Ibu Hamil Ukraina Bertahan atau Pergi, Gangguan Perang Penentunya

A A

Gedung tua rumah bersalin berarsitektur klasik di Balta, Oblast Odesa, Ukraina [Foto: Дмитрий Жданов (Dmitriy Zhdanov)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 617 orang bertahan di Ukraina, sedangkan 113 orang mengungsi ke luar negeri.
  • Yang berbeda tajam adalah seberapa berat perang dirasakan mengacaukan hidup sehari-hari.
  • Keuangan sebelum perang memperlihatkan pola berbentuk huruf U.
  • Dalam perang, keberanian mengambil risiko tampaknya berkaitan dengan tinggal, bukan dengan pergi.
  • Perempuan yang melahirkan di luar negeri menunjukkan prevalensi depresi pascapersalinan lebih tinggi daripada yang bertahan.
Daftar Isi
  1. Dari Kosovo 1998 hingga Tigray 2022: Perempuan Menanggung Lebih Berat
  2. Biehler, Lushchak, dan Stevenson Menggoyang Anggapan bahwa Pergi Selalu Melegakan
  3. Desember 2022 hingga Oktober 2023: Gangguan Hidup Harian Menjadi Penentu
  4. Olowojolu dan Ettang, Ekstraversi, dan Mereka yang Memilih Tinggal
  5. Masa Hamil dan Masa Sesudah Melahirkan: Dua Tahap, Dua Pola Pendidikan
  6. Jejak Bilewicz dan Bank Dunia: Depresi yang Ikut Menyeberang
  7. Batas Data dan Catatan yang Belum Rapi dalam Naskah 2026

Pada 24 Februari 2022, Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina, dan layanan persalinan ikut terseret. Hingga 2025, sekitar sepuluh persen fasilitas medis di negara itu rusak langsung, termasuk banyak rumah sakit bersalin, dan sebuah rumah sakit bersalin di Kharkiv hancur pada 11 Juni 2025. Di tengah keadaan itu, perempuan hamil dan ibu yang baru melahirkan harus memutuskan apakah bertahan di tanah air atau pergi ke luar negeri.

Keputusan itulah yang diteliti Liudmyla Krupelnytska, Nazar Yatsenko, Magdalena Chrzan-Dętkoś, Natalia Murawska, Alona Vavilova, Olha Morozova-Larina, Helena S. García López, dan Maria F. Rodríguez-Muñoz dalam Bravery of giving birth in the homeland: pregnant women’s and new mothers’ decisions on staying in Ukraine during the war, BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2241, tahun 2026. Mereka berasal dari Taras Shevchenko National University of Kyiv, University of Gdańsk di Polandia, dan Universidad Nacional de Educación a Distancia di Madrid.

Dari Kosovo 1998 hingga Tigray 2022: Perempuan Menanggung Lebih Berat

Jauh sebelum invasi itu, riset tentang perang sudah mencatat bahwa perempuan menanggung beban jiwa lebih berat. Data Perang Kosovo 1998–1999 yang dirujuk naskah menunjukkan 19,7 persen perempuan memenuhi kriteria gangguan stres pascatrauma atau PTSD, dibanding 12 persen laki-laki, dan jarak itu masih terlihat dua tahun kemudian. Pola serupa tercatat setelah Perang Lebanon 2006, pemberontakan M23 di Republik Demokratik Kongo, dan Perang Tigray di Etiopia.

Yang membuatnya ganjil, kesenjangan itu kerap bertahan meski perempuan melaporkan paparan trauma langsung yang lebih sedikit, sementara kehilangan relasi dan keretakan sosial muncul sebagai pemicu yang menonjol. Di dalam kelompok perempuan, ibu hamil dan ibu baru dipandang paling rentan, sebab kehamilan dan masa sesudah melahirkan adalah masa kerentanan biologis, psikologis, dan sosial, dan perang memutus akses ke layanan sebelum dan sekitar persalinan.

Selama puluhan tahun pula, migrasi dipahami sebagai hasil pertimbangan rasional tentang untung dan rugi jangka panjang. Naskah 2026 mencatat bahwa bukti yang lebih baru menilai kerangka pilihan rasional itu, paling jauh, terlalu menyederhanakan. Keputusan di masa krisis dibentuk oleh tekanan emosi, waktu yang sempit, keadaan pribadi, dan informasi yang simpang siur, dan pada ibu hamil ditambah pertimbangan kesehatan yang khas.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Biehler, Lushchak, dan Stevenson Menggoyang Anggapan bahwa Pergi Selalu Melegakan

Kerangka yang lazim dipakai untuk membaca perpindahan di masa krisis adalah faktor pendorong dan penarik, atau push and pull, yakni hal yang memaksa orang pergi atau memikatnya ke tempat lain. Kekerasan perang dan ancaman keselamatan biasanya dihitung sebagai pendorong kuat. Namun, seperti dicatat Biehler, riset lebih sering menyelidiki alasan orang pergi dan kurang memperhatikan mengapa sebagian orang memilih tinggal.

