Ine Pare di Desa Nida, Padi yang Tumbuh dari Darah Mbu

A A

Hamparan sawah hijau di kaki perbukitan berselimut awan, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur [Foto: Jakub Hałun/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Ritual Ine Pare adalah peragaan kembali kisah itu, dijalankan setiap tahun mengikuti siklus padi ladang.
  • Menjelang tanam, tahap tedo pare, seekor sapi dikorbankan dan darahnya dicampur dengan benih padi sebelum ditanam.
  • Warga yang tidak menjalankan ritual dianggap melanggar hukum adat dan bisa diusir tetua.
  • Mereka juga mengutip data BPS bahwa tingkat urbanisasi Kabupaten Ende naik dari 28 persen pada 2010 menjadi 36 persen pada 2023.
Daftar Isi
  1. Desa Nida
  2. Rawa di Mase Ndale
  3. Ladang Poka Taba
  4. Pondok Bambu Keti Pare
  5. Jalan ke Kupang
  6. Angka yang Tak Sama

Pondok itu berdiri sekitar dua meter di atas tanah. Dindingnya dari bilah bambu yang disebut ngga au, diikat tali ijuk hitam, beratap alang-alang. Dua atau tiga anak tangga menuju pintunya, dan di kaki tangga diletakkan sebuah batu serta alas sesaji. Warga Desa Nida menyebutnya nabe pare, altar untuk Ibu Padi.

Pondok berukuran kira-kira 2 x 3 meter atau 3 x 4 meter itu dicatat Dentiana Rero, Hasanuddin, Elly Malihah, Sapriya, dan Neiny Ratmaningsih dalam Myth and Ritual of Ine Pare: An Anthropolinguistic Study of Ende-Lio Ethnic Culture, Flores, yang terbit di Jurnal Arbitrer volume 12 nomor 3 tahun 2025. Kelimanya berasal dari Universitas Flores, Universitas Andalas, dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Ke altar itulah sesaji dibawa pada empat saat penting dalam setahun: ketika ladang dibuka, ketika benih ditanam, ketika padi dipanen, dan ketika nasi baru pertama kali disantap. Semuanya dipersembahkan untuk Ine Pare, sosok leluhur yang diyakini masyarakat Ende-Lio menentukan berhasil atau gagalnya ladang mereka.

Desa Nida

Nida terletak di Kecamatan Ndetukeli, Kabupaten Ende, Flores, di dataran tinggi dengan akses jalan terbatas. Warganya bertutur dalam bahasa Lio berdialek Nida, yang sudah bercampur dengan bahasa Ende dan bahasa Indonesia. Para peneliti tinggal dan mengamati kampung itu selama 16 pekan pada Mei sampai Agustus 2023.

Kisah Ine Pare di kampung ini dituturkan oleh Aloysius Wete, Mosalaki atau pemimpin adat, satu-satunya di Nida. Menurut penuturannya, nama yang dikenal warga adalah Ine Mbu. Ine berarti ibu, sedangkan Mbu adalah nama seorang anak perempuan yang kelak dikenal sebagai Ine Pare, Ibu Padi. Versi ini satu dari tiga versi mitos yang ada.

Mbu anak kedua dari tiga bersaudara, putri pasangan Raja dan Kaja. Kakaknya bernama Ndale, adiknya Sipi. Hidup mereka bahagia sampai tsunami melanda tanah Lio dan keluarga itu mengungsi ke Keli Mbape. Tak lama kemudian sang ayah sakit lalu meninggal, disusul sang ibu. Tiga anak yatim piatu itu memilih hidup berpindah-pindah.

Rawa di Mase Ndale

Di wilayah Mase Ndale, ketiganya mendapati warga yang menderita kelaparan dan masih memakan serbuk kayu busuk, fata mewu dalam bahasa setempat. Suatu hari Mbu mencari kayu bakar di tempat berawa. Tangannya terluka. Darahnya menetes ke tanah berlumpur, dan seketika padi tumbuh di titik tetesan itu.

Kejadian itu berulang setiap hari dan menjadi rahasia tiga bersaudara. Hidup mereka makin makmur, warga sekitar makin curiga, dan rasa penasaran itu lama-lama berubah menjadi ancaman nyata. Mereka lari ke Watu Kaka di Paga, menyeberangi wilayah Bu, Mbengu, dan Mego, lalu naik perahu melewati tanjung Watu Manu dan Sada menuju Ndondo.

