- Model MoMo memperkirakan 11.684 kematian berlebih yang diatribusikan pada suhu tinggi di Spanyol selama musim panas 2021 hingga 2024.
- Sebanyak 6.911 kematian berlebih, atau 59,2 persen, terjadi pada perempuan, dan 4.773 pada laki-laki.
- Dari seluruh kematian berlebih pada perempuan, 91,4 persen terjadi pada usia di atas 74 tahun, pada laki-laki 76,7 persen.
- Pada 2024, Palencia dan Toledo menjadi dua provinsi dengan SMR tertinggi, masing-masing 5,42 dan 3,08.
Daftar Isi
- Musim Panas 2022 Menjadi yang Terpanas sejak Pencatatan Dimulai pada 1961
- Sebagian Besar Kematian Menimpa Warga Berusia di Atas 74 Tahun
- Pedalaman Spanyol Menanggung Risiko Lebih Berat daripada Sebagian Besar Pesisir
- Perkiraan MoMo Lebih Kecil karena Beda Cara Mengukur Paparan Panas
- Peta Provinsi Bisa Menyembunyikan Lingkungan yang Paling Rentan
Juli dan Agustus 2022 membawa puncak suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya di Spanyol. Beberapa gelombang panas yang kuat dan berkepanjangan melanda pada dua bulan itu. Untuk Juli 2022 saja, sebuah sistem pemantau kematian harian memperkirakan 2.217 kematian berlebih yang diatribusikan pada suhu tinggi.
Sistem itu bernama MoMo, pemantau kematian harian dari semua penyebab yang dikelola Pusat Epidemiologi Nasional (CNE) Spanyol. Raquel Barba-Sánchez dan rekan dari National Health School dan National Centre of Epidemiology, Institute of Health Carlos III (ISCIII), Madrid, memaparkan perkiraannya dalam Excess mortality attributable to high temperatures during the summers of 2021 to 2024 in Spain: description of the MoMo real-time monitoring system, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Mereka menghitung kematian berlebih pada Juni sampai September selama musim panas 2021 hingga 2024, dipilah menurut jenis kelamin, kelompok umur, bulan, dan tahun. Data penduduk berasal dari Institut Statistik Nasional Spanyol (INE), sedangkan suhu harian maksimum dan minimum tiap provinsi dari Badan Meteorologi Nasional Spanyol (AEMET).
Hasil akhirnya 11.684 kematian berlebih yang diatribusikan pada suhu tinggi selama empat musim panas itu, menurut perkiraan model MoMo. Sebanyak 6.911 di antaranya, atau 59,2 persen, terjadi pada perempuan, dan 4.773 atau 40,8 persen pada laki-laki. Tahun dengan kematian berlebih terbanyak adalah 2022 dengan 4.732, lebih dari dua kali lipat angka 2021.
Musim Panas 2022 Menjadi yang Terpanas sejak Pencatatan Dimulai pada 1961
Badan Meteorologi Nasional Spanyol menggolongkan musim panas 2022 sebagai yang terpanas di negeri itu sejak pencatatan dimulai pada 1961. Dengan begitu, tulis Barba-Sánchez dan rekan, itulah musim panas terpanas abad ke-21 sejauh ini. Musim yang sama juga mencatat kematian berlebih tertinggi selama periode penelitian.
Urutan tahun lainnya tergambar di tabel penelitian. Sesudah 2022 dengan 4.732 kematian, menyusul 2023 dengan 3.003, 2024 dengan 2.207, dan 2021 dengan 1.426. Menurut para penulis, sedikitnya kematian pada 2021 juga bisa dijelaskan oleh suhu musim panas yang relatif lebih rendah tahun itu.
Gelombang panas pada Juli dan Agustus, menurut paper, berdampak nyata terhadap kematian di Spanyol. “Kenaikan suhu ini berkaitan langsung dengan peningkatan kematian, terutama selama gelombang panas, dan bisa diperparah oleh kerentanan penduduk,” tulis Barba-Sánchez dan rekan, dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Mereka meminta hasil ini dibaca dalam konteks tren perubahan iklim jangka panjang, yang memperkirakan gelombang panas makin sering dan makin kuat.
Rincian bulanan memperlihatkan puncak yang berpindah. Pada 2022, Juli menyumbang 2.217 kematian berlebih dan Agustus 1.607. Pada 2023, Agustus mencatat 1.990, sedangkan Juli 686. Juni 2022 mencatat 828 kematian, sementara Juni 2021, 2023, dan 2024 masing-masing 40, 142, dan 32.
