Orang Jepang yang Sering Bangun Tak Segar Lebih Kerap Depresi

A A

Kasur futon dengan selimut kusut di atas tatami kamar ryokan di Nara, Jepang [Foto: Christian Kadluba/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Di antara 658 orang Jepang dengan depresi, 59,4 persen tiga kali seminggu atau lebih merasa tidurnya tidak memulihkan.
  • Orang yang sering merasa tidurnya tidak memulihkan punya peluang depresi lebih tinggi pada semua kelompok lama tidur.
  • Tidur sembilan jam atau lebih sekaligus sering mengeluh mencatat rasio peluang tertinggi, 8,42.
  • Pada orang tanpa keluhan, kronotipe tidak berkaitan dengan depresi.
Daftar Isi
  1. Sembilan Pilihan Jawaban
  2. Sembilan Jam atau Lebih
  3. Kurang dari Lima Jam
  4. Jam Tidur di Hari Libur
  5. Wajah 658 Responden
  6. Batas Sebuah Survei Daring

Pertanyaan itu muncul di sebuah survei daring tahunan di Jepang tentang pemakaian tembakau dan faktor sosial ekonomi yang menyertainya. Bunyinya sederhana: meski tidurmu sudah cukup, apakah kamu merasa tidak cukup beristirahat? Ada sembilan pilihan jawaban, dari “tidak ada” sampai “hampir setiap hari”, yakni enam sampai tujuh kali seminggu.

Sebanyak 20.951 orang dewasa berusia 20 tahun ke atas menjawabnya antara Januari dan Maret 2025, terdiri atas 10.567 pria dan 10.384 wanita. Di antara mereka, 658 orang atau 3,1 persen mengaku saat ini mengidap depresi dan sedang menjalani perawatan medis dengan obat. Merekalah yang dihitung sebagai kelompok dengan depresi.

Data itu berasal dari survei internet tahunan Japan “Society and new Tobacco” Internet Survey (JASTIS), lalu diolah Yoshiaki Noji dan rekan dari Tohoku Medical Megabank Organization, Universitas Tohoku, Sendai. Hasilnya dilaporkan dalam makalah berjudul Nonrestorative sleep, sleep duration, and chronotype in relation to depression: a cross-sectional study in Japan di jurnal BMC Public Health tahun 2026.

Mereka ingin tahu bagaimana keluhan tidur yang tidak memulihkan berpadu dengan lama tidur atau kronotipe, yang dalam studi ini dibaca dari jadwal tidur pada hari libur, dalam kaitannya dengan depresi. Dugaan awal mereka, hubungan lama tidur dan kronotipe dengan depresi berbeda menurut seberapa sering seseorang merasa tidurnya tidak memulihkan.

Sembilan Pilihan Jawaban

Dalam makalah, keluhan itu disebut tidur yang tidak memulihkan. Definisinya pengalaman pribadi tidak merasa segar saat bangun, padahal kesempatan tidurnya cukup. Sembilan pilihan jawaban tadi kemudian diringkas menjadi tiga kelompok, yaitu tanpa keluhan, kurang dari tiga kali seminggu, dan tiga kali seminggu atau lebih.

Sebarannya hampir rata. Sebanyak 7.470 orang atau 35,7 persen tidak punya keluhan, 6.684 orang atau 31,9 persen mengalaminya kurang dari tiga kali seminggu, dan 6.797 orang atau 32,4 persen mengalaminya tiga kali seminggu atau lebih.

Di antara 658 orang dengan depresi, gambarannya lain. Sebanyak 391 orang atau 59,4 persen masuk kelompok yang paling sering merasa tidurnya tidak memulihkan. Pada responden tanpa depresi, kelompok yang sama hanya 31,6 persen.

Lama tidur diukur dengan Munich ChronoType Questionnaire, lalu dirata-ratakan per minggu dan dibagi menjadi enam kelompok, dari kurang dari lima jam sampai sembilan jam atau lebih. Tidur tujuh sampai delapan jam dijadikan acuan karena berada dalam rentang yang umumnya dianjurkan bagi orang dewasa. Kelompok inilah yang paling besar, 31,7 persen responden.

Baca juga Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas

Sembilan Jam atau Lebih

Tidur 9 jam lebih tapi tak segar, rasio peluang tertinggiKurang dari 5 jam 2,67; 5-6 jam 3,21; 6-7 jam 1,91; 7-8 jam 2,96; 8-9 jam 3,14; 9 jam atau lebih 8,42.Tidur 9 jam lebih tapi tak segar, rasiopeluang tertinggiRasio peluang depresi (disesuaikan) pada orang yang 3 kaliseminggu atau lebih merasa tidurnya tak memulihkan,menurut lama tidur0246810Kurang dari 5 jam2,675-6 jam3,216-7 jam1,917-8 jam2,968-9 jam3,149 jam atau lebih8,42Acuan (nilai 1): tanpa keluhan tidur tak memulihkan dan tidur 7-8 jam.Tabel 2, n = 20.951
Sumber: Yoshiaki Noji dan rekan, Nonrestorative sleep, sleep duration, and chronotype in relation to depression: a cross-sectional study in Japan, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pembandingnya satu kelompok yang sama, yakni orang tanpa keluhan yang tidur tujuh sampai delapan jam. Terhadap kelompok itu, orang yang tiga kali seminggu atau lebih merasa tidurnya tidak memulihkan punya peluang depresi lebih tinggi pada semua kelompok lama tidur. Rasio peluangnya, setelah disesuaikan dengan faktor seperti usia, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, rokok, alkohol, dan riwayat penyakit, berkisar dari 1,91 sampai 8,42.

