali cukup dengan satu pengakuan. Namun, ketertiban semacam itu ternyata lebih rapuh daripada kelihatannya, dan sebuah pembacaan atas novel misteri Jepang karya Soji Shimada memperlihatkan bahwa yang dipulihkan di halaman terakhir hanyalah susunan cerita, bukan hubungan antarmanusia yang sudah telanjur koyak.

Pembacaan itu disusun Mudiah Husnatul Aysi, Fithyani Anwar, dan Imelda dari Universitas Hasanuddin dalam artikel Analisis Naratif Novel Naname Yashiki no Hanzai Karya Soji Shimada, yang terbit di Jurnal Ilmu Budaya volume 14 nomor 1 tahun 2026. Ketiganya menelusuri novel itu dengan teori naratif Tzvetan Todorov, yang membagi sebuah cerita ke dalam lima tahap, lalu memeriksa jenis konflik apa yang paling menonjol di masing-masing tahap tersebut.

Novel yang mereka baca terbit pertama kali di Tokyo, lalu hadir dalam bahasa Indonesia dengan judul Pembunuhan di Rumah Miring, terjemahan Andry Setiawan, dan dari terjemahan inilah seluruh kutipan dalam naskah diambil. Lima tahap yang dipakai berurutan dari keseimbangan awal, gangguan, kesadaran akan gangguan, upaya pemulihan, hingga keseimbangan baru, sedangkan konflik dipilah menjadi tiga jenis, yakni konflik batin, konflik sosial, dan konflik antartokoh.

Ketenangan yang sudah retak

Keseimbangan awal, dalam pembacaan ketiga penulis, adalah malam ketika para tamu berkumpul di rumah Kozaburo Hamamoto untuk merayakan pesta Natal. Di permukaan suasananya stabil dan tenang, tetapi naskah segera menunjukkan bahwa ketenangan itu sudah menyimpan konflik kecil yang tersembunyi. Kozaburo muak terhadap tamu-tamunya, Kumi Aikura merasa rendah diri di hadapan Eiko Hamamoto, sementara Eiko sendiri menyimpan ketegangan emosional dengan kekasihnya, Kikuoka.

Kutipan novel yang dipilih para penulis menegaskan kejenuhan tuan rumah itu. Kozaburo, dalam terjemahan Indonesia, digambarkan sudah muak mendengarkan puja puji kosong dari para tamu, dan alasan utamanya membangun rumah eksentrik di ujung utara Jepang justru untuk membebaskan diri dari penjilat semacam itu. Rumah yang dibangun untuk menjauh dari orang banyak, dengan kata lain, sejak awal sudah dipenuhi orang-orang yang tidak ia sukai.

Konflik sosial pada tahap ini masih laten, bersembunyi di balik sopan santun, tetapi perbedaan status dan posisi sosial sudah menciptakan jarak. Kumi, misalnya, mengeluh bahwa dirinya pendek sekali dan mengaku iri kepada Eiko yang tinggi. Konflik antartokoh pun hadir dalam bentuk gunjingan, ketika sekretaris Kikuoka dinilai vulgar dan norak di belakang punggungnya. Semua itu belum menjadi pertengkaran, tetapi naskah membacanya sebagai tanda bahwa keadaan tidak sepenuhnya harmonis.

Lima tahap Todorov di Rumah MiringLima tahap alur: keseimbangan awal, gangguan, kesadaran akan gangguan, upaya pemulihan, keseimbangan baru.Lima tahap Todorov di Rumah MiringAlur novel Naname Yashiki no Hanzai menurut naskahTenangpesta Natalpara tamuGangguansatu tamutewasSadarancamannyataUpayapolisi danKiyoshiBarupelakuterungkapNaskah menyebut kelima tahap muncul utuh; yang berbeda adalah jeniskonflik yang dominan.
Sumber: Mudiah Husnatul Aysi, Fithyani Anwar, dan Imelda, Analisis Naratif Novel Naname Yashiki no Hanzai Karya Soji Shimada, Jurnal Ilmu Budaya, 14(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Boneka di jendela dan kamar yang terkunci

Gangguan datang lebih dulu sebagai sesuatu yang tampak remeh. Kumi Aikura melihat sebuah boneka tradisional Jepang memanjat jendela, dan tokoh-tokoh lain menganggapnya sekadar mimpi. Keesokan harinya salah satu tamu ditemukan tewas di dalam kamar yang terkunci, dan suasana pesta yang semula damai berubah mencekam. Menurut naskah, peristiwa inilah yang memperdalam konflik yang sebelumnya sudah ada, alih-alih menciptakannya dari nol.

