- Indonesia punya sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, 16 ribu terakreditasi.
- Hanya sekitar 1,5 persen yang berperingkat SINTA 1.
- KJTI 9 November, KSTI 10–13 November di ITS, KPPTI 11–13 November di UNAIR.
Cekricek.id — Indonesia memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, sekitar 16 ribu di antaranya sudah terakreditasi. Namun, jurnal di peringkat tertinggi masih sangat sedikit. Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Ahmad Najib Burhani menyebut jurnal berperingkat SINTA 1 hanya sekitar 1,5 persen.
“Jadi meskipun kita memiliki banyak jurnal, sebetulnya dari segi kualitas itu mungkin yang berdasarkan kategori SINTA, yang SINTA 1 itu hanya 1,5% dari total 16 ribu jurnal yang kita miliki,” kata Najib dalam taklimat media di Jakarta, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis Kemdiktisaintek, Senin (2/11/2026).
Kondisi itu menjadi alasan Kemdiktisaintek menggelar Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KJTI) perdana pada 9 November 2026 di Universitas Ciputra. Forum ini akan membahas akreditasi jurnal, standar publikasi, serta pencegahan praktik jurnal predator dan publikasi yang tidak berintegritas, dengan menghadirkan penerbit internasional seperti Elsevier, Taylor & Francis, Sage, Emerald, Wiley, dan Springer. SINTA Award juga akan diberikan kepada sembilan jurnal terbaik.
Baca juga: Mendiktisaintek Brian: Riset Kampus Jangan Berhenti di Publikasi
500 Produk Riset Dipamerkan di ITS
Dalam taklimat yang sama, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menjelaskan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 akan berlangsung 10–13 November di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Sekitar 500 produk riset, hasil kurasi dari 850 usulan, akan dipamerkan bersama para inventornya.
“Kami mengedepankan bagaimana pentingnya agar ilmu pengetahuan menjadi dampak, knowledge to impact. Ini kita kembangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang kita bangun di Indonesia, khususnya untuk hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat dan industri, dikembangkan berbasis sains,” ujar Fauzan.
Baca juga: Chip Merah Putih Dikebut, Mendiktisaintek Bidik 11 November
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menyebut Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2026 digelar 11–13 November di Universitas Airlangga. Tiga inisiatif akan diluncurkan di sana, yakni Digital Maturity Index perguruan tinggi, kerangka pemanfaatan AI generatif yang memperhatikan etika dan integritas akademik, serta konsorsium rumah sakit pendidikan.
“Tujuan KPPTI adalah untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi,” jelas Khairul.
Baca juga: Enam Pimpinan PTN Baru Dilantik, Unmul dan Dua UPN Ganti Rektor















