Umbi Samoa Susut 81,6 Persen, Impor Minuman Naik 241 Persen

A A

Pedagang menjajakan umbi, kelapa, dan hasil kebun di Pasar Makeki Fou, Apia, Samoa [Foto: Sarah Kelemen/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Energi dari singkong dan ubi pada pasokan pangan nasional Samoa susut 81,6 persen dari 2010 ke 2023.
  • Minyak nabati naik dari 217,11 menjadi 307,80 kilokalori per orang per hari, atau 41,8 persen.
  • Nilai impor minuman nonalkohol melonjak dari sekitar 1,70 juta menjadi 5,80 juta dolar, naik 241 persen dalam periode yang sama.
  • Leaupepe dan Pupi menegaskan bahwa hubungan itu hanya berlaku di tingkat negara dan tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Leaupepe dan Pupi menghitung apa yang tersisa dari singkong dan ubi di pasokan pangan nasional
  2. Leaupepe dan Pupi menimbang minyak nabati, gula, dan daging yang mengisi ruang kosong itu
  3. Leaupepe dan Pupi membuka catatan dagang gula dan minuman nonalkohol yang masuk ke Samoa
  4. Leaupepe dan Pupi mencari benang antara susutnya umbi dan bertambahnya minuman impor
  5. Leaupepe dan Pupi menaruh angka-angka itu di meja para pengambil kebijakan Samoa
  6. Beberapa hal janggal yang masih bisa diperiksa sendiri dalam naskah Leaupepe dan Pupi

Keresoma Leaupepe menyusun ulang empat belas tahun catatan pangan Samoa, dan satu angka menonjol paling tajam. Energi yang disumbangkan singkong dan ubi pada pasokan pangan nasional negeri kepulauan itu tinggal 9,44 kilokalori per orang per hari pada 2023. Tiga belas tahun sebelumnya, pada 2010, angkanya masih 51,30 kilokalori, sehingga susut 81,6 persen.

Leaupepe menuliskan temuan itu bersama Darryl Pupi dalam Selected food availability and sugar-related imports as indicators of dietary transition in Samoa, 2010–2023, BMC Public Health, tahun 2026. Naskah ini masih berstatus dalam proses terbit, sehingga belum bervolume dan bernomor. Leaupepe, penulis korespondensinya, bernaung di Fakultas Ilmu Kesehatan, Sekolah Kedokteran National University of Samoa di Apia.

Rekan menulisnya, Darryl Pupi, bekerja untuk Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa di Apia. Menurut naskahnya, Leaupepe dan Pupi merancang studi ini berdua tanpa pendanaan khusus, dengan menyandingkan neraca pangan FAOSTAT dan catatan dagang UN Comtrade untuk seluruh Samoa. Yang mereka baca adalah ketersediaan pangan di tingkat negara, bukan isi piring tiap keluarga.

Di balik pilihan itu ada kegelisahan yang ditulis Leaupepe dan Pupi di bagian awal naskah. Penyakit tidak menular menyebabkan lebih dari 80 persen kematian di Samoa, dengan penyakit jantung iskemik, stroke, diabetes melitus, dan penyakit pernapasan kronis di antara penyebab utamanya. Menurut rujukan Organisasi Kesehatan Dunia yang mereka pakai, sekitar 46 persen orang dewasa Samoa hidup dengan obesitas pada 2016.

Leaupepe dan Pupi menghitung apa yang tersisa dari singkong dan ubi di pasokan pangan nasional

Leaupepe dan Pupi memulai dari pangan yang paling akrab bagi orang Samoa. Dalam naskahnya mereka mendaftar talas, sukun, singkong, ubi, pisang, kelapa, ikan, dan hasil laut lain sebagai bahan pangan tradisional. Menurut kedua penulis, pangan itu masih penting secara budaya dan tetap dimakan di rumah tangga, desa, gereja, serta dalam upacara.