Rasa takut kemudian bercampur dengan saling curiga. Konflik sosial mencuat ketika polisi hadir, dan Inspektur Detektif Okuma dari Kantor Polisi Wakkanai memperkenalkan diri dengan nada angkuh sebelum menanyai semua orang di meja salon. Naskah membaca kehadiran itu sebagai ketegangan antara penghuni rumah dan otoritas hukum, sebuah konflik antarkelompok yang menambah lapisan baru pada kegelisahan para tamu yang sudah terpecah sejak malam pesta.

Di tahap ini pula kesaksian Kumi terus diragukan, termasuk oleh Kozaburo Hamamoto sendiri. Seorang tokoh menyebut nona muda itu sepertinya mengalami mimpi buruk, dan Kumi membalas bahwa yang ia alami bukan mimpi buruk sambil bertanya apakah Kanai mendengar suara laki-laki berteriak. Kesaksian Kumi terus diragukan bahkan oleh tuan rumah sendiri. Dalam pembacaan naskah, di sinilah kepercayaan antartokoh mulai menghilang perlahan.

Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya

Ketika ancaman diberi nama

Tahap ketiga, kesadaran akan gangguan, dimulai ketika para tamu mengerti bahwa pembunuhan itu bukan kebetulan atau kecelakaan, melainkan bagian dari rangkaian peristiwa yang direncanakan. Banyaknya korban yang berjatuhan di kediaman Kozaburo memperkuat keyakinan bahwa ada pembunuh di antara mereka. Naskah menyebut rasa takut, kepanikan, dan perasaan bersalah menghinggapi tokoh-tokoh seperti Kiyoshi Mitarai, Ushikoshi, dan Michio Kanai, sehingga konflik batin mulai mendominasi cerita.

Namun, kesadaran itu tidak menyatukan mereka, justru membuka kembali luka status sosial yang semula tertutup rapi. Kozaburo menjadi sorotan karena kedekatannya dengan sopir pribadinya, korban dari kalangan bawah, sehingga muncul pandangan sinis dan kecurigaan terhadap motifnya. Kanai dipandang sebagai penjilat Kikuoka, sementara Eiko memperlihatkan arogansi yang mencolok dengan memaknai peristiwa pembunuhan itu sebagai sesuatu yang dianugerahkan kepadanya.

Konflik antartokoh ikut memanas dalam bentuk yang lebih terbuka. Togai dan Sasaki makin jelas bersaing merebut perhatian Eiko, bahkan mempersoalkan keputusan Eiko dalam pembagian kamar. Kikuoka dan Kanai bertengkar, dan naskah membaca pertengkaran itu sebagai tanda bahwa tekanan di dalam rumah telah meretakkan hubungan pribadi hingga titik kritis, karena emosi yang tidak terkendali memicu konflik verbal. Ancaman yang sudah diberi nama, rupanya, tidak membuat orang saling merapat.

Di titik inilah ketiga penulis membelokkan pembacaan mereka dari sekadar pemetaan alur. Setelah menemukan bahwa kelima tahap Todorov hadir utuh dan berurutan, mereka menegaskan bahwa urutan itu bukan hal yang paling menarik. “Namun, yang membedakan tiap tahap naratif bukan terletak pada strukturnya, melainkan pada jenis konflik yang mendominasi,” tulis Mudiah Husnatul Aysi, Fithyani Anwar, dan Imelda dalam kesimpulan naskahnya.