Data awal dari Ukraina lalu menggoyang anggapan lama itu. Lushchak dan rekan-rekannya mendapati perempuan yang tidak mengungsi justru sedikit lebih jarang mengalami kemungkinan PTSD, yakni 50,8 persen, dibanding yang pindah, 62,2 persen. Tinjauan Stevenson dan rekan-rekannya menyimpulkan pemindahan paksa berkaitan dengan risiko depresi perinatal yang lebih tinggi, menimpa kira-kira satu dari tiga perempuan yang terusir dari rumahnya.

Krupelnytska dan rekan-rekannya membaca kedua temuan itu sebagai tantangan terbuka. “Temuan-temuan ini menantang anggapan intuitif bahwa pindah memberi kelegaan psikologis dan memunculkan pertanyaan penting tentang faktor yang menuntun keputusan sepenting itu,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dari titik itulah mereka bertanya faktor apa yang berkaitan dengan keputusan tinggal, dan apakah kepribadian ikut berperan.

Desember 2022 hingga Oktober 2023: Gangguan Hidup Harian Menjadi Penentu

Jawaban datang dari 730 perempuan yang hamil atau baru melahirkan selama invasi, disurvei secara daring antara Desember 2022 dan Oktober 2023. Sebanyak 617 orang bertahan di Ukraina, sedangkan 113 orang mengungsi ke luar negeri. Secara keseluruhan, kedua kelompok ternyata tidak berbeda bermakna dalam jarak rumah asal ke medan pertempuran, kondisi keuangan sebelum perang, maupun tingkat pendidikan.

Yang berbeda tajam adalah seberapa berat perang dirasakan mengacaukan hidup sehari-hari. Di antara yang mengungsi, 32 sampai 40 persen menyebut hidup mereka sangat terganggu sejak perang pecah, sementara di antara yang bertahan angkanya hanya 10 sampai 20 persen. Dalam model pohon keputusan yang disusun penulis, gangguan hidup harian menjadi pemisah pertama dan paling informatif, baik di sampel penuh maupun di dua subkelompok.

Yang bertahan dan yang mengungsiYang bertahan dan yang mengungsiYang bertahan dan yang mengungsi730 perempuan hamil dan ibu baru asal UkrainaBertahan di UkrainaMengungsi ke luar617 orang113 orangJumlah responden10-20%32-40%Hidup sangattergangguLebih rendahLebih tinggiDepresipascapersalinanTak berbedaTak berbedaLima cirikepribadianJarak rumah ke pertempuran, keuangan sebelum perang, danpendidikan tidak berbeda bermakna antara dua kelompok.
Sumber: Liudmyla Krupelnytska, Nazar Yatsenko, Magdalena Chrzan-Dętkoś, Natalia Murawska, Alona Vavilova, Olha Morozova-Larina, Helena S. García López, dan Maria F. Rodríguez-Muñoz, Bravery of giving birth in the homeland: pregnant women’s and new mothers’ decisions on staying in Ukraine during the war, BMC Public Health, 26(2241), 2026. Grafik: Cekricek.id

Menurut peringkat kepentingan variabel, gangguan hidup harian bernilai 39, disusul jarak ke pertempuran 22, ekstraversi 19, keuangan sebelum perang 16, dan stabilitas emosi 4. Di antara perempuan yang melaporkan gangguan tinggi atau sangat tinggi, 61,9 persen terklasifikasi mengungsi. Mereka yang tinggal di wilayah dekat pertempuran dalam cabang itu terklasifikasi mengungsi dalam 77,1 persen kasus, tanpa pemilahan lebih lanjut.

Keuangan sebelum perang memperlihatkan pola berbentuk huruf U. Di cabang yang gangguannya lebih ringan dan ekstraversinya lebih rendah, perempuan berpenghasilan sedang masih cenderung bertahan, 63,6 persen, sedangkan yang berpenghasilan rendah atau tinggi terklasifikasi mengungsi dalam 73,5 persen kasus. Penulis menafsirkan kekurangan sebagai pendorong dan kecukupan sebagai penarik, sehingga kelompok menengah paling sedikit terdorong untuk pergi.

