Tradisi Hadiah Hajatan Makassar di Jeneponto, Perekat atau Utang

A A

Tamu berbusana adat menyambut pengantin pria dengan tari paduppa dalam pernikahan adat Bugis, Sulawesi Selatan [Foto: Desty Rahmadany/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hadiah di Jeneponto dulu diberikan untuk mempererat ikatan sosial, tetapi kini berubah menjadi alat tukar-menukar tidak langsung.
  • Dalam satu musim, setiap warga bisa menerima puluhan undangan dan diharapkan membalas dengan hadiah bernilai setara.
  • Di akhir acara, seluruh hadiah yang terkumpul biasanya dijual untuk menutup berbagai biaya, termasuk hidangan daging kuda.
  • Tekanan itu, menurut paper, dapat berujung pada stres keuangan yang berkepanjangan hingga masalah utang.
Daftar Isi
  1. Bungkusang sebagai Ikatan
  2. Bungkusang sebagai Utang
  3. Musim Panen bagi Tuan Rumah
  4. Musim Panen bagi Para Tamu
  5. Tawaran Penulis untuk Jeneponto
  6. Celah yang Tersisa di Naskah

Beras yang dibawa tamu dan daging kuda yang dihidangkan tuan rumah tampak tidak punya urusan satu sama lain, tetapi di Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, keduanya terikat dalam satu hitungan. Beras datang sebagai hadiah, lalu dijual untuk membayar pesta. Yang satu lambang kedekatan keluarga, yang lain lambang kemampuan menjamu, dan di antara keduanya berdiri sebuah kewajiban yang tidak pernah ditulis.

Hitungan itu ditelusuri Fatjri Nur Tajuddin dan Afidatul Asmar, keduanya dari Institut Agama Islam Negeri Parepare, dalam artikel The Socio-economic Transformation in Makassar Tribe Gift-giving Tradition: Reconstructing Social Welfare Strategy di Cosmopolitan Civil Societies: An Interdisciplinary Journal volume 16 nomor 2, tahun 2024. Naskahnya berbahasa Inggris, sehingga seluruh kutipan di sini diterjemahkan, dan bahannya berasal dari empat bulan pengamatan lapangan pada 2023.

Tradisi yang mereka potret dikenal warga setempat sebagai bungkusang, yakni hadiah untuk keluarga yang menggelar hajatan. Isinya beras, sarung, uang, dan bahan pokok, yang nilainya bisa mencapai jutaan rupiah. Hajatan yang dimaksud pun beragam, mulai dari pernikahan, sunatan, syukuran rumah baru, tahlilan, hingga aqiqah untuk merayakan kelahiran anak.

Bungkusang sebagai Ikatan

Sisi pertama tradisi ini adalah sisi yang paling mudah dikenali. Menurut paper, pemberian hadiah di Turatea berfungsi mempererat ikatan sosial, menjaga hubungan, dan mengungkapkan kasih sayang. Pada momen seperti pernikahan, hadiah menjadi cara menyatakan dukungan, rasa hormat, dan kegembiraan bersama, sekaligus cara menghargai sumbangsih seseorang dalam sebuah hubungan atau di tengah komunitas.

Dampaknya juga terasa di kedua belah pihak. Penerima hadiah, tulis kedua peneliti, sering merasa dihargai, dicintai, dan diakui, sehingga ikatan emosionalnya dengan pemberi menguat. Pemberi pun merasakan bahagia dan puas ketika melihat tanggapan positif dari penerima. Paper menyebut pertukaran semacam ini menciptakan lingkaran positif dalam hubungan antara keduanya.

Kedua peneliti membaca sisi ini lewat teori fungsionalisme struktural, yang memandang setiap bagian masyarakat berperan menjaga keseimbangan sistem sosial. Dalam kerangka itu, pemberian hadiah adalah salah satu mekanisme yang memperkuat hubungan antarindividu dan antarkelompok di Jeneponto. Hadiah pernikahan, misalnya, tidak hanya melambangkan dukungan materi, tetapi juga kesetiaan, komitmen, dan persatuan dua keluarga yang terlibat.

Di bagian kesimpulan, Tajuddin dan Asmar merumuskan sisi ini dengan tegas. “Pemberian hadiah tidak hanya dianggap sebagai tindakan pertukaran materi, tetapi juga ungkapan mendalam dari keterikatan sosial, solidaritas, dan rasa hormat di dalam komunitas,” tulis keduanya. Bagi paper ini, praktik memberi dan menerima punya peran penting menjaga stabilitas sosial dan memperkuat kohesi warga Jeneponto.

Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera

Bungkusang sebagai Utang

Sisi kedua bergerak ke arah sebaliknya. Paper mencatat bahwa hadiah di Jeneponto dulu diberikan untuk mempererat ikatan sosial dan menunjukkan sopan santun, tetapi kini berubah menjadi alat tukar-menukar tidak langsung, dengan balasan yang nilainya paling tidak setara atau lebih besar. Hadiah yang semula bebas, tanpa mengharap kembali, bergeser menjadi hadiah wajib yang harus dibalas.

