- Di sebuah rumah sakit di Teknaf, Bangladesh, 17,24 persen pengungsi dewasa yang diperiksa ternyata positif hepatitis C.
- Hanya 5,17 persen pengungsi yang pengetahuannya tergolong memadai, sedangkan pada warga lokal angkanya 12,25 persen.
- Tidak satu pun pengungsi tahu ada vaksin hepatitis B.
- Hanya 4,3 persen peserta pernah diperiksa untuk hepatitis B atau C, dan tidak seorang pun pengungsi pernah menjalaninya.
Daftar Isi
Hepatitis C jauh lebih sering ditemukan pada pengungsi Rohingya. Di sebuah rumah sakit di Teknaf, Bangladesh, 17,24 persen pengungsi dewasa yang diperiksa ternyata positif hepatitis C. Di kalangan warga lokal yang berobat di rumah sakit yang sama, angkanya hanya 1,01 persen.
Temuan ini ditulis Shoeb Bin Islam, Md Fuad Al Fidah, Tanvir Ahmed Rasel, Sharika Nuzhat, Monira Sarmin, Mohammod Jobayer Chisti, Tahmeed Ahmed, dan M Munirul Islam dalam artikel The hidden burden of viral hepatitis: a comparative study of KAP and infections among rohingya refugees and host communities in Bangladesh. Artikel itu dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Para penulis bernaung di Divisi Riset Gizi icddr,b, Dhaka. Mereka memeriksa darah dan menanyai 654 orang dewasa yang datang ke Rumah Sakit SARI icddr,b di Teknaf, Cox’s Bazar, antara April 2021 dan Maret 2022. Rumah sakit 60 tempat tidur itu dibangun icddr,b bersama UNICEF untuk melayani pengungsi dan warga lokal.
Sebanyak 58 peserta adalah pengungsi Rohingya, yang dalam naskah disebut Forcibly Displaced Myanmar Nationals atau FDMN. Sisanya, 596 orang, adalah warga lokal Bangladesh. Menurut naskah, hampir sejuta FDMN lari dari Negara Bagian Rakhine pada 2017 dan menetap di kamp sementara di Cox’s Bazar.
Beban Hepatitis C
Selisih terbesar ada pada hepatitis C. Sepuluh dari 58 pengungsi positif, atau 17,24 persen, sedangkan di pihak warga lokal hanya enam dari 596 orang. Selisih ini bermakna secara statistik, dengan nilai p di bawah 0,001.
Naskah menyebut infeksi hepatitis C berkaitan kuat dengan status tempat tinggal peserta. Warga lokal punya peluang tertular jauh lebih kecil dibanding pengungsi. Pada warga lokal, prevalensi hepatitis C hanya sekitar satu persen.
Jika hepatitis B dan C digabung, 11 pengungsi positif salah satunya, setara 18,97 persen. Di pihak warga lokal, jumlahnya 12 orang atau 2,01 persen. Secara keseluruhan, 23 dari 654 peserta positif, dan tidak seorang pun tercatat mengidap keduanya sekaligus.
Angka hepatitis C pada pengungsi juga tinggi di studi lain yang dikutip naskah. Survei terhadap 641 FDMN mencatat 30,4 persen positif hepatitis C dan 19,8 persen infeksi aktif. Di Cox’s Bazar, hepatitis C juga ditemukan pada 8,0 persen ibu hamil FDMN.
Hepatitis B Setara
Hepatitis B menunjukkan pola lain. Hanya satu pengungsi yang positif, atau 1,72 persen, sedangkan warga lokal yang positif ada enam orang atau 1,01 persen. Selisih ini tidak bermakna, dengan nilai p 0,480.
Menurut naskah, kedua kelompok setara untuk hepatitis B, dan jarak lebar hanya muncul pada hepatitis C. Prevalensi hepatitis B di Bangladesh tergolong menengah, 4,0 persen, di atas angka global 3,5 persen. Prevalensi hepatitis C Bangladesh diperkirakan 0,88 persen.
Naskah juga mengutip angka Organisasi Kesehatan Dunia. Pada 2019, sekitar 296 juta orang hidup dengan hepatitis B dan 58 juta dengan hepatitis C, kira-kira 4,4 persen penduduk dunia. WHO menargetkan hepatitis virus tidak lagi menjadi ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.
Pasien hepatitis B dan C sering tidak bergejala sampai fungsi hatinya mulai gagal. Tingginya hepatitis C di kalangan pengungsi, tulis para penulis, bisa menaikkan risiko kerusakan hati berlanjut dan sirosis. Risiko itu tersembunyi karena banyak pengidap tidak merasa sakit.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Pengetahuan Nyaris Kosong
Pengetahuan soal hepatitis rendah di kedua kelompok. Hanya 5,17 persen pengungsi yang pengetahuannya tergolong memadai, sedangkan pada warga lokal angkanya 12,25 persen. Kurang dari seperlima peserta pernah mendengar hepatitis B atau C.
Pengetahuan soal penyebab, jalur penularan, dan pencegahan tetap terbatas. Kesadaran tentang hepatitis C lebih rendah daripada hepatitis B di kedua kelompok. Naskah menduga selisih itu terkait pesan kesehatan masyarakat yang lebih menonjolkan vaksinasi hepatitis B.
Pengetahuan soal penularan lewat hubungan seks dan transfusi darah juga terbatas. Pengungsi lebih jarang tahu bahwa hepatitis B dan C bisa menyerang segala umur, dan selisih ini bermakna. Pengetahuan soal penularan dari ibu ke anak pun lebih rendah, 6,90 persen berbanding 19,33 persen.
