- Kru bawahan lebih sering melaporkan stres sedang hingga tinggi, 64,2 persen berbanding 53,3 persen pada perwira.
- Kecenderungan depresi tercatat pada 13,8 persen perwira dan 15,0 persen kru bawahan, tanpa perbedaan bermakna.
- Awak yang mudah mengakses musik masuk kelompok ketangguhan sedang hingga tinggi pada 75,7 persen, berbanding 39,3 persen.
- Kecenderungan depresi muncul pada 22,2 persen awak dengan persepsi stres sedang hingga tinggi, berbanding 3,6 persen.
Daftar Isi
- Ketangguhan Awak Terbaca dari Cara Mereka Menghadapi Masalah
- Perwira Lebih Sering Tangguh, Kru Bawahan Lebih Sering Stres
- Lama di Kapal Berkaitan dengan Stres dan Depresi
- Akses Musik Berjalan Seiring dengan Daya Tahan Awak
- Stres Menjadi Jembatan antara Ketangguhan dan Depresi
- Alat Ukur Ringkas Diusulkan Masuk Pemeriksaan Rutin
- Batas Penjelasan dari Satu Perusahaan Pelayaran
Di atas kapal niaga, perwira dan kru bawahan berbagi lambung yang sama, laut yang sama, dan jarak yang sama dari rumah. Namun, ketika ratusan awak kapal ditanyai soal daya tahan batin mereka, kedua kelompok itu menjawab dengan cara berbeda. Kru bawahan lebih sering merasa tertekan dan lebih jarang tergolong tangguh. Namun, perbedaan itu tidak tampak begitu pertanyaannya beralih ke gejala depresi.
Temuan itu dilaporkan Wiebke Janssen dan rekan dari Institute for Occupational and Maritime Medicine Hamburg (ZfAM), University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman, dalam artikel Resilience of seafarers depending on occupational groups di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulis menyebut kajian mereka sebagai pendekatan evaluasi pertama di dunia yang menelaah ketangguhan pelaut menurut kelompok jabatan.
Kuesioner elektronik dikirim kepada 1.299 awak di 65 kapal niaga Jerman, dan 994 pelaut dari satu perusahaan pelayaran Jerman mengisinya. Sebanyak 929 orang menyebut pangkatnya sehingga masuk analisis, terdiri atas 362 perwira dan 567 kru bawahan. Hampir semuanya laki-laki, hanya lima perempuan. Pelaut Filipina menjadi kelompok terbesar, 53,4 persen, disusul pelaut Ukraina 6,7 persen.
Ketangguhan Awak Terbaca dari Cara Mereka Menghadapi Masalah
Ketangguhan diukur dengan Brief Resilience Coping Scale, empat pertanyaan tentang cara seseorang menghadapi masalah dalam situasi penuh tekanan, dengan skor 4 sampai 20. Rata-rata skor seluruh pelaut mencapai 15,3, dan sebagian besar awak masuk kelompok ketangguhan sedang hingga tinggi: 44,9 persen sedang dan 28,5 persen tinggi. Sisanya, 26,6 persen atau 240 pelaut, tergolong rendah.
Para penulis menegaskan bahwa alat ukur itu menangkap strategi menghadapi masalah, bukan seluruh proses ketangguhan yang berkembang dalam jangka panjang. Skala itu juga belum pernah dipakai di dunia pelayaran dalam 20 tahun terakhir. Sebagai pembanding, mereka merujuk survei nasional Jerman dengan rata-rata skor laki-laki 14,9, yang menurut mereka menunjukkan ketangguhan pelaut serupa dengan masyarakat umum di darat.
Pada skala stres yang dirasakan, dengan rentang 0 sampai 40, rata-rata skor pelaut 14,1; sebanyak 59,8 persen masuk kelompok stres sedang dan hanya satu orang tergolong tinggi. Skor depresi rata-rata 2,0 dari kemungkinan 27, dan 14,5 persen atau 130 pelaut digolongkan cenderung depresi. Angka itu, tulis para penulis, lebih rendah daripada 25 persen dalam studi Lefkowitz dan rekan, tetapi lebih tinggi daripada 6 persen pada masyarakat umum Jerman.
Perwira Lebih Sering Tangguh, Kru Bawahan Lebih Sering Stres
Dari 355 perwira yang menjawab pertanyaan ketangguhan, 79,7 persen masuk kelompok sedang hingga tinggi. Pada 547 kru bawahan, proporsinya 69,3 persen, sedangkan yang tergolong rendah mencapai 30,7 persen, berbanding 20,3 persen pada perwira. Regresi logistik memberi rasio odds 1,74 bagi perwira untuk berada di kelompok ketangguhan sedang hingga tinggi.
