Garam Beryodium Etiopia Merata, Pengetahuan Warganya Tertinggal

A A

Para pekerja Afar mencungkil dan menumpuk balok garam di dataran garam wilayah Afar, Etiopia [Foto: D4vtr0/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 88,1 persen rumah tangga memakai garam yang cukup yodium, dengan rata-rata kadar 43,9 ppm, mendekati target pemantauan 90 persen.
  • Hanya 53,1 persen perempuan yang diwawancarai pernah mendengar tentang garam beryodium.
  • Hanya 34,6 persen rumah tangga tahu bahwa yodium berkurang bila garam disimpan di wadah terbuka, sementara 50,1 persen menjawab tidak tahu.
  • Penelitian ini juga punya batas yang diakui sendiri oleh penulisnya.
Daftar Isi
  1. Tahun 1990-an hingga 2011: garam wajib beryodium
  2. Chaka dan rekan: 88,1 persen dapur di atas ambang
  3. Muluneh 2023 dan jejak garam mentah di Afar
  4. Asfaw dan Shiferaw: garam sampai, pengetahuan belum
  5. Waszkowiak dan Rana: yodium yang lenyap di dapur
  6. Terefe dan Lowe: minta, simpan, tambahkan
  7. Catatan pada naskah Chaka dan rekan

Sejak 1990-an, Etiopia memilih jalan yang sama dengan banyak negara lain untuk melawan kekurangan yodium, yakni mewajibkan seluruh garam konsumsi diberi yodium. Pilihan itu dikukuhkan lewat Regulasi Dewan Menteri Nomor 204/2011, yang melarang orang mengolah, mengimpor, mengedarkan, atau menjual garam tanpa yodium untuk dimakan manusia. Sejak itu, dengan bertambahnya fasilitas iodisasi terpusat dan pengawasan, cakupan garam beryodium di rumah tangga meningkat pesat, meski ketimpangan antardaerah dan soal mutu belum hilang.

Pertanyaan tentang seberapa jauh kemajuan itu benar-benar sampai ke dapur diangkat oleh Addisu Legesse Chaka, Dilnesaw Zerfu, Paulos Getachew, Dawd Gashu, Yoseph Demelash, Abebe Bitew Zegeye, dan Aditya Parmar dalam artikel Iodine levels in household and market salt, and associated knowledge, attitudes, and practices in Ethiopia: a nationwide cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bernaung di Ethiopian Public Health Institute dan Addis Ababa University, sementara Parmar berasal dari WorldFish di Penang, Malaysia.

Tahun 1990-an hingga 2011: garam wajib beryodium

Naskah mengingatkan mengapa garam dipilih sebagai pembawa. Yodium dibutuhkan untuk membentuk hormon tiroid, yang mengatur pertumbuhan, perkembangan saraf, dan metabolisme sepanjang hidup, sedangkan kandungan alaminya rendah di banyak bahan pangan. Penduduk di lingkungan miskin yodium karena itu rentan terkena gangguan akibat kekurangan yodium, mulai dari gondok, hipotiroidisme, hambatan pertumbuhan, gangguan perkembangan saraf janin dan anak, hingga luaran kehamilan yang buruk.

Kelompok yang paling berisiko, menurut naskah, adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak kecil. Iodisasi garam universal dianggap cara global yang murah untuk mencegah semua itu, asalkan seluruh garam konsumsi diberi yodium dan kadarnya dipantau sejak pabrik sampai meja makan. Persoalannya, yodium bisa berkurang selama pengangkutan, penyimpanan, dan memasak, sehingga cakupan tinggi belum tentu menjamin asupan yang cukup.

Etiopia sendiri memakai dua patokan. Standar nasional CES 70 menetapkan kadar 20 sampai 40 bagian per juta, atau ppm, di tingkat produksi untuk mengantisipasi yodium yang hilang di perjalanan. Untuk garam di rumah tangga dan pasar, Chaka dan rekan memakai patokan WHO dan UNICEF, yaitu 15 ppm ke atas, ambang yang diakui secara global untuk perlindungan biologis pada titik konsumsi.

Chaka dan rekan: 88,1 persen dapur di atas ambang

Dari 931 sampel garam rumah tangga dan 931 sampel garam pasar di sembilan region dan dua kota administratif, hasil nasionalnya tergolong menggembirakan. Sebanyak 88,1 persen rumah tangga memakai garam yang cukup yodium, dengan rata-rata kadar 43,9 ppm, mendekati target pemantauan 90 persen. Di pasar, angkanya sedikit lebih tinggi, 89,1 persen, dengan rata-rata 48,9 ppm, dan hanya 0,9 persen sampel pasar yang sama sekali tak beryodium.

