Panas di Rumah Desa Tamil Nadu Menjalar Jadi Cemas Iklim

A A

Perempuan desa menanam bibit padi di sawah tergenang berlatar pohon kelapa, Tamil Nadu, India [Foto: Thamizhpparithi Maari/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 84 persen perempuan dalam kajian ini hidup di atas garis tersebut.
  • Median keduanya melampaui batas untuk kerja sedang dan berat, sehingga berpindah dari halaman ke dapur tidak membawa kelegaan.
  • Pada kelompok terpapar, cemas berat mencapai 39,3 persen, sedangkan pada kelompok kurang terpapar hanya 7,3 persen.
  • Dampak sosial yang paling banyak dilaporkan adalah konflik keluarga sebesar 88 persen dan terganggunya interaksi sosial sebesar 85 persen.
Daftar Isi
  1. Cara panas diukur di pekarangan dan di dapur
  2. Mengapa rumah tidak lagi mendinginkan
  3. Dari tubuh yang kepanasan ke keluhan yang tercatat
  4. Bagaimana panas berubah menjadi cemas iklim
  5. Siapa yang paling tertekan dan mengapa kipas tidak cukup
  6. Ketika kecemasan masuk ke meja keluarga
  7. Di mana penjelasan berhenti dan angka tidak cocok

Rumah biasanya dianggap tempat berlindung dari terik siang. Di lima belas desa di Tamil Nadu, India, anggapan itu tidak berlaku, sebab ruang tamu, dapur, dan kamar tidur tercatat sama panasnya dengan halaman di depan pintu, bahkan sedikit lebih panas. Yang lebih ganjil, panas itu tidak berhenti sebagai keluhan badan. Ia ikut muncul sebagai rasa cemas, lalu sebagai pertengkaran di dalam keluarga.

Rangkaian itu dipetakan oleh Gayathri KG, Rekha S, Vidhya Venugopal, Vijayalakshmi P, dan Krishnan S dalam artikel High Heat Exposure and Climate Anxiety among Rural Women in Tamil Nadu: Health and Social Impacts. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya berasal dari Sri Ramachandra Institute of Higher Education and Research di Chennai, sedangkan Krishnan S berasal dari All India Institute of Medical Sciences di Guwahati, Assam.

Mereka mendatangi 350 perempuan desa berusia 18 sampai 45 tahun di distrik Thiruvallur, Kanchipuram, dan Ranipet selama musim panas April hingga Agustus 2025. Rata-rata usia para perempuan itu 34,5 tahun, dan sebagian besar sudah menikah. Pertanyaan yang mereka kejar sederhana tetapi jarang diajukan: apakah panas yang terukur di sekitar rumah berkaitan dengan sakit badan, kecemasan, dan retaknya kehidupan sosial perempuan desa.

Cara panas diukur di pekarangan dan di dapur

Panas dalam kajian ini tidak ditanyakan lewat perasaan, melainkan diukur dengan indeks suhu bola basah atau WBGT, ukuran beban panas lingkungan. Alat ditaruh di ruang tamu, dapur, kamar tidur, dan tepat di luar rumah. Rata-rata paparan harian para perempuan itu 30,4 derajat Celsius. Angka itu sudah melewati batas yang dipakai para peneliti sebagai garis aman.

Batas tersebut mengikuti rekomendasi American Conference of Governmental Industrial Hygienists, yakni 28 derajat untuk kerja sedang dan 27,5 derajat untuk kerja berat. Menurut naskah, pada batas itu beban panas pada tubuh tidak lagi dapat diterima bagi pekerja yang belum terbiasa dan bekerja terus-menerus. Sebanyak 84 persen perempuan dalam kajian ini hidup di atas garis tersebut.

Beban kerja mereka pun tidak ringan. Separuh lebih, 53 persen, tergolong melakukan kerja sedang, sepertiga lainnya kerja berat, dan hanya 14 persen kerja ringan. Sebagian bekerja di tempat pembakaran bata, tambang batu, ladang, dan proyek bangunan. Sebagian lain tidak bekerja di luar rumah, tetapi tetap memasak, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga.

