- Pembeli membawa pulang rata-rata 339 gram permen saat kantong besar tersedia, dan 312 gram saat hanya kantong kecil yang ada.
- Setelah hasil studi dipresentasikan, Rema 1000 menghentikan kantong besar di semua bagian permen pilih-campur supermarketnya.
- Di toko dengan harga 8,95 kroner per 100 gram, rata-rata pembelian mencapai 431 gram per transaksi.
- Data transaksi hanya mencatat pembelian, bukan berapa banyak permen yang benar-benar dimakan.
Daftar Isi
Sebuah kantong permen yang dibagikan gratis dan sebuah angka harga per 100 gram tampak tidak saling berhubungan, tetapi di sepuluh supermarket Denmark keduanya sama-sama menggeser berat permen yang dibawa pulang pembeli. Kantong itu hanya berubah ukuran, sementara harga itu tidak pernah diubah sepanjang penelitian. Keduanya berujung pada selisih gram dalam catatan transaksi, dengan besar yang jauh berbeda.
Temuan itu ditulis Pernille Boukaïdi Lundgaard, Brian Køster, Susanne Tøttenborg, dan Sofia de Moura Lourenço dalam Candy-bag size in Danish supermarkets and purchasing behaviour: a cluster-crossover intervention examining the association between candy-bag size and the amount of pick and mix candy purchased, naskah yang terbit dalam proses cetak di BMC Public Health, 2026. Keempatnya bernaung di Danish Cancer Society, Kopenhagen, dan menjalankan penelitian ini bersama jaringan supermarket Rema 1000.
Barang yang diteliti adalah permen pick and mix, yaitu permen curah yang dipilih dan dicampur sendiri oleh pembeli ke dalam kantong. Menurut data penjualan dari 100 negara yang dikutip penulis, warga Denmark adalah pembeli permen terbanyak pada 2021, rata-rata 6,6 kilogram permen ditambah 5,7 kilogram cokelat per orang per tahun. Penjualan permen pilih-campur di negeri itu naik dari 2,6 juta kilogram pada 2013 menjadi 18,1 juta kilogram pada 2018.
Pertanyaan tim ini sederhana, yaitu apakah kantong yang lebih besar membuat pembeli membawa pulang lebih banyak permen. Jawabannya ditarik dari 35.512 transaksi selama 12 pekan pada Agustus hingga November 2023, ketika setiap toko bergantian memakai kantong besar dan kantong kecil masing-masing enam pekan. Harga per 100 gram tidak ikut diuji, tetapi tercatat berbeda antartoko, dan dari situlah sisi kedua cerita ini muncul.
Kantong yang Dipangkas Lebih dari Separuh
Kantong besar yang dipakai Rema 1000 bervolume 5,23 liter, sedangkan kantong kecil hanya 2,45 liter. Penulis mencatat penggantian itu sebagai pengecilan lebih dari 50 persen volume kantong. Kedua kantong adalah kantong standar jaringan tersebut dan diberikan gratis, sehingga yang berubah bagi pembeli hanyalah wadah yang mereka isi sendiri, bukan ongkos yang mereka bayar.
Karena itu, kantong di sini bukan soal uang. Penulis memperlakukannya sebagai isyarat struktural, sesuatu di lingkungan belanja yang bisa memengaruhi perilaku membeli. Dalam pembahasannya, mereka menduga kantong yang lebih besar dapat memberi kesan kantong masih kosong, sehingga pembeli keliru merasa baru mengisi sedikit permen atau sulit menaksir jumlah totalnya dengan tepat.
Harga yang Berselisih Seperempat
Di sisi lain, harga permen pilih-campur tidak seragam di sepuluh toko itu. Ada tiga tingkat harga, yaitu 8,95 kroner Denmark (DKK) per 100 gram di satu toko, 10,95 DKK di satu toko lain, dan 11,95 DKK di delapan toko sisanya. Harga ditetapkan manajer masing-masing toko dan tidak berubah selama 12 pekan, sehingga setiap toko punya satu harga tetap.