Menurut para penulis, pangkat di kapal-kapal ini berkelindan dengan asal negara. Sebanyak 65,1 persen perwira adalah orang Eropa, sementara 95,6 persen kru bawahan berasal dari luar Eropa. Karena itu, para penulis menyesuaikan perhitungan dengan usia dan etnis. Hasilnya, hubungan antara kelompok jabatan dan ketangguhan tetap bermakna, dengan rasio odds terkoreksi 1,63.
Pola serupa muncul pada stres. Persepsi stres sedang hingga tinggi dilaporkan 64,2 persen kru bawahan, dibanding 53,3 persen perwira. Para penulis menduga perbedaan ini bisa berasal dari ketangguhan perwira yang lebih tinggi, atau dari perbedaan peran. Perwira lebih banyak memegang tugas administratif dan strategis yang menuntut, tetapi lebih terstruktur dan lebih dapat diperkirakan.
Kru bawahan, menurut uraian yang sama, lebih sering mengerjakan tugas fisik yang berat dan kurang dapat diperkirakan di kamar mesin atau geladak. Mereka juga mungkin punya lebih sedikit pilihan komunikasi untuk tetap terhubung dengan rumah. Perwira bertugas lebih singkat: hanya 19,7 persen yang sudah lima bulan atau lebih di atas kapal saat survei, berbanding 69,0 persen kru bawahan.
Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
Pada depresi, polanya berbeda. Kecenderungan depresi tercatat pada 13,8 persen perwira dan 15,0 persen kru bawahan, dan uji statistik tidak menemukan perbedaan di antara keduanya. Para penulis mengaitkan hasil ini dengan beban hidup di laut. “Hal ini menunjukkan bahwa beban hidup di laut secara keseluruhan pada umumnya mungkin berdampak kuat pada kesehatan mental, apa pun peran jabatannya,” tulis Janssen dan rekan, dalam terjemahan dari bahasa Inggris.
Lama di Kapal Berkaitan dengan Stres dan Depresi
Lama tugas yang sedang dijalani ikut bergerak bersama stres. Pelaut yang sudah lima bulan atau lebih di atas kapal lebih sering melaporkan stres sedang hingga tinggi, 66,3 persen berbanding 54,0 persen pada yang kurang dari lima bulan. Kecenderungan depresi juga lebih sering pada kelompok yang lebih lama berada di kapal, 19,6 persen berbanding 9,7 persen.
Untuk kecenderungan depresi, para penulis mengaitkan masa lima bulan atau lebih di kapal dengan masa panjang jauh dari rumah dan keluarga, yang dapat menambah rasa sepi dan terasing. Usia memberi pola lain. Pelaut di bawah 40 tahun lebih sering menunjukkan kecenderungan depresi, 17,6 persen berbanding 10,7 persen pada yang berusia 40 tahun ke atas. Yang mengejutkan para penulis, lama berkarier sebagai pelaut tidak berhubungan dengan kecenderungan depresi.
Untuk selisih usia itu, para penulis mengajukan kemungkinan efek pekerja sehat. Pelaut yang lebih tua sudah terbiasa dengan lingkungan kerja yang berpotensi menekan, sementara pekerja muda yang merasa letih dan kewalahan mungkin segera meninggalkan pekerjaan itu. Pangkat, asal negara, status keluarga, dan akses musik tidak berhubungan bermakna dengan kecenderungan depresi.
Akses Musik Berjalan Seiring dengan Daya Tahan Awak
Faktor lain yang muncul dalam data adalah kemudahan mendengar musik lewat internet di kapal. Awak yang mudah mengakses musik masuk kelompok ketangguhan sedang hingga tinggi pada 75,7 persen, berbanding 39,3 persen pada yang aksesnya sulit. Analisis multivariat menunjukkan hubungan yang kuat, dengan rasio odds terkoreksi 4,98.
Para penulis mencatat bahwa kesempatan menikmati waktu luang di kapal sering terbatas. Selain permainan papan, tenis meja, ruang kebugaran, dan menonton film, karaoke menjadi pilihan yang sangat digemari, terutama oleh pelaut Filipina. Musik bisa dinikmati bersama saat karaoke, atau sendirian lewat telepon genggam ketika tidak ada rekan yang bisa diajak menghabiskan waktu. Karena itu, menurut para penulis, akses musik lewat internet sangat penting di kapal.
Musik juga berjalan seiring dengan stres yang lebih ringan. Pelaut yang mudah mengakses musik lebih jarang melaporkan stres tinggi, 58,2 persen, dibanding 85,7 persen pada mereka yang aksesnya sulit. Para penulis juga mengingatkan bahwa besar pengaruh faktor seperti ini masih perlu diukur dalam penelitian lanjutan.