Angka tertinggi ada pada ujung paling panjang. Ada 327 orang yang tidur sembilan jam atau lebih sekaligus sering merasa tidurnya tidak memulihkan, dan 14,4 persen di antaranya mengidap depresi. Rasio peluangnya 8,42, dengan rentang kepercayaan 5,13 sampai 13,79.

Di kelompok acuan, ceritanya jauh lebih tenang. Dari 2.509 orang tanpa keluhan yang tidur tujuh sampai delapan jam, 1,7 persen mengidap depresi. Pada 358 orang tanpa keluhan yang tidur sembilan jam atau lebih, angkanya 2,5 persen, dengan rasio peluang 1,02 yang tidak menunjukkan kaitan jelas dengan depresi.

Menurut para peneliti, pola ini sejalan dengan studi potong lintang sebelumnya yang mendapati tidur panjang berkaitan dengan gangguan depresi mayor hanya bila disertai kualitas tidur yang buruk. Uji interaksi juga menunjukkan kaitan lama tidur dengan depresi berbeda menurut seberapa sering keluhan itu muncul.

Para peneliti menyebut beberapa kemungkinan dari riset terdahulu. Tidur yang tidak memulihkan pernah dikaitkan dengan nyeri di siang hari, rasa lelah tinggi, dan kadar protein C-reaktif yang meningkat, yang semuanya bertepatan dengan faktor risiko depresi. Tidur yang terlalu lama juga bisa menurunkan aktivitas fisik, padahal aktivitas fisik rendah termasuk faktor risiko depresi.

“Temuan ini menunjukkan bahwa lama tidur saja tidak cukup menangkap hubungan antara tidur dan depresi, dan perlu dibaca dalam konteks seberapa segar tidur itu dirasakan,” tulis Noji dan rekan di bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Penderita depresi, menurut mereka, bisa mengalami sulit tidur maupun tidur berlebihan, sehingga lama tidurnya bisa lebih pendek atau lebih panjang.

Kurang dari Lima Jam

Di sisi yang tidak mengeluh, pola lama tidur bergerak ke arah lain. Mereka yang tidur enam sampai tujuh jam justru punya peluang depresi lebih rendah daripada kelompok acuan, dengan rasio peluang 0,56. Kelompok ini berisi 2.170 orang, dan 0,9 persen di antaranya mengidap depresi.

Dua kelompok lain tetap mencatat peluang lebih tinggi walau tanpa keluhan. Tidur kurang dari lima jam punya rasio peluang 2,06, dan 4,0 persen dari 351 orangnya mengidap depresi. Tidur delapan sampai sembilan jam punya rasio peluang 1,97.

Menurut para peneliti, tidur yang agak singkat, misalnya lima sampai enam jam, mungkin tidak terlalu merugikan selama rasa pulih tetap terjaga. Mereka juga mengingatkan kemungkinan sebab-akibat terbalik, yaitu orang tanpa depresi lebih aktif sehingga melaporkan tidur singkat tanpa keluhan. Penelitian lanjutan yang mengikuti responden dari waktu ke waktu diperlukan untuk memastikannya.

Pada orang tanpa keluhan, tidur singkat kemungkinan mencerminkan waktu tidur yang terpotong oleh hal di luar dirinya, seperti tuntutan kerja atau gaya hidup. Para peneliti menduga tidur singkat yang “murni” seperti itu baru berkaitan dengan gejala depresi bila sudah ekstrem, kurang dari lima jam.

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Jam Tidur di Hari Libur

Kronotipe dibaca dari titik tengah tidur pada hari libur, dikoreksi bila orang tidur lebih lama di hari libur daripada di hari kerja. Kronotipe tidak bisa dihitung antara lain untuk responden yang memakai jam weker di hari kerja dan hari libur, sehingga analisis ini memakai 15.996 orang. Mereka dibagi lima kelompok per usia dan jenis kelamin, dari sangat awal sampai sangat larut.

Pada orang tanpa keluhan, kronotipe tidak berkaitan dengan depresi. Pada kelompok yang mengeluh kurang dari tiga kali seminggu, peluang depresi lebih tinggi justru di dua ujung, yaitu kronotipe sangat awal dengan rasio peluang 3,33 dan sangat larut dengan 3,17.