Toko termurah menjual permen sekitar 25 persen lebih murah dibanding tingkat harga tertinggi. Penulis tidak mengubah harga sebagai bagian dari uji, sehingga perbedaannya hanya bisa dibaca sebagai hubungan, bukan hasil perlakuan. Kedelapan toko berharga tertinggi menyumbang 77,79 persen dari seluruh transaksi, sementara dua toko lainnya hanya 10,24 dan 11,97 persen.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Kantong Kecil, 27 Gram Lebih Ringan
Pembeli membawa pulang rata-rata 339 gram permen saat kantong besar tersedia, dan 312 gram saat hanya kantong kecil yang ada. Selisihnya 27 gram, atau 8,7 persen lebih banyak pada kantong besar. Penulis menyebut hubungan antara ukuran kantong dan jumlah permen yang dibeli ini bermakna secara statistik.
Pergeseran itu terlihat di seluruh rentang berat. Sebagian besar transaksi berada di antara 101 dan 300 gram, yaitu 17.360 transaksi, dan paling sedikit di atas 600 gram, yakni 3.672 transaksi. Saat kantong kecil dipakai, transaksi berat rendah mengambil porsi lebih besar, sedangkan 60 persen transaksi di atas 900 gram terjadi ketika kantong besar tersedia.
Catatan transaksi juga memperlihatkan kapan dan di mana permen ini dibeli. Jumat menyumbang 44,7 persen dari seluruh transaksi permen pilih-campur, sementara Senin hanya 5,5 persen. Antartoko pun berbeda, dengan supermarket nomor 4 mencatat 14 persen transaksi, tiga kali lipat supermarket nomor 9 yang hanya 4,7 persen.
Setelah hasil studi dipresentasikan, Rema 1000 menghentikan kantong besar di semua bagian permen pilih-campur supermarketnya. Penulis menghitung, pengurangan sebesar itu setara perkiraan 44.000 kilogram permen pilih-campur yang tidak terjual per tahun di semua toko Rema 1000 di Denmark yang menjualnya. Jumlah toko yang menjadi dasar hitungan itu diberikan Rema 1000 secara rahasia.
Meski begitu, penulis tidak membesar-besarkan langkah tersebut. “Memperkecil ukuran kantong permen saja kemungkinan tidak akan berkontribusi berarti bagi pencegahan angka kelebihan berat badan dan obesitas yang terus naik di kalangan warga Denmark,” tulis Lundgaard dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka juga mencatat bahwa inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan semacam ini belum tentu layak bagi pelaku usaha lain.
Harga Murah, 120 Gram Lebih Berat
Di toko dengan harga 8,95 kroner per 100 gram, rata-rata pembelian mencapai 431 gram per transaksi. Di toko berharga 10,95 DKK angkanya 327 gram, dan di delapan toko berharga 11,95 DKK hanya 311 gram. Selisih antara toko termurah dan kelompok toko termahal mencapai 38 persen, angka yang lebih lebar daripada selisih 8,7 persen pada ukuran kantong.
Pada kasus kedua ini, penulis memilih bahasa yang lebih berhati-hati. “Harga mungkin juga berpengaruh cukup besar terhadap jumlah permen pick and mix yang dibeli,” tulis mereka dalam kesimpulan naskah berbahasa Inggris itu. Kata mungkin di sana punya alasan, sebab harga tidak pernah diacak dan hanya satu toko yang menjual pada harga termurah.
Penulis menempatkan temuan harga ini sejalan dengan studi lain yang mereka rujuk, bahwa kenaikan harga makanan dan minuman perlu cukup tinggi, setidaknya 20 persen, agar perubahan pembelian dan konsumsi bisa terdeteksi. Dalam studi ini, pengaruh terkuat muncul pada selisih harga sekitar 25 persen, yakni antara 8,95 dan 11,95 DKK per 100 gram.
Kedua temuan ini sama-sama searah dengan rekomendasi yang dikutip penulis dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), World Cancer Research Fund, dan OECD, yaitu menaikkan harga dan mengecilkan porsi produk tidak sehat. Bedanya, kantong bisa diubah sendiri oleh peritel, sedangkan menurut penulis, kebijakan nasional soal ukuran produk dan harga bisa lebih menjamin pilihan sehat sekaligus persaingan setara bagi semua pelaku usaha.