Baca juga Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang
Asal negara menambah lapisan lain. Pelaut Eropa lebih sering berada di kelompok ketangguhan sedang hingga tinggi, 78,6 persen berbanding 70,3 persen, sementara pelaut non-Eropa lebih sering melaporkan stres sedang hingga tinggi, 62,0 persen berbanding 51,5 persen. Para penulis menyimpulkan bahwa kebiasaan bersantai dan ketangguhan awak multinasional sangat beragam dan perlu diperhitungkan.
Stres Menjadi Jembatan antara Ketangguhan dan Depresi
Bagian berikutnya makalah menelusuri bagaimana ketiga ukuran itu saling terkait. Awak yang cenderung depresi lebih sering tergolong berketangguhan rendah, 36,3 persen berbanding 25,7 persen. Rasio odds depresi pada pelaut berketangguhan lebih tinggi tercatat 0,58. Namun, setelah tingkat stres ikut diperhitungkan, hubungan antara ketangguhan dan depresi itu tidak lagi bermakna.
Stres memperlihatkan hubungan yang kuat dengan depresi. Kecenderungan depresi muncul pada 22,2 persen awak dengan persepsi stres sedang hingga tinggi, berbanding 3,6 persen pada yang stresnya rendah. Rasio odds-nya 7,53, dan tetap 7,30 setelah ketangguhan diperhitungkan. Sebaliknya, ketangguhan tinggi lebih sering dijumpai pada awak berstres rendah, 39,3 persen berbanding 21,7 persen.
Korelasi antar-skor memperlihatkan arah yang sama. Skor ketangguhan dan skor stres berkorelasi sedang ke arah berlawanan, −0,305. Skor stres dan skor depresi bergerak searah, 0,333, sedangkan ketangguhan dan depresi berkorelasi lebih lemah, −0,199. Dari pola ini para penulis menyusun model mediasi: ketangguhan dan depresi tidak terhubung langsung, melainkan lewat pengaruh keduanya pada persepsi stres.
“Secara khusus, ketangguhan dapat berperan sebagai sumber daya psikologis pelindung yang meredam dampak negatif stres terhadap kesehatan mental,” tulis Janssen dan rekan, dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Mereka mencatat arah sebaliknya juga mungkin: depresi dapat membuat stres sehari-hari terasa lebih tinggi dan akhirnya menurunkan ketangguhan. Karena datanya dikumpulkan pada satu waktu, menurut para penulis, arah hubungan dan perubahannya dari waktu ke waktu belum dapat ditafsirkan dengan pasti.
Alat Ukur Ringkas Diusulkan Masuk Pemeriksaan Rutin
Dari temuan itu, para penulis mengusulkan intervensi yang menguatkan ketangguhan dan meredam sumber stres sebagai pencegahan primer, misalnya program dukungan psikososial dan strategi pengelolaan stres di kapal. Skala stres sepuluh pertanyaan dapat dipakai sebagai alat penapisan untuk menemukan awak yang stresnya tinggi, sehingga mereka bisa diarahkan ke dukungan yang tepat.
Skala ketangguhan empat pertanyaan dinilai cocok untuk kesibukan di laut karena ringkas, dan bisa dimasukkan ke pemeriksaan kesehatan rutin perusahaan pelayaran. Kuesioner depresi sembilan pertanyaan, menurut mereka, dapat menjadi pencegahan sekunder untuk menemukan awak yang sudah bergejala sebelum depresinya menjadi berat. Perbedaan budaya, termasuk kebiasaan bersantai, perlu diperhitungkan saat merancang program.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Batas Penjelasan dari Satu Perusahaan Pelayaran
Para penulis mengakui batas kajian mereka. Karena datanya dikumpulkan pada satu waktu, kajian ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat, dan hasilnya mungkin tidak berlaku di luar satu perusahaan pelayaran yang disurvei. Jawaban yang dilaporkan sendiri membuka peluang bias, kondisi kerja dan dukungan sosial di kapal tidak diukur, dan skala empat pertanyaan mungkin tidak menangkap ketangguhan selengkap kuesioner yang lebih panjang. Karena itu, mereka menyerukan studi jangka panjang untuk melihat dinamika ketangguhan, stres, dan depresi.
Dalam ringkasan para penulis, perwira lebih sering menunjukkan ketangguhan yang lebih tinggi, sedangkan kru bawahan lebih sering merasakan stres sedang hingga tinggi, tetapi angka depresi kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Persepsi stres yang lebih tinggi berkaitan kuat dengan gejala depresi yang lebih banyak, dan menurut kesimpulan mereka, ketangguhan dapat membantu meredam dampak stres.