Kemasan garam di pasar juga mendukung gambaran itu. Sebanyak 98,6 persen sampel diproduksi di dalam negeri, dan 89,5 persen kemasannya secara tegas berlabel beryodium. Menurut para penulis, capaian ini sejalan dengan perluasan iodisasi terpusat dan penegakan aturan pascapewajiban, sebagaimana dicatat Yusufali, Frohmann, Chuko, dan Laillou pada 2024 dalam kajian mereka tentang keberhasilan fasilitas iodisasi terpusat Etiopia.

Namun, para penulis juga meminta rata-rata di atas 40 ppm itu dibaca dengan hati-hati. Angka tersebut perlu disandingkan dengan standar produksi Etiopia yang 20 sampai 40 ppm dan kemungkinan kadar yodium yang bervariasi antarjalur pasokan. Karena itu, menurut naskah, jaminan mutu rutin tetap dibutuhkan sejak produksi sampai distribusi, bukan hanya saat garam sudah berada di rak toko.

Garam rumah tangga yang cukup yodiumDire Dawa: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +100,0%; Amhara: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +98,3%; Oromia: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +96,9%; Harari: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +96,9%; Addis Ababa: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +95,6%; Benishangul Gumuz: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +94,8%; Gambella: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +93,9%; SNNPR: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +87,5%; Somali: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +81,5%; Tigray: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +69,2%; Afar: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +49,5%; Nasional: Persen rumah tangga, garam 15 ppm ke atas +88,1%.Garam rumah tangga yang cukup yodiumPersen sampel berkadar 15 ppm ke atas, per region25%50%75%100%0Dire Dawa100,0%Amhara98,3%Oromia96,9%Harari96,9%Addis Ababa95,6%Benishangul Gumuz94,8%Gambella93,9%SNNPR87,5%Somali81,5%Tigray69,2%Afar49,5%Nasional88,1%Total 931 rumah tangga. Di pasar, angka nasionalnya 89,1 persen; Afar51,1 persen.
Sumber: Addisu Legesse Chaka, Dilnesaw Zerfu, Paulos Getachew, Dawd Gashu, Yoseph Demelash, Abebe Bitew Zegeye, dan Aditya Parmar, Iodine levels in household and market salt, and associated knowledge, attitudes, and practices in Ethiopia: a nationwide cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Muluneh 2023 dan jejak garam mentah di Afar

Rata-rata nasional ternyata menyembunyikan jurang yang lebar. Dire Dawa mencatat 100 persen garam rumah tangga cukup yodium, Amhara 98,3 persen, dan Harari 96,9 persen, sementara Afar hanya 49,5 persen dengan 48,4 persen sampel kurang yodium. Rata-rata kadar di Afar 25,9 ppm dan di Tigray 26,9 ppm, jauh di bawah Harari yang mencapai 55,9 ppm. Pola serupa terlihat di pasar, dengan Afar hanya 51,1 persen dan Tigray menyimpan 26,9 persen garam kurang yodium.

Untuk Afar, para penulis menengok kajian Muluneh, Merid, dan Kassa pada 2023 tentang titik panas ketersediaan garam tanpa yodium di rumah tangga Etiopia, yang menunjukkan akses tidak merata ke garam beryodium cukup. Kedekatan Afar dengan kawasan produksi dan tambang garam, menurut naskah, bisa membuka akses ke garam mentah yang tidak melewati fasilitas iodisasi dan luput dari pengawasan regulasi.

Tigray dibaca dengan alasan berbeda. Para penulis menduga cakupan yang menurun di sana mencerminkan gangguan fungsi pasar dan pengawasan regulasi baru-baru ini, yang bisa menggeser pembelian ke pasokan informal. Kedua dugaan itu tidak diuji langsung dalam penelitian ini, tetapi para penulis menjadikannya dasar untuk meminta distribusi hingga titik terakhir, penegakan aturan, dan pemantauan pasar rutin di daerah bercakupan rendah.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Asfaw dan Shiferaw: garam sampai, pengetahuan belum

Di sisi konsumen, temuan Chaka dan rekan bergerak ke arah yang berlawanan dengan angka cakupan. Hanya 53,1 persen perempuan yang diwawancarai pernah mendengar tentang garam beryodium. Dari mereka, 79,1 persen mengaitkannya dengan pencegahan gondok, tetapi hanya 7,5 persen yang menyebut perannya dalam mencegah gangguan akibat kekurangan yodium, dan proporsi yang sama menyebut manfaatnya bagi pertumbuhan.

