SMAART dan Murid SMA yang Tersendat Membaca

A A

Ilustrasi murid-murid duduk di bangku kelas mengerjakan tugas tulis. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kesulitan membaca di sekolah menengah lazim diperlakukan sebagai perkara kemauan, seolah murid yang tersendat di depan satu paragraf panjang hanya perlu diminta mencoba lebih keras, dan seolah persoalannya akan tuntas begitu rak perpustakaan diperbanyak isinya. Sebuah penelitian pengembangan yang dikerjakan di SMA Negeri 1 Sumberjaya menolak kenyamanan asumsi itu, dan menolaknya dengan cara yang sangat kecil, nyaris sepele kalau dilihat sekilas. Yang disodorkan di sana kepada seorang murid kelas X bukan buku tambahan, bukan pula jam pelajaran tambahan sepulang sekolah, melainkan satu layar berisi kosakata berkonsonan ny, lengkap dengan tombol yang boleh ditekan berulang-ulang sampai murid itu yakin ia mendengar bunyinya dengan benar. Satu layar, satu bunyi, dan waktu yang tidak menghakimi, tiga hal yang jarang tersedia di ruang kelas berisi tiga puluhan orang.

Layar itu hanya satu bagian kecil dari SMAART, kependekan dari Multimedia System for Accelerated and Assisted Integrated Reading, aplikasi pembelajaran interaktif yang dirancang khusus bagi murid sekolah menengah atas dengan hambatan literasi. Pengembangannya dilaporkan Laksmita Nur Afiati, Rianto, dan Vismaia S. Damaianti dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, bersama Indrya Mulyaningsih dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, dalam artikel Multimedia system for integrated reading acceleration and assistance (SMAART) in literacy learning in high school yang terbit di jurnal LITERA, Volume 24 Nomor 2, tahun 2025. Kerja lapangannya berlangsung Oktober sampai Desember 2024, dan subjeknya, sejak awal sampai akhir laporan, tetap satu orang murid saja — sebuah keterangan kecil yang belakangan menentukan banyak hal.

Latar yang mereka pakai bukan latar yang menyenangkan. Data Kemendikbudristek tahun 2022 yang dikutip tim itu menyebut tiga puluh persen murid sekolah menengah atas di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal — kategori yang lazim disingkat 3T — memiliki kemampuan literasi di bawah standar. Hambatannya tidak pernah datang dari satu arah saja, tulis mereka: ada faktor individual berupa gangguan belajar atau minimnya paparan literasi sejak dini, ada faktor lingkungan berupa langkanya bahan bacaan bermutu dan dukungan orang tua, dan ada faktor pedagogis berupa metode pengajaran yang jalan di tempat sekaligus Gerakan Literasi Sekolah yang belum berjalan optimal. Akibatnya pun berlapis, dari nilai yang turun sampai rasa percaya diri dan motivasi yang ikut turun bersamanya.

Daftar Isi
  1. Yang Tidak Tertangkap Buku Cetak dan Lembar Kerja
  2. Nilai Tinggi dari Dua Meja Penilai
  3. Satu Murid dan Batas Sebuah Kesimpulan

Yang Tidak Tertangkap Buku Cetak dan Lembar Kerja

Ilustrasi tangan menulis dengan pensil di atas lembar kerja bergaris.
Ilustrasi tangan menulis dengan pensil di atas lembar kerja bergaris. [Foto: Pexels]

Tahap pertama penelitian ini justru bukan membuat apa pun, melainkan mendengarkan. Guru bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Sumberjaya, dalam wawancara mendalam yang menjadi dasar analisis kebutuhan, menerangkan bahwa Kurikulum Merdeka sebenarnya menuntut pembelajaran berdiferensiasi, yakni pengajaran yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan tiap murid, termasuk murid dengan hambatan literasi. Ruang untuk memodifikasi itu ada dan diakui ada. Yang tidak ada adalah kemampuan praktis untuk mengisinya; guru tersebut mengaku sulit merancang bahan yang benar-benar setara dengan tingkat literasi muridnya, sementara pengamatan peneliti menemukan evaluasi di sekolah masih bersandar pada buku cetak dan lembar kerja yang berjalan satu arah, tanpa ruang bagi murid untuk mengulang, mencoba, atau salah tanpa disaksikan seisi kelas.

