- Banyak sekolah mulai ikut program setelah melihat tanda kemiskinan, termasuk kemiskinan tersembunyi, di keluarga sekitar mereka.
- Dari sekolah yang terlibat, 15 menyediakan makan di sekolah, enam memakai kartu debit, dan lima membagikan paket sembako.
- Karena itu banyak sekolah merancang bantuan yang bisa diikuti semua anak, supaya tidak ada pembedaan.
- Di semua bentuk bantuan, peserta melaporkan orang tua sangat puas.
Daftar Isi
- School Meals Program, Subsidi yang Membebaskan Sekolah Memilih
- Meal Support, Empat Wujud Bantuan Makan
- Moral Responsibility, Kewajiban yang Lahir karena Terpaksa
- Stigma dan Workload, Rasa Malu dan Beban Kerja
- Perceived Impact, Dampak yang Dirasakan Bukan Diukur
- Sample, Hitungan Peserta yang Tak Selaras
School meal support, dalam bahasa sehari-hari, berarti sekolah ikut memastikan murid tidak belajar dengan perut kosong. Di Belanda, gagasan itu baru dijalankan pada 2023, ketika pemerintah meluncurkan School Meals Program untuk sekolah yang sedikitnya 30 persen muridnya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Pemicunya adalah laporan dari sekolah tentang anak-anak yang datang dalam keadaan lapar.
Cara sekolah dasar di Amsterdam menanggapi program itu dibahas Nine Maaike Suzie Droog, Vincent Busch, Lotte Jansen, Wendy van Lippevelde, dan Coosje Dijkstra dalam artikel Feeding change: school meal support in the Netherlands and the perspectives of primary school professionals, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 505, tahun 2026. Droog, peneliti Department of Public and Occupational Health di Amsterdam UMC, menjadi penulis utama. Busch bernaung di dinas kesehatan kota Amsterdam (GGD), sedangkan Van Lippevelde di Ghent University, Belgia.
School Meals Program, Subsidi yang Membebaskan Sekolah Memilih
Maksudnya, negara tidak menyajikan menu seragam. Sekolah yang memenuhi syarat boleh menentukan sendiri wujud bantuannya, entah makan di sekolah, paket sembako untuk keluarga, atau uang belanja lewat kartu debit. Bedanya dengan banyak negara tetangga Belanda cukup tajam, sebab di sana makan sekolah sudah disediakan selama puluhan tahun.
Di Belanda sendiri, murid sekolah dasar biasanya membawa bekal makan siang berupa roti isi dari rumah. Meski tanpa pengalaman, pada 2024 sebanyak 2.100 sekolah dasar dan menengah sudah memberi bantuan makan, hampir 80 persen dari sekolah yang memenuhi syarat. Di Amsterdam, penulis mencatat 97 sekolah dasar yang layak menerima subsidi dari 204 sekolah dasar yang ada.
Ada dua jalur uang. Jalur pertama, Meals at school lewat Youth Education Fund (YEF), memberi 9 euro per anak per pekan sekolah, tidak termasuk masa libur, dan semua anak di sekolah itu boleh menerima. Jalur kedua adalah kartu debit dari Palang Merah, diisi 25 euro per anak setiap dua pekan sepanjang tahun, paling banyak untuk tiga anak per keluarga.
Umur subsidi itu sempat lama tidak jelas, sebelum pada akhir 2024 diperpanjang sampai 2029. Pandangan tentang semua ini dikumpulkan penulis dari kepala sekolah, guru, koordinator, dan staf pendukung di 31 sekolah dasar Amsterdam, lewat wawancara dan tiga diskusi kelompok terarah. Diskusi kelompok terarah adalah obrolan terpandu dengan beberapa peserta sekaligus.