Kewajiban itu, menurut kedua peneliti, dibentuk ulang oleh masyarakat sendiri dan tidak tertulis di mana pun. Setiap orang yang pernah menerima hadiah terikat untuk membalasnya ketika tiba giliran hajatan pihak lain. Di beberapa daerah, tulis paper, kegagalan membalas hadiah bahkan diumumkan secara terbuka bila seseorang tidak membawa apa pun ke hajatan orang yang dulu memberinya.

Bungkusang dulu dan kiniPerbandingan makna pemberian hadiah hajatan suku Makassar di Jeneponto dulu dan kini.Bungkusang dulu dan kiniPergeseran tradisi hadiah hajatan di Turatea, JenepontoDuluKiniIkatan sosialSaling tukarTujuanHadiah bebasHadiah wajibSifatTak diharapSetara atau lebihBalasanSopan santunStatus dan gengsiMaknaKewajiban membalas tidak tertulis. Di beberapa daerah, kegagalanmembalas diumumkan terbuka. Paper tidak menyebut kapan pergeseranitu dimulai.
Sumber: Fatjri Nur Tajuddin dan Afidatul Asmar, The Socio-economic Transformation in Makassar Tribe Gift-giving Tradition: Reconstructing Social Welfare Strategy, Cosmopolitan Civil Societies: An Interdisciplinary Journal, 16(2), 2024. Grafik: Cekricek.id

Pada sisi ini pula paper menaruh kutipan yang menjadi pasangan kutipan pertama. “Di komunitas Turatea, pemberian hadiah bukan sekadar berbagi, ia membawa makna penting, dan dapat menimbulkan tekanan keuangan bagi kedua pihak,” tulis Tajuddin dan Asmar. Pemberi terdesak menyiapkan hadiah mahal di luar kemampuannya, sementara penerima terikat membalas ketika pemberi itu kelak menggelar hajatan.

Tekanan itu, menurut paper, dapat berujung pada stres keuangan yang berkepanjangan hingga masalah utang. Tradisi ini juga memupuk persaingan dan harapan yang tinggi, karena orang merasa perlu memberi lebih besar atau lebih berharga daripada yang pernah ia terima. Perasaan itulah, tulis kedua peneliti, yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan tekanan di antara warga.

Musim Panen bagi Tuan Rumah

Kedua sisi itu bertemu di satu titik waktu, yakni sesudah panen padi. Jeneponto digambarkan sebagai daerah pertanian dengan padi sebagai sumber penghasilan utama, dan hajatan seperti pernikahan serta sunatan umumnya digelar setelah panen, antara April dan Mei. Dalam satu musim, menurut paper, puluhan keluarga bisa menggelar hajatan hampir bersamaan.

Bagi tuan rumah, bungkusang adalah modal. Paper mencatat bahwa praktik ini cepat populer karena dianggap membantu terlaksananya acara, bahkan ketika penyelenggara tidak punya cukup dana. Di akhir acara, seluruh hadiah yang terkumpul biasanya dijual untuk menutup berbagai biaya, termasuk dekorasi dan hidangan utama seperti daging kuda, yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Di sisi tuan rumah pula muncul dorongan gengsi. Setiap orang, tulis paper, berusaha menggelar pernikahan atau sunatan berbiaya tinggi dengan sumber daya yang minim, sebagai cara menaikkan status sosial dan menunjukkan prestise di tengah masyarakat. Hadiah yang semula tanda kedekatan pun menjadi, dalam bahasa paper, sarana laten untuk menyampaikan tanda kekayaan dan status sosial.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Musim Panen bagi Para Tamu

Pada kasus kedua, musim yang sama terlihat lain dari kursi tamu. Menurut paper, pendapatan warga Turatea tidak sepadan dengan nilai hadiah yang harus disiapkan ketika banyak hajatan berlangsung. Dalam satu musim, setiap warga bisa menerima puluhan undangan, dan pada saat itu mereka diharapkan membalas dengan hadiah yang nilainya setara dengan yang dulu mereka terima.

Warga, tulis kedua peneliti, menyiapkan hadiah di setiap musim panen tanpa memikirkan kestabilan keuangan mereka ke depan. Sistem ekonomi yang tidak teratur ini lalu merembes ke hubungan antarpribadi, yang tidak lagi dijalani karena alasan sosial atau budaya, tetapi karena kebutuhan membalas hadiah sebelumnya.