Penulis juga mengingatkan bahwa inisiatif sukarela yang kecil berisiko terbatas skalanya dan bisa menunda langkah struktural atau legislatif yang lebih kuat. Di saat yang sama, mereka mengakui kebijakan semacam itu dapat menimbulkan kerugian finansial bagi pihak yang berkepentingan. Kedua catatan ini dibiarkan berdampingan dalam naskah tanpa ditimbang mana yang lebih berat.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Yang Diakui Para Penulis
Data transaksi hanya mencatat pembelian, bukan berapa banyak permen yang benar-benar dimakan. Data itu juga tidak bisa dikaitkan dengan pelanggan, sehingga tidak diketahui total permen yang dibeli satu orang selama 12 pekan, apakah permen itu dibagi dengan orang lain, atau disimpan di rumah.
Penulis juga tidak memiliki data penjualan produk pengganti, seperti permen kemasan, cokelat, atau keripik, yang mungkin dibeli sebagai ganti permen pilih-campur. Mereka menilai gangguan semacam itu kemungkinan tersebar merata antartoko. Selain itu, studi hanya melibatkan satu jaringan supermarket di Denmark, masyarakat yang disebut penulis relatif homogen, sehingga keberlakuan temuannya di tempat lain terbatas.
Untuk sisi harga, keterbatasannya lebih tajam. Sebaran toko antartingkat harga tidak merata, delapan toko di harga tertinggi dan masing-masing satu di dua tingkat lainnya, dan penulis menyebut data mereka akan lebih kuat bila sebaran itu seimbang. Untuk sisi kantong, penulis mengakui bahwa dari studi ini saja belum bisa disimpulkan apakah ada batas seberapa jauh kantong masih bisa diperkecil.
Yang Tidak Disebut Para Penulis
Ada beberapa angka dalam naskah yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Pada bagian hasil, rata-rata 431 gram ditulis untuk toko dengan tingkat harga tertinggi dan 311 gram untuk tingkat harga terendah. Abstrak, pembahasan, kesimpulan, dan grafik harga di naskah yang sama menempatkan 431 gram pada harga 8,95 DKK, yakni harga terendah, sehingga kalimat di bagian hasil tampaknya tertukar.
Persentase selisih harga juga perlu dibaca teliti. Naskah menyebut harga tertinggi 25 persen lebih tinggi daripada harga terendah, padahal 11,95 dibanding 8,95 berarti sekitar 33,5 persen lebih mahal. Angka 25 persen baru tepat bila dibaca sebaliknya, yaitu harga terendah sekitar 25 persen lebih murah daripada harga tertinggi, seperti yang tertulis di bagian kesimpulan.
Hal serupa terjadi pada angka 8,7 persen. Angka itu adalah selisih 27 gram dibagi 312 gram, artinya kantong besar 8,7 persen lebih banyak, tetapi kesimpulan membaliknya menjadi kantong kecil 8,7 persen lebih sedikit. Dihitung dari 339 gram, pengurangannya sekitar 8,0 persen, sementara perkiraan 44.000 kilogram per tahun disusun dari angka 8,7 persen tersebut.
Satu angka lagi dibiarkan tanpa penjelasan. Lima toko yang memulai dengan kantong besar mencatat rata-rata 355 gram per transaksi, sementara lima toko yang memulai dengan kantong kecil hanya 296 gram, terlepas dari periodenya. Selisih 59 gram antarkelompok toko itu lebih dari dua kali selisih akibat ukuran kantong, dan naskah tidak membahas dari mana ia berasal.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Kantong dan harga akhirnya berdiri di dua posisi yang berbeda dalam naskah ini. Kantong diuji langsung, efeknya kecil tetapi cukup untuk membuat sebuah jaringan supermarket mengubah kebijakannya. Harga tidak pernah diuji, selisihnya lebih lebar, tetapi hanya bertumpu pada dua toko di tingkat harga yang lebih rendah. Keduanya menggeser berat permen di kantong pembeli Denmark, dan naskah ini belum menjawab mana yang lebih menentukan.