Meal Support, Empat Wujud Bantuan Makan
Bedanya begini: bantuan makan tidak selalu berarti piring di meja kantin. Penulis menemukan sekolah umumnya memilih satu dari empat bentuk, yakni makan yang disiapkan orang tua atau relawan, makanan kiriman pihak ketiga, paket sembako, atau kartu debit. Dari sekolah yang terlibat, 15 menyediakan makan di sekolah, enam memakai kartu debit, dan lima membagikan paket sembako.
Dua sekolah memilih cara lain, seperti kelas memasak atau buah tambahan, sedangkan tiga sekolah belum memakai subsidi sama sekali. Alasan sekolah yang tidak ikut umumnya praktis, mulai dari fasilitas yang tidak memadai, pimpinan sekolah yang masih bersifat sementara, sampai prioritas lain seperti keterlibatan orang tua.
Makan di sekolah biasanya berupa roti gandum dengan isian seperti keju, daging olahan halal atau vegetarian, atau selai kacang murni, ditambah sebuah buah. Kadang ada mentimun atau tomat. Anak-anak umumnya memilih dari menu yang sudah disiapkan, biasanya dengan batas satu roti manis, dan makanan ini lazim disajikan lima kali seminggu.
Paket sembako diberikan sekali sepekan atau dua pekan sekali dan berisi enam sampai 15 barang sehat. Ada sekolah yang mengisinya dengan bahan tahan lama seperti susu UHT, tepung, dan selai kacang, ada pula yang memilih roti gandum, produk susu, sayur, dan buah segar. Orang tua yang membantu mengemas menerima tunjangan relawan 5 euro per jam atau voucher supermarket.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Moral Responsibility, Kewajiban yang Lahir karena Terpaksa
Istilah tanggung jawab moral di sini punya sisi yang tidak romantis. Banyak sekolah mulai ikut program setelah melihat tanda kemiskinan, termasuk kemiskinan tersembunyi, di keluarga sekitar mereka. Tandanya konkret: kotak bekal kosong, kentang goreng dingin atau roti berjamur sebagai makan siang, dan anak yang meminta makanan di awal hari sekolah.
Seorang guru, dalam kutipan yang dimuat naskah berbahasa Inggris itu, menggambarkan isi kotak bekal muridnya. “Sering sekali tidak ada apa-apa. Itu memang terjadi: anak-anak datang ke sekolah dengan perut kosong,” katanya. Yang banyak terlihat, lanjutnya, adalah makanan tidak sehat seperti croissant setiap hari, karena harganya lebih murah daripada roti dengan isian.
Tanda tak langsung juga terlihat, seperti anak mampir ke supermarket sebelum sekolah dan tenaga yang rendah di kelas. Bahkan sebelum subsidi datang, sekolah sudah menyimpan sedikit persediaan makanan pokok untuk anak yang membutuhkan. Namun sekolah menegaskan tanggung jawab ini bukan semata moral, karena anak yang lapar menurunkan konsentrasi, kesejahteraan, dan partisipasi, sehingga tugas inti mengajar ikut terhambat.
Penulis merangkumnya dalam satu kalimat pendek. “Dalam arti ini, tanggung jawab itu muncul karena keharusan,” tulis Droog dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Seorang kepala sekolah menyebutnya dilema moral: semasa pendidikan ia ingin fokus pada mutu pengajaran, “tetapi dengan perut kosong, tidak ada lagi yang bisa dikatakan.”
Program yang lentur ikut mendorong partisipasi. Peserta menghargai keleluasaan menentukan bantuan terbaik untuk anak dan orang tua di sekolahnya, dan sebagian sekolah menyatakan tidak akan ikut kalau otonomi itu tidak tercantum dalam subsidi.
Keyakinan soal siapa yang bertanggung jawab juga membelah pilihan. Sekolah yang merasa wajib menolong anak cenderung memilih makan di sekolah, sedangkan yang menganggap urusan makan milik orang tua memilih kartu debit atau paket sembako. Seorang penghubung orang tua, staf yang menjembatani sekolah dengan keluarga murid, beralasan anak “tidak lapar hanya tiga kali seminggu. Mereka lapar setiap hari.”
Sebaliknya, sekolah yang memilih mendukung seluruh keluarga berpendapat orang tua lebih tahu kebutuhan mereka sendiri dan anak-anaknya. Kartu debit memberi orang tua keleluasaan mengatur uang belanja makan. Peserta juga menyebut kartu itu berlaku di luar pekan sekolah, karena saldonya diisi sepanjang tahun.
Stigma dan Workload, Rasa Malu dan Beban Kerja
Stigmatisasi berarti cap buruk yang menempel pada orang miskin, dan semua peserta menyebut pencegahannya sebagai tujuan penting. Karena itu banyak sekolah merancang bantuan yang bisa diikuti semua anak, supaya tidak ada pembedaan. Mereka mengamati bahwa rasa malu, baik pada anak maupun orang tua, kerap membuat bantuan tidak diterima dan tidak dipakai.
Seorang staf pendukung menjelaskannya lewat bayangan meja makan khusus bagi anak dari keluarga miskin. Anak-anak itu tidak akan makan di sana karena mereka akan “sepenuhnya jadi sorotan,” katanya dalam kutipan berbahasa Inggris di naskah. Ia bahkan membayangkan orang tua melarang anaknya makan di meja itu, karena semua orang akan tahu keluarga mereka tidak punya banyak di rumah.
Sekolah yang bantuannya tidak bisa menjangkau semua anak memilih jalan lain, yakni membuatnya sediskret mungkin. Contohnya, paket sembako diambil sepulang sekolah atau lewat pintu masuk terpisah. Untuk kartu debit, orang tua cukup mengisi pendaftaran singkat Palang Merah berisi empat pertanyaan soal keuangan rumah tangga, lalu kartunya dikirim ke rumah.
Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama
Beban kerja adalah soal kedua. Semua peserta melaporkan tekanan kerja staf sekolah yang tinggi, dan manajemen berusaha melindungi staf dari tugas tambahan. Karena itu sebagian besar sekolah berupaya melibatkan orang tua secara tetap, dan sekolah yang punya kelompok orang tua aktif merasa bantuan makan jauh lebih mungkin dijalankan.
Sekolah yang sulit merekrut relawan cenderung memilih cara yang minim kerja tambahan, seperti makanan kiriman pihak ketiga atau kredit mingguan lewat kartu debit. Meski begitu, di beberapa sekolah bantuan makan tetap dijalankan staf yang sangat termotivasi, yang mengerjakannya di samping tugas rutin karena menganggapnya penting bagi anak-anak.
Pilihan pemasok juga ditimbang. Sebagian peserta waspada terhadap kerja sama komersial yang berorientasi laba, dan lebih suka pemasok lokal atau organisasi nirlaba. Seorang staf pendukung mengaku pernah mendengar bahwa separuh makanan dari katering dibuang begitu saja, lalu berkata, “Dan dengan uang itu, kami bisa menyediakan makanan untuk lima hari.”
Ketidakpastian subsidi ikut menentukan. Seorang kepala sekolah yang memilih kartu debit mengatakan ia baru mau menyediakan makan di sekolah bila ada kepastian empat tahun. “Tetapi kalau hanya untuk satu tahun, saya tidak akan melakukannya,” katanya. Sekolah lain yang tidak punya ruang layak untuk menyiapkan makanan atau paket memilih makanan kiriman atau kartu debit.
Dari semua pertimbangan itu, penulis menarik kesimpulan bahwa “penerapan bantuan makan sekolah di Belanda, negara tanpa tradisi penyediaan makan sekolah sebelumnya, tidak ditentukan oleh sumber daya semata, tetapi juga oleh nilai dan keyakinan para profesional sekolah.” Kalimat itu tertulis dalam abstrak berbahasa Inggris. Karena itu, menurut mereka, peneliti dan pembuat kebijakan perlu memahami nilai dan keyakinan tersebut.