Kesenjangan pengetahuan itu, menurut naskah, juga tercatat dalam kajian lokal Asfaw dan rekan di barat daya Etiopia serta Shiferaw dan rekan di distrik Farta, barat laut Etiopia, keduanya pada 2023. Para penulis menyimpulkan bahwa “penetrasi pasar bisa mendahului edukasi konsumen.” Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Karena garam beryodium dan tanpa yodium tampak serupa, rumah tangga bisa membelinya tanpa sengaja dan tanpa tahu cara menjaganya.

Angka-angka lain menguatkan dugaan itu. Hanya 34,6 persen rumah tangga tahu bahwa yodium berkurang bila garam disimpan di wadah terbuka, sementara 50,1 persen menjawab tidak tahu. Hanya 14,2 persen yang merasa bisa membedakan garam beryodium dari yang tidak, dan hanya 41,9 persen yang tahu bahwa tidak semua garam diberi yodium. Kebanyakan memilih garam karena ketersediaan, 33,9 persen, atau harga yang lebih murah, 30,3 persen.

Kesadaran juga timpang antarwilayah. Tigray mencatat kesadaran tertinggi, 92,3 persen, sedangkan Somali dan Harari sama-sama hanya 16,9 persen. Saluran informasinya pun berbeda: di Addis Ababa televisi mendominasi dengan 58,9 persen, sedangkan di Tigray hampir separuh rumah tangga, 48,7 persen, memperoleh informasi dari petugas kesehatan secara tatap muka. Secara nasional, televisi menjadi sumber bagi 22,8 persen rumah tangga.

Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya

Waszkowiak dan Rana: yodium yang lenyap di dapur

Persoalan berikutnya terjadi setelah garam tiba di rumah. Hanya 38,8 persen rumah tangga menyimpan garam di kemasan aslinya, sementara di Harari 96,2 persen dan di Gambella 89,1 persen memindahkannya ke wadah lain. Secara nasional, 39,5 persen menyimpan di wadah bertutup dan 15,4 persen di wadah tanpa tutup. Untuk waktu memasak, 56,9 persen menambahkan garam setelah masak atau saat disajikan, 22,7 persen di pertengahan, dan 18,9 persen di awal.

Di titik ini naskah bersandar pada dua kajian laboratorium yang lebih tua. Waszkowiak dan Szymandera-Buszka pada 2008 menunjukkan bahwa kelembapan dan paparan udara mempercepat hilangnya yodium, sementara wadah tertutup dan kemasan penahan lembap memperbaiki daya simpannya. Rana dan Raghuvanshi pada 2013 mencatat kehilangan yodium saat memasak bisa sekitar 6 sampai 51 persen, bergantung pada besarnya panas, cara memasak, dan lamanya paparan.

Perbedaan antarwilayah di dapur pun mencolok. Di Tigray, 93,6 persen rumah tangga menambahkan garam setelah masak, sedangkan di Somali hanya 21,4 persen dan di Dire Dawa 25,0 persen. “Memperkuat penanganan di rumah tangga karena itu merupakan pelengkap yang diperlukan bagi fortifikasi di sisi pasokan,” tulis Chaka dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Kebiasaan di balik garam cukup yodiumKebiasaan di balik garam cukup yodiumKebiasaan di balik garam cukup yodiumRasio odds disesuaikan, garam rumah tangga 15 ppm ke atas2,45Minta garamberyodiumsaat membeli1,92Wadah bertutupsaat disimpan1,68Garam setelahmasaksaat dipakai1,34Pernah dengargaram beryodiumJalan risetnya1.862 sampel garamKadar yodium diukurDikaitkan dengankebiasaanAsosiasi, bukan sebab-akibat. Mempertahankan kemasan asli (1,15)tidak bermakna.
Sumber: Addisu Legesse Chaka, Dilnesaw Zerfu, Paulos Getachew, Dawd Gashu, Yoseph Demelash, Abebe Bitew Zegeye, dan Aditya Parmar, Iodine levels in household and market salt, and associated knowledge, attitudes, and practices in Ethiopia: a nationwide cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Terefe dan Lowe: minta, simpan, tambahkan

Analisis peluang dalam naskah menautkan kebiasaan itu dengan kadar garam di rumah. Setelah memperhitungkan perbedaan region, rumah tangga yang meminta garam beryodium saat membeli punya peluang 2,45 kali lebih besar memiliki garam cukup yodium. Menyimpan di wadah bertutup terkait dengan peluang 1,92 kali, menambahkan garam setelah masak 1,68 kali, dan pernah mendengar tentang garam beryodium 1,34 kali, sedangkan mempertahankan kemasan asli tidak bermakna.

