Permintaan Uang Pakistan Turun Saat Ekonomi Makin Tak Pasti

A A

Ilustrasi koin 10 rupee Pakistan bergambar masjid dipotret dekat di bawah berkas cahaya [Foto: Abdullah Baloch/Pexels]

  • Ketika ketidakpastian ekonomi naik, permintaan uang di Pakistan turun.
  • Ketika ketidakpastian moneter naik, permintaan uang justru bertambah.
  • Setiap kali rupee melemah 1 persen terhadap dolar Amerika Serikat, saldo uang riil turun sekitar 0,87 persen dalam jangka panjang.
  • Menurut para penulis, ketidakpastian ekonomi lebih menentukan perilaku permintaan uang di Pakistan daripada ketidakpastian moneter.
Daftar Isi
  1. Ketidakpastian Ekonomi: Uang Dilepas
  2. Ketidakpastian Moneter: Uang Digenggam
  3. Saat Naik: Dua Dorongan yang Bertarung
  4. Saat Turun: Gema yang Lebih Lemah
  5. Jangka Panjang: Pendapatan dan Kurs Rupee
  6. Jangka Pendek: Tanggapan yang Segera

Waswas soal laju produksi sebuah negara dan waswas soal jumlah uang yang beredar di dalamnya terdengar seperti dua nama untuk satu kegelisahan yang sama. Di Pakistan, keduanya ternyata menarik uang ke arah yang berlawanan. Yang pertama membuat orang melepas uangnya, yang kedua membuat orang menggenggamnya lebih erat.

Dua arah itu dicatat Tahir Mukhtar, Saira Tufail, dan Zainab Jehan dalam artikel Economic uncertainty, monetary uncertainty and money demand in Pakistan: An asymmetrical analysis. Artikel itu terbit di Economic Journal of Emerging Markets volume 18 nomor 1 tahun 2026. Ketiganya mengajar di Department of Economics, Fatima Jinnah Women University, Rawalpindi, Punjab, Pakistan.

Mereka menelusuri permintaan uang Pakistan dari 1975 sampai 2024, yang diukur dari uang beredar luas setelah disesuaikan dengan harga. Ketidakpastian ekonomi diwakili oleh naik-turunnya pertumbuhan produk domestik bruto riil. Ketidakpastian moneter diwakili oleh naik-turunnya pertumbuhan uang beredar. Masing-masing lalu dipilah menjadi dua: saat ia naik dan saat ia turun. Kajian ini mereka sebut yang pertama di Pakistan yang menelusuri hubungan timpang antara gejolak ekonomi, gejolak moneter, dan permintaan uang dalam kerangka ekonomi terbuka.

Ketidakpastian Ekonomi: Uang Dilepas

Ketika ketidakpastian ekonomi naik, permintaan uang di Pakistan turun. Koefisien jangka panjangnya minus 0,18 dan nyata secara statistik. Artinya, makin bergejolak pertumbuhan produksi, makin sedikit uang yang ingin dipegang masyarakat. Para penulis membaca angka ini sebagai tanda orang berpindah dari uang ke bentuk kekayaan yang lain.

Ke mana uang itu pergi dijelaskan lewat apa yang mereka sebut efek substitusi. Pada masa ekonomi tidak stabil, tulis mereka, orang cenderung memegang aset lain yang kurang berisiko, seperti emas atau real estat, ketimbang saldo uang. Orang juga menghindari tetap likuid selama masa semacam itu.

Temuan itu tidak berdiri sendiri. Mukhtar dan rekan-rekannya menyebut hasil mereka tentang kenaikan ketidakpastian ekonomi sejalan dengan Atta-Mensah (2004), Choi dan Oh (2003), Dahmardeh dan kawan-kawan (2011), Bahmani-Oskooee dan Baek (2017), serta Tan dan kawan-kawan (2020). Di Indonesia, catat mereka, Kurniawan dan kawan-kawan (2022) juga menggarisbawahi dampak negatif ketidakpastian ekonomi terhadap permintaan uang. Untuk Pakistan sendiri, Mukhtar dan Jehan (2022) lebih dulu menemukan permintaan uang menanggapi kedua ketidakpastian, tetapi tanggapan yang timpang belum diuji.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Ketidakpastian Moneter: Uang Digenggam

Di sisi lain, ketidakpastian moneter bekerja terbalik. Ketika ketidakpastian moneter naik, permintaan uang justru bertambah. Koefisien jangka panjangnya 0,24, juga nyata secara statistik. Makin tidak menentu pertumbuhan uang beredar, makin banyak uang yang ingin dipegang masyarakat Pakistan. Ukuran ini, menurut para penulis, mewakili ketidakpastian kebijakan moneter.

Penjelasannya adalah efek berjaga-jaga. Menurut para penulis, masyarakat bisa menjadi lebih hati-hati dan terdorong menjaga likuiditas ketika ketidakpastian meningkat.