Karena itu, garis aman yang dipakai bukan ukuran sembarangan. Ia adalah ambang untuk jenis kerja yang memang dijalani para perempuan itu setiap hari. Di ketiga distrik, paparan untuk kerja sedang maupun berat sama-sama melampaui ambang. Ranipet mencatat angka tertinggi dengan nilai ekstrem mendekati 40 derajat, sementara median Thiruvallur lebih tinggi daripada Kanchipuram.

Mengapa rumah tidak lagi mendinginkan

Di sinilah kejanggalan pembuka mendapat penjelasannya. Di luar rumah, indeks panas berkisar 25,6 sampai 37,1 derajat dengan rata-rata 30,6. Di dalam rumah, kisarannya 27,2 sampai 39,4 derajat dengan rata-rata 30,8. Median keduanya melampaui batas untuk kerja sedang dan berat, sehingga berpindah dari halaman ke dapur tidak membawa kelegaan. Artinya, beban panas di dalam rumah setidaknya setara dengan di luar.

Tinjauan pustaka di naskah menyebut sebagian besar rumah desa di India dibangun dengan bahan yang menahan panas dan berventilasi buruk. Akibatnya, suhu di dalam bisa lebih tinggi daripada di luar selama berminggu-minggu pada puncak musim panas. Perempuan yang menghabiskan banyak waktu di dalam rumah untuk pekerjaan domestik menanggung panas itu sepanjang hari tanpa jeda.

Yang membuatnya rumit, rumah para perempuan terpapar kebanyakan bukan gubuk. Sebanyak 83 persen tinggal di rumah permanen jenis pucca, 78 persen menempati rumah milik sendiri, dan hanya 9 persen melaporkan ventilasi yang kurang. Para peneliti menyimpulkan rumah tangga di sana hanya mendapat sedikit kenyamanan termal, sehingga tekanan panas bertahan di setiap sudut rumah.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Dari tubuh yang kepanasan ke keluhan yang tercatat

Panas yang menetap itu pertama-tama terbaca di tubuh. Sebanyak 80 persen perempuan, atau 280 orang, melaporkan setidaknya satu gejala sakit akibat panas selama masa penelitian. Keluhan paling umum adalah sakit kepala sebesar 72 persen, disusul kelelahan 60 persen, dehidrasi 59 persen, ruam panas 57 persen, dan kram otot 45 persen.

Satu keluhan lain disorot khusus, yakni masalah urogenital yang dialami 55 persen perempuan. Para penulis mengaitkannya dengan dehidrasi dan terbatasnya akses sanitasi di lingkungan yang serba kekurangan. Mereka menyebutnya risiko kesehatan yang spesifik gender, sebab keluhan semacam ini jarang tampil dalam daftar gejala panas yang biasa dibahas. Dalam data mereka, keluhan ini muncul hampir sesering ruam panas.

Selisih antarkelompok memperlihatkan arah mekanismenya. Pada perempuan yang terpapar di atas ambang, 85,1 persen mengalami sakit akibat panas, sedangkan pada kelompok kurang terpapar hanya 35,3 persen. Peluang melaporkan keluhan itu lebih dari sepuluh kali lipat pada kelompok terpapar. Riset terdahulu yang dirujuk naskah mencatat perempuan di sektor domestik dan informal kerap bekerja dalam panas tanpa cukup istirahat dan minum.

Terpapar panas vs kurang terpaparKeluhan akibat panas 85,1 persen pada kelompok terpapar dan 35,3 persen pada kelompok kurang terpapar; cemas iklim berat 39,3 persen berbanding 7,3 persen.Terpapar panas vs kurang terpaparPerempuan desa di Thiruvallur, Kanchipuram, dan RanipetTerpaparKurang terpapar85,1%35,3%Keluhan panas9,2%76,4%Cemas ringan51,5%16,4%Cemas sedang39,3%7,3%Cemas beratKeluhan panas dari Tabel 3; tingkat cemas iklim (skala Hogg) dariTabel 2.
Sumber: Gayathri KG, Rekha S, Vidhya Venugopal, Vijayalakshmi P, dan Krishnan S, High Heat Exposure and Climate Anxiety among Rural Women in Tamil Nadu: Health and Social Impacts, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Bagaimana panas berubah menjadi cemas iklim

Langkah berikutnya lebih sulit ditangkap: dari tubuh ke pikiran. Naskah memakai istilah eco-anxiety, yang di sini disebut cemas iklim, yaitu rasa khawatir, takut, tak berdaya, dan tertekan yang terus-menerus karena menyadari kerusakan lingkungan. Para penulis menegaskan cemas iklim tidak digolongkan sebagai gangguan jiwa, melainkan beban emosional yang dapat mengganggu keseharian.

