- Hanya 37,9 persen buruh yang berobat meminum obatnya secara teratur.
- Pekerja yang terpapar pupuk kimia menanggung beban penyakit 2,77 kali lipat dibanding yang tidak terpapar.
- Rumah sakit kebun teh menjadi tujuan 56,3 persen kunjungan berobat.
- Hampir empat dari lima pekerja, tepatnya 79,6 persen, tidak memakai skema kesehatan pemerintah.
Daftar Isi
- Seratus empat puluh enam orang merasa sakit, dan empat puluh tiga di antaranya memilih tidak pergi ke mana pun
- Batuk berdahak, punggung yang nyeri, dan luka yang dibawa pulang dari barisan perdu teh setiap hari
- Herbisida, pupuk kimia, dan tubuh perempuan yang ternyata menanggung beban penyakit paling berat
- Nyeri otot membawa orang ke rumah sakit kebun, sementara diabetes dan tuberkulosis dibiarkan menunggu di rumah
- Angka-angka yang tidak saling cocok di dalam naskah, dan resep yang tetap tinggal di tangan
Resepnya sudah ditulis. Obatnya tidak pernah dibeli. Sebelas buruh kebun teh di Siliguri, Benggala Barat, India, pulang dari fasilitas kesehatan membawa resep yang kemudian dibiarkan begitu saja. Mereka bagian dari 103 pekerja yang sakit lalu memutuskan berobat, dan 10,7 persen dari kelompok itu tak pernah menebus obat yang diresepkan untuknya.
Angka itu tercatat dalam A study on the morbidity patterns and healthcare utilization of tea garden workers of Siliguri, West Bengal, India karya Suteerna Choudhury dan Kumar Sumit, yang terbit di BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit tahun 2026. Keduanya berasal dari Department of Global Public Health Policy and Governance, Prasanna School of Public Health, Manipal Academy of Higher Education, Karnataka.
Yang menebus obat pun belum tentu meminumnya. Hanya 37,9 persen buruh yang berobat meminum obatnya secara teratur. Lebih dari separuh, 51,5 persen, meminumnya tidak teratur. Keputusan kecil di rumah masing-masing itu menjadi titik akhir sebuah perjalanan yang dimulai jauh sebelumnya, di barisan perdu teh tempat keluhan-keluhan itu tumbuh.
Seratus empat puluh enam orang merasa sakit, dan empat puluh tiga di antaranya memilih tidak pergi ke mana pun
Kebun yang diteliti adalah Taiphoo Tea Estate, sebuah perkebunan di kawasan Terai, North Bengal. Kebun teh di wilayah itu terletak di daerah pinggiran dan pedesaan, sering jauh dari kota utama. Siliguri sendiri adalah pusat kota berpenduduk lebih dari 700.000 jiwa, dihuni orang Bengali, Nepali, Bihari, Marwari, dan kelompok suku asli.
Sebanyak 167 pekerja berusia 18 sampai 60 tahun diwawancarai pada Januari hingga Maret 2024. Dari jumlah itu, 146 orang mengaku mengalami gejala sakit. Sebanyak 103 orang atau 70,5 persen pergi berobat ke fasilitas kesehatan. Sisanya, 43 orang atau 29,5 persen, tidak mencari pertolongan medis formal sama sekali.
Tujuan yang dipilih nyaris selalu sama. Rumah sakit kebun teh menjadi tujuan 56,3 persen kunjungan berobat. Rumah sakit tingkat blok menampung 20,4 persen, pusat layanan kesehatan primer 19,4 persen. Rumah sakit distrik dan rumah sakit swasta masing-masing hanya didatangi dua orang, atau 1,9 persen, sebuah ketergantungan kuat pada layanan di dalam atau dekat perkebunan.
Perjalanannya tidak selalu singkat. Separuh lebih pasien, 52,5 persen, tiba dalam 10 sampai 25 menit, tetapi 30,7 persen menempuh 25 sampai 40 menit dan lima orang butuh waktu hingga dua jam. Angkutan umum dipakai 58,3 persen, kendaraan pribadi 32 persen, dan 9,7 persen berjalan kaki menuju tempat berobat.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Di ruang periksa, 55,3 persen pulang membawa obat resep dan 28,2 persen dirujuk ke layanan tersier. Tes patologi hanya diterima 8,7 persen, pertolongan pertama 7,8 persen. Penilaian mereka terbelah hampir sama rata: 51,5 persen puas, 48,5 persen tidak puas dengan layanan yang mereka dapat.