Penyelidikan yang justru memanaskan ruangan

Upaya pemulihan, yang semestinya mengembalikan ketertiban, dalam novel ini justru melahirkan konflik baru. Penyelidikan yang dilakukan tidak meredakan ketegangan, tetapi memunculkan pertengkaran dan saling tuduh di antara para tamu. Konflik antartokoh paling menonjol pada tahap ini. Rasa curiga menghalangi kerja sama, dan naskah menyebut konflik-konflik itu menciptakan hambatan psikologis dan sosial dalam proses penyelesaian masalah. Ushikoshi dan Okuma bahkan digambarkan terdiam beberapa waktu, dan Ushikoshi baru bisa bersuara seperti orang tercekik.

Kedatangan Kiyoshi dan timnya tidak disambut baik oleh Eiko maupun para detektif, dan sikap Kiyoshi yang tampil dominan dianggap sombong oleh penghuni rumah dan polisi. Kazumi, rekan Kiyoshi, ikut jengkel terhadap sikapnya yang dinilai terlalu percaya diri dan mengada-ada, lalu menegurnya secara langsung. Eiko bahkan menempatkan Kiyoshi di kamar yang sebelumnya menjadi lokasi pembunuhan, sebuah ketidaksukaan yang tidak diucapkan tetapi terasa.

Perbedaan kelas juga makin tajam. Eiko memandang rendah Kumi yang dianggap berasal dari kalangan bawah, Kumi membalas dengan ejekan sinis, dan keduanya akhirnya saling menuduh sebagai pembunuh Sasaki. Kiyoshi pun mengkritik keputusan Kozaburo membangun rumah di lokasi terpencil, dengan menyebut bahwa pria secerdas dia tidak akan membangun rumah di ujung terjauh pulau paling utara Jepang tanpa alasan apa pun.

Konflik yang berganti di tiap tahapTabel lima tahap naratif dengan penanda cerita dan jenis konflik yang dominan menurut kesimpulan naskah.Konflik yang berganti di tiap tahapRingkasan kesimpulan naskahPenanda ceritaKonflik dominanPesta NatalTersembunyiKeseimbanganawalPembunuhanBatinGangguanKorban berjatuhanBatinKesadaranPenyelidikanAntartokohUpaya pemulihanPelaku terungkapBatin, sisa traumaKeseimbanganbaruSubbagian keseimbangan baru di naskah justru menguraikan konfliksosial dan antartokoh.
Sumber: Mudiah Husnatul Aysi, Fithyani Anwar, dan Imelda, Analisis Naratif Novel Naname Yashiki no Hanzai Karya Soji Shimada, Jurnal Ilmu Budaya, 14(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Satu adegan yang dikutip naskah merangkum suasana tahap ini dengan getir. Kiyoshi tampak hanyut oleh kata-katanya sendiri, dengusan mencemooh dari para hadirin berubah menjadi tawa terbahak-bahak, sementara ketiga detektif sudah tidak sabar mengakhiri apa yang disebut sebagai pertunjukan menggelikan. Rasa saling percaya di antara para tamu, tulis naskah, telah runtuh sepenuhnya. Ketiga penulis menyimpulkan bahwa tahap ini tidak menghadirkan pemulihan yang efektif, melainkan memperuncing situasi sebelum cerita bergerak ke keseimbangan baru.

Baca juga Dua Fabel Solok Selatan Membicarakan Cara Memegang Kuasa

Keseimbangan yang tidak pernah bersih

Keseimbangan baru ditandai terungkapnya pelaku dan penjelasan atas rangkaian peristiwa. Pelaku mengaku bahwa setelah membunuh pikirannya kacau balau, dan ketika sudah tenang ia sadar telah mengikat pergelangan tangan Ueda ke rangka tempat tidur walaupun korban sudah mati. Naskah mencatat bahwa Kozaburo Hamamoto, sebagai tokoh terpandang, tidak pernah diduga akan menjadi pelaku, dan dari situ konflik sosial bergeser menjadi evaluasi ulang atas hierarki yang ada.