Namun Leaupepe dan Pupi juga mencatat bahwa lingkungan pangan sehari-hari kini kian diisi beras impor, produk berbasis gandum, daging olahan, makanan kaleng, mi instan, gula-gula, dan minuman manis. Karena itu mereka berhati-hati memilih kata. “Transisi yang terjadi tidak berarti pangan tradisional telah lenyap; sebaliknya, ini mencerminkan keseimbangan yang berubah antara pangan produksi lokal dan produk olahan impor dalam pasokan pangan nasional,” tulis Leaupepe dan Pupi dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Kehati-hatian yang sama berlaku untuk angka umbi. Kategori umbi dalam hitungan Leaupepe dan Pupi hanya berisi singkong dan ubi, dan yang menyusut adalah energi yang keduanya sumbangkan pada pasokan nasional. Kedua penulis menegaskan penurunan itu tidak boleh dibaca sebagai penurunan setara dalam berat fisik pangan yang tersedia, apalagi sebagai konsumsi rumah tangga.

Meski begitu, arah perubahannya menurut Leaupepe dan Pupi cukup tegas. Umbi kehilangan rata-rata 4,53 kilokalori per orang per hari setiap tahun sepanjang periode itu, dan kecenderungan ini bermakna secara statistik. Dalam pembacaan kedua penulis, singkong dan ubi makin sedikit menyumbang energi pada pasokan pangan nasional, sejalan dengan pergeseran dari makanan pokok tradisional ke pangan impor yang digambarkan riset lain di Kepulauan Pasifik.

Pangan dan impor Samoa, 2010 dan 2023Umbi turun dari 51,30 ke 9,44 kkal; minyak nabati naik ke 307,80; impor minuman naik dari 1,70 ke 5,80 juta dolar AS.Pangan dan impor Samoa, 2010 dan 2023Ketersediaan pangan dalam kkal per orang per hari2010202351,309,44Umbi (singkong +ubi)217,11307,80Minyak nabati261,11306,24Gula404,86435,76Daging total5,935,38Impor gula (US$juta)1,705,80Impor minuman(US$ juta)Baris impor dalam juta dolar AS nominal. Minuman = minumannonalkohol.
Sumber: Keresoma Leaupepe dan Darryl Pupi, Selected food availability and sugar-related imports as indicators of dietary transition in Samoa, 2010–2023, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Leaupepe dan Pupi menimbang minyak nabati, gula, dan daging yang mengisi ruang kosong itu

Di sisi lain neraca, Leaupepe dan Pupi menemukan pangan padat energi yang terus bertambah. Minyak nabati naik dari 217,11 menjadi 307,80 kilokalori per orang per hari, atau 41,8 persen. Gula naik dari 261,11 menjadi 306,24 kilokalori, sekitar 17,3 persen. Daging total, gabungan daging sapi, babi, dan unggas, naik tipis 7,6 persen menjadi 435,76 kilokalori.

Tidak semua kenaikan itu sama kuatnya dalam hitungan Leaupepe dan Pupi. Minyak nabati bertambah rata-rata 7,30 kilokalori per orang per hari setiap tahun dan kecenderungannya bermakna secara statistik. Gula memang naik rata-rata 5,48 kilokalori setahun, tetapi tidak bermakna. Daging bahkan tidak menunjukkan kecenderungan yang berarti, dengan kenaikan rata-rata 1,73 kilokalori per tahun.

Leaupepe dan Pupi membaca gabungan angka ini sebagai pasokan pangan nasional yang makin padat energi. Umbi menyusut, minyak nabati bertambah, dan ketersediaan gula bertahan tinggi. Menurut kedua penulis, pola serupa telah dilaporkan di negara-negara Kepulauan Pasifik, tempat bertambahnya lemak, gula, dan pangan olahan menyertai pembangunan ekonomi, urbanisasi, dan ketergantungan pada pangan impor.

Leaupepe dan Pupi juga menyinggung dua makanan pokok impor, gandum dan beras, yang ikut mereka masukkan ke dalam himpunan data. Menurut kedua penulis, perubahan utama justru terletak pada susutnya umbi tradisional dan bertambahnya pangan padat energi. Naskah itu tidak menjelaskan lebih jauh seberapa besar pergeseran pada gandum dan beras selama empat belas tahun tersebut.

Leaupepe dan Pupi membuka catatan dagang gula dan minuman nonalkohol yang masuk ke Samoa

Setelah neraca pangan, Leaupepe dan Pupi beralih ke dua jenis barang impor, yakni gula tebu atau bit mentah dan minuman nonalkohol. Keduanya dipilih karena menyumbang banyak gula bebas dengan sedikit nilai gizi. Kedua penulis menegaskan dua barang ini hanya satu bagian dari sistem pangan dan bukan ukuran menyeluruh atas semua pangan olahan yang masuk.