Baca juga Dikie Mauluik Kini Tinggal di Satu Korong Pariaman

Dari wawancara dan pengamatan itu muncul potret muridnya. Ia kesulitan memahami teks panjang, kesulitan menghubungkan gagasan antarparagraf, dan kesulitan menuangkan pikirannya sendiri ke dalam tulisan. Ia juga cepat frustrasi begitu berhadapan dengan tugas membaca atau menulis yang rumit. Hambatan itu, catat tim peneliti, bukan semata kognitif melainkan juga psikologis: murid tersebut merasa rendah diri dan enggan ikut aktif di kelas. Temuan semacam ini menjelaskan mengapa menambah buku tidak pernah cukup, sebab yang rusak bukan hanya jalur masuk informasi, melainkan juga kesediaan seseorang untuk mencoba masuk sekali lagi sesudah berkali-kali gagal di depan orang banyak, dan kesediaan itu tidak bisa dipulihkan dengan menambah bahan bacaan. Guru mengakui pentingnya pendekatan individual, tetapi mengaku kekurangan sumber daya dan pelatihan untuk menjalankannya.

Dari sanalah spesifikasi produknya disusun, dan disusun cukup keras kepala: medianya harus multimodal, memadukan teks, audio, dan visual; harus memuat latihan interaktif; harus dipecah dalam potongan kecil ala pembelajaran mikro; dan harus memuat unsur motivasi berupa penghargaan atau umpan balik positif. SMAART kemudian dibangun dengan Articulate Storyline 3, perangkat lunak yang menyerupai program presentasi tetapi memiliki fungsi pemicu sehingga navigasi interaktif bisa diatur tanpa menulis satu baris kode pun. Teksnya disajikan dengan huruf yang ramah bagi penyandang disleksia, tombolnya dibuat besar, warnanya berkontras tinggi, dan pilihan bantuan diletakkan di setiap layar. Ada video motivasi di awal, ada contoh kosakata beserta bunyinya, ada latihan menyusun kalimat yang sengaja diacak, dan ada skor yang muncul begitu latihan selesai dikerjakan.

Nilai Tinggi dari Dua Meja Penilai

Produk yang sudah jadi tidak langsung diberikan kepada murid, melainkan lebih dulu dibawa ke dua meja. Butir-butir instrumen penilaiannya disusun dengan skala Likert satu sampai lima, dilengkapi pertanyaan terbuka, lalu diuji validitas isinya memakai rumus Aiken’s V dengan batas terendah 0,70. Salah satu butirnya berbunyi “Aplikasi ini memfasilitasi pembelajaran berdiferensiasi”, sementara butir lain menanyakan apakah visualisasi di dalam aplikasi mendukung pemahaman teks. Sebagian besar butir lolos, sebagian lagi harus diperbaiki susunan kalimatnya agar lebih spesifik, sebuah catatan kecil yang jarang diakui penulis laporan pengembangan dan justru karena itu patut dicatat. Alur aplikasinya sendiri dirancang dengan pendekatan yang berpusat pada pengguna, dimulai dari kerangka sederhana lalu diulang berdasarkan masukan guru.

Baca juga Pandara, Pantun Ternate yang Nyaris Tak Terdengar

Di meja materi duduk Dr. Emah Khuzaemah, M.Pd., ahli pembelajaran membaca, dengan rata-rata penilaian 4,2. Menurutnya aplikasi itu sudah memenuhi standar baik pada seluruh aspek yang dinilai, dan aspek evaluasi pembelajaran memperoleh angka tertinggi, yaitu lima, karena kuis serta umpan balik otomatisnya dianggap relevan dan efektif menopang proses belajar. Aspek integrasi pembelajaran, efektivitas, motivasi, dan kesesuaian dengan tingkat literasi murid masing-masing bernilai empat. Ia tetap meninggalkan dua catatan perbaikan yang sangat teknis dan justru karena itu terasa serius: fonem ny dan ng sebaiknya dipisah ke dalam dua slide berbeda, dan video motivasi membaca perlu ditambah. Dua kalimat pendek yang menunjukkan bahwa penilaian tersebut bukan sekadar formalitas administratif.

Di meja media duduk Dr. Ahmad Ripai, M.Pd., dengan rata-rata 4,4. Kekuatan utama aplikasi menurut penilaiannya terletak pada kemudahan navigasi dan daya tarik yang memotivasi, keduanya bernilai lima. Desain tampilan, interaktivitas, dan pemanfaatan teknologi masing-masing bernilai empat, disertai saran agar warna serta tata letaknya dibuat lebih konsisten dan elemen interaktifnya diperkaya, misalnya lewat simulasi atau mekanisme tarik-lepas. Angka yang mirip muncul lagi pada respons pengguna, dengan kemudahan navigasi mencatat tingkat kepuasan delapan puluh sembilan persen, sementara bagian abstrak menyebut kualitas tampilan 4,6 dan efektivitas instruksional 4,4. Semuanya terlihat rapi dan konsisten, dan sebagai laporan kelayakan produk memang tidak ada yang salah di dalamnya. Persoalannya baru muncul ketika deretan angka itu diminta menanggung sebuah kesimpulan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Satu Murid dan Batas Sebuah Kesimpulan