Lingkaran hadiah musim hajatanAlur dari panen padi, puluhan undangan, hadiah dijual untuk biaya pesta, kewajiban membalas, hingga tekanan keuangan dan utang.Lingkaran hadiah musim hajatanAlur yang digambarkan paper di Kecamatan TurateaPanenpadihajatanApril-MeiDiundangpuluhan permusimHadiahdijualtutup biayapestaWajibdibalassetara ataulebihUtangtekanankeuanganPaper menyebut beras, sarung, uang, dan bahan pokok sebagai isibungkusang, nilainya bisa jutaan rupiah.
Sumber: Fatjri Nur Tajuddin dan Afidatul Asmar, The Socio-economic Transformation in Makassar Tribe Gift-giving Tradition: Reconstructing Social Welfare Strategy, Cosmopolitan Civil Societies: An Interdisciplinary Journal, 16(2), 2024. Grafik: Cekricek.id

Ketimpangan juga tampak dari kursi tamu. Hadiah mewah atau bernilai tinggi, menurut paper, dapat memperkuat ketimpangan sosial dan ekonomi, karena yang mampu memberi mendapat keuntungan, sementara yang tidak mampu merasa terpinggirkan atau kurang dihargai. Paper menyebut pemberian yang berpusat pada nilai materi dapat menggeser perhatian dari empati, kepedulian, dan kerja sama.

Kedua peneliti lalu menyatukan kedua kursi itu dalam satu kesimpulan. Tekanan keuangan yang dialami sebagian keluarga dalam memenuhi kewajiban membalas, ditambah potensi retaknya hubungan akibat perasaan negatif penerima dan dampaknya pada pemberi, menurut mereka dapat berujung pada rusaknya tatanan sosial komunitas. Tradisi yang semula perekat, dengan kata lain, berisiko menjadi pemecah.

Tawaran Penulis untuk Jeneponto

Di tengah kedua sisi itu, paper menemukan satu hal yang sama-sama dimiliki warga. Berdasarkan analisis dampak yang terjadi, kedua peneliti mendapati kesediaan umum masyarakat untuk mengubah tradisi yang sedang berjalan, terutama menyangkut kesadaran dan pentingnya pendidikan. Dari situlah mereka menyusun apa yang disebut strategi rekonstruksi kesejahteraan sosial.

Langkah pertama adalah menumbuhkan kesadaran lewat pendidikan publik dan kampanye informasi, termasuk kampanye untuk mengurangi tekanan memberi hadiah mahal. Langkah kedua menyangkut ekonomi rumah tangga, yakni mengajari individu dan keluarga merencanakan keuangan, menyusun anggaran, dan mengelola utang. Paper juga menekankan nilai nonmateri, seperti pengalaman bersama, waktu dengan keluarga, atau hadiah yang bermakna emosional.

Semua langkah itu, menurut kedua peneliti, menuntut kerja sama individu, keluarga, komunitas, dan pemerintah. Namun mereka juga menandai batasnya sendiri. “Namun, komunitas ini tidak bisa dilindungi dari nilai-nilai masyarakat yang lebih luas tentang konsumerisme dan kenaikan status,” tulis Tajuddin dan Asmar, sehingga pendidikan harus pula menyadarkan warga tentang kerusakan jangka panjang dari rantai balas hadiah yang tidak berkelanjutan.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Celah yang Tersisa di Naskah

Temuan ini punya batas yang perlu dibaca bersama. Pengamatan hanya mencakup satu kecamatan dalam satu musim hajatan, dengan tiga keluarga penyelenggara pernikahan dan sunatan sebagai pusat pengamatan. Paper tidak menyajikan angka pendapatan warga, nilai bungkusang per keluarga, atau besar utang, sehingga ukuran tekanan keuangan yang digambarkannya tetap berupa uraian, bukan hitungan.

Beberapa hal dalam naskah juga bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Abstrak menyebut dilema keberlanjutan lingkungan, tetapi badan naskah tidak menyajikan temuan lingkungan dari Turatea. Dilema etis dibahas dalam konteks bisnis atau politik tanpa dikaitkan dengan kasus hajatan di Jeneponto. Wawancara dengan tokoh agama dan pejabat setempat disebut, tetapi tidak satu pun pernyataan mereka dikutip, dan jumlah informannya tidak dicantumkan.

Ada pula soal redaksi yang kecil. Kalimat kunci tentang kewajiban membalas menyebut hadiah wajib dikembalikan ketika penerima hadiah menggelar kegiatan, padahal alur paper menunjukkan balasan diberikan ketika si pemberi yang menggelar hajatan. Naskah ditulis dua orang, tetapi bagian metode dan ucapan terima kasih memakai kata saya, merujuk pada penulis utama.

Pada akhirnya paper ini memperlihatkan dua wajah dari satu bungkusang tanpa memutus salah satunya. Di satu sisi ada solidaritas, rasa hormat, dan persatuan keluarga yang dijaga lewat hadiah. Di sisi lain ada tekanan keuangan, gengsi, dan utang yang tumbuh dari kewajiban membalas. Keduanya hidup di musim panen yang sama, di meja hajatan yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Novel Korpus Uterus: Empat Ketidakadilan dan Empat Perlawanan
Tari Sepi ISI Padangpanjang Pentaskan Kesepian Remaja
Pekerja Rumah Tangga Peru: Libur Ada, Slip Gaji Cuma 2,8 Persen
Lowalangi, Nama Dewa Nias yang Kini Disebut dalam Doa Kristen
ORPA Namblong, Saat Adat Dipakai Membela Perempuan Papua
Yatai Kesehatan di Gang Tokyo, Obrolan Jarang Soal Penyakit