Hasilnya bertolak belakang di mata Leaupepe dan Pupi. Nilai impor gula justru turun sedikit, dari sekitar 5,93 juta dolar Amerika Serikat pada 2010 menjadi 5,38 juta dolar pada 2023, atau 9,4 persen. Sebaliknya, nilai impor minuman nonalkohol melonjak dari sekitar 1,70 juta menjadi 5,80 juta dolar, naik 241 persen dalam periode yang sama.

Selisih antara gula di neraca pangan dan gula di catatan dagang tidak mereka abaikan. “Ketersediaan gula meningkat selama periode studi meski nilai impor gula yang dilaporkan sedikit menurun,” tulis Leaupepe dan Pupi, juga dalam bahasa Inggris aslinya. Menurut keduanya, neraca pangan mengukur energi yang tersedia, sedangkan nilai dagang dipengaruhi harga komoditas, kurs, komposisi pengiriman, dan kondisi pasar lain.

Leaupepe dan Pupi juga mengingatkan bahwa nilai impor itu dicatat dalam dolar nominal dan tidak disesuaikan dengan inflasi. Artinya, sebagian perubahan nilai bisa mencerminkan naik turunnya harga dan kurs, bukan jumlah barang yang benar-benar masuk. Pertumbuhan penduduk, menurut kedua penulis, juga mungkin ikut mendorong kenaikan nilai impor secara keseluruhan.

Perubahan 2010 ke 2023Impor minuman: Perubahan +241,0%; Minyak nabati: Perubahan +41,8%; Gula: Perubahan +17,3%; Daging total: Perubahan +7,6%; Impor gula: Perubahan −9,4%; Umbi: Perubahan −81,6%.Perubahan 2010 ke 2023Persen, tahun dasar 2010, Samoa−50%50%100%150%200%250%0Impor minuman+241,0%Minyak nabati+41,8%Gula+17,3%Daging total+7,6%Impor gula−9,4%Umbi−81,6%Umbi = singkong dan ubi; minuman = minuman nonalkohol. Tren tahunansignifikan hanya pada minyak nabati (naik) dan umbi (turun).
Sumber: Keresoma Leaupepe dan Darryl Pupi, Selected food availability and sugar-related imports as indicators of dietary transition in Samoa, 2010–2023, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Leaupepe dan Pupi mencari benang antara susutnya umbi dan bertambahnya minuman impor

Leaupepe dan Pupi lalu menguji apakah naik turunnya berbagai indikator itu bergerak bersamaan. Hanya satu pasangan yang hubungannya bermakna secara statistik. Semakin rendah ketersediaan umbi, semakin tinggi nilai impor minuman nonalkohol, dengan koefisien korelasi minus 0,58. Pasangan lain, seperti umbi dengan gula atau umbi dengan minyak nabati, juga berlawanan arah tetapi tidak bermakna.

Leaupepe dan Pupi menegaskan bahwa hubungan itu hanya berlaku di tingkat negara dan tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat. Angka tersebut tidak menunjukkan bahwa satu keluarga Samoa menukar singkong dengan minuman kemasan. Menurut kedua penulis, pola itu sejalan dengan dugaan bahwa pola makan telah bergeser dari makanan pokok tradisional ke produk impor yang padat energi.

Leaupepe dan Pupi juga tidak menyambungkan temuan ini langsung ke angka obesitas. Karena data obesitas tahunan yang sebanding tidak tersedia, angka 46 persen pada 2016 hanya mereka pakai sebagai latar kesehatan masyarakat dan tidak masuk ke hitungan. Menurut kedua penulis, bertambahnya pangan padat energi di tengah obesitas yang bertahan tinggi sejalan dengan kepustakaan tentang transisi gizi di Kepulauan Pasifik.

Leaupepe dan Pupi menaruh angka-angka itu di meja para pengambil kebijakan Samoa

Dari temuan tersebut, Leaupepe dan Pupi menyarankan kerja bersama sektor kesehatan, pertanian, perdagangan, pendapatan negara, dan sistem pangan Samoa. Pilihannya antara lain memperkuat produksi dan distribusi pangan tradisional, membuatnya lebih tersedia dan terjangkau, memantau impor pangan olahan padat energi dan minuman nonalkohol, serta meninjau kebijakan fiskal dan regulasi yang memengaruhi harga minuman manis.

