- Sebagian siswa sengaja naik bus lebih awal agar sempat jajan sebelum bel masuk.
- Slushie seharga 1,50 dolar Australia jauh lebih murah daripada slushie besar di kantin yang disebut seharga 5 dolar.
- Papan nama gerai cepat saji terlihat dari jendela ruang kelas dan memicu rasa lapar siswa.
- Para siswa sendiri mengusulkan pembatasan gerai tidak sehat di dekat sekolah dan subsidi untuk makanan bergizi.
Daftar Isi
Sekolah kerap dibayangkan sebagai benteng yang menentukan apa yang masuk ke perut anak-anak, lewat kantin yang diawasi, aturan gizi yang ditulis rapi, dan pagar yang ditutup selama jam pelajaran, seakan-akan godaan di jalan raya berhenti di depan gerbang. Di sebuah sekolah menengah negeri di pinggiran luar Perth, Australia Barat, benteng itu justru dilewati setiap pagi oleh siswa yang menunggu lima sampai delapan menit di depan supermarket yang baru membuka pintunya pukul delapan.
Cerita pagi semacam itu dihimpun Sharonna Mossenson, Frith Klug, Joelie Mandzufas, Jacinta Francis, Siobhan Hickling, Lukar Thornton, dan Gina Trapp dalam artikel berjudul Slushies before school: exploring how nearby food outlets impact the eating behaviours of secondary students in Perth, Western Australia, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bernaung di Nutrition and Health Innovation Research Institute, Edith Cowan University, dan bahan utamanya adalah suara 31 siswa kelas 7 sampai 12 yang diajak berbincang dalam empat kelompok pada Juni 2024.
Sekolah itu sendiri baru berdiri pada 2018, di kawasan yang ketika itu sebagian besar belum terbangun, lalu dalam enam tahun berubah menjadi permukiman padat dengan kawasan niaga persis di sebelahnya. Pada masa penelitian, ada sepuluh gerai makanan di dua titik yang masing-masing berjarak sekitar 150 meter dari sekolah, terdiri atas enam gerai cepat saji atau makanan bawa pulang, satu minimarket, satu supermarket, satu restoran, dan satu kafe.
Gerbang yang tertutup, jalan yang terbuka
Di atas kertas, sekolah ini termasuk ketat, sebab ia memberlakukan kebijakan gerbang tertutup yang melarang siswa, kecuali kelas 12, keluar untuk membeli makanan selama jam sekolah, di samping aturan makanan dan minuman sehat dari pemerintah negara bagian Australia Barat. Namun, pagar hanya menjaga jam pelajaran, sementara pagi sebelum bel dan sore sesudah bel dibiarkan menjadi wilayah yang sepenuhnya dikuasai gerai-gerai di seberang jalan.
Jalan menuju gerai itu pun dipermudah oleh hal yang tampak sepele, yakni bus sekolah yang berhenti tepat di luar deretan toko, sehingga siswa cukup turun, menuruni tangga, dan supermarket sudah ada di depan mata. Minimarket dan gerai cepat saji yang buka 24 jam tercatat paling sering dikunjungi di semua jenjang, sedangkan di supermarket siswa sampai mengantre di depan pintu menunggu toko dibuka.
Kecepatan menjadi ukuran lain yang menentukan, karena siswa lebih memilih tempat yang bisa menyerahkan makanan dan minuman dengan cepat, seperti supermarket, minimarket, dan gerai cepat saji. Toko piza dan kebab yang butuh waktu memasak lebih lama jarang didatangi, kecuali oleh siswa kelas 12 yang boleh pulang lebih awal setiap Jumat dan karena itu punya waktu lebih longgar.
Yang paling menarik dari bagian ini adalah pengakuan bahwa kebiasaan jajan sebelum dan sesudah sekolah tidak selalu ada, sebab beberapa siswa mengaku tidak pernah terpikir membeli makanan di sekitar sekolah sampai gerai cepat saji berdiri pada 2021. “Dulu orang langsung pulang saja… itu cukup bagus, menghemat uang,” kata seorang siswi kelas 11 yang dicatat penulis sebagai Student #5, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris.