Ada satu pintu yang hampir tak disentuh. Hanya 20,4 persen pekerja pernah merasakan manfaat program kesehatan yang didukung pemerintah. Hampir empat dari lima pekerja, tepatnya 79,6 persen, tidak memakai skema kesehatan pemerintah. Choudhury dan Sumit membaca pola ini sebagai tanda rendahnya kesadaran, keterjangkauan, atau pemanfaatan hak kesehatan publik yang sebenarnya tersedia.
Batuk berdahak, punggung yang nyeri, dan luka yang dibawa pulang dari barisan perdu teh setiap hari
Yang mendorong orang ke ruang periksa bukan penyakit yang paling sering disebut. Alasan kunjungan terbanyak adalah keluhan otot dan tulang, 39,8 persen, disusul reaksi kulit dan alergi, 35 persen. Cedera dan kecelakaan hanya 10,7 persen. Sakit kepala, gangguan napas, serta demam, batuk, dan pilek mengisi sisanya dalam porsi kecil.
Padahal cedera kerja adalah keluhan paling luas. Sebanyak 67,7 persen pekerja pernah terpeleset, jatuh, tersayat, tersengat listrik, cedera karena beban berat, atau celaka oleh mesin. Sebanyak 26,9 persen pernah digigit serangga atau hewan, dan 5,4 persen mengalami kecelakaan akibat petir. Lebih dari dua pertiga pekerja yang diwawancarai pernah terluka di tempat kerjanya.
Napas mereka juga bermasalah. Batuk berdahak dialami 54,5 persen pekerja dan 41,3 persen mengaku sulit bernapas. Nyeri otot atau sendi dirasakan 52,7 persen, sakit punggung 32,3 persen, dan 11,4 persen mengeluh kesemutan atau kebas di tangan dan ibu jari. Kulit pun tak luput: 33,5 persen merasakan panas terbakar yang lama dan kulit pecah-pecah.
Daftar penyakit menularnya lebih mengejutkan. Tuberkulosis yang dilaporkan sendiri oleh pekerja mencapai 50,9 persen, disusul diare atau sakit perut dari air sebesar 20,6 persen. Di kelompok penyakit kronis, diabetes yang dilaporkan sendiri mencapai 36,5 persen dan hipertensi 16,2 persen. Iritasi bahan kimia dialami 22,8 persen, alergi tanaman 18 persen.
Tubuh-tubuh ini sudah lama berada di kebun. Sebanyak 55,7 persen pekerja telah bekerja lebih dari 20 tahun, 88 persen berstatus pekerja tetap, dan 58,1 persen tidak bisa membaca dan menulis. Sebanyak 62,9 persen tak pernah menerima pelatihan keselamatan kerja. Sebagian besar dari mereka, 71,9 persen, adalah perempuan.
Herbisida, pupuk kimia, dan tubuh perempuan yang ternyata menanggung beban penyakit paling berat
Choudhury dan Sumit menjumlahkan semua keluhan tiap pekerja menjadi satu skor beban penyakit, lalu mencari apa yang paling kuat berkaitan dengannya. Jawabannya bahan kimia pertanian. Pekerja yang terpapar herbisida menanggung beban 2,53 kali lipat dibanding yang tidak terpapar. Pekerja yang terpapar pupuk kimia menanggung beban penyakit 2,77 kali lipat dibanding yang tidak terpapar.
Perempuan menyusul di urutan berikutnya. Setelah faktor lain diperhitungkan, beban penyakit pekerja perempuan 1,35 kali lipat beban pekerja laki-laki. Para penulis menduga paparan kerja yang lama, tugas manual berulang, kerentanan gizi, dan beban ganda antara kerja upahan dan mengurus rumah tangga ikut berperan, tanpa bisa memastikan mana yang paling menentukan.
Lalu muncul temuan yang terbalik dari dugaan. Pekerja yang memakai alat pelindung diri justru menanggung beban penyakit 1,28 kali lipat. Sarung tangan dipakai 65,2 persen pekerja, masker 19,7 persen, dan topi 15,2 persen. Di titik inilah kedua penulis menahan pembacanya agar tidak melompat ke kesimpulan yang salah.
“Karena itu, temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa APD meningkatkan risiko penyakit,” tulis Suteerna Choudhury dan Dr. Kumar Sumit dalam naskah berbahasa Inggris itu. Menurut mereka, pekerja yang sudah sakit atau yang paling sering terpapar bahaya bisa jadi lebih mungkin memakai pelindung, atau ditugaskan ke pekerjaan berisiko tinggi yang memang mewajibkannya.
Usia di atas 40 tahun, buta huruf, pendapatan bulanan rendah, dan pelatihan keselamatan tidak berkaitan secara bermakna dengan beban penyakit setelah faktor lain diperhitungkan. Karena ini penelitian potong lintang, semua hubungan tersebut hanya bisa dibaca sebagai keterkaitan. Tidak satu pun membuktikan bahwa herbisida atau pupuk kimia secara langsung menyebabkan penyakit tertentu pada pekerja kebun teh itu.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Nyeri otot membawa orang ke rumah sakit kebun, sementara diabetes dan tuberkulosis dibiarkan menunggu di rumah
Siapa yang akhirnya berangkat berobat? Pekerja dengan keluhan otot dan tulang 69,9 persen berobat, sementara yang tanpa keluhan itu tak satu pun berobat. Pekerja dengan gangguan napas 71,3 persen berobat, dibanding 10 persen pada yang napasnya baik. Dua keluhan ini langsung mengganggu fisik dan kemampuan kerja, sehingga mungkin lebih cepat mendorong orang mencari pengobatan.
Tuberkulosis dan diabetes bercerita lain. Pekerja yang melaporkan tuberkulosis berobat 67,5 persen, hampir sama dengan 66,1 persen pada yang tidak. Pekerja diabetes berobat 67,6 persen, yang tanpa diabetes 66,2 persen. Kulit dan cedera kerja juga tidak membuat beda yang bermakna. Keberadaan penyakit-penyakit itu tidak membuat pekerja lebih sering datang ke fasilitas kesehatan.
“Temuan ini menimbulkan kekhawatiran soal tertundanya pencarian pengobatan untuk kondisi kronis dan yang berpotensi serius,” tulis kedua peneliti, juga dalam bahasa Inggris. Mereka menilai perlu kesadaran kesehatan yang lebih baik dan program penapisan rutin, serta menyarankan pemeriksaan kesehatan kerja berkala dipadukan ke layanan kesehatan perkebunan yang sudah ada.
Dua faktor lain ternyata mendorong orang berobat. Pekerja berpendapatan bulanan paling tinggi 8.600 rupee berpeluang berobat 4,99 kali lipat. Pekerja berstatus janda atau duda berpeluang 5,07 kali lipat. Para penulis mengakui temuan pendapatan ini terlihat berlawanan dengan akal sehat, lalu menduga pekerja miskin menanggung penyakit lebih berat sehingga kebutuhannya berobat lebih besar.
Kesimpulan-kesimpulan itu punya batas yang tegas. Tuberkulosis, diabetes, hipertensi, dan penyakit kronis lain hanya dilaporkan sendiri oleh pekerja, tidak diperiksa lewat rekam klinis atau laboratorium. Penelitian dilakukan di satu kebun teh saja, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi perkebunan lain, dan tingkat serta lamanya paparan bahan kimia tidak diukur secara objektif.
Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat
Angka-angka yang tidak saling cocok di dalam naskah, dan resep yang tetap tinggal di tangan
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang saling bertabrakan. Tabel profil pekerja mencatat 101 orang atau 60,5 persen tidak memakai alat pelindung apa pun, tetapi tabel yang sama menyebut 109 orang atau 65,2 persen memakai sarung tangan. Kedua angka itu sulit benar bersamaan bila kategori pertama berarti tanpa pelindung sama sekali.
Gangguan rahim ditulis dialami 3,6 persen peserta perempuan, padahal enam orang dari 120 perempuan setara 5 persen. Angka 3,6 persen justru cocok bila enam dibagi seluruh 167 peserta. Jumlah pekerja bergejala juga bergeser, dari 146 orang di teks menjadi 139 orang di tabel analisis berobat.
Tabel yang sama mencatat 133 dari 139 pekerja punya keluhan otot dan tulang, sementara tabel pola penyakit hanya menyebut 88 orang atau 52,7 persen yang mengeluh nyeri otot atau sendi. Akses ke layanan primer juga disebut berkaitan positif dengan beban penyakit, meski nilai p-nya 0,067 dan rentang kepercayaannya 0,99 hingga 1,51 masih memuat angka satu.
Di ujung semua tabel itu, sebelas resep tetap tidak ditebus dan lima puluh tiga orang meminum obatnya sesekali saja. Delapan puluh dua pekerja yang sudah berobat tidak memakai skema kesehatan pemerintah. Mereka kembali ke barisan perdu teh yang sama, dengan herbisida, pupuk kimia, dan batuk berdahak yang tadi membawa mereka ke rumah sakit kebun.