Perceived Impact, Dampak yang Dirasakan Bukan Diukur
Perceived impact berarti dampak menurut penglihatan para pelaku, bukan hasil timbangan atau tes. Peserta dari sekolah yang menyediakan makan di tempat, terutama setiap hari, melihat anak lebih banyak makan makanan sehat. Menurut mereka hal itu mengurangi rasa lelah, menambah fokus, dan membuat anak lebih terlibat dalam pelajaran, sementara rasa-rasa baru mendorong kebiasaan makan yang lebih sehat.
Peserta dari sekolah yang memilih paket sembako atau kartu debit justru ragu apakah bantuan itu benar-benar sampai ke kesehatan anak. Pada kartu debit, sekolah tidak punya kendali atas belanjaan, yang bisa saja berisi barang tidak penting seperti permen atau alkohol. Penulis menegaskan bahwa belum terlihatnya dampak tidak berarti bentuk bantuan itu tanpa manfaat.
Di semua bentuk bantuan, peserta melaporkan orang tua sangat puas. Di sekolah yang menyajikan makan di tempat, orang tua tidak lagi tertekan menyiapkan bekal di pagi hari, dan suasana saat mengantar anak jadi lebih tenang. Bagi sebagian orang tua, menjadi relawan memberi pengalaman kerja yang mungkin membuka peluang pekerjaan baru.
Seorang kepala sekolah bercerita hubungan dengan orang tua menjadi jauh lebih positif, “hampir sampai pada titik bahwa ini jadi menyenangkan.” Penulis lalu menarik gambaran lebih luas. “Program makan sekolah sebaiknya dipandang bukan hanya sebagai sarana memberi makan anak secara fisik, tetapi juga sebagai peluang berharga untuk mendorong keterlibatan orang tua dan mempererat ikatan komunitas,” tulis Droog dan rekan dalam naskah berbahasa Inggris.
Semua ini tetap persepsi, dan penulis mengakuinya sebagai keterbatasan. Sekolah yang sangat termotivasi mungkin terlalu terwakili, orang tua tidak diwawancarai, dan temuannya mencerminkan sekolah dasar di Amsterdam sehingga belum tentu berlaku di wilayah lain. Karena dampaknya dirasakan, bukan diukur secara objektif, penulis menyarankan riset lanjutan tentang efek nyata tiap bentuk bantuan pada kesehatan anak.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Sample, Hitungan Peserta yang Tak Selaras
Sampel adalah kelompok yang dipilih untuk mewakili keadaan, dan di naskah ini hitungannya bisa diperiksa sendiri. Bagian hasil menyebut 31 perwakilan sekolah ikut wawancara. Namun bila kolom jumlah peserta di Tabel 1 untuk 25 sekolah wawancara dijumlahkan, hasilnya 32 orang. Selisihnya hanya satu dan tidak mengubah temuan, tetapi tidak dijelaskan.
Catatan lain menyangkut waktu. Wawancara berlangsung sejak September 2023, sementara nomor persetujuan komite etik medis Amsterdam UMC yang dicantumkan berawalan 2025, dan naskah tidak menerangkan kapan persetujuan itu diberikan. Tabel 1 juga memakai label grocery card untuk bentuk yang di badan naskah disebut kartu debit, serta mencantumkan distrik East dan West di luar tiga distrik sasaran, yakni North, New-West, dan Southeast.
Pada akhirnya, istilah bantuan makan sekolah di Belanda ternyata tidak menunjuk satu benda. Ia bisa berarti roti isi yang disiapkan orang tua di sekolah, paket sembako yang diambil lewat pintu terpisah, atau saldo 25 euro di kartu debit. Menurut naskah ini, yang menentukan wujudnya bukan hanya dana, tetapi keyakinan orang-orang di sekolah tentang siapa yang wajib memberi makan anak.