Perjalanan berlanjut melewati pegunungan Membu Toro ke Keli Koja dan Keli Lima. Di sana ketiganya berpisah. Mbu dan Ndale menuju Keli Koja, sedangkan Sipi menyebarkan padi ke arah timur mulai dari Kowe Longgo. Di sepanjang jalan, orang-orang yang mereka temui masih membutuhkan padi, padahal padi hanya tumbuh dari tetesan darah Mbu.

Mbu lalu bertapa dan memohon jalan keluar kepada roh leluhur dan para dewa. Ia mendapat ilham untuk meninggalkan wujud manusia dan menjadi penjaga alam. Ndale menolak karena tidak sanggup mengorbankan adiknya sendiri. Setibanya di Keli Koja, atas desakan Mbu, Ndale akhirnya mengalah. Mbu dikorbankan, dan rohnya menjadi Ine Pare.

Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan

Sebelum dikorbankan, Mbu mengucapkan kata-kata perpisahan dalam bahasa Lio. Ia rela tubuhnya menjadi abu, daging dan darahnya menjadi tanah, ditutupi rumput oleh para dewa dan terkubur lumpur leluhur. Kalimat pembukanya berbunyi tebo neku mbale dowa awu, tubuhku menjadi abu, sebuah metafora yang menyatukan tubuh manusia dengan unsur bumi.

Kalimat berikutnya justru terdengar seperti catatan petani. Setelah dua sampai lima malam, kata Mbu, ia akan bertunas. Tiga bulan kemudian ia berbuah, dan pada bulan keempat ia masuk kampung. Para peneliti membaca urutan ini sebagai pengetahuan tentang pola tumbuh padi yang disimpan di dalam mitos.

Umur padi dalam kata terakhir MbuUmur padi dalam kata terakhir MbuUmur padi dalam kata terakhir MbuTeks 1, mitos Ine Mbu dalam bahasa LioTanambenih masuk tanah berlumpur2-5malam: benih bertunas (kobe lima rua)3 blnpadi berbuah (wula telu)4 blnpadi dibawa masuk kampung (wula sutu)Urutan sesuai kalimat Mbu sebelum ia dikorbankan.
Sumber: Dentiana Rero, Hasanuddin, Elly Malihah, Sapriya, dan Neiny Ratmaningsih, Myth and Ritual of Ine Pare: An Anthropolinguistic Study of Ende-Lio Ethnic Culture, Flores, Jurnal Arbitrer, 12(3), 2025. Grafik: Cekricek.id

Mbu juga berjanji menyaksikan siapa pun yang mengangkat dan memikulnya, dari benih, tunas, sampai bulir. Kalimat penutupnya adalah sumpah: Aku Beke kau tango, nuwa kobe nuwa leja. Artinya, aku tegaskan dan jamin, malam dan siang. Dalam pembacaan para peneliti, janji itu melambangkan komitmen Mbu menjamin ketersediaan pangan bagi warganya.

Ladang Poka Taba

Ritual Ine Pare adalah peragaan kembali kisah itu, dijalankan setiap tahun mengikuti siklus padi ladang. Tahap pertama, poka taba, adalah membuka ladang. Untuk ladang baru, syaratnya berat: seekor hewan besar seperti kerbau atau sapi, beras, rempah, dan busana adat. Membersihkan ladang lama untuk ditanami ulang punya syarat berbeda.

Empat tahap ritual Ine Pare di Desa NidaEmpat tahap ritual Ine Pare di Desa NidaEmpat tahap ritual Ine Pare di Desa NidaEnde-Lio, Kabupaten Ende, FloresPoka Tababuka ladangTedo ParetanambenihKeti ParepanenbersamaNuwaBo'omakan padibaruTahundiulang tiapmusim padiRitual wajib dijalankan setiap tahun mengikuti siklus padi ladang.
Sumber: Dentiana Rero, Hasanuddin, Elly Malihah, Sapriya, dan Neiny Ratmaningsih, Myth and Ritual of Ine Pare: An Anthropolinguistic Study of Ende-Lio Ethnic Culture, Flores, Jurnal Arbitrer, 12(3), 2025. Grafik: Cekricek.id

Saat membuka ladang baru, Mosalaki mengenakan ragi atau sarung, lambu atau baju, podi atau ikat kepala, dan senai atau selempang. Ia lalu merapal mantra memohon izin kepada nitu pa’i, roh penjaga tanah, batu, dan pohon-pohon besar. Salah satu kalimatnya menegaskan bahwa warga tidak datang untuk menetap, melainkan hanya untuk bekerja.