Dalam usulan Leaupepe dan Pupi, Kementerian Kesehatan Samoa dapat mendukung pemantauan faktor risiko pola makan dan indikator kesehatan penduduk. Lembaga yang mengurus pertanian, perdagangan, kepabeanan, dan pendapatan negara dapat berperan lewat kebijakan produksi pangan lokal, impor, dan harga pangan. Kedua penulis mengakui studi mereka tidak dapat menentukan seberapa efektif intervensi tertentu.

Leaupepe dan Pupi juga mencatat batas-batas penelitiannya dengan jelas. Neraca pangan hanya memperkirakan ketersediaan nasional, sehingga tidak menangkap pembagian makanan dalam rumah tangga, sisa pangan, maupun perbedaan antarkelompok penduduk. Produksi subsisten, pangan yang dipanen sendiri, dan pertukaran antar-rumah tangga, yang menurut kedua penulis penting dalam sistem pangan Samoa, juga tidak tercatat sepenuhnya.

Karena itu kalimat penutup Leaupepe dan Pupi tetap menahan diri. “Meskipun hubungan sebab-akibat dengan perilaku makan atau penyakit tidak menular tidak dapat disimpulkan, temuan ini mendukung pemantauan berkelanjutan atas ketersediaan pangan, pola perdagangan, dan indikator kesehatan penduduk,” tulis Leaupepe dan Pupi dalam abstrak naskah berbahasa Inggris itu.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Beberapa hal janggal yang masih bisa diperiksa sendiri dalam naskah Leaupepe dan Pupi

Pembaca yang teliti akan menemukan dua versi angka dalam naskah Leaupepe dan Pupi. Tabel regresi di badan naskah mencatat kenaikan minyak nabati rata-rata 7,30 kilokalori per tahun dengan nilai p 0,018. Tabel serupa yang dilampirkan di bagian akhir justru mencatat 3,82 kilokalori per tahun dengan nilai p 0,010. Tabel lampiran itu juga menyebut tren gula nyaris bermakna, sedangkan badan naskah menyebutnya tidak bermakna.

Matriks korelasi di lampiran naskah Leaupepe dan Pupi juga berbeda dari tabel korelasi di badan naskah. Hubungan umbi dengan gula tercatat minus 0,59 di lampiran dan minus 0,46 di badan naskah, sedangkan umbi dengan minyak nabati minus 0,60 berbanding minus 0,38. Hanya pasangan umbi dan impor minuman nonalkohol yang sama di kedua tabel, yakni minus 0,58.

Ada pula ketidakcocokan kata dalam pembahasan Leaupepe dan Pupi. Di sana tertulis nilai impor gula bertahan tinggi, padahal tabel mereka sendiri mencatat penurunan 9,4 persen. Naskah ini ditulis dua orang, tetapi bagian pendanaan dan konflik kepentingan memakai kata penulis dalam bentuk tunggal. Karena masih dalam proses terbit, sebagian hal ini mungkin berubah pada versi akhirnya.

Pada akhirnya, pekerjaan Keresoma Leaupepe dan Darryl Pupi tidak bercerita tentang piring satu keluarga pun di Samoa. Yang mereka tunjukkan adalah neraca sebuah negeri kepulauan, tempat energi dari singkong dan ubi menipis sementara nilai minuman nonalkohol yang didatangkan dari luar naik 241 persen. Talas, sukun, dan kelapa masih dimakan dalam upacara dan di rumah-rumah, dan Leaupepe menulis bahwa keseimbangannyalah yang bergeser.

Bagikan

Baca Juga

Novel Korpus Uterus: Empat Ketidakadilan dan Empat Perlawanan
Bantuan Makan Sekolah Belanda: Bukan Dana Saja, tapi Keyakinan
Ibu Hamil Ukraina Bertahan atau Pergi, Gangguan Perang Penentunya
Yogurt Tepung Pisang Batu Turunkan Gula Darah Pasien Diabetes
Tari Sepi ISI Padangpanjang Pentaskan Kesepian Remaja
Literasi Fisik Anak Prasekolah Swedia: Bergerak karena Senang