Harga yang lebih nyaring daripada nasihat
Jika jarak membuka jalan, harga yang membuat siswa terus melangkah, karena biaya disebut di semua jenjang sebagai pertimbangan utama untuk mampir ke gerai di luar sekolah. Slushie, minuman es serut bersirup dari minimarket, dianggap sangat murah dengan harga 1,50 dolar Australia, sementara gerai cepat saji dikenal lewat cheeseburger yang menurut seorang siswa harganya sekitar satu dolar.
Perbandingan dengan kantin membuat jaraknya makin terasa, sebab para siswa menyebut susu berperisa di kantin sekitar 6 dolar, padahal di supermarket bisa didapat dengan 3,5 dolar. Slushie seharga 1,50 dolar Australia jauh lebih murah daripada slushie besar di kantin yang disebut seharga 5 dolar. Supermarket pun dinilai lebih bernilai daripada kantin maupun minimarket, sedangkan kedai kebab dan bar jus dihindari karena terlalu mahal untuk kualitasnya.
Paket hemat di gerai cepat saji bekerja dengan logika yang sama, dan seorang siswa kelas 11 yang dicatat sebagai Student #3 menyebutnya terang-terangan, “paket hematlah yang menarik orang datang”, dan tanpa paket itu gerai akan kurang memikat. Menu baru juga mengundang rasa ingin tahu, sehingga ada siswa yang datang semata karena sesuatu yang baru dijual, bukan karena lapar atau butuh.
Sementara itu, aturan sekolah yang melarang siswa membawa makanan cepat saji, permen curah, slushie, minuman energi, dan minuman bersoda nyatanya mudah diakali, karena barang itu disimpan di tas lalu diminum saat makan siang atau dituang ke botol minum pribadi agar tidak ketahuan. Penegakannya pun tidak konsisten, karena guru memang menyuruh siswa membuang minuman itu ke tempat sampah, tetapi menurut seorang siswi kelas 12, tidak ada yang benar-benar melakukannya.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Papan nama, bau penggorengan, dan layar ponsel
Godaan itu tidak hanya menunggu di rak, tetapi juga datang lewat mata, karena papan nama gerai cepat saji bisa dilihat dari dalam lingkungan sekolah. Papan nama gerai cepat saji terlihat dari jendela ruang kelas dan memicu rasa lapar siswa. Seorang siswi kelas 9 bercerita bahwa temannya setiap hari ingin pergi ke gerai cepat saji, kemungkinan karena deretan gerai itu terlihat dari ruang kelas mereka.
Seorang siswa kelas 11 yang dicatat sebagai Student #6 menggambarkan perjalanan kakinya ke sekolah sejauh sekitar satu kilometer, dan papan gerai cepat saji sudah tampak sejak separuh jalan, sehingga “kamu melihatnya selama 500 meter penuh” dan ingin makan. Iklan juga menempel di bus yang melintas di depan sekolah, sementara di ponsel, siswa merasa dibanjiri iklan makanan cepat saji di media sosial.
Penulis menandai satu temuan yang jarang dibahas dalam riset sejenis, yakni bau, karena siswa senior bercerita bahwa saat tiba di sekolah sekitar pukul delapan pagi mereka sudah mencium aroma penggorengan. Bau itu, kata mereka, memengaruhi perasaan dan selera makan, dan seorang siswi kelas 11 menambahkan bahwa aromanya bahkan tercium dari halte bus.
“Temuan ini mengisyaratkan bahwa gerai di dekat sekolah tidaklah tanpa bahaya dan dapat ikut membentuk lingkungan pemicu obesitas yang memengaruhi pilihan makan remaja pada tahap hidup yang genting,” tulis Sharonna Mossenson, peneliti Edith Cowan University, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu menjadi poros artikel, karena yang mereka soroti bukan lagi pilihan pribadi seorang remaja, melainkan ruang yang menyodorkan pilihan itu setiap hari.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Tempat nongkrong yang tidak pernah netral
Namun, gerai-gerai itu ternyata lebih dari sekadar tempat membeli makanan, karena bagi siswa yang lebih tua tempat itu menjadi ruang sosial untuk berteduh, menikmati pendingin ruangan, dan bertemu teman. Dalam salah satu kegiatan diskusi, kelompok kelas 9 dan 10 menempatkan nongkrong sebagai alasan pertama mengunjungi gerai, sedangkan kelompok kelas 11 dan 12 menempatkannya di urutan kedua.
Ada pula keuntungan yang lebih praktis, karena siswa yang bekerja paruh waktu di gerai cepat saji bisa mendapat potongan harga untuk seluruh kelompok temannya, dan siswa yang punya mobil memilih parkir di pelataran pusat belanja. Pilihan makanan pun dibebani tekanan teman sebaya, sebab makanan sehat justru mengundang cibiran, seperti pertanyaan “kenapa kamu beli salad?” yang dikutip dari seorang siswa kelas 8.
Para siswa menempatkan gerai cepat saji dan minimarket sebagai tempat yang paling tidak sehat, tetapi kesehatan sama sekali bukan pertimbangan penting ketika mereka memilih tempat jajan. Di sisi yang lebih gelap, siswa bercerita tentang makanan yang dilempar di dalam gerai, perkelahian di pelataran parkir minimarket, dan pencurian, sampai beberapa gerai melarang siswa masuk, memasang petugas keamanan, atau membatasi jumlah siswa di dalam toko.
Suara siswa tentang jalan keluar
Justru sebaliknya dari gambaran remaja yang pasif, para siswa ini punya gagasan yang jelas tentang perbaikan, dan usul mereka diringkas penulis sebagai langkah yang sejalan dengan praktik terbaik internasional. Para siswa sendiri mengusulkan pembatasan gerai tidak sehat di dekat sekolah dan subsidi untuk makanan bergizi. Mereka juga menginginkan gerai alternatif yang lebih sehat, seperti gerai makanan bergaya Meksiko, bar jus atau smoothie, dan jaringan toko roti lapis.
Mereka menyadari kekuatan harga, sehingga mengusulkan subsidi untuk makanan sehat sekaligus harga yang lebih tinggi bagi makanan tidak sehat, ditambah promosi di dalam toko yang menonjolkan pilihan bergizi dan kampanye yang membuat risiko gula lebih mudah terlihat. Penulis mencatat contoh dari Inggris, ketika Gateshead Council membuat zona larangan di sekitar sekolah, sementara di Australia, menurut naskah, belum ada aturan yang sebanding.
Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri, karena pesertanya condong ke perempuan dengan porsi 67 persen, dan seluruhnya berasal dari satu sekolah di Perth sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk sekolah lain dengan latar geografis atau sosial-ekonomi berbeda. Penulis juga mengakui sebagian siswa mungkin enggan menyampaikan pendapat yang tidak populer di depan teman, dan satu dari empat kelompok hanya dicatat tertulis karena orang tua tidak mengizinkan perekaman suara.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Catatan kecil di pinggir naskah
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak sepenuhnya selaras, misalnya harga slushie yang di bagian temuan dan pembahasan ditulis 1,50 dolar Australia, sementara seorang siswi kelas 12 menyebut slushie bisa dibeli dengan satu dolar. Bagian metode menyatakan hanya kelas 12 yang boleh keluar sekolah, tetapi seorang siswa kelas 11 justru bersaksi melihat siswa kelas 11 dan 12 di gerai pada jam makan siang hari Jumat, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Penomoran siswa juga membingungkan, karena Student #3 dicatat sebagai siswa laki-laki kelas 11, siswi kelas 7, dan siswa laki-laki kelas 9 di bagian yang berbeda, sehingga nomor itu tampaknya berlaku per kelompok, bukan per orang. Pembahasan pun menyebut kawasan gerai berada tepat di seberang sekolah, sedangkan bagian temuan menulis jaraknya sekitar 150 meter.
Kembali ke pagi di pinggiran Perth itu, ketika siswa turun dari bus lebih awal dan berdiri di depan pintu supermarket yang belum dibuka, yang tampak bukan lagi remaja yang tidak bisa menahan diri, melainkan anak-anak yang membaca ruang di sekitarnya dengan sangat cermat, menghitung harga, waktu, dan jarak. Sebagian siswa sengaja naik bus lebih awal agar sempat jajan sebelum bel masuk. Apakah pagar sekolah masih bermakna, bila kebiasaan makan justru dibentuk di seratus lima puluh meter terakhir sebelum gerbang?