Sisi ini pun punya pendahulu. Para penulis menyebutnya sesuai dengan hipotesis Friedman (1984), bahwa gejolak luar biasa pada pertumbuhan uang menaikkan ketidakpastian yang dirasakan orang, sehingga permintaan masyarakat terhadap uang sebagai aset berjaga-jaga ikut naik. Hasil serupa, tulis mereka, dilaporkan Bahmani-Oskooee dan Arize (2020) untuk Aljazair, Mauritius, Maroko, Tanzania, dan Tunisia.

Dua ketidakpastian, dua arah uangDua ketidakpastian, dua arah uangDua ketidakpastian, dua arah uangKoefisien jangka panjang permintaan uang Pakistan, 1975-2024EkonomiMoneter-0,180,24Saat naik-0,030,09Saat turunBerkurangBertambahUang saat naikSubstitusiBerjaga-jagaYang menang
Sumber: Tahir Mukhtar, Saira Tufail, dan Zainab Jehan, Economic uncertainty, monetary uncertainty and money demand in Pakistan: An asymmetrical analysis, Economic Journal of Emerging Markets, 18(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Saat Naik: Dua Dorongan yang Bertarung

Secara teori, kedua ketidakpastian itu sama-sama bisa memicu dua dorongan sekaligus. Dorongan substitusi mengurangi uang yang dipegang. Dorongan berjaga-jaga menambahnya. Karena keduanya berlawanan, dampak bersih kenaikan ketidakpastian terhadap permintaan uang, menurut para penulis, tidak jelas dan bergantung pada dorongan mana yang lebih menonjol. Kajian terdahulu yang mereka kutip pun terbelah: sebagian menemukan orang beralih ke aset yang lebih aman, sebagian lain menemukan gejolak justru menaikkan permintaan uang.

Data Pakistan memberi jawaban yang berbeda untuk tiap sisi. Pada kenaikan ketidakpastian ekonomi, efek substitusi mengalahkan efek berjaga-jaga, dan orang cenderung memegang lebih sedikit uang dalam portofolio asetnya. Pada kenaikan ketidakpastian moneter, efek berjaga-jaga yang mengalahkan efek substitusi, dan uang yang dipegang bertambah. “Hasil ini menyiratkan bahwa para pelaku ekonomi memperlakukan kedua ketidakpastian itu secara berbeda,” tulis Tahir Mukhtar, Saira Tufail, dan Zainab Jehan dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris.

Saat Turun: Gema yang Lebih Lemah

Ketika ketidakpastian ekonomi mereda, permintaan uang naik kembali. Namun, kenaikannya lebih kecil. Koefisien untuk penurunan ketidakpastian ekonomi tercatat minus 0,03, jauh di bawah minus 0,18 pada saat ia naik. Uang yang dilepas ketika ekonomi bergejolak, dengan kata lain, tidak kembali sebanyak itu ketika gejolaknya surut.

Pada sisi moneter, polanya sejajar. Ketika ketidakpastian moneter turun, permintaan uang ikut turun, dengan koefisien 0,09. Angka itu juga lebih kecil daripada 0,24 pada saat ia naik. Uang yang digenggam ketika pertumbuhan uang beredar bergejolak tidak dilepas sebanyak itu ketika gejolaknya mereda.

Dari dua pasang angka itu para penulis menarik satu pola. Komponen naik dari kedua ketidakpastian berpengaruh lebih kuat terhadap permintaan uang daripada komponen turunnya. Dalam kedua kasus, tulis mereka, dampak guncangan positif tidak diimbangi oleh dampak yang setara dari guncangan negatif. Tanggapan timpang ini mereka sebut temuan baru untuk Pakistan, dan berarti model yang menganggap naik dan turun berdampak setara akan melewatkan dinamika penting.

Bentuk ketimpangannya tidak sama. Pada ketidakpastian moneter, kedua komponen sama-sama bertanda positif, sehingga ketimpangan hanya ada pada besarnya tanggapan, bukan pada arahnya. Pada ketidakpastian ekonomi, menurut para penulis, ketimpangan juga hadir dalam keputusan masyarakat memegang uang, di samping pada besarnya.

Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen

Jangka Panjang: Pendapatan dan Kurs Rupee

Di luar dua ketidakpastian itu, penentu lama permintaan uang tetap bekerja. Pendapatan riil mendorongnya naik: setiap kenaikan 1 persen produk domestik bruto riil menaikkan permintaan uang sekitar 0,71 persen. Para penulis menyebut hasil ini mencerminkan lebih banyak transaksi dalam ekonomi yang sedang tumbuh.

Kurs menariknya ke bawah. Setiap kali rupee melemah 1 persen terhadap dolar Amerika Serikat, saldo uang riil turun sekitar 0,87 persen dalam jangka panjang. Para penulis membacanya sebagai efek substitusi mata uang yang kuat: ketika mata uang melemah, penduduk memindahkan kekayaan ke luar negeri atau ke aset asing, sehingga uang yang dipegang di dalam negeri menyusut.