Para penulis merangkumnya sebagai tiga perilaku sederhana yang bisa diubah. “Hasil ini mengidentifikasi perilaku praktis yang dapat diubah, yakni meminta, menyimpan, dan menambahkan, yang dapat meningkatkan dosis yodium efektif yang sampai ke rumah tangga bahkan ketika cakupan sudah tinggi,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Kajian bertingkat Terefe, Jembere, dan Assimamaw pada 2023 di Afrika Timur, menurut naskah, juga menunjukkan pembelian dan penanganan menentukan apakah garam tetap cukup yodium.

Rekomendasinya karena itu dibedakan per wilayah. Afar dan Tigray diprioritaskan untuk pengawasan pasar dan penegakan aturan, sedangkan Somali untuk komunikasi perubahan perilaku, karena kesadarannya hanya 16,9 persen dan hanya 5,0 persen rumah tangga di sana meminta garam beryodium saat membeli. Merujuk pengalaman Lowe dan rekan pada 2015 di sebuah komunitas terpinggirkan di barat laut Pakistan, para penulis menyarankan pesan sederhana yang disesuaikan dengan pola belanja setempat.

Penelitian ini juga punya batas yang diakui sendiri oleh penulisnya. Desainnya potong lintang, sehingga hubungan antara kebiasaan dan kadar yodium hanya bersifat asosiasi dan bisa dipengaruhi faktor yang tidak diukur, seperti status sosial ekonomi dan akses pasar. Kadar yodium urine tidak diperiksa, sehingga status yodium penduduk tidak bisa disimpulkan langsung, dan sebagian jawaban berasal dari laporan diri yang rawan bias ingatan.

Catatan pada naskah Chaka dan rekan

Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks tidak menyebut kapan sampel dikumpulkan, sedangkan judul tabel-tabelnya mencantumkan tahun 2018 dan tanggal kedaluwarsa kemasan terbanyak jatuh pada 2019 dan 2020. Ukuran sampel juga dihitung untuk mendeteksi prevalensi garam cukup yodium sebesar 23 persen, jauh dari 88,1 persen yang akhirnya ditemukan, tanpa penjelasan asal angka 23 persen itu.

Beberapa angka di teks dan tabel juga tidak cocok. Teks menyebut garam kasar dipakai 58,0 persen rumah tangga, tetapi tabelnya menulis 539 rumah tangga atau 59,0 persen, dan garam halus ditulis 1,7 persen di teks tetapi 14 rumah tangga atau 2,1 persen di tabel. Angka 539 muncul lagi pada tabel waktu menambah garam dengan label 56,9 persen, padahal 539 dari 931 sekitar 57,9 persen.

Catatan kaki tabel yang sama menyebut tren nasional mengarah ke menambah garam saat memasak, berlawanan dengan isi tabel yang menunjukkan mayoritas menambahkannya setelah masak. Di tabel penyimpanan, 73 rumah tangga Afar ditulis 85,1 persen dari 92 rumah tangga, padahal hitungannya sekitar 79,3 persen. Persentase SNNPR di tabel cakupan rumah tangga pun hanya berjumlah 98,1 persen.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Dalam rantai riset yang berawal dari kewajiban iodisasi pada 1990-an dan regulasi 2011, lalu berlanjut ke kajian tentang keberhasilan fasilitas iodisasi terpusat dan titik panas garam tanpa yodium, penelitian Chaka dan rekan menambahkan satu mata rantai. Mereka menunjukkan bahwa garam beryodium kini sampai ke hampir sembilan dari sepuluh dapur Etiopia, tetapi pengetahuan dan kebiasaan menjaganya masih tertinggal, terutama di Afar, Tigray, dan Somali.

Bagikan

Baca Juga

Buruh Kebun Teh Siliguri Berobat, Separuh Tak Rutin Minum Obat
Kecelakaan Motor di Ghana: 23 Tahun, Hampir Seperempat Fatal
Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan
Man Walk Australia: Separuh Pria Peserta Jalan Kaki Kesepian
Gejala Depresi Anak Muda Hong Kong Turun Setelah Berkebun
Lansia Sarang Kosong di Tiongkok Mengusir Sepi Lewat Chatbot AI