Gesekan antartokoh pun tidak lenyap bersama terpecahkannya kasus. Kiyoshi Mitarai masih menyindir Sersan Ozaki karena metode investigasinya dinilai terlalu kasar, dengan mengatakan bahwa ia tidak suka metode mengikat seseorang lalu memaksanya mengaku. Keseimbangan baru tidak berarti keadaan kembali seperti semula. Menurut naskah, keseimbangan itu adalah kondisi relatif stabil yang terbentuk dari sisa-sisa konflik sebelumnya. Sindiran Kiyoshi kepada Ozaki dibaca sebagai ketegangan profesional dan perbedaan prinsip yang tetap tertinggal.

Ketiga penulis merangkum tahap akhir itu dengan kalimat yang barangkali menjadi pesan terpenting naskah bagi pembaca cerita detektif. “Keseimbangan baru ini menegaskan bahwa penyelesaian dalam narasi detektif tidak selalu menghadirkan keharmonisan mutlak, melainkan sebuah kondisi stabil yang lahir dari pengalaman konflik yang mendalam,” tulis mereka. Pernyataan itu membalik anggapan bahwa pengakuan pelaku menutup segalanya. Konflik utama memang selesai, tetapi ketiga jenis konflik masih meninggalkan jejak yang membentuk dinamika baru dalam kehidupan para tokoh.

Temuan ini tetap perlu dibaca dalam batasnya. Kajian tersebut hanya menelaah satu novel, dan seluruh kutipan diambil dari terjemahan bahasa Indonesia, bukan dari teks aslinya. Maka kesimpulan bahwa teori Todorov efektif untuk membaca dinamika konflik dalam sastra masih bersandar pada satu karya, dan belum diuji pada novel detektif lain dari pengarang yang sama maupun yang berbeda. Kajian lain yang memakai teori serupa pada cerita fantastik dan thriller memang disebut di pendahuluan, tetapi hasilnya tidak disandingkan.

Baca juga Lima Lukisan Retno Amalia Pratiwi Menjawab Novel Gibran

Catatan yang tidak saling bertemu

Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa bagian naskah yang tidak saling bertemu. Kesimpulan menyebut konflik batin kembali muncul sebagai sisa trauma pada tahap keseimbangan baru, padahal subbagian tahap itu hanya menguraikan konflik sosial dan konflik antartokoh beserta kutipannya. Konflik batin hanya disinggung sekilas pada kalimat penutup subbagian, tanpa satu pun kutipan novel yang menopangnya. Celah ini penting karena tahap akhir itulah yang dijadikan dasar klaim tentang sisa trauma para tokoh.

Kutipan yang dipakai untuk menggambarkan ketakutan Kumi pada tahap gangguan juga patut diperiksa, sebab teks Jepangnya menandai Kozaburo sebagai penutur kalimat pertama dan nama Kumi tidak muncul di sana. Tahap kesadaran menyebut rasa bersalah Kiyoshi Mitarai, padahal bagian upaya pemulihan menulis Kiyoshi dan timnya baru datang. Tubuh naskah mengutip Todorov 1971, sementara daftar pustaka hanya memuat Todorov 1977, dan nama Lacey tidak tercantum di sana.

Pada akhirnya, pembacaan ini meninggalkan pertanyaan yang lebih luas daripada soal kerapian alur. Bila sebuah novel detektif dapat menyusun kelima tahapnya dengan tertib sementara orang-orang di dalamnya tetap saling curiga, saling merendahkan, dan saling menyindir sampai halaman terakhir, apakah yang sebenarnya dipulihkan oleh terungkapnya pelaku, ketertiban cerita itu sendiri, atau sekadar rasa lega pembaca yang ingin tahu siapa yang membunuh?

Bagikan

Baca Juga

Buruh Kebun Teh Siliguri Berobat, Separuh Tak Rutin Minum Obat
Sabilulungan di Kampung Adat Cikondang, Pusaka Dibersihkan
Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan
Tiga Iklan Buttonscarves dan Citra Perempuan Berhijab Global
Man Walk Australia: Separuh Pria Peserta Jalan Kaki Kesepian
Gejala Depresi Anak Muda Hong Kong Turun Setelah Berkebun