Keluhan sering, peluang lebih tinggi di semua kronotipeSangat awal: Rasio peluang depresi 7,17; Awal: Rasio peluang depresi 4,37; Menengah: Rasio peluang depresi 4,81; Larut: Rasio peluang depresi 5,10; Sangat larut: Rasio peluang depresi 4,59.Keluhan sering, peluang lebih tinggi di semuakronotipeRasio peluang depresi (disesuaikan) pada orang yang 3 kaliseminggu atau lebih merasa tidurnya tak memulihkan,menurut kronotipe24680Sangat awal7,17Awal4,37Menengah4,81Larut5,10Sangat larut4,59Acuan (nilai 1): tanpa keluhan, kronotipe menengah. Tabel 3, n 15.996
Sumber: Yoshiaki Noji dan rekan, Nonrestorative sleep, sleep duration, and chronotype in relation to depression: a cross-sectional study in Japan, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada kelompok yang mengeluh tiga kali seminggu atau lebih, semua kronotipe mencatat peluang depresi lebih tinggi. Rasio peluangnya 7,17 untuk sangat awal, 4,37 untuk awal, 4,81 untuk menengah, 5,10 untuk larut, dan 4,59 untuk sangat larut. Berbeda dengan lama tidur, uji interaksi antara keluhan dan kronotipe tidak bermakna secara statistik.

Para peneliti mencatat kronotipe di sini diukur dari jadwal tidur sebenarnya, bukan dari kesukaan seseorang pada pagi atau malam. Karena itu, kelompok sangat awal bisa saja berisi orang yang sebenarnya bertipe lebih larut, tetapi jam tidurnya tergeser lebih pagi oleh tuntutan sosial atau pekerjaan.

“Karena itu, kronotipe sangat awal atau sangat larut tidak serta-merta perlu dianggap sebagai kelainan. Sebaliknya, mendukung kondisi tidur yang memungkinkan setiap kronotipe mendapatkan tidur yang memulihkan mungkin lebih penting bagi kesehatan mental,” tulis Noji dan rekan, juga dalam terjemahan Cekricek.id.

Wajah 658 Responden

Dibandingkan responden tanpa depresi, mereka yang mengidap depresi lebih banyak pria, 56,7 persen berbanding 50,2 persen. Mereka juga lebih banyak yang lajang, 49,2 berbanding 31,9 persen, dan lebih banyak yang menganggur, 20,1 berbanding 11,0 persen.

Kebiasaan mereka pun berbeda. Perokok aktif mencapai 28,0 persen pada kelompok depresi dan 17,1 persen pada kelompok lain, sedangkan peminum bermasalah 21,9 berbanding 14,6 persen. Indeks massa tubuh 25 ke atas tercatat pada 33,1 persen penderita depresi, berbanding 17,9 persen.

Hasil utama bertahan ketika definisinya diubah. Saat keluhan dihitung mulai sekali seminggu, atau depresi diperluas mencakup yang berobat tanpa obat dan yang tidak berobat sama sekali, polanya umumnya tetap sama. Bedanya, dengan definisi depresi paling luas, kronotipe sangat awal dan larut ikut berkaitan dengan peluang depresi lebih tinggi pada orang tanpa keluhan.

Baca juga Bergerak Petang Hari, Pekerja Jepang Lebih Jarang Murung Esoknya

Batas Sebuah Survei Daring

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan. Lama tidur dilaporkan sendiri sehingga bisa terkena bias ingatan, dan depresi diukur dari diagnosis dokter yang dilaporkan sendiri, bukan wawancara diagnostik baku. Akibatnya, jumlah penderita depresi yang sebenarnya mungkin lebih besar, dan tingkat keparahan gejalanya tidak bisa dinilai.

Penderita depresi dalam survei ini lebih banyak berusia muda dan pria, berbeda dari laporan sebelumnya. Responden yang tidak masuk analisis kronotipe juga berbeda dari yang masuk, sehingga bisa memunculkan bias seleksi. Desainnya potong lintang, jadi hubungan sebab-akibat tidak bisa ditetapkan dan masih perlu dipastikan lewat studi kohort.

Kesimpulan para peneliti kembali ke pertanyaan di layar survei itu. Seberapa sering seseorang merasa tidak cukup beristirahat meski tidurnya cukup, menurut mereka, dapat memberi informasi tambahan di luar lama tidur dan kronotipe untuk mengenali orang dewasa yang berisiko depresi.

Bagikan

Baca Juga

Anak Muda Pembiaya Orang Tua Demensia Lebih Banyak Gejala Depresi
Kurang Tidur dan Hobi Baru, Dua Sisi Ponsel Anak Desa Bangladesh
Makan Sayur 350 Gram, Biaya Jantung dan Stroke Jepang Bisa Turun
Mahasiswi Turki yang Cemas soal Nilai Lebih Stres dan Nyeri Haid
Kaitan Jalan Kaki dan Kualitas Hidup Pudar Saat Lansia Dihitung
Karyawan Kasino Makau Paling Tenang Bila Tangguh dan Didukung