Apa yang paling membedakan keputusanGangguan hidup harian: Kepentingan variabel +39; Jarak ke pertempuran: Kepentingan variabel +22; Ekstraversi: Kepentingan variabel +19; Keuangan sebelum perang: Kepentingan variabel +16; Stabilitas emosi: Kepentingan variabel +4.Apa yang paling membedakan keputusanNilai kepentingan variabel pada pohon keputusan sampel penuh102030400Gangguan hidup harian39Jarak ke pertempuran22Ekstraversi19Keuangan sebelum perang16Stabilitas emosi4Makin besar nilainya, makin kuat variabel itu memisahkan yangmengungsi dari yang bertahan.
Sumber: Liudmyla Krupelnytska, Nazar Yatsenko, Magdalena Chrzan-Dętkoś, Natalia Murawska, Alona Vavilova, Olha Morozova-Larina, Helena S. García López, dan Maria F. Rodríguez-Muñoz, Bravery of giving birth in the homeland: pregnant women’s and new mothers’ decisions on staying in Ukraine during the war, BMC Public Health, 26(2241), 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Olowojolu dan Ettang, Ekstraversi, dan Mereka yang Memilih Tinggal

Pertanyaan kedua menyangkut kepribadian, diukur dengan lima ciri besar, yaitu ekstraversi, keramahan, kehati-hatian, stabilitas emosi, dan keterbukaan. Hasilnya tegas di satu sisi. Rerata skor kedua kelompok berkisar 4,1 sampai 5,6, dan tidak satu pun dari lima ciri itu berbeda bermakna antara yang bertahan dan yang mengungsi setelah koreksi untuk perbandingan berganda.

Meski begitu, ekstraversi muncul sebagai faktor sekunder di cabang-cabang tertentu. Di antara perempuan dengan gangguan hidup yang lebih ringan, mereka yang skor ekstraversinya di atas 4,5 terklasifikasi bertahan dalam 77,9 persen kasus. Penulis menyejajarkan temuan ini dengan riset Olowojolu dan Ettang di Nigeria timur laut semasa konflik Boko Haram, ketika orang yang lebih menghindari risiko lebih mungkin lari dan yang lebih tahan risiko cenderung tinggal.

Di situ rantai riset justru bercabang. Penulis menyebut kaitan ekstraversi dengan kecenderungan mengambil risiko sebagai kemungkinan penjelas. Pola itu berlawanan dengan migrasi ekonomi sukarela yang digambarkan Otonneli dan Toresu, ketika orang yang lebih berani menanggung risiko justru lebih condong pindah. Dalam perang, keberanian mengambil risiko tampaknya berkaitan dengan tinggal, bukan dengan pergi.

Penulis tidak menimbang salah satu pilihan sebagai lebih mulia. Tinggal di tanah air berarti hidup di bawah ancaman dan sirene serangan udara dengan layanan kesehatan yang rusak, meski di lingkungan akrab dengan jaringan dukungan yang sudah ada. Pindah berarti berpisah dari keluarga, menghadapi kendala bahasa dan budaya, dan terus mencemaskan yang ditinggal. “Meski berbeda sifatnya, kedua pilihan itu mencerminkan tindakan yang sangat berani,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.

Masa Hamil dan Masa Sesudah Melahirkan: Dua Tahap, Dua Pola Pendidikan

Karena status hamil atau sudah melahirkan dianggap penting, penulis juga memisahkan kedua kelompok. Pada ibu hamil, perempuan dengan gangguan hidup sangat tinggi terklasifikasi mengungsi dalam 73,7 persen kasus. Di antara yang gangguannya tidak setinggi itu, ekstraversi rendah dikaitkan dengan 65,1 persen klasifikasi mengungsi, sedangkan ekstraversi tinggi hanya dengan 28,0 persen.

Ibu hamil berekstraversi tinggi dan berpendidikan pascasarjana membentuk profil paling stabil di semua model, dengan 91,7 persen terklasifikasi bertahan. Penulis menduga pindah sebelum melahirkan bisa memutus kesinambungan layanan kehamilan, sementara hambatan hukum, biaya, bahasa, dan administrasi di negara tujuan membatasi layanan pranatal. Pendidikan tinggi mungkin membantu keputusan yang lebih terinformasi untuk tetap di lingkungan layanan yang sudah dikenal.

Pada ibu baru, arahnya berbalik. Di cabang gangguan tinggi atau sangat tinggi, ibu berpendidikan pascasarjana terklasifikasi mengungsi dalam 70,4 persen kasus, dan yang stabilitas emosinya lebih tinggi mencapai 78,3 persen, peluang mengungsi tertinggi di model itu. Penulis menafsirkan pendidikan setelah melahirkan lebih berfungsi sebagai bekal untuk pindah, ketika yang dikejar adalah kondisi yang lebih aman dan stabil bagi bayi.

Penulis sendiri lalu memeriksa data yang diamati apa adanya. Di sana, proporsi yang mengungsi hampir sama antarjenjang pendidikan, yakni 11,2 persen pascasarjana dan 13,8 persen sarjana pada ibu hamil, serta 17,1 persen dan 16,7 persen pada ibu baru. Artinya, pendidikan sendiri tidak membedakan, dan kontras itu baru muncul setelah perempuan dipilah menurut gangguan hidup dan ekstraversi.

Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat

Jejak Bilewicz dan Bank Dunia: Depresi yang Ikut Menyeberang

Temuan tentang depresi pascapersalinan menyambung rantai yang lain. Perempuan yang melahirkan di luar negeri menunjukkan prevalensi depresi pascapersalinan lebih tinggi daripada yang bertahan. Kelompok yang bertahan juga melaporkan gejala depresi, cemas, dan anhedonia yang lebih rendah. Penulis mengaitkannya dengan stresor sesudah migrasi, seperti kemiskinan, diskriminasi, dan keterasingan sosial, yang juga didokumentasikan Bilewicz dan rekan-rekannya pada pengungsi Ukraina.

Pola itu sejalan dengan studi pada pengungsi Suriah dan Palestina serta dengan temuan Lushchak. Penulis mengingatkan agar kehamilan dan menjadi ibu tidak dianggap sebagai penyebab distres. Menurut Bank Dunia yang dirujuk naskah, pada 2015, setelah aneksasi Krimea dan pendudukan sebagian Donbas tahun 2014, prevalensi depresi di Ukraina sudah 6,3 persen, kecemasan 3,2 persen, dan PTSD 8 persen.

Dari situ penulis menarik pesan bagi tenaga profesional. “Para profesional yang bekerja dengan perempuan hamil dan ibu baru yang mengungsi hendaknya menyadari bahwa pindah tidak serta-merta menghapus stres terkait perang dan bisa disertai beban baru,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Pada saat yang sama, perempuan yang bertahan tetap menghadapi risiko dan hidup yang tidak stabil, sehingga dukungan yang peka trauma dibutuhkan kedua kelompok.

Batas Data dan Catatan yang Belum Rapi dalam Naskah 2026

Penulis mengakui sejumlah batas. Tidak ada responden dari wilayah yang diduduki Rusia, yakni Luhansk, Donetsk, dan Krimea, maupun dari Oblast Kherson dan Chernihiv, padahal kedekatan dengan pertempuran termasuk penentu utama. Data demografi rinci, termasuk keberadaan dan dinas militer pasangan, sengaja tidak dikumpulkan demi keselamatan responden, dan desain studinya hanya bisa menunjukkan keterkaitan, bukan sebab-akibat.

Rekrutmen lewat media sosial dan pusat dukungan bisa membuat perempuan yang lebih sulit dijangkau tidak terwakili. Angka peluang di tiap cabang model pun, kata penulis, adalah pola klasifikasi dalam skenario yang diseimbangkan, bukan perkiraan untuk seluruh populasi. Daya pembeda model terbatas hingga sedang, sehingga faktor lain yang tak terukur, seperti dukungan keluarga dan tanggungan anak lain, kemungkinan ikut bekerja.

Pembaca yang membuka naskah juga akan menemukan beberapa hal yang tidak saling cocok. Di Tabel 1, baris depresi pascapersalinan memuat 31 dan 41 orang, total 72, pada kolom yang menurut kepala tabel adalah ibu hamil yang mengungsi, padahal kelompok itu hanya 29 orang. Urutan kolom pada baris tersebut tampaknya berbeda dari kepala tabel, dan label depresi pascapersalinan juga dikenakan pada kolom ibu hamil.

Pada model ibu hamil, kelompok berekstraversi tinggi dan berpendidikan sarjana ditulis berjumlah 34 orang, tetapi dua pecahannya berjumlah 15 dan 20 orang, atau 35 orang. Lalu, di bagian hasil keterbukaan tidak masuk pohon akhir dan tidak berbeda bermakna antarkelompok, sementara bagian diskusi menulis bahwa orang yang lebih terbuka cenderung pindah.

Dengan temuan ini, naskah 2026 menambah satu mata rantai pada riset yang sejak Kosovo hingga Tigray memetakan beban perang pada perempuan. Bila Biehler mencatat riset lebih banyak bertanya mengapa orang pergi, Krupelnytska dan rekan-rekannya menambahkan jawaban awal tentang mengapa sebagian ibu tinggal, yang ternyata lebih bergantung pada seberapa jauh perang mengacaukan hidup harian ketimbang pada watak.

Bagikan

Baca Juga

Yogurt Tepung Pisang Batu Turunkan Gula Darah Pasien Diabetes
Tari Sepi ISI Padangpanjang Pentaskan Kesepian Remaja
Literasi Fisik Anak Prasekolah Swedia: Bergerak karena Senang
Pekerja Rumah Tangga Peru: Libur Ada, Slip Gaji Cuma 2,8 Persen
Dadih Diperkaya Buah Naga Tekan Kenaikan Berat Tikus Obesitas
Kurang Kemauan Jadi Hambatan Gerak Mahasiswa Farmasi Malaya