Pada perempuan, Juli 2022 mencatat 1.363 kematian berlebih dan Agustus 2023 mencatat 1.229. Pada laki-laki, dua bulan yang sama mencatat 855 dan 761. September menyumbang angka yang lebih kecil, yakni 48 kematian pada 2021, 79 pada 2022, 186 pada 2023, dan 18 pada 2024.
Tim juga menelusuri musim panas yang lebih panjang, 2015 sampai 2024. Rata-rata suhu maksimum harian punya hubungan linear positif dengan kematian berlebih akibat suhu tinggi, dengan nilai R² 0,63, sementara rata-rata suhu minimum harian 0,48. Musim panas 2022, yang paling hangat dalam deret itu, juga yang mencatat kematian berlebih terbanyak.
Sebagian Besar Kematian Menimpa Warga Berusia di Atas 74 Tahun
Kematian berlebih naik bertahap seiring bertambahnya umur, dan kelompok yang paling terdampak adalah mereka yang berusia di atas 74 tahun. Dari seluruh kematian berlebih pada perempuan, 91,4 persen terjadi pada kelompok umur itu, sedangkan pada laki-laki 76,7 persen.
Barba-Sánchez dan rekan menulis bahwa kerentanan orang tua yang lebih besar sudah konsisten terlihat di penelitian terdahulu. Menurut mereka, hal itu bisa dijelaskan oleh faktor fisiologis, seperti berkurangnya kemampuan tubuh orang tua mengatur suhu, ditambah lebih tingginya prevalensi penyakit kronis dan pemakaian obat yang bisa mengganggu respons tubuh terhadap panas.
Pendahuluan paper memuat dua angka tentang Spanyol. Di negeri itu, 40 persen laki-laki dan 44 persen perempuan berusia 65 tahun ke atas melaporkan punya beberapa penyakit kronis sekaligus, lebih tinggi daripada rata-rata Uni Eropa yang 32 dan 40 persen. Spanyol juga disebut salah satu negara Eropa yang paling terdampak kenaikan kematian terkait panas, dengan kenaikan 39,9 kematian per 100.000 penduduk.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Perempuan mencatat kematian berlebih lebih banyak dalam penelitian ini. Para penulis mencatat bahwa pengaruh jenis kelamin ditemukan beragam di tempat lain: di Roma perempuan lebih rentan daripada laki-laki, di Stockholm laki-laki yang lebih rentan, sedangkan di Catalonia tidak ada perbedaan setelah umur diperhitungkan. Menurut mereka, perlu lebih banyak penelitian tentang pengaruh jenis kelamin dan penyebab yang mendasarinya.
Pedalaman Spanyol Menanggung Risiko Lebih Berat daripada Sebagian Besar Pesisir
Untuk melihat sebaran wilayah, tim menghitung rasio kematian terstandar, atau SMR, kematian berlebih akibat panas untuk tiap provinsi dan tiap tahun. Menurut paper, SMR itu dapat dibaca sebagai risiko relatif kematian berlebih akibat panas di sebuah provinsi dibandingkan populasi acuan, yaitu penduduk Spanyol tahun 2022.
Pada musim panas 2021, 2022, dan 2024, tampak garis pemisah antara pesisir dan pedalaman. SMR tertinggi konsisten tercatat di provinsi pedalaman. Provinsi pesisir umumnya berisiko lebih rendah sepanjang periode itu, termasuk Kepulauan Balearic, Kepulauan Canary, dan pantai utara yang tetap mencatat SMR lebih rendah.
Pengecualian muncul di pantai timur, tempat sejumlah provinsi konsisten menunjukkan risiko tinggi. Pada 2021, Alicante dan Girona mencatat SMR 1,81 dan 1,80, dan pola itu bertahan pada 2022 bersama Castellón. Provinsi pesisir selatan umumnya tetap berisiko lebih rendah.
Pada 2023, pola itu bergeser. Garis pemisah pesisir dan pedalaman mulai kabur, terutama karena SMR naik di sepanjang pantai utara, sementara risiko di pedalaman tersebar lebih sedang dan merata, dengan nilai ekstrem yang lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pantai timur tetap menunjukkan risiko tinggi di Girona, Alicante, dan Castellón.
Musim panas 2024 kembali menempatkan SMR tertinggi di pedalaman. Palencia dan Toledo menjadi dua provinsi dengan SMR tertinggi, masing-masing 5,42 dan 3,08. Huesca, yang selama ini konsisten berada di antara provinsi berisiko tinggi, mencatat 2,61, sementara Pontevedra 2,67. Di kawasan Levante, Girona, Alicante, dan Castellón kembali menunjukkan risiko tinggi.