Model pengembangan yang dipakai bernama ADDIE, singkatan dari analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Tim peneliti menyatakan sendiri bahwa karena keterbatasan waktu dan biaya, penelitian ini hanya sampai tahap pengembangan, sehingga dua tahap terakhir — implementasi di kelas yang sesungguhnya dan evaluasi dampaknya dalam jangka panjang — belum dijalankan sama sekali. Uji coba terbatasnya pun dikerjakan pada satu orang, yaitu seorang murid kelas X di SMA Negeri 1 Sumberjaya yang teridentifikasi memiliki hambatan literasi. Uji Wilcoxon disebut di bagian metode sebagai alat untuk mengukur peningkatan literasi, tetapi hasil pengukuran itu tidak muncul di bagian temuan, dan tidak ada angka sebelum-sesudah yang bisa dibandingkan pembaca.

Baca juga Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap

Karena itu kalimat pada bagian kesimpulan perlu dibaca dengan hati-hati. Di sana SMAART disebut telah dikembangkan sebagai media pembelajaran interaktif yang secara efektif meningkatkan literasi murid berkebutuhan khusus, sekalipun di kalimat yang sama disebutkan pula bahwa prosesnya hanya sampai tahap pengembangan. Yang benar-benar ditunjukkan penelitian ini adalah kelayakan produk menurut dua orang ahli dan respons positif dari satu orang pengguna, bukan bukti perbaikan kemampuan membaca pada populasi murid mana pun, bukan pula bukti bahwa aplikasi serupa akan bekerja di sekolah lain dengan guru dan jaringan listrik yang berbeda. Perbedaan antara kedua hal itu tipis di atas kertas dan sangat lebar di dalam ruang kelas.

Nilai penelitian ini justru tidak terletak pada klaim besarnya. Ia terletak pada ketelitian tahap analisisnya, pada kesediaan mencatat bahwa guru pun kewalahan menerjemahkan kurikulum yang sudah membuka ruang, dan pada catatan seorang penilai tentang dua fonem yang perlu dipisah, jenis detail yang hanya muncul kalau seseorang benar-benar duduk memeriksa layar demi layar sampai selesai. Tim itu sendiri merekomendasikan pengujian pada cakupan yang lebih luas dengan subjek yang lebih beragam sebelum apa pun disimpulkan mengenai efektivitas, sekaligus membuka kemungkinan personalisasi berbasis kecerdasan buatan pada pengembangan berikutnya. Rekomendasi itu, kalau dibaca jujur, adalah pengakuan bahwa pekerjaan ini baru separuh jalan.

Yang tersisa sesudah laporan itu ditutup bukan pertanyaan tentang tampilan atau warna. Murid kelas X tersebut memakai aplikasi itu selama uji coba terbatas, memberi nilai lima untuk tampilannya, meminta warnanya dibuat lebih cerah, mengaku merasa lebih percaya diri menghadapi bacaan yang rumit, lalu perangkat lunaknya kembali menjadi prototipe yang menunggu tahap berikutnya. Apa yang terjadi pada kemampuan membacanya sesudah tombol pengulang bunyi itu tidak lagi ada di depannya tidak tercatat di laporan mana pun, dan barangkali justru di situlah, di bagian yang tidak sempat dikerjakan karena waktu dan biaya, penelitian yang sesungguhnya belum dimulai.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi aktris berbusana merah berdiri di panggung gelap berkabut asap di hadapan penonton.
Ketika Wijasti Berhenti Menunduk di Atas Panggung
Ilustrasi tangan membuka dompet berisi lembaran uang rupiah dan kartu.
Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani
Ilustrasi perempuan duduk di tepi ranjang membaca buku di kamar yang remang.
Ketika Perempuan Kuat dalam Novel Ikut Goyah
Bangunan klenteng bergaya Tionghoa dengan atap melengkung dan ornamen merah di kawasan Glodok Jakarta
Klenteng Jakarta Barat dan Tokoh Islam yang Dipuja di Sana
Ilustrasi seorang lelaki berkaus jingga menatap layar telepon pintar di ruangan bercahaya kebiruan yang temaram.
Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban
Ilustrasi sekelompok perempuan berjilbab memainkan rebana dalam busana berwarna merah dan ungu.
Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria