- Kelompok berkebun turun dari rata-rata 10,27 menjadi 8,58 setelah empat pertemuan.
- Naskah mencatat ukuran efek penurunan gejala depresi sebesar Cohen d minus 0,34, yang tergolong kecil hingga sedang.
- Kegiatan berkebun bisa dibingkai sebagai rekreasi atau kegiatan ekstrakurikuler, sehingga risiko diberi label berkurang.
- Tidak ada kejadian merugikan yang dilaporkan.
Daftar Isi
Hortikultura, dalam bahasa sehari-hari, adalah pekerjaan merawat tanaman: menanam bibit, menyiangi rumput, menyiram, memanen, lalu mengolah hasilnya menjadi makanan. Di Hong Kong, pekerjaan yang terdengar biasa itu diuji sebagai pertolongan awal bagi anak muda yang mulai dihinggapi gejala depresi. Hasilnya menurunkan skor gejala depresi, walau selisihnya tidak besar.
Uji itu dilaporkan Po Yan Sin, William Ho Cheung Li, Hong Chen, dan Xinyi Xu dalam Nurse-led horticultural activities as an early intervention for mild-to-moderate depressive symptoms among youth in Hong Kong: an exploratory randomised controlled trial, terbit di BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Keempatnya berasal dari The Nethersole School of Nursing, Faculty of Medicine, The Chinese University of Hong Kong.
Hortikultura: Merawat Tanaman Bersama
Maksudnya bukan berkebun sendirian di halaman rumah. Program ini berlangsung berkelompok, sepuluh sampai lima belas orang, di Tai Po Living Farm, sebuah kebun rekreasi di desa pinggiran Hong Kong. Setiap peserta mendapat petak sendiri berukuran sekitar 1,5 kali 1 meter yang diberi label namanya selama program berjalan.
Tanaman yang dipilih adalah selada romaine, crown daisy atau krisan tangkai, dan water spinach alias kangkung. Pemandunya dua orang: seorang perawat terdaftar yang punya pengalaman berkebun di atap dan di dalam ruangan, serta seorang petani organik bersertifikat yang juga pemilik kebun. Petani itu pula yang merawat tanaman peserta di antara pertemuan.
Isi empat pertemuannya berjenjang. Pekan pertama peserta memindahkan bibit ke petak dan belajar dasar merawat tanaman. Pekan kedua mereka mengamati bibit yang tumbuh atau gagal, lalu memilah penyebab kegagalan menjadi yang bisa dikendalikan dan yang tidak. Pekan ketiga diisi tur kebun, dan pekan keempat panen yang ditimbang lalu diolah menjadi piza di tungku bata.
Bedanya dengan kerja kebun biasa ada pada percakapan yang menyertainya. Pada pekan kedua, perawat memakai tanaman sebagai perumpamaan: tanaman yang bertahan di kondisi buruk dipadankan dengan kemampuan anak muda menyesuaikan diri terhadap masalahnya. Tema yang diangkat adalah menerima kegagalan, mengelola perfeksionisme, dan menantang pikiran negatif.
Setiap pertemuan ditutup dengan lingkaran. Peserta berkumpul, perawat memberi dukungan psikologis, mengakui usaha mereka, dan merangkum kegiatan hari itu. Pada pekan terakhir, perawat mengajukan pertanyaan terbuka agar peserta mengenali kekuatan diri yang tampak selama program, dan sumbangan tiap orang disebut satu per satu.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Gejala Depresi Ringan-Sedang: Belum Tentu Diagnosis
Istilah gejala depresi di sini perlu dibaca hati-hati. Maksudnya bukan orang yang sudah didiagnosis depresi oleh dokter, melainkan anak muda yang mengisi PHQ-9, kuesioner sembilan butir tentang seberapa sering gejala depresi muncul. Skornya bergerak dari 0 sampai 27, dan program ini hanya menerima skor 5 sampai 19.
Rentang itu, menurut naskah, menandai gejala ringan sampai sedang. Skor 20 ke atas dianggap berat dan pemiliknya disarankan mencari bantuan medis profesional. Orang yang sudah punya diagnosis gangguan psikologis atau sedang minum obat psikoaktif juga tidak diikutkan. Jadi yang diuji adalah pertolongan dini, sebelum gejala berkembang lebih jauh.
Pesertanya 108 anak muda Hong Kong berusia 15 sampai 24 tahun yang berbahasa Kanton, dibagi sama besar antara kelompok berkebun dan kelompok pembanding. Rata-rata usia mereka 21,43 tahun, 64,8 persen perempuan, dan 74,1 persen berpendidikan universitas. Skor PHQ-9 awal rata-rata 10,11, tepat di wilayah sedang.
Para penulis menaruh angka itu di tengah keadaan yang lebih luas. Naskah mencatat sekitar 51,9 persen siswa sekolah menengah dan 40 persen mahasiswa di Hong Kong melaporkan gejala depresi. Beban sekolah dan kuliah yang berat serta harapan orang tua yang tinggi terhadap prestasi disebut berkaitan kuat dengan gejala itu.
Naskah juga menyoroti celah dalam sistem layanan kesehatan jiwa Hong Kong yang bertingkat tiga. Tingkat paling dasar, yang menyasar semua pelajar, dinilai terbatas karena banyak mengandalkan kegiatan pasif sekali jalan, seperti membaca poster atau menulis kartu terima kasih. Kegiatan semacam itu, menurut para penulis, sering tidak berdampak berarti pada kesehatan jiwa pelajar.
Restorasi Perhatian: Pikiran yang Diistirahatkan
Mengapa kebun, bukan ruang kelas? Para penulis bersandar pada Attention Restoration Theory, atau teori pemulihan perhatian, dari Kaplan. Bedanya begini: ada perhatian terarah yang dipakai saat belajar atau bekerja keras, dan ada perhatian tanpa usaha yang muncul saat mata dan pikiran dibiarkan hanyut pada lingkungan alam.
Perhatian terarah yang dipakai terus-menerus, menurut teori itu, berujung pada kelelahan perhatian. Naskah menghubungkan kelelahan ini dengan gejala depresi, karena beban pikiran yang tak kunjung turun bisa mengganggu pengaturan emosi dan membuat seseorang lebih rentan menyalahkan diri, putus asa, dan menarik diri dari pergaulan.
Kebun dipilih sebagai lingkungan yang memulihkan. Tai Po Living Farm terletak di desa dengan pemandangan lapang dan tenang, jauh dari tekanan harian. Tur kebun pada pekan ketiga, yang melewati rumah kaca, sistem irigasi, dan petak tanaman, dirancang khusus untuk memberi jeda bagi perhatian yang lelah.
Ada alasan lain yang lebih sosial. Dalam budaya Tionghoa, tulis para penulis, penyakit jiwa masih dianggap peka, dan cap sebagai orang yang tidak sehat jiwanya bisa membuat anak muda enggan mencari pertolongan. Kegiatan berkebun bisa dibingkai sebagai rekreasi atau kegiatan ekstrakurikuler, sehingga risiko diberi label berkurang dibanding terapi konvensional.
Ukuran Efek: Seberapa Besar Selisihnya
Hasil utamanya tampak pada skor PHQ-9. Kelompok berkebun turun dari rata-rata 10,27 menjadi 8,58 setelah empat pertemuan, lalu 8,78 empat minggu kemudian. Kelompok pembanding, yang hanya dipantau berkala dan diberi pamflet kesehatan jiwa dari Department of Health Hong Kong, bergerak dari 10,23 ke 9,75 lalu 9,67.
Ukuran efek adalah cara menyatakan seberapa besar selisih itu, terlepas dari lolos atau tidaknya uji statistik. Naskah mencatat ukuran efek penurunan gejala depresi sebesar Cohen d minus 0,34, yang tergolong kecil hingga sedang. Angka ini lebih kecil daripada hasil meta-analisis kegiatan hortikultura pada orang dewasa, yang mencatat minus 0,67.
Kalimat kesimpulan para penulis sendiri memuat dua sisi itu sekaligus. “Uji acak terkontrol eksploratif ini menunjukkan bahwa aktivitas hortikultura dapat secara efektif menurunkan gejala depresi di kalangan anak muda Hong Kong, dengan ukuran efek yang kecil tetapi bermakna,” tulis Po Yan Sin dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Kata efektif dalam kalimat itu tidak berarti besar. Tiga ukuran lain, yaitu kecemasan, harga diri, dan kualitas hidup, juga membaik lebih banyak di kelompok berkebun secara angka, tetapi tidak satu pun bermakna secara statistik. Ukuran efeknya masing-masing minus 0,17, minus 0,30, dan minus 0,24 menurut naskah.
Para penulis menawarkan beberapa kemungkinan penyebab selisih yang lebih kecil dari harapan. Program ini termasuk yang pertama di Hong Kong sehingga contoh lokal untuk merancangnya terbatas. Skor awal kelompok berkebun, rata-rata 10,24, menunjukkan kebanyakan peserta hanya bergejala ringan, sehingga ruang untuk perbaikan yang terukur memang sempit.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Kelayakan: Mau Datang dan Bertahan
Kelayakan dalam naskah ini berarti pertanyaan sederhana: apakah anak muda mau mendaftar, datang, dan bertahan sampai selesai. Dari 139 pendaftar, 131 memenuhi syarat atau 94,2 persen, dan 108 akhirnya ikut atau 77,7 persen. Target peserta tercapai dalam tiga bulan, hampir seluruhnya lewat jalur daring dan hanya satu orang lewat selebaran.
Yang bertahan setelah empat pertemuan ada 96 orang atau 88,9 persen, sedangkan empat minggu kemudian tinggal 75 orang atau 69,4 persen. Alasan terbanyak keluar adalah bepergian, terutama saat libur umum, yakni 14 dari 33 yang mundur. Lebih dari 90 persen peserta hadir sedikitnya tiga kali, dan tidak ada kejadian merugikan yang dilaporkan.
Tanggapan peserta umumnya positif. Banyak yang semula membayangkan harus bekerja keras seperti petani di televisi, lalu mendapati tugasnya cukup ringan untuk pemula. Menyiangi dan memindahkan bibit termasuk tugas yang paling disukai, dan seorang peserta mulai berkebun sebagai hobi bersama empat orang lain setelah program usai.
Titik lemahnya ada di pekan ketiga. Pertemuan tur kebun, yang paling sedikit pekerjaan tangan, mencatat angka absen tertinggi, yaitu 25,9 persen dari seluruh ketidakhadiran. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa program perlu lebih banyak kegiatan interaktif agar peserta tetap tertarik datang sampai akhir.
Dari sisi biaya, program ini dinilai hemat. Ia dijalankan seorang perawat dan seorang petani tanpa melibatkan psikiater atau psikolog klinis, sehingga tidak menambah beban sistem layanan kesehatan publik. Format kelompok juga membuat satu pemandu bisa melayani banyak peserta sekaligus dalam satu pertemuan.
Batas temuannya dinyatakan terang oleh para penulis. Semua hasil bersandar pada kuesioner yang diisi sendiri, tanpa penilai independen yang tidak tahu kelompok peserta. Kegiatan luar ruang bisa menyaring anak muda yang lebih suka di dalam ruangan atau punya keterbatasan fisik, dan hasilnya tidak berlaku bagi yang bergejala berat atau berusia di bawah 15 tahun.
Sampelnya pun hanya dari Hong Kong, kota padat berpenghasilan tinggi dengan norma budaya tersendiri, sehingga naskah meminta kehati-hatian bila temuan ini dibawa ke tempat lain. Peserta usia sekolah juga jauh lebih sedikit dari mahasiswa. Para penulis menyarankan uji yang lebih besar, program delapan minggu, serta kebun di sekolah, kampus, dan rumah keluarga.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Selang Kepercayaan: Angka yang Tak Sejalan
Selang kepercayaan adalah rentang tempat nilai sebenarnya diperkirakan berada. Di bagian hasil, naskah menulis penurunan gejala setelah program dengan beta minus 1,207, selang minus 1,820 sampai minus 0,043, dan P 0,028. Untuk empat minggu kemudian tertulis beta minus 0,932, selang minus 2,233 sampai minus 0,180, dan P 0,061.
Rentang kedua itu tidak menyentuh nol, tetapi nilai P-nya dinyatakan tidak bermakna. Tabel 3 justru mencantumkan P 0,050 untuk titik pertama dan P 0,610 untuk titik kedua, sedangkan angka 0,028 di tabel itu adalah efek interaksi kelompok dan waktu. Pembaca yang teliti bisa mencocokkan ketiga angka tersebut sendiri.
Selisih lain muncul di beberapa tempat. Rentang ukuran efek tiga studi terdahulu tentang anak muda ditulis minus 0,92 sampai 0,56 di latar belakang, tetapi minus 1,03 sampai 0,56 di pembahasan. Satu peserta yang mulai berkebun di bagian hasil berubah menjadi beberapa peserta di pembahasan.
Kualitas hidup juga patut dicermati. Tabel 3 memuat P 0,005 dan 0,004 untuk perbandingan kualitas hidup pada dua titik waktu, sementara teks menyatakan tidak ada perubahan bermakna pada titik waktu mana pun. Soal skor awal yang rendah pun disebut efek langit-langit di pembahasan, lalu efek lantai di bagian keterbatasan.
Aktivitas hortikultura dalam naskah ini akhirnya adalah empat pekan berkebun bersama perawat dan petani, bagi anak muda Hong Kong yang gejalanya belum berat. Istilah itu tidak mencakup pengobatan depresi yang sudah terdiagnosis, dan kata efektif yang menyertainya berarti penurunan skor yang kecil tetapi terukur, bukan kesembuhan.