Para penulis menyebut konsentrasi SMR tinggi di pedalaman bisa dikaitkan dengan faktor iklim, seperti efek pulau panas perkotaan, dan faktor sosial ekonomi. Wilayah pesisir, menurut mereka, sering diuntungkan oleh efek laut yang meredam suhu ekstrem dan menurunkan risiko paparan panas berkepanjangan. Wilayah pedalaman cenderung mengalami suhu yang lebih ekstrem.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
SMR yang lebih rendah di provinsi selatan dijelaskan lewat ambang panas khusus tiap provinsi yang dipakai MoMo. Ambang itu ditetapkan Kementerian Kesehatan Spanyol menurut sebaran suhu historis tiap provinsi, sehingga provinsi yang lama terpapar suhu tinggi punya ambang lebih tinggi. Menurut paper, hal ini mencerminkan aklimatisasi penduduk yang lebih besar terhadap panas.
Perkiraan MoMo Lebih Kecil karena Beda Cara Mengukur Paparan Panas
Penelitian terdahulu melaporkan perkiraan kematian akibat panas di Spanyol yang jauh lebih tinggi. Menurut Barba-Sánchez dan rekan, perbedaan itu sebagian besar datang dari cara mendefinisikan paparan panas. Banyak analisis menghitung hubungan panas dan kematian mulai dari suhu kematian minimum, yang di Madrid sekitar 13 derajat Celsius suhu rata-rata harian.
MoMo memakai titik mulai yang berbeda. Sistem ini berfokus pada kematian yang terkait suhu tinggi dan tindakan yang bisa diambil, dengan ambang yang menandai kenaikan kematian yang bermakna secara statistik, misalnya sekitar 36 derajat Celsius suhu maksimum harian di Madrid. Bila perbandingan dibatasi pada suhu yang benar-benar tinggi, besaran perkiraan antarpenelitian menjadi jauh lebih mirip.
Paper juga mencantumkan gambaran Eropa. Kematian terkait panas di Eropa diperkirakan sekitar 61.700 pada 2022 dan sekitar 47.700 pada 2023, sedangkan perkiraan untuk 2024 belum tersedia. Angka tahunan itu muncul di bagian pembahasan, bersama catatan bahwa Juli dan Agustus 2022 bertepatan dengan kematian berlebih tertinggi di Spanyol selama periode penelitian.
Baca juga Saat Panas Terik, Petani Lebih Sering Tidur Siang tapi Singkat
Peta Provinsi Bisa Menyembunyikan Lingkungan yang Paling Rentan
Para penulis mengakui beberapa keterbatasan. Salah satu yang utama adalah data yang dihimpun di tingkat provinsi, yang bisa menyembunyikan kekhasan lokal dengan kondisi iklim dan sosial ekonomi yang berbeda. Menurut mereka, lingkungan dengan penghuni berpendapatan lebih rendah cenderung lebih rentan, antara lain karena minim ruang hijau, banyak permukaan beraspal, sirkulasi udara jalan yang buruk, dan insulasi bangunan yang buruk.
Model MoMo juga bergantung pada ambang suhu tiap provinsi, yang mungkin tidak tepat mencerminkan tekanan panas pada kelompok penduduk tertentu atau di desa dibandingkan kota. Keterbatasan lain adalah tidak adanya ukuran ketidakpastian, karena MoMo memang dirancang memberi perkiraan titik dan tidak memungkinkan selang kepercayaan diturunkan secara andal.
Para penulis menyebut pemantauan kematian harian sebagai salah satu kekuatan utama analisis ini, karena memungkinkan dampak gelombang panas dinilai seketika. MoMo memakai data catatan sipil dan meteorologi yang sudah ada dan tidak memerlukan pengodean penyebab kematian, sehingga menurut mereka pengalaman Spanyol bisa menjadi contoh praktis bagi negara lain yang ingin memperkuat pemantauan iklim dan kesehatan.
Simpulan paper berisi seruan kebijakan. “Sangat penting menerapkan kebijakan publik yang berfokus pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dengan perhatian khusus pada perbedaan kerentanan di antara kelompok penduduk,” tulis Barba-Sánchez dan rekan, juga dalam terjemahan. Mereka menyebut perlunya rancangan kota, infrastruktur, dan ruang hijau yang mengurangi paparan panas, serta akses layanan kesehatan dan energi bagi kelompok paling rentan.
Dalam simpulannya, Barba-Sánchez dan rekan menyebut MoMo sebagai sistem pemantauan yang berguna untuk mendeteksi sekaligus menilai dampak cuaca ekstrem seperti gelombang panas terhadap kematian. Kemampuannya memperkirakan kematian berlebih dan menopang pengambilan keputusan kesehatan masyarakat dalam situasi yang berpotensi mengancam, tulis mereka, sudah terbukti.