Kurs masuk ke dalam kajian karena pasar keuangan dalam negeri terhubung dengan pasar internasional, yang membuka kemungkinan orang berganti mata uang. Kedua angka itu lalu disandingkan. Elastisitas kurs, minus 0,87, sedikit melampaui elastisitas pendapatan, 0,71. Bagi para penulis, hal itu menunjukkan perubahan kurs berpengaruh kuat terhadap permintaan uang Pakistan. Dalam simpulan, mereka menyebut perbandingan ini menyoroti keterbukaan ekonomi Pakistan.

Empat penentu lama permintaan uang PakistanPendapatan riil: Koefisien jangka panjang +0,71; Suku bunga: Koefisien jangka panjang −0,08; Inflasi: Koefisien jangka panjang −0,11; Kurs rupee per dolar AS: Koefisien jangka panjang −0,87.Empat penentu lama permintaan uang PakistanKoefisien jangka panjang, data tahunan 1975-2024−1,0−0,50,51,00Pendapatan riil+0,71Suku bunga−0,08Inflasi−0,11Kurs rupee per dolar AS−0,87
Sumber: Tahir Mukhtar, Saira Tufail, dan Zainab Jehan, Economic uncertainty, monetary uncertainty and money demand in Pakistan: An asymmetrical analysis, Economic Journal of Emerging Markets, 18(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Suku bunga dan inflasi berada di sisi yang sama dengan kurs, tetapi jauh lebih lemah. Koefisien suku bunga minus 0,08, yang menurut para penulis berarti permintaan uang di Pakistan cukup tidak peka terhadap gerak suku bunga. Koefisien inflasi minus 0,11. Inflasi yang tinggi menggerus nilai riil uang, sehingga orang memilih aset riil. Dari perbandingan kedua koefisien itu, para penulis menilai inflasi tinggi memberi dorongan yang sedikit lebih kuat untuk menghemat uang daripada suku bunga nominal yang tinggi.

Jangka Pendek: Tanggapan yang Segera

Dalam jangka pendek, gambarnya sedikit bergeser. Kenaikan maupun penurunan ketidakpastian ekonomi sama-sama langsung menekan permintaan uang, dengan koefisien minus 0,09 dan minus 0,03. Pada ketidakpastian moneter, penyesuaian uang yang dipegang bahkan disebut para penulis lebih spontan. Orang, tulis mereka, menyesuaikan uang yang dipegangnya secara sistematis setelah jeda waktu.

Yang berubah adalah besarnya. Pengaruh ketidakpastian, tulis mereka, membesar seiring waktu, sehingga dampak jangka panjangnya jauh lebih besar daripada dampak sesaatnya. Pendapatan, inflasi, dan suku bunga bergerak searah dengan temuan jangka panjang. Kurs berbeda: dalam jangka pendek ia muncul sebagai penentu yang tidak nyata secara statistik. Temuan ini, tulis mereka, penting untuk menentukan sikap kebijakan moneter jangka pendek dan jangka panjang.

Jalan pulang menuju keseimbangan juga terukur. Koefisien koreksi kesalahannya minus 0,74 dan nyata secara statistik, yang dibaca para penulis sebagai bukti kuat adanya keseimbangan jangka panjang yang stabil. Penyesuaian ke arah keseimbangan itu mereka sebut cepat, dan tidak ditemukan patahan struktural sepanjang masa yang diteliti.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Dari kestabilan itu lahir saran pertama. Karena fungsi permintaan uang tetap stabil, jumlah uang beredar menurut para penulis masih berguna sebagai jangkar kebijakan, misalnya lewat sasaran pertumbuhan uang beredar luas. Ketika perangkat suku bunga sedang terbatas, otoritas moneter masih dapat memantau pasokan uang untuk menilai likuiditas di Pakistan.

Saran kedua menyangkut sisi ekonomi. Menurut para penulis, ketidakpastian ekonomi lebih menentukan perilaku permintaan uang di Pakistan daripada ketidakpastian moneter. Karena itu mereka menganjurkan kebijakan fiskal yang jelas dan kredibel, reformasi struktural, dan komunikasi yang transparan. “Dengan kata lain, menstabilkan ekonomi riil membantu menstabilkan permintaan uang,” tulis ketiganya.

Para penulis mencatat hasilnya berlawanan dengan temuan Bahmani-Oskooee dan Nayeri (2020) dalam hal sisi mana yang lebih menentukan. Arah tanggapan masyarakat, seperti mereka tulis, bergantung pada dorongan mana yang lebih menonjol. Karena tanggapan itu timpang, tulis mereka, pembuat kebijakan perlu membedakan guncangan positif dari guncangan negatif.

Bagikan

Baca Juga

Pemegang Asuransi Lebih Sering Berobat, Biaya Belum Tentu Ringan
Kurs Renminbi Berperilaku Lain Saat Kebijakan Sulit Ditebak
RI-Singapura Bentuk Satgas Kejar Perusahaan Pembakar Hutan
Overdosis dan Jatuh Jadi Cedera Termahal di Amerika Serikat
Pemegang Asuransi Tambahan di Swiss Lebih Sering Operasi Perut
Biaya Stroke Hungaria Bisa Turun 99 Juta Euro Tanpa Kegemukan