Dalam mantra itu warga berjanji dan berharap tidak digigit ular, tidak terluka parang, dan tidak diserang binatang buas. Bila perjanjian dilanggar, bencana diyakini datang, mulai dari kecelakaan kerja sampai pohon tumbang, longsor, atau banjir bandang. Karena itu, menurut para peneliti, warga sangat berhati-hati ketika membuka lahan atau memanfaatkan alam lebih jauh.

Para peneliti melihat kewajiban mengorbankan hewan besar itu sebagai rem. Kerbau dan sapi bernilai ekonomi tinggi, sehingga membuka lahan baru tanpa alasan kuat akan lebih mahal daripada kehilangan seekor hewan. Ada pula pantangan menggarap lahan yang sama lebih dari sekali setahun, yang mereka baca sebagai pengetahuan tentang pola hujan dan waktu bagi tanah membentuk humus.

Menjelang tanam, tahap tedo pare, seekor sapi dikorbankan dan darahnya dicampur dengan benih padi sebelum ditanam. Sebuah keranjang disiapkan berisi benih dan batu. Di atas batu diletakkan daun mundi sebagai tempat duduk Ine Pare. Keranjang itu diikat tali aji leke bersama sarung, selendang, perhiasan, dan minyak kemiri.

Penanaman memakai bambu runcing yang ujungnya diikat daun pulu. Bambu ditancapkan ke tanah, benih dimasukkan ke lubangnya, lalu disiram secara teratur. Mosalaki dan warga melantunkan mantra bersama, salah satu barisnya menyebut tiga langkah menanam padi: menyiapkan tanah, menaati pantangan, lalu menanam. Mantra itu juga memuat seruan agar benih tumbuh dan bertunas.

Pantangan yang dimaksud cukup rinci. Selama ritual, peserta dilarang bertengkar dan dilarang mengucapkan kata kasar. Warga wajib menanam serentak menurut kalender adat atau perintah Mosalaki, dan tidak boleh meninggalkan upacara sebelum selesai. Pelanggaran diyakini berujung pada hama, gagal panen, bahkan bencana alam.

Mosalaki menyebut akibat terberatnya bila ritual itu sendiri diabaikan. “Jika ritual diabaikan, warga akan ditimpa wabah, gangguan kesehatan, penyakit yang tak tersembuhkan, dan hama padi,” demikian pernyataan pemimpin adat Nida itu, yang dicatat para peneliti dalam bahasa Lio dan diterjemahkan ke bahasa Inggris di naskah mereka. Warga yang tidak menjalankan ritual dianggap melanggar hukum adat dan bisa diusir tetua.

Baca juga Sasando dan Tiga Versi Asal-usulnya di Desa Oebou, Rote Ndao

Pondok Bambu Keti Pare

Saat panen, tahap keti pare, peserta mengenakan pela ine pare, perhiasan Ibu Padi, berupa sarung, baju, ikat kepala, dan selendang adat. Mantra dinyanyikan sepanjang panen, dan seruan bele do dhae mai, berkumpul dan memanen, diulang terus-menerus. Padi yang masih bertangkai lalu dipikul dalam keranjang ke sebuah rumah bambu dekat kampung.

Di rumah itu padi disimpan, dirontokkan, dan diolah menjadi beras. Para peneliti mencatat padi hasil panen diperlakukan seperti kerabat, kehadiran yang mirip manusia, yang keselamatannya diharapkan membawa berkah bagi warga. Karena itu padi ditempatkan dengan layak agar aman dari pencurian, gangguan binatang, dan kemalangan lain.

Tahap terakhir adalah nuwa bo’o, makan padi baru. Sebagian beras ditanak dan disajikan bersama, sebagian lagi disangrai lalu digiling dengan batu untuk dibagikan kepada keluarga dan warga yang ikut membantu. Mantranya menyebut menu yang lengkap: nasi, daging kambing hutan atau kambing, udang, katak, dan ulat bambu.