Vaksin Tak Dikenal
Tidak satu pun pengungsi tahu ada vaksin hepatitis B. Di kalangan warga lokal, yang tahu hanya 9,73 persen. Sedikit sekali pengungsi yang memahami fungsi vaksin itu untuk mencegah penularan.
Catatan vaksinasi sejalan dengan itu. Tidak ada pengungsi yang pernah divaksin hepatitis B, sedangkan di kalangan warga lokal hanya sembilan orang atau 1,51 persen. Enam warga lokal punya anggota keluarga pengidap hepatitis B atau C, sementara tidak ada pengungsi yang melaporkannya.
Naskah mengutip tinjauan sistematis tentang hambatan vaksinasi di kalangan pendatang. Tinjauan itu mencatat empat hambatan, yakni keyakinan budaya, akses layanan kesehatan yang terbatas, dan kurangnya pengetahuan. Hambatan keempat adalah keraguan terhadap vaksin, terutama karena soal keamanan.
Sikap dan Kebiasaan
Sikap terhadap hepatitis lebih baik daripada pengetahuannya. Sebanyak 71,70 persen pengungsi dan 81,12 persen warga lokal punya sikap yang tergolong memadai. Warga lokal lebih sering berhati-hati saat menghadapi orang yang terinfeksi dan lebih takut menulari anggota keluarga.
Pengungsi menunjukkan pola lain. Bila terdiagnosis, lebih banyak pengungsi yang bersedia memberi tahu orang tuanya, dan mereka juga lebih takut dikucilkan dari masyarakat. Naskah menyebut pola komunikasi dalam keluarga ini perlu diteliti lebih jauh.
Praktik pencegahan memadai tercatat pada 37,93 persen pengungsi dan 50,00 persen warga lokal. Warga lokal lebih sering meminta darah diperiksa sebelum transfusi. Praktik lain, seperti memakai jarum suntik baru, alat tukang cukur yang aman, dan kehati-hatian saat perawatan gigi, setara.
Skrining nyaris tidak ada. Hanya 4,3 persen peserta pernah diperiksa untuk hepatitis B atau C, dan tidak seorang pun pengungsi pernah menjalaninya. Pengungsi juga lebih jarang tahu atau memakai metode penghalang saat berhubungan seks, menurut tabel tambahan naskah.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Profil Dua Kelompok
Kedua kelompok berbeda sejak awal. Sebanyak 65,52 persen pengungsi adalah laki-laki, sedangkan pada warga lokal laki-laki hanya 27,85 persen. Sebanyak 96,55 persen pengungsi tidak pernah bersekolah formal, dan pada warga lokal angkanya juga tinggi, 85,57 persen.
Riwayat medis pengungsi justru lebih tipis. Hanya 1,72 persen pernah transfusi dan 1,72 persen pernah dioperasi, sedangkan pada warga lokal angkanya 5,87 persen dan 8,92 persen. Riwayat itu tidak menjelaskan tingginya hepatitis C pada pengungsi.
Naskah menduga faktor lain, yaitu paparan sebelumnya dan praktik medis yang tidak aman. Para penulis juga mencatat bahwa pengungsi lama hidup dalam kerugian ekonomi dan politik. Akses mereka pada pendidikan kesehatan pun terbatas.
Batas Temuan
Para penulis membaca angka itu dengan hati-hati. Menurut mereka, selisih infeksi mungkin tidak bisa dijelaskan oleh skor pengetahuan, sikap, dan praktik saja. Akses yang terbatas pada layanan kesehatan, vaksinasi, skrining, dan informasi disebut mungkin ikut menaikkan risiko.
“Tingginya prevalensi HBV dan HCV di kalangan FDMN mungkin mencerminkan paparan masa lalu yang menumpuk dan kerentanan struktural,” tulis Shoeb Bin Islam dan rekan-rekannya dari icddr,b dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka menambahkan, permukiman pengungsi yang padat mungkin ikut berperan.
Temuan ini punya keterbatasan. Pengungsi yang terlibat hanya 58 orang dan dipilih dari satu rumah sakit, sehingga hasilnya tidak mewakili seluruh pengungsi Rohingya maupun warga Teknaf. Komposisi jenis kelamin kedua kelompok juga berbeda jauh.
Tes darahnya pun tes cepat tanpa konfirmasi ELISA atau PCR, sehingga salah golong mungkin terjadi. Menurut naskah, antibodi hepatitis C yang positif belum tentu berarti infeksi aktif. Data sosial-ekonomi tidak ada, dan peserta yang positif tidak bisa diikuti perkembangannya.
Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Catatan pada Naskah
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Bagian metode menyebut warga lokal sebagai kelompok rujukan dan pengungsi sebagai pembanding. Dengan susunan itu, rasio odds hepatitis C pengungsi mestinya di atas satu.
Namun, rasio odds yang dilaporkan justru 0,05 untuk hepatitis C dan 0,58 untuk hepatitis B. Keduanya dibaca sebagai peluang warga lokal yang lebih kecil, sehingga arah rujukannya terbalik dari yang ditulis. Selang kepercayaan infeksi gabungan pun ditulis 0,0 sampai 0,21, padahal rasio odds tidak bisa bernilai nol.
Kesimpulan naskah menyebut pengetahuan, sikap, dan praktik rendah terutama pada pengungsi. Namun bagian pembahasan sendiri menulis tidak ada selisih yang bermakna secara statistik pada ketiganya. Angka 4,3 persen peserta yang pernah diskrining juga tidak tampak di tabel utama.
Di sebuah rumah sakit di Teknaf, hepatitis C membedakan pengungsi dari tetangganya. Pengetahuan yang bisa mencegahnya tetap tipis di kedua pihak.