Hasilnya berat. Sebanyak 46 persen perempuan mengalami cemas iklim tingkat sedang, 34 persen tingkat berat, dan hanya 20 persen tingkat ringan. Pada kelompok terpapar, cemas berat mencapai 39,3 persen, sedangkan pada kelompok kurang terpapar hanya 7,3 persen. Sebaliknya, cemas ringan mendominasi kelompok kurang terpapar dengan 76,4 persen. Jika digabung, 80 persen perempuan dalam kajian ini mengalami cemas iklim sedang sampai berat.

Persoalannya, cemas iklim yang dikenal selama ini lebih banyak dipelajari pada remaja dan warga kota di negara kaya, yang menyerap kekhawatiran iklim lewat berita dan bayangan masa depan. Kajian di Tamil Nadu membaca bentuk lain. “Kecemasan ekologis di kalangan penduduk desa di negara berpendapatan rendah dan menengah bukanlah kekhawatiran tentang masa depan, melainkan reaksi terhadap masa kini yang sudah rusak,” tulis Gayathri KG dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Setelah usia, pendidikan, pekerjaan, kepemilikan rumah, dan penyakit yang sudah ada diperhitungkan, peluang perempuan terpapar mengalami cemas sedang sampai berat justru naik menjadi 12,3 kali. Tanpa penyesuaian itu, angkanya 9,3 kali. Para penulis membaca kenaikan ini sebagai tanda bahwa faktor seperti pendidikan dan pekerjaan sempat menutupi besarnya hubungan panas dengan kecemasan.

Siapa yang paling tertekan dan mengapa kipas tidak cukup

Kecemasan itu tidak menimpa semua perempuan secara merata. Cemas berat tercatat pada 46 persen perempuan yang tidak bekerja, jauh di atas 26,8 persen pada perempuan bekerja. Para penulis menduga perempuan yang lebih lama di rumah untuk mengurus rumah dan anak lebih merasakan naiknya suhu dalam ruangan dan lebih sedikit punya kesempatan menghindarinya.

Uang juga ikut bekerja dalam mekanisme ini. Di antara perempuan yang harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk menghadapi panas, 53,4 persen mengalami cemas berat, dibanding 24,6 persen pada yang tidak. Penyewa rumah cenderung lebih cemas daripada pemilik, dan perempuan yang pernah sakit akibat panas juga lebih cemas daripada yang tidak.

Lalu bagaimana dengan alat pendingin? Tingkat kecemasan pemakai kipas angin dan pemakai pendingin udara jenis air cooler tidak berbeda bermakna. “Hubungan yang tidak bermakna antara kepemilikan alat pendingin dan tingkat keparahan kecemasan ekologis menunjukkan bahwa sumber tekanan pada individu mungkin tidak dapat diredakan oleh alat pendingin saja,” tulis para penulis dalam bahasa Inggris aslinya.

Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

Ketika kecemasan masuk ke meja keluarga

Rantai mekanisme itu tidak berhenti di kepala masing-masing perempuan. Dampak sosial yang paling banyak dilaporkan adalah konflik keluarga sebesar 88 persen dan terganggunya interaksi sosial sebesar 85 persen. Sebanyak 70 persen kesulitan mengerjakan urusan rumah, 65 persen merasa tugas mengasuh terganggu, dan 52 persen makin jarang hadir di acara sosial.

Cemas iklim merembes ke rumah tanggaKonflik keluarga: Persen perempuan +88%; Interaksi sosial terganggu: Persen perempuan +85%; Sulit mengerjakan urusan rumah: Persen perempuan +70%; Pengasuhan terganggu: Persen perempuan +65%; Jarang ikut acara sosial: Persen perempuan +52%.Cemas iklim merembes ke rumah tanggaGangguan sosial yang dikaitkan dengan cemas iklim, N = 35025%50%75%0Konflik keluarga88%Interaksi sosial terganggu85%Sulit mengerjakan urusan rumah70%Pengasuhan terganggu65%Jarang ikut acara sosial52%Angka dari Gambar 4 naskah; tiap gangguan dihitung terpisah.
Sumber: Gayathri KG, Rekha S, Vidhya Venugopal, Vijayalakshmi P, dan Krishnan S, High Heat Exposure and Climate Anxiety among Rural Women in Tamil Nadu: Health and Social Impacts, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menilai gangguan ini penting dalam masyarakat kolektif, tempat fungsi keluarga dan dukungan sosial menjadi penopang utama ketahanan seseorang. Menurut mereka, beban panas dan tekanan batin itu mengganggu struktur sosial yang menjadi sandaran ketahanan tersebut. Upaya menghadapinya pun umumnya bersifat pribadi dan jangka pendek, seperti banyak minum, memakai kipas, berdiam di dalam, mengurangi aktivitas, dan sering mandi.

Menurut naskah, cara-cara itu memberi kelegaan sesaat tetapi tidak menyentuh sumber paparan panasnya. Para penulis mengusulkan agar aspek kesehatan jiwa dimasukkan ke rencana aksi panas daerah, disertai pendinginan lokal, edukasi bagi perempuan, desain rumah yang lebih berventilasi, dan akses ke ruang sejuk. Mereka sendiri menyebut temuannya sebagai bukti awal.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Di mana penjelasan berhenti dan angka tidak cocok

Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Karena data diambil sekali waktu, ia tidak dapat memastikan bahwa panaslah yang memicu munculnya kecemasan, hanya bahwa keduanya berjalan beriringan. Wilayahnya pun terbatas pada distrik terpilih di Tamil Nadu, dan cara menghadapi panas yang dicatat tidak diuji seberapa efektif atau tahan lama.

Pembaca yang teliti juga akan menemukan angka yang tidak saling cocok. Abstrak menyebut 75 persen perempuan mengalami sakit akibat panas, bagian hasil menyebut 80 persen atau 280 orang, sedangkan tabel regresi menjumlahkan 264 orang. Teks membagi 295 perempuan terpapar dan 55 kurang terpapar, tetapi tabel yang sama memakai 282 dan 68.

Ambang paparan di abstrak tertulis 28 derajat dengan 85 persen perempuan terpapar, sementara bagian hasil memakai 27,5 derajat dan 84 persen. Abstrak juga memuat rasio peluang 6,3 untuk cemas iklim dan 3,1 untuk terganggunya pengasuhan, dua angka yang tidak ditemukan di bagian hasil. Untuk cemas berat saja, rentang kepercayaan rasio peluang kasarnya 0,8 sampai 2,8.

Ada pula keterangan yang saling bertolak belakang soal rumah. Bagian metode menyebut 130 perempuan bekerja, tetapi tabel karakteristik mencatat 179 perempuan bekerja di kelompok terpapar dan 34 di kelompok kurang terpapar. Teks juga menulis panas di luar rumah lebih tinggi, padahal rata-rata dan batas atas yang dilaporkan justru lebih tinggi di dalam rumah.

Kejanggalan pembuka akhirnya punya jawaban, meski belum tuntas. Rumah di desa-desa Tamil Nadu tidak mendinginkan karena panas di dalamnya setara atau lebih tinggi dari luar, dan tubuh yang terus kepanasan tercatat berjalan bersama pikiran yang cemas serta keluarga yang lebih sering bertengkar. Kipas angin mungkin memberi kelegaan sesaat, tetapi menurut data yang sama, ia tidak membedakan seberapa berat cemas yang ditanggung.

Bagikan

Baca Juga

Le Rossignol Karya Verlaine, 20 Larik Kehilangan Cinta Pertama
Hepatitis C Hinggapi 17 Persen Pengungsi Rohingya di Teknaf
Nyeri Kronis Keluarga Pakistan di Inggris, Cucu Jadi Obat
Kantong Permen Diperkecil, Belanja di Supermarket Denmark Susut
Umbi Samoa Susut 81,6 Persen, Impor Minuman Naik 241 Persen
Tradisi Hadiah Hajatan Makassar di Jeneponto, Perekat atau Utang