Mantra yang sama memohon agar tidak ada yang sakit perut, agar makanan menyehatkan tubuh dan membuatnya tumbuh tinggi dan kuat. Para peneliti membacanya sebagai pengetahuan gizi, karena warga mengenal sumber protein di luar nasi. Salah satu barisnya menutup dengan kalimat bahwa pantangan telah lengkap dan hanya kata-kata baik yang diucapkan.

Kelima peneliti menilai mitos dan ritual itu tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain. “Jika mitos Ine Pare hilang, ritual akan kehilangan titik rujukannya; begitu pula jika ritual lenyap, mitos akan menjadi sekadar cerita tanpa makna,” tulis Dentiana Rero dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menanyakan mana yang lebih dulu, menurut mereka, sama seperti menanyakan telur atau ubi.

Bahasa ritual itu sendiri, menurut para peneliti, bekerja sebagai tindakan. Mantranya didominasi kalimat perintah dan harapan, memakai kata ganti kami yang menegaskan tanggung jawab bersama, dan penuh pengulangan seperti bele do, do, do yang membangun irama sekaligus memudahkan hafalan. Angka keramat tiga, esa telu, membentuk susunan bertiga yang melambangkan keselarasan kosmos.

Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu

Jalan ke Kupang

Warga dan Mosalaki yakin Ine Pare akan terus hidup karena Nida terpencil. Namun wawancara para peneliti menunjukkan 10 sampai 15 persen lulusan SMA Nida merantau ke Kupang, Surabaya, atau Malang setiap tahun. Mereka juga mengutip data BPS bahwa tingkat urbanisasi Kabupaten Ende naik dari 28 persen pada 2010 menjadi 36 persen pada 2023.

Selain perantauan, para peneliti menyebut media digital, wisata yang menjadikan ritual sekadar tontonan, dan kebijakan pembangunan yang abai pada kearifan setempat sebagai tekanan lain. Mereka mengusulkan dokumentasi digital atas kisah dan mantra, memasukkan materi Ine Pare ke kurikulum sekolah, memberdayakan generasi muda, dan mengembangkan wisata budaya yang tetap menjaga kesakralan ritual.

Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Yang dianalisis hanya teks lisan, yakni mitos dan mantra, beserta konteks ritualnya di satu desa. Variasi dialek Lio, perbandingan dengan desa lain, dan dampak wisata yang lebih luas tidak dibahas. Gerak tubuh dan benda ritual juga tidak dianalisis, sehingga temuannya berlaku khusus untuk Nida.

Angka yang Tak Sama

Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Umur Aloysius Wete tercatat 58 tahun di tabel informan dan di badan naskah, tetapi di lampiran kisah Ine Mbu, yang dituturkan pada 9 Juni 2023, umurnya tertulis 78 tahun. Tahap makan padi baru juga disebut dengan dua nama, mi are dan nuwa bo’o.

Jumlah bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur disebut lebih dari 50 di bagian hasil, lalu lebih dari 70 di bagian pembahasan. Karya Larasati tahun 2018 dirujuk sebagai sumber tiga versi mitos Ine Pare, tetapi di bagian lain disebut meneliti suku Atoni Pah Meto sehingga dinilai tidak relevan untuk konteks Lio-Ende.

Ada pula ketegangan yang tidak dibahas naskah. Di antara pantangan yang dicatat, mitos Ine Pare tidak boleh diceritakan kepada generasi muda kecuali mereka sudah berusia di atas 50 tahun. Padahal salah satu usulan para peneliti adalah memasukkan materi Ine Pare ke kurikulum sekolah formal, yang muridnya jelas jauh lebih muda dari itu.

Batu di kaki tangga nabe pare adalah pijakan pertama menuju altar Ibu Padi. Di atas batu seperti itulah daun mundi diletakkan sebagai tempat duduk Ine Pare ketika benih hendak ditanam. Selama warga Nida masih naik ke pondok bambu itu setiap tahun, kisah tentang darah yang menetes di rawa masih punya tempat untuk diulang.

Bagikan

Baca Juga

Tradisi Hadiah Hajatan Makassar di Jeneponto, Perekat atau Utang
Novel Korpus Uterus: Empat Ketidakadilan dan Empat Perlawanan
Tari Sepi ISI Padangpanjang Pentaskan Kesepian Remaja
Lowalangi, Nama Dewa Nias yang Kini Disebut dalam Doa Kristen
ORPA Namblong, Saat Adat Dipakai Membela Perempuan Papua
Yatai Kesehatan di Gang Tokyo, Obrolan Jarang